
Sungguh fenomena yang luar biasa. Pria sombong dan kaku itu sekarang sedang menangis? Tergugu dengan polosnya. Ini adalah hal yang menakjubkan bagi Noah. Lucky yang setegar karang, yang setahu Noah hanya suka menindas, sikap kaku yang dominan, bertubuh kekar bak binaragawan, sekarang sedang terisak?
"No, hikkss..hikss.. Aku merasa bersalah.." Isak Lucky terlihat sangat nelangsa.
Wow! Noah sampai terpaku melihat pemandangan di depannya. Sejauh Noah mengenal Lucky, belum pernah dia melihat Lucky meneteskan air mata. Tapi kini, Lucky tampak rapuh. Hati Noah terenyuh. Mendekati Lucky dan duduk di sampingnya.
"Ada apa Luck?" menepuk punggung Lucky.
Lucky menoleh dan menatap mata Noah nanar. Matanya basah berlinang air mata. Jantung Noah berdesir nyeri melihat kakak sepupunya ini dalam keadaan emosi yang tidak stabil pagi ini.
"Aku merasa bersalah pada istriku, No. Aku saja merasa sangat tidak enak ngidam begini. Tapi... Hiks.. Bagaimana dia sekarang? Seharusnya aku ada di sampingnya. Aku selalu bersamanya"
Astaga! Noah hampir saja berteriak menggeplak kepala Lucky saking gemasnya. Jarang-jarang Lucky bersikap sangat manis begini.
"Kenapa tidak telepon bibi saja? Kan kau bisa tau keadaanya disana?"
"Hiks.. Hiks.. Aku tidak sanggup, No. Mami bilang dia baik-baik saja walau sering muntah. Aku.. Aku.. Hikss.. Hikss.." Lucky menangis tersedu. Ah.. Noah tidak tahan kalau begini. "Kalau aku melihatnya langsung, aku pasti tidak kuat. Aku akan berlari ke sana memeluknya.. Hikkss.."
Noah tersenyum tenang seraya mengulurkan tisu pada Lucky. Lucky menerima dan menyeka air matanya dan ingus yang meleleh. Hehehe.. Noah merasa terhibur sekaligus terharu melihat Lucky si kaku ternyata bisa melankolis juga.
"Sabarlah Luck. Sebentar lagi bukan?" Noah membujuk Lucky agar tenang.
"Huuu..huuu..."
"Eh!?"
Noah kaget. Tiba-tiba saja Lucky menubruknya. Memeluk perut Noah dan menyandarkan kepalanya di dada Noah. Menangis terisak sangat pilu.
Noah panik. Bingung harus membalas pelukan Lucky atau malah mendorongnya menjauh. Bayangkan saja, tubuh kekar penuh otor, wajah macho nan maskulin, sekarang sedang terisak di dada pria lain! Jika ada yang melihat mereka berdua seperti ini, pastilah orang akan berpikir yang macam-macam.
"Luck.. Tenanglah" Noah sampai menganggkat kedua tangannya keatas. Seakan takut tangannya akan menyentuh kulit tubuh Lucky.
"Hikss.. Hikss.. Aku rindu No! Aku rindu istriku! Huuu huuu... tidak seharusnya dia merasakan ini semua. Aku merasa sangat bersalah.. Nooo.. Uuhuuuuu...huuu..." Suara tangis Lucky makin kencang.
"Astaga.." Noah kebingungan.
Karena suara tangis Lucky yang kencang, Rian dan beberapa orang-orang Lucky berlari ke kamar. Mereka mengira Lucky sedang dalam masalah. Tapi begitu melihat apa yang terjadi, Mereka semua melotot dan kaget. Menutup mulut saking shocknya. Tuan Lucky sedang melow.
Noah melotot melihat ke arah mereka di pintu. Mengusir dengan mengibaskan tangannya. Untung saja Lucky tidak sempat melihat mereka. Jadi dia masih nyaman menangis di dada Noah. Satu persatu mereka bergerak pergi. Yang terakhir adalah Rian. pemuda itu terkikik geli, lalu pergi.
"Luck, sudah. Kau harus kuat. Jangan jadi cengeng begini" Noah merenggangkan pelukan Lucky. Menatap wajah layu yang bersimbah air mata. "Jangan sia-siakan pengorbanan Sri. Kita harus tetap maju. Tahan sedikit rasa rindu mu, kak"
"No, maafkan aku" lirih suara Lucky.
"Untuk apa?"
"Kau tetap menganggap ku kakakmu, sekalipun aku sering membulimu"
Noah tersenyum menenangkan hati Lucky yang sedang sensitif. Noah memaklumi keadaan Lucky saat ini.
__ADS_1
"Bagaimanapun juga, kau adalah kakak sepupuku. Aku sayang padamu. Maka dari itu, jangan kecewakan kami, kak. Paman dan kakek hanya tinggal mengharapkan kita berdua. Kuatlah. Okay?"
Lucky menatap lamat adik sepupunya ini. Hanya Noah yang bisa di andalkan. Dan sekarangpun dia dengan setia mendukungnya. Tatapannya beralih ke bibir Noah. Terluka karena Lucky tidak sengaja meninjunya terlalu keras waktu berdrama di kamar hotel.
"Bagaimana bibir mu? apa masih sakit?"
Sontak wajah Noah berubah kesal. "Ah.. Sialan kau! Kau meninjuku terlalu keras, Luck"
"Hehe.. Maaf. Aku tidak sengaja" suasana hati Lucky sudah sedikit membaik.
"Aku tau kau sengaja" Noah menatapnya tajam.
"Tidak. Sungguh aku tidak sengaja. Tapi.. Yah sedikit cemburu memikirkan kau seranjang dengan istriku"
"Sialan kau!" Noah meninju lengan Lucky.
Lucky hanya tertawa tanpa suara. Mengelap sisa air matanya. Suasana hatinya tidak seburuk tadi.
"Minumlah obat mu. Lalu istirahat saja di kamar lain. Kamar ini sudah sangat kotor karena muntahan mu"
"Aku tidak sakit. Kenapa harus minum obat?" Lucky protes.
"Jangan membantah. Bagaimana kalau pusingmu datang lagi?"
"Hmm.."
Dengan kesal, Lucky merampas obat dari tangan Noah. Meminumnya dengan cepat. Lalu berpindah ke kamar lain. Pelayan menyediakan sarapan ke kamar.
"Astaga! Lebih baik kau tidak minum obat agar kau tidak mulai lagi. Huh!! Setelah sembuh, kaku mu kembali lagi!"
π
π
π
Setelah matahari meninggi, Lucky sudah kembali segar. Rasa mual dan pusingnya hanya menyerang di pagi hari. Setelah itu, Lucky sudah kembali normal. Noah hanya bisa mendengus kesal karena kembali melihat si tuan kaku berwajah datar.
Lucky berdiri menatap layar lebar itu dengan seksama. Sebelah tangannya masuk ke saku celana, dan sebelah lagi di dagunya. Rian, Noah dan Frans ada di belakangnya. Juga sama memperhatikan ke layar monitor besar.
Meraka ada di sebuah ruangan yang luas. Banyak peralatan perangkat lunak di sana. Beberapa orang berkonsentrasi di depan laptop. Sibuk dengan kerja masing-masing.
"Hhh.. sungguh menjijikkan!" desis Lucky merasa jijik melihat layar monitor. Lalu berbalik. "Bagaimana menurut, papi?" Menatap Frans tajam.
"Papi ikut strategimu saja" jawab Frans.
"Bagaimana denganmu, No?" Beralih menatap Noah.
"Erwin sudah memberi info. Kita sudah dapat undangan peresmian kantor baru mereka. Dan semua sudah siap. Tinggal menunggu aba-aba dari om Baris"
__ADS_1
"Bagus. Aku mau semuanya sempurna" Lucky manggut-manggut. "Rian, apa kau sudah menyiapkan semua kamera?"
"Sudah siap, bos" jawab Rian mantap.
"Tapi, Luck.. Bagaimana dengan Bronze? Apa kau sungguh akan meliburkan semua staf karyawan?" Noah bertanya.
"Ya. Kita sudah dapat apa yang kita mau. Keinginanku terkabul. Aku mau bukti dari mulut mereka sendiri. Semua sudah matang. Kita liburkan semua staf karyawan Bronze selama seminggu penuh."
"Tapi... Bagaimana dengan dananya? Kita akan butuh dana lebih besar."
"Aku tidak peduli. Aku siap menanggung semua biayanya. Lagi pula, toh semua Bisnisku sudah anjok untuk saat ini. Aku siap bertaruh. Biarkan mereka merasa di atas angin. Aku sudah bernego dengan semua investor untuk mencoba kerja sama dengan Levi. Dan aku berjanji akan menunjukkan pada mereka perbandingan kualitas antara aku dan Levi pada saat peresmian nanti."
"Sudah kau pikirkan tentang dananya, nak?" Frans menepuk pundak Lucky.
"Iya, pap. Aku siap bertaruh. Aku kerahkan semua keuangan untuk hal ini. Beri gaji full pada semua karyawan yang libur. Tidak ada potongan sedikitpun. Aku ingin masuk dalam pikiran mereka, bahwa aku sudah bangkrut total. Aku ingin lihat siapa kawan, siapa lawan."
"Baiklah jika begitu" Noah menyetujui apa yang di inginkan Lucky.
"Baiklah. Papi juga ikut apa yang kau rencanakan. Papi harus pergi sekarang. Kalian berhati-hati lah"
Lucky mengangguk. Frans pergi memeriksa keadaan perusahaannya. Mereka bubar. rapat selesai. Rian dan Noah kembali ke meja kerja mereka. Rian membuka bungkus martabak yang tadi di belinya. Menggosok tangannya ingin segera melahap makanan kesuakaannya itu.
Lucky duduk menghadap layar monitor besar yang sedang di pouse. Menatap tajam dengan pikiran berkecamuk. Tapi seketika dia menegang. Matanya tajam melirik sana sini. Hidungnya menghidu bau tak sedap.
"No.. Apa kau mencium bau ini?" Lucky menatap Noah.
"Hah? Bau apa?" Noah jadi ikut mengendus.
"Iishh.. Ini bau sekali!" lucky menutup hidungnya.
"Bau apa? Ini harum, Luck. Bukan bau"
"Apa?"
"Itu, Rian bawa martabak telur" Noah menunjuk ke arah meja kerja Rian.
"Astaga! Buang itu. Aku mau muntah!" Lucky mulai keringat dingin dan wajah seputih kapas.
"Hadeeehh.. Dia mulai lagi.." Noah memutar bola matanya malas. "Riaaann! Buang maratabakmu!!" Noah meneriaki Rian.
Pemuda itu terjengkit kaget dengan mata melotot. Mulutnya masih tersumpal martabak telur yang belum selesai masuk ke mulut. Merasa tidak terima martabak kesukaannya harus segera di buang.
"Aappiii aakk.." Rian bicara dengan mulut tersumpal. Mendelik kaku. Yang maksudnya berkata ingin protes.. 'tapi pak.."
"Riaaann!! Buang! Aku mau muntaahh.. Huuuueekkk!!"
π₯Άπ₯Άπ₯Ά dengan berat hati terpaksa Rian menyudahi makannya. Lemas beranjak ke tong sampah membuang martabak yang baru di sentuh. Noah mendekatinya. Menepuk punggung Rian menyabarkan pemuda itu.
"sabar ya, Rian"
__ADS_1
"Miris sekali nasibku, pak Noah. Istri yang hamil, kenapa suami yang jadi sangat cerewet?" keluh Rian.
"Biasa, ironi ayah hamil" Jawab Noah terkekeh geli.