
Sri dan Melani datang menjenguk kakek Fredi. Lelaki tua itu terbaring lemah dengan wajah pucatnya. Selang infus dengan sekantong darah menancap di tangannya. Kulit keriputnya tampak memutih. Terbaring diam bagai orang mati. Efek obat bius paska operasi belum hilang sepenuhnya.
Di ruangan VVIP yang luas ini juga sudah ada Neni, Vira dan juga nenek Liana. Di sudut ruangan duduk seorang gadis manis. Wajahnya mirip dengan levi. Sri belum pernah melihatnya. Gadis itu tersenyum pada Sri dan melambaikan tangan menyapa. Sri membalas dan mengangguk.
Sementara para lelaki ada di luar ruangan. Entah apa yang mereka bicarakan. Tadi Sri sempat melihat mereka bersitegang. Tapi Melani langsung membawanya ke dalam ruang perawatan Fredi. Tak mau terlibat perseteruan antar lelaki itu.
Sri menyalami nenek Liana. Mencium punggung tangannya. Lalu beralih pada Neni. Mengulurkan tangan ingin menyalami. Tapi Neni menolak dengan dengusan napas. Sri tercengang melihat apa yang dilakukan Neni. Sebegitu tidak sukakah bibinya Lucky ini padanya? sampai tidak mau bersentuhan kulit.
"Kakak ipar" gadis itu menyapa Sri. Lalu mengulurkan tangannya. "Aku Geby, kak. Adik kak Levi"
Sri tersenyum. Menyambut hangat jabat tangan Geby. "Aku Sri" Geby menarik Sri untuk duduk di sampingnya. Sri hanya menurut saja. Geby menatapnya tak lepas.
"Kakak ipar cantik sekali" pujinya dengan mata berbinar. Gadis remaja yang manis. Sri tersenyum saja mendengar pujian Geby.
"Terima kasih Geby. Geby juga cantik"
Gadis itu tersenyum sumringah. Tampak sangat menggemaskan. Seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru. Centil sekali.
"Ibu, bagaimana keadaan ayah?" Melani mendekati ibu mertuanya. Mencium punggung tangannya lalu merangkul pundak Liana.
"Hikss.. dia masih lemah" Liana tersengguk sedih. Memegangi tangan suaminya erat.
"Kita harus bersabar, Bu. Ayah akan segera membaik" Melani memeluk punggung Liana.
"Mereka sudah sangat keterlaluan, Lani. Suamiku tertembak dan pelakunya masih belum tertangkap"
Suara tua itu bergetar dalam tangis. Emosional melihat suaminya terbaring lemah. Melani hanya bisa menenangkan ibu mertuanya.
"Polisi masih menyelidiki ini, Bu. Pelakunya pasti tertangkap"
"Aku mau mereka mendapatkan ganjaran setimpal, Lani" desis Liana marah.
Sri melirik wajah Neni yang sedikit berubah mendengar perkataan ibu mertuanya barusan. Entah apa yang dia resahkan. Sri dapat dengan jelas melihat itu. Tapi Neni segera dapat menguasai diri. Tetap duduk tenang di sebelah putrinya.
"Ibu harus beristirahat. Nanti ibu sakit. Biar Lani yang menjaga ayah" Melani membujuk Liana. Wanita tua itu hanya menggeleng lemah. Tidak mau berpisah dari suaminya. "Ibu.. jangan begini. Ibu butuh istirahat."
__ADS_1
"Aku sudah membujuknya, kak. Tapi ibu tetap saja bandel" celetuk Neni ketus.
Melani menoleh menatap Neni tajam. Tapi Neni mengedikkan bahunya cuek. Sri juga melirik Neni yang tak pernah mau melihat kearahnya. Sungguh wanita ini sangat terkesan mengesalkan sekali.
"Mama, jangan bicara begitu. Nenek lagi bersedih" putrinya mengingatkan.
"Alaaahhh.. kau anak kecil. jangan ikut campur!" sentak Neni dengan suara tertahan. Mendelik memarahi putrinya.
Sungguh jauh berbeda sikap Geby dengan anggota keluarganya. Gadis ini sangat ramah dan dengan wajah polosnya menegur ibunya. Sementara Neni, Levi dan paman Fardo, sangat bertolak belakang dengan Geby.
Melani menggeleng-gelengkan kepalanya. Kesal sekali dengan celetukan ketus yang Neni lontarkan. Mengajak Liana untuk pindah ke sofa. Dengan berat hati Liana melepas tangan suaminya. Menurut mengikuti Melani ke arah sofa.
"Lani bawa makanan untuk ibu. Ibu harus makan, ya?" Melani membuka bungkus makanan yang ia bawa tadi. Menawarkan ke depan Liana.
"Ibu tidak berselera makan, Lani" Liana menolak.
"Jangan menolakku, Bu. Ayo, ibu makan dulu"
Melani tetap menyiapkan makanan untuk nenek Liana. Wanita tua itu tak lepas melihat ke arah brankar suaminya. Berharap kakek Fredi cepat terbangun.
"Tidak bibi. Aku sudah makan. Lebih baik aku dengan kakak ipar saja" Geby melihat Sri tak jemu. Sri sampai kikuk di pandangi gadis remaja ini.
"Kakak ipar mu tidak akan pergi kemana-mana. Makan lah dulu" Melani menyerahkan piring ke pada Geby. Tapi gadis itu tetap menolak.
"Kau tidak makan, Neni?" Melani menatap Neni yang sibuk memainkan gawainya.
"Tidak, terima kasih. Aku tidak berselera dalam keadaan berkabung begini. Bagaimana kalian masih bisa memikirkan makanan? Ha?" Neni mendengus melirik Melani sinis.
Ah.. Bukan jawaban ini yang di harapkan Melani. Tapi Neni memang selalu begitu. Tidak peduli dengan siapa di bicara. Intonasinya selalu terkesan ketus.
Nenek Liana langsung saja menghentikan makannya mendengar ucapan Neni. Tapi Melani cepat mencegahnya dan tersenyum lembut. Lewat tatapan matanya, Melani meminta ibu mertuanya untuk tidak menghiraukan apa yang dikatakan Neni tadi.
Suasana berubah sangat canggung. Neni bergumam tak jelas. Sri tak ingin mendengarkan gumaman Neni lagi. Bergerak bangkit dan menuju brankar kakek Fredi. Tak di sangka, kakek Fredi mulai membuka matanya. Sontak Sri memanggil Melani.
""Mami! Kakek sudah sadar!"
__ADS_1
Segera Melani datang mendekat. Nenek Lianaberjalan tergopoh di bantu Geby. Sedangkan Neni memutar bola matanya malas. Merasa jengah dengan sikap antusias mereka.
"Ayah" Melani memegang tangan ayah mertuanya.
Kakek Fredi meliriknya dengan mata sayu. Ingin berbicara tapi masih merasakan lemas sekali. Liana mendekat dan langsung menangis. Sri segera pergi memencet bel agar perawat segera datang. Dan segera keluar setelahnya untuk menyampaikan kabar ini pada Lucky . Tapi dia tidak melihat Lucky. Para pengawal yang berjaga bersiap sedia. Sri menyuruh mereka untuk memanggilkan Lucky.
Rombongan Lucky datang bersama seorang dokter dan dua orang perawat. Dokter segera memeriksa keadaan kakek Fredi. Semua orang tampak cemas. Kecuali Fardo sekeluarga. Sri melirik masing-masing dari mereka. Wajah-wajah itu menunjukkan air muka yang berubah-ubah. Sri sampai mengernyitkan dahi. Merasa heran saja kenapa mereka bertiga tidak tampak bersedih seperti yang lain.
"Bagaimana dokter?" tanya Frans cemas.
"Tuan Fredi baik-baik saja. Kalian boleh bersamanya. Tapi saya mohon, biarkan tuan Fredi lebih banyak beristirahat"
"Syukurlah"
Semua orang bisa bernapas lega. Dokter Lian dan perawat keluar dari ruangan. Lucky mendekati Sri dan merangkulnya. Mengecup puncak kepala istrinya.
Tampak kakek Fredi menatap Frans intens. Menaikkan sedikit tangannya dan memanggil anak tertuanya itu.
"Ya, ayah? Ayah ingin sesuatu?"
Frans mendekat dengan antusias. Menggenggam tangan ayahnya lembut. Agak membungkukkan badannya condong ke depan Fredi.
Bibir kakek Fredi bergerak-gerak. Tak terdengar suaranya. Tapi Frans bisa mendengar bisikan ayahnya. Memintanya untuk lebih mendekat lagi. Setelah di rasa cukup, Fredi membisikkan sesuatu yang orang lain tidak bisa mendengar.
Semua orang menatap mereka berdua. Saling memastikan apa sebenarnya yang di bisikkan kakek Fredi pada Frans.
"Sebaiknya ayah beristirahat dulu. Ayah akan segera membaik"
Frans menatap ayahnya prihatin. Menegakkan tubuhnya dan menarik selimut ayahnya lebih tinggi menutupi tubuh rentanya. Fredi menurut. Memejamkan lagi matanya dan tampak damai.
Frans berbalik menatap semua orang satu persatu. Yang tidak ada di ruang perawatan ini hanya bibi Vera. Mungkin dia lebih memilih menjaga suaminya.
"Ayah baik-baik saja. Sebaiknya kita keluar. Dia harus beristirahat penuh sekarang" ujar Frans tegas.
Fardo mendengus kesal. Selalu dia dinomor duakan. Hanya Frans lah orang kepercayaan ayahnya. Padahal sudah sekian lama Frans dan keluarganya terusir dari mansion. Tapi tetap saja Fardo belum bisa menggantikan kedudukan Frans sebagai pemimpin.
__ADS_1
Tapi apa mau dikata? Kehendak ayahnya tidak bisa di bantah. Apalagi Fardo hanya punya kedudukan sebagai anak tiri. Hanya bisa menahan kedongkolan di hati. Fardo tetap tak berdaya.