OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Mas Lucky Ku Sayang


__ADS_3

Sri terbangun dari tidurnya dengan tiba-tiba. Tubuhnya masih dalam keadaan polos. Meremat selimut tebal yang menutupi tubuhnya sampai batas dada. Terduduk Menoleh ke kiri dan kanan. Lucky sudah tidak ada di sampingnya. Mungkin sudah bangun dan sekarang sedang di ruangan gym.


Kembali Sri membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Bibirnya tersenyum mengingat kembali kejadia tadi malam yang membuatnya menjerit ketakutan. Lucky sungguh gila Menggendongnya seperti bayi koala besar dengan masih tidak melepas penyatuan mereka.


Membuka pintu ruang kerja, dan melongok ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada pelayan yang masih beraktivitas di luar ruangan. Sri meronta di gendongan Lucky dengan kedua tangan yang masih merangkul leher pria itu. Tapi Lucky tetap menahannya erat, sehingga Sri hanya bisa melotot ketakutan.


Menjerit tertahan ketika Lucky bergerak keluar ruang kerja dengan sedikit memaju mundurkan bokong Sri di gendongannya. Sensasi luar biasa di rasakan keduanya. Gairah dan cemas sekaligus.


Sungguh Lucky membuat Sri kalang kabut. Bayangkan saja masih dalam penyatuan tapi Lucky dengan tidak peduli masih menghujamnya saat berjalan menuju kamar. Untung saja para pelayan sudah pergi ke paviliun belakang. Kalau tidak, pastilah mereka bisa melihat kekonyolan mereka berdua.


Dirasa aman, Lucky malah menyandarkan tubuh Sri di dinding sebelah pintu kamar mereka. Menatap istrinya dengan senyum sensual sambil menghujam Sri bertubi-tubi. Sri menjerit antara gairah dan kecemasan tingkat tinggi. Memukuli dada Lucky berharap suami mesumnya itu menghentikan gerakannya.


"Kenapa sayang? nikmati saja" Lucky bicara dengan napas memburu.


"Mmhh.. nanti ada.. aghh.. yang lihat mas!" Sri menatap Lucky melotot.


Di tatap begitu, bukannya berhenti, Lucky malah semakin terbakar gairah. Menghujam Sri dengan ganas. Menusuk ke bagian terdalam. Melu**t bibir Sri sampai istrinya tersengal kehabisan napas.


Tubuh Sri berguncang naik turun seirama dengan gerakan Lucky. Tapi begitupun Lucky tidak langsung terbuai lupa diri. Masih waspada mengawasi dengan ekor matanya, kalau saja ada yang datang.


Dan benar saja. Lucky melihat pergerakan bayangan di ujung lorong. Sepertinya pak Sam yang datang memeriksa keadaan. Sri berdebar tidak karuan. Seakan jantungnya akan melompat keluar dari dadanya melihat bayangan pak Sam berjalan sudah semakin mendekat.


Dengan cekatan Lucky membuka pintu kamar. Melepaskan penyatuan mereka dengan cepat. Keduanya meringis ketika kehilangan sarang masing-masing. Lucky menarik Sri masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


Tentu saja Sri langsung memukuli lengan suaminya dengan gemas. Lucky hanya tergelak melihat wajah Sri penuh kecemasan tingkat tinggi. Terlambat sedetik saja, pasti pak Sam bisa melihat apa yang di lakukan suami istri gendeng ini.


Tidak menyentuh Sri beberapa hari, membuat stamina Lucky terkumpul berkali lipat. Meminta jatah yang terbengkalai akibat pisah ranjang. Tubuh Sri bagaikan candu yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Tak henti membuat Sri menjerit dalam nikmatnya surgawi.


Dan pagi ini, tubuh mungil itu sudah penuh dengan bercak kissmark yang di tempelkan bibir suaminya. Sri menutup wajahnya dengan selimut. Bersemu merah dan terasa panas mengingat itu.


Lucky memperlakukannya bak seorang putri. Menyatakan cinta berkali-kali dalam pelukannya. Bahkan getar cinta itu telah lebih dulu hadir sebelum dia menyadarinya. Dan Sri menyambut cinta suaminya dengan gamblang. Sri juga sudah jatuh cinta pada Lucky.


Sri bergerak bangkit dengan senyum masih mengembang. Segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah selesai, segera berpakaian dan menyiapkan baju Lucky.


Tapi belum siap Sri menyiapkan pakaian Lucky, gadis ini di kejutkan dengan tangan yang melingkar di perutnya. Tangan kokoh suaminya dan kecupan hangat di belakang telinganya. Tubuh Sri menegang nikmat. Meremang bulu kuduknya merasakan bibir hangat itu.


"Hmmm.. kamu harum sekali sayang" Lucky tak berhenti mengendusi leher istrinya.


"Emm.. Mase sudah" Sri menggeliat manja dengan tangannya masih merapaikan jas Lucky di gantungan baju.


"Aku tidak bisa" erang Lucky serak.


Sri membalikkan badannya. Berhadapan dengan Lucky yang menatapnya mesum.


"Mase mandi dulu. Ini pakaiannya sudah Sri siapin" Sri mengacungkan jas di depan Lucky.


"Nanti saja" Lucky menepis jas itu.

__ADS_1


"Sudah. Ntar terlambat lho mas"


"Hmm.. Biar saja"


Lucky menarik Sri keluar dari ruangan walk in closed menuju ke tempat tidur. Mendudukkan Sri di pangkuannya. Mengelusi pipi mulus Sri dengan lembut.


"Kau candu ku" Ujarnya serak.


"Masih kurang mas? apa Ndak capek?"


"Untuk mu aku selalu siap, sayang"


"Haha.. Mase gombal banget" Sri tergelak dan cepat bangkit dari pangkuan lucky. "Sudah sana mandi dulu. Bau" Memencet hidungnya dengan jari.


Lucky tertawa renyah. Lalu bangkit berdiri dan pergi ke kamar mandi. Sri kembali menyiapkan pakaian Lucky. Setelah Lucky selesai mandi dan berpakaian, mereka turun kebawah untuk sarapan pagi.


Pak Sam dan beberapa pelayan membungkuk hormat ketika melihat Lucky dan Sri datang. Tampak Nita dan Lina gugup melihat tuannya datang. Tapi Sri dan lucky tidak menghiraukan mereka.


Menyantap sarapan pagi yang sudah tersedia. Sri meladeni suaminya dengan telaten. Dan Lucky makan sarapannya dengan sesekali menyuapi Sri. Sebenarnya Sri risih. Tapi tak dapat berbuat banyak. Hanya menerima suapan Lucky di saksikan pak Sam dan beberapa pelayan yang bertugas di bagian dapur.


"Pak Sam" panggil Lucky.


Pak Sam segera datang mendekat. "Ya, tuan?"


"Panggil mereka berdua" perintah Lucky tegas.


Sri mengernyitkan dahi. Menatap Lucky curiga. Dia tidak tahu siapa yang di maksud Lucky untuk di panggil menghadap. Tapi hanya diam menantikan siapa yang di bawa pak Sam.


Tak lama pak Sam datang bersama Nita dan Lina. Sri kaget melihat itu. Segera menatap mata pak Sam dengan tatapan marah. Tapi pak Sam seperti tak melihat perubahan raut wajah Sri. Tetap tegak berdiri di depan mereka.


"Ini mereka tuan" ujar pak Sam.


Lina dan Nita tampak pucat pasi. Bergetar bibir mereka seperti ingin menangis. Sri melihat itu dengan nelangsa. Pasti pak Sam sudah mengadukan tentang pergunjingan para pelayan pada Lucky.


Lucky masih diam dan menyudahi sarapannya. Menyeka mulutnya dengan tisu. Lalu menghempaskan tisu itu di meja. Sri sangat merasa tidak nyaman dengan ini. Ia tahu pasti Lucky akan memarahi kedua pelayan ini.


Lucky menatap keduanya dengan dingin. Sampai Nita mengigil ketakutan. Menunduk dalam tak berani mengangkat wajahnya sedikit pun.


"Kalian berdua tau apa kesalahan yang kalian perbuat?" tanya Lucky dengan suara bariton yang tegas.


"Maafkan kami tuan muda" jawab Lina dengan suara lirih dan bergetar.


"Kalian menggunjing istri ku di dalam rumah ku" Lucky menatap mereka tak berkedip. "Kalian tau apa artinya itu?"


"Maafkan saya tuan muda" Isakan Nita terlepas. Tubuhnya sudah gemetaran mendengar apa yang di katakan Lucky.


Sri merasa harus segera menyudahi ini. Tidak tega melihat pelayan itu seperti sudah ingin pingsan saja karena tuannya sudah marah.

__ADS_1


"Mas. Sudah. Sri Ndak apa-apa Mase. Ojo ngono" bisik Sri sambil meremas lengan Lucky. Menatap suaminya mencoba tersenyum manis.


Lucky juga menoleh menatap Sri. Tersenyum lembut. Tapi segera menatap pada kedua pelayan itu dengan dingin.


"Siapa yang memulai itu?" tanyanya dingin.


Dengan tangan bergetar, Nita menunjuk pada Lina. Dan Lina semakin pias saja. Berpikir pastilah Lucky akan membunuhnya. Ia telah melanggar ketentuan di mansion Lucky. Tatapan Lucky tertuju pada Lina. Kilat kekejaman menghujam padanya.


"Kau.." ucapan Lucky terhenti.


Sri segera meraih pipi Lucky. Menariknya paksa untuk menghadap padanya. Sri tidak bisa membiarkan Lucky memecat kedua pelayang itu. Menatap lembut netra yang telah di penuhi amarah itu.


"Mase sayang.. Sri Ndak apa-apa. Sudah mas. Ndak boleh gitu. Mbak Nita dan Mbak Lina kan Ndak bicara buruk. Sudah sayang. Sri takut kalau Mase begini" ujar Sri lembut.


Lucky diam. Menatap istrinya lembut. Sri masih saja ingin membela kedua pelayan brengsek yang sudah menggunjingnya itu.


"Sri cinta Mase" sambung Sri meyakinkan.


"Cium aku" perintah Lucky.


Sri agak sedikit menjauh. Melirik para pelayang yang menunduk takut. Pak Sam juga tidak melihat ke arah mereka berdua. Lalu Sri menatap netra Lucky lagi. Dasar mesum! masih dalam keadaan marah saja Lucky masih bisa meminta ciuman darinya. Tapi demi kedua pelayan itu, Sri menurut.


Mendekat pada Lucky lagi lalu mengecup bibir suaminya penuh perasaan. Lucky tersenyum senang. Mengelus pipi Sri lembut. Melihat pada pelayan lagi.


"Karena istri ku, kalian berdua aku maafkan kali ini. Pergilah"


Tampak Lina dan Nita bisa bernapas lega. Mengucapkan terima kasih pada Lucky berkali-kali.


"Kalian berdua pantas berterima kasih pada istri ku" ujar Lucky dingin.


Segera saja Nita dan Lina membungkuk pada Sri. Mengucapkan banyak terima kasih. Berjanji tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama. Sri hanya tersenyum. Mengangguk menatap mereka berdua dengan senyum lembut.


"Kau masih saja memaafkan orang yang menggunjing mu, sayang" Lucky mengecupi pipi Sri.


"Itu artinya para pelayan menyayangi Sri Mase. Makanya selalu bercerita tentang Sri" jawab Sri geli.


"Ah.. kau melihat itu dari cara yang berbeda" dengus Lucky.


"Yang penting, suami Sri selalu cinta sama Sri kan mas?"


Lucky mengernyitkan dahi. Menatap Sri seakan tidak tahu siapa yang di maksud suaminya.


"Siapa?"


Sri mencubit paha Lucky. Membuat pria itu mengaduh kesakitan dan mengusap pahanya.


"Ya Mase lah. Mas Lucky ku sayang"

__ADS_1


__ADS_2