OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Kisah Albronze's 2


__ADS_3

Lucky melanjutkan kisah keluarganya. Sri sempat mengambil minuman dan cemilan lebih dulu untuk menemani mereka ngobrol. Lalu kembali memeluk tubuh tegap suaminya di sofa empuk.


"Jadi, paman Fardan itu sakit bawaan lahir mas?" tanya Sri lagi. Lucky menggeleng.


"Tidak. paman Fardo dan paman Fardan bertengkar hebat. Paman Fardan memergoki paman Fardo korup besar-besaran. Perusahaan jadi agak goyah lagi waktu itu. Setelah di sokong keluarga bibi Vira, kembali paman Fardo berulah"


Sri menjadi pendengar Budiman. Manggut-manggut dan sesekali menatap Lucky dengan mimik wajah serius.


"Paman Fardo mendorong paman Fardan dari lantai tiga. Kepalanya terluka parah. Untung masih bisa di selamatkan. Dua tahun pengobatan di luar negeri, paman Fardan bisa pulih. walau dia menjadi linglung dan tidak bisa berpikir normal lagi"


Sri menutup mulutnya terkejut. Sangat sadis apa yang di lakukan Fardo pada ayahnya Noah.


"Waktu kejadian itu, bibi Vira sedang mengandung Noah. Baru tiga bulan. Dia sempat shock melihat keadaan suaminya. Tapi semua bisa teratasi"


"Kami kembali ke mansion kakek ketika aku berumur tujuh tahun. Papi pikir ingin melihat keadaan paman Fardan dan sekaligus mengenalkan ku pada kakek. Masih segar di ingatan ku sampai sekarang bagaimana kakek memaki mami dan nenek kembali mengusir kami. Tidak di ijinkan masuk"


Sri memeluk erat suaminya. Meneteskan air mata merasakan nyeri di jantungnya. Sungguh menyayat hati mendengar kisah Lucky. Kejadian itu sungguh membekas di ingatan jangka panjang di otaknya. Hingga sampai sekarang rasa trauma itu masih saja hadir.


""Papi masih sempat menyewa rumah yang dekat dengan daerah mansion kakek. Memperkenalkan ku pada Noah. Tapi aku benci ketika Noah selalu memeluk papi. Dan katanya ibunya lebih cantik dari ibuku. Iihh.. si brengsek itu selalu mencuri perhatian papi" ada nada geram ketika Lucky mengingat momen bersama Noah kecil.


"Tapi kembali kakek mengusir papi agar tidak mendekati mereka. Katanya, dia tidak mau mami membiaskan keburukan pada cucu dan keluarganya"


"Aku masih ingat bagaimana mami menangis. Aku membenci mereka semua"


Sri menyentuh pipi suaminya. Menenangkan Lucky yang terlihat kilatan emosi dalam kebencian di mata pria itu.


"Sudah mas. Sekarang semua baik-baik aja kan? Kakek dan nenek sudah minta maaf. Jangan memendam benci terlalu lama" Sri mengelus rahang tegas suaminya.


"Belum baik-baik saja, sayang. Kamu lihat kan wanita ular itu masih saja menjadi duri dalam keluarga kakek?"


"Bibi Neni?"


"Hem" Lucky mengangguk. "Paman Fardo tidak terima kalau sekarang kita kembali ke dalam keluarga Albronze lagi. Dia merasa terhalangi. Sialnya, suami istri itu sama saja. Memupuk keluarganya untuk menjadi penjilat. Terlalu menghambakan diri pada harta. Mereka picik"


"Mas, sri lihat tadi di kantor, di samping paman Fardo itu..."


"Ya. Itu Levi putra tertuanya. Kenapa? kamu tertarik?" Lucky menaikkan sebelah alisnya.


"Iisshh.. Mase! kenapa sih selalu begitu?" Sri kesal setengah mati. Suaminya ini selalu curiga ketika dia membicarakan pria lain.


Lucky terkekeh geli menyadari sikapnya yang keterlaluan. Merengkuh Sri dalam pelukan hangatnya. Mengecupi puncak kepala istrinya dengan sayang.


"Hmm.. aku sudah berdongeng pada mu. Sekarang beri aku imbalan"


"Harus di gaji?"


"Hem" Lucky mengangguk dengan senyum mengembang.


"Imbalan apa?"


"Aku sudah siapkan di kamar. Lihat lah. Dan keluar harus memakai itu"


"Hah? opo mas?" Sri penasaran.


"Lihat dulu" Lucky mendorong tubuh Sri agar segera pergi kekamar. Ia harus mendapat imbalan setimpal setelah Sri mendengarkan kisahnya tadi.

__ADS_1


"Jangan macem-macem loh mas"


Sri memperingatkan Lucky dengan pandangan mata mengancam. Lucky hanya terkekeh geli. Mendorong tubuh Sri pelan untuk segera pergi ke kamar.


Dengan pandangan waspada, Sri beranjak pelan masuk ke dalam kamar. Menghidupkan lampu kamar dan melihat ke arah ranjang. Matanya mendelik gusar melihat apa yang di pentangkan Lucky disana. Jaring-jaring dengan lubang di tengah bagian intinya.


Lingerie laknat!!


🌺


🌺


🌺


Sri mengalah. Protes pun percuma. Yang ada malah nanti Sri selalu dituntut mengenakan jaring plankton saking tipis dan halus yang menyesatkan mata jika melihatnya itu. Setelah mandi, Sri mengenakan lingerie aneh itu. Wajahnya terasa panas ketika menatap tubuhnya sendiri di pantulan cermin.


Tidak bisa memakai dalaman lagi. Lingerie ini mengharuskan membuka semuanya. Risih juga merasakan intinya tergesek jaring halus yang berlubang di bagian tengahnya itu. Tak ada yang bisa tertutupi dengan pakaian ini. Kulit dan lekuk tubuhnya terpampang jelas. Sri panas dingin memikirkan akan menemui Lucky di luar dengan pakaian yang sangat menggoda ini.


Dengan hati-hati Sri membuka pintu kamar sedikit. Mengintip apa yang sedang Lucky lakukan di luar sana. Tapi dia tidak menemukan Lucky. Penasaran, Sri membuka pintu lebih lebar. Melongokkan kepalanya keluar dengan tubuh masih di sembunyikan di balik pintu.


Aneh. Tidak ada Lucky. Dan lampu menjadi berubah temaram. Sri mencoba keluar dengan menyilangkan kedua tangannya di dada dan bagian bawahnya. Berjalan berjinjit agar tidak menimbulkan suara.


"Mas" panggil Sri berbisik tertahan. Tapi tidak ada sahutan.


Sri mengerutkan dahinya. Aneh. Kenapa Lucky jadi menghilang? kemana pria itu?


"Mase!"


Sri memanggil lagi menaikkan oktaf suaranya. Tapi tetap tidak ada sahutan dari Lucky. Bulu kuduk Sri mulai meremang berdiri. Ada rasa takut menggayuti relung hatinya. Ternyata seram juga jika di tinggal sendirian di dalam apartemen mewah dan luas, dengan penerangan temaram.


"Mase! Ndak lucu becandamu mas!" cicit Sri cemberut. Memanggil Lucky dengan Kesal karena di tinggal sendirian.


Tapi Sri segera terbengong melihat ke pintu kaca pembatas balkon. Lucky berdiri di sana tanpa baju. Hanya celana panjangnya yang masih melekat. Berdiri sensual menatap Sri dengan senyum yang menurut Sri sangat terlihat lelaki sekali.


pintu kaca itu terbuka lebar. Membiarkan angin malam menerobos masuk dan menerpa tubuh tegap yang telah polos dengan otot liat nan rupawan. Sri tak bisa lepas menatap Lucky yang terlihat seperti dewa cinta siap menyambutnya mesra. Tercengang Sri melihat pemandangan itu.


Pelan Lucky melangkah sensual mendekati Sri. Senyum yang melelehkan hati Sri itu masih mengembang di bibir Lucky. Berdiri di depan Sri dan menatap Sri dari atas sampai ke bawah kaki Sri. Gadis itu sangat risih di tatap lapar mata suaminya. Lebih menutupi bagian penting di tubuhnya yang terekspos nyata.


"Kenapa di tutup sayang? aku mau lihat itu"


Lucky menarik tangan Sri dari dada dan bagian bawahnya, agar tidak menutupi bagian favoritnya. Wajah Sri memanas. Malu sekali rasanya di tatap nakal mata suaminya. Menunduk tersipu malu. Lucky meraih dagu Sri. Menarik wajah ayu itu menghadapnya.


"Kamu cantik sekali Sri. Dan.. seksi" Bisik Lucky menatap manik mata istrinya.


Sri tak dapat berkata apa-apa lagi. Jantungnya bergemuruh kencang serasa ingin meledak. Perlakuan romantis Lucky membuatnya serasa melayang tinggi. Baru kali ini Sri di puji dengan suasana romantis yang memabukkan.


Sri memejamkan matanya ketika Lucky mengecup lembut bibir mungil yang membuatnya candu itu. Memagutnya hangat. Menelusupkan lidahnya dan memancing Sri untuk membalas.


Pagutan itu sangat lembut memberi kesan melambungkan keduanya. Saling menji Lat dengan gelora menggebu. Lucky menahan belakang kepala Sri agar tidak banyak bergerak. Dia mengisap rasa manis yang selalu membius dirinya. Tak pernah bosan untuk menyesapnya setiap saat.


Tangannya meraba ke bawah. Bertemu dengan lubang jaring-jaring yang menggoda. Mengelus di sana lembut. Membuat tubuh Sri gemetaran. Melepaskan pagutan Lucky dengan napas terengah.


"Mmmhh.. lembut dan hangat sayang" bisik Lucky menatap mata sayu istrinya dengan kedua alis bertaut. Meresapi elusan lembut di permukaan intinya.


"Maaassshh.."

__ADS_1


Tak kuasa untuk menahan desa han ketika jari Lucky menemukan kacang kecil dan mengelus dengan satu jarinya.


"Hmm.. ya sayang. Kenapa?" tanya Lucky menggoda Sri.


Sri tak mampu menjawab lagi. Menggigit kecil bibir bawahnya. Alisnya semakin mengernyit tajam. Saling menatap sayu. Jarinya menggesek lebih intens dari atas ke bawah. Sri mencicit kecil seperti anak kucing. Itu membuat Lucky menggeram gemas.


Mendorong tubuh mungil Sri mepet Kedinding kaca tanpa melepaskan gesekan jarinya. Mengungkung Sri di sana. Kembali melu mat bibir basah istrinya yang sudah terengah sambil meremas lengan kokohnya yang bergerak lembut.


"Uugghh.. Sri.. kau membuatku gila"


Lucky menggeram gemas. Menjila ti permukaan bibir Sri dan rahangnya. Kulit lembut itu menjadi basah. Lucky sungguh hilang akal ketika di dekat Sri. Tubuh istrinya selalu menggodanya untuk selalu menjamah. Tak pernah puas untuk selalu mengerang manja.


Lucky bergerak ke bawah. Berjongkok di depan Sri. Tepat di bagian lubang lingerie istrinya. Menatap inti menawan yang sudah mulai basah. Menaikkan sebelah kaki Sri kepundaknya. Membuat Sri terpekik kaget.


gundukan tembem tanpa bulu dengan garis yang menggoda. Sri selalu merawatnya dengan baik. Tak pernah Lucky menemukan sehelai rambut pun ada di sana. Sangat gemas melihat bentuk indah seperti milik bocah belasan tahun. Polos menggoda.


Menguak sedikit dan menyembulkan kacang kecil pinky. Tangan dan kaki Sri gemetaran. Menunduk melihat Lucky menatapi bagian intinya intens. Malu sekali rasanya. Lucky mendongak ke atas melihat wajah Sri yang sudah seperti kepiting rebus. Tersenyum menggoda lalu fokus menjulurkan lidahnya.


"Maassee.."


Sri terpekik nyaring ketika lidah hangat itu menyentuh bagian paling sensitif di tubuhnya. Menggeliat sambil meremas rambut Lucky dengan gemetar. Lucky semakin bersemangat menyapukan lidah hangatnya naik turun. Membuat Sri semakin licin. Mengorek lebih dalam. Menelusup lebih menggoda.


Lutut Sri lemas. Tak tahan Lucky memporak-porandakan dirinya. Mulutnya mendesis dan melenguh nikmat. Puas membuat istrinya basah, Lucky bangkit berdiri. Bibir dan seputaran mulut dan dagunya basah. Melu mat bibir manis itu lagi. Sri menyambutnya panas. Bisa merasakan lelehan cintanya sendiri dari mulut Lucky.


"Mau sensasi baru sayang?" bisik Lucky dengan napas memburu.


Sri hanya mengangguk tersipu. Segera Lucky melepaskan celana panjangnya. Hingga miliknya menyembul mengangguk-angguk tegak menantang. Sri selalu bergidik melihat tongkat bisbol yang kokoh itu. Berurat di sekeliling batangnya.


Lucky menarik Sri keluar. Balkon yang menjadi saksi menggebunya hasrat kedua insan ini.


"Mase.. ini di luar. Nanti ada yang lihat" Sri agak panik.


"Biarkan saja. Biar mereka tahu bagaimana istriku mengerang nikmat"


Lucky tak peduli. Sensasi liar melakukannya di tempat terbuka. Lucky mendorong Sri kebawah. Menempatkannya tepat di depan tongkat bisbolnya.


"Ayo sayang. Dia ingin hangatnya mulut mungil mu"


Sri mendelik ngeri. Tongkat bisbol yang besar ini mana muat masuk ke mulutnya. Tapi melihat Lucky dengan wajah menggebu itu, Sri menurut saja. Mulai memasukkan kepala jamur itu sedikit. Melumasinya sejenak. Agak kepayahan memasukkan seluruhnya. Tidak muat. Sri terengah sesak napas.


"Oohh.. damn!! mulut mu sangat hangat dan nakal, sayang.." erang Lucky memejamkan matanya. Menarik rambutnya sendiri frustasi merasakan sensasi luar biasa yang di lakukan Sri.


Ini pertama kali bagi Sri. Dia belum pernah melakukan ini sebelumnya. Tapi itu sudah cukup membuat Lucky terhanyut akan mulut mungil hangat istrinya. Tangan Lucky mendorong pelan kepala Sri untuk lebih membenamkan lebih dalam. Sampai Sri hampir kehabisan napas.


Gemas Lucky menarik Sri. Menggendongnya di depan. Melumati bibir basah yang sudah tampak mulai membengkak. Sri merangkul leher Lucky. Menahan tubuhnya di gendongan suaminya.


Lucky menahan pinggul Sri sejenak. menempatkan tongkatnya tepat. Lalu perlahan mendorong pinggul Sri ke bawah. Terbenam seluruhnya perlahan. Sri mendelik merasakan sensasi sesak yang luar biasa menyuguhkan nikmat membuatnya mengejang kaku. Sama-sama mele nguh ketika telah tertanam seluruhnya.


Pelan Lucky membantu Sri memaju mundurkan dan menarik turunkan pinggulnya. Menjerit sesuka hati. Alam menjadi saksi. Tak peduli ada yang dengar. Sri terlihat seperti anak remaja di gendong ayah besar. Mungil di gendongan Lucky.


Hingga keduanya mengejang bersama. Menyemburkan kehangatan dan luber meleleh di paha Lucky. Terengah bersama saling memagut mesra.


"Terima kasih untuk selalu membahagiakan ku sayang"


Lucky mengecupi wajah istrinya dengan sayang. Beruntung menyetujui Sri menjadi istri mungilnya. Ternyata menyuguhkan hal yang luar biasa baginya.

__ADS_1


__ADS_2