
Bergelung di bawah selimut lembut dan memeluk bantal guling di pagi buta itu memang enak. Nyaman yang tiada duanya. Kesukaan Sri. Tapi otaknya segera bekerja dengan cepat. Segera membuka mata agar kantuk cepat menghilang.
Pertama kali yang di lihat adalah tempat tidur bagian Lucky. Ternyata sudah kosong. Lucky sudah bangun. Sri bangkit dari tidurnya. Duduk mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Lucky tidak ada.
Sri tertegun. Mengingat kejadian tadi malam. Untung saja Lucky tidak menyadari kalau sri sudah berbuat nekad mengecup bibirnya. Walau hanya sedikit, tapi rasanya masih membekas.
Sri menyentuh bibirnya sendiri. Masih bisa ia ingat rasa hangat bibir Lucky ketika menempel tipis di bibirnya.
"Ah, edaan!! aku maluuu.."
Sri menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menyembunyikan di lututnya yang tertekuk keatas. Tersenyum malu sendiri mengingat aksi nekadnya tadi malam.
Rasa apa ini? jantungnya berdesir. Pipinya merona. Ada rasa hangat menyusupi hatinya. Sri menoyor kepalanya sendiri. Menyadari aksi konyolnya yang tak berarti.
"Ojo edan Sri. Ra ngaruh gaya konyol mu. Hihiihii.." Sri bicara pada dirinya sendiri dan terkikik geli.
Segera beranjak turun dari tempat tidur. Bersiap untuk mandi. Mengambil handuk dan melangkah ke kamar mandi. Tapi Sebelum masuk, matanya menangkap sesuatu di atas nakas. Kertas.
"Kertas opo iku?" gumamnya sambil berbalik mendekati nakas.
Secarik kertas kecil wana kuning tergeletak di atas nakas. Sri mengambilnya dan membaca isinya.
SIAPKAN PAKAIAN KU UNTUK DUA HARI.
Sri tertegun. Tulisan tangan itu pasti milik Lucky. Mau kemana pria kaku itu sampai dua hari? Tapi Sri terbiasa untuk tidak bertanya. Hanya mengedikkan bahu dan meletakkan kembali kertas itu. Bergegas pergi mandi agar bisa cepat menyiapkan baju Lucky.
š¹
š¹
š¹
Selesai mandi, Sri berkutat di ruangan walk in closed. Membuka semua pintu lemari pakaian Lucky. Begitu banyak baju dan jas berjejer rapi. Kebanyakan jas berwarna hitam dan navi.
Baju kemeja juga banyak berjejer di tumpukan lemari. Ada juga yang di gantung rapi. Sri memilihnya satu persatu dan memadu padankan dengan warna jas agar serasi. Memilih dasi dan perlengkapan lainnya.
Mengambil salah satu koper yang bertumpuk tersusun di lemari yang khusus untuk koper. Dari yang kecil sampai yang paling besar. Karena bajunya hanya untuk dua hari, Sri memilih koper yang kecil saja. Menyusun pakaian Lucky serapi mungkin agar tidak kusut. Tidak lupa dala man juga.
"Sudah selesai?"
__ADS_1
"Eh gundul!"
Sri menoleh kaget mendengar suara Lucky yang tiba-tiba sudah ada di pintu.
"Aduh mas. Ngagetin aku!" sungut Sri sambil mengelus dadanya.
Terlalu asik menyusun pakaian di koper sampai dia tidak menyadari Lucky datang. Cepat-cepat Sri berpaling tak mau melihat dada telan Jang yang tampak berkilat karena keringat.
Lucky melangkah masuk ke dalam. Memperhatikan Sri menyusun bajunya. Pria itu memegang handuk kecil dan menyeka keringatnya yang bercucuran.
"Ini bajune wes selesai. Kamu rasa cocok Ndak warnanya mas?" tanya Sri menunjukkan pakaian yang sudah rapi di dalam koper.
"Terserah kamu" hanya itu jawaban Lucky.
Sri menoleh menatap Lucky sebal. Jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaannya. Tapi Lucky cuek saja. Tidak terganggu dengan pandangan jengkel di mata Sri.
"Aku sudah bilang pada papi soal kamu"
"Hah? soal opo?" Sri menatap Lucky serius. Tidak mengerti apa yang di bicarakan Lucky pada papinya.
"Kamu kerja"
"Waaahh.. beneran mas?" Sri tampak berbinar. Hampir saja ia mendekap Lucky. Tapi sadar itu tidak bisa di lakukan. "Terus, papine bilang opo mas?"
"Hah? syarat? Opo meneh iku mas?"
Lucky menatap Sri jengkel. Gadis ini selalu bicara dengan bahasanya sendiri. Lucky sulit mencerna di otaknya. Dia tidak mengerti.
"Sri, tolong. Bisa tidak kamu pakai bahasa yang benar? aku tidak mengerti bahasa mu"
Sri tersenyum geli. Dia selalu lupa kalau Lucky tidak paham bahasa yang ia gunakan. Kali ini karena hatinya sedang senang, dia tidak marah Lucky memprotes bahasa daerahnya.
"Maaf Mase. Sri lupa loh" Sri terkikik geli. "Yo wes... eh maaf. Ya sudah, papine ngomong syarat apa?"
"Kamu bisa bekerja. Syaratnya kita harus bulan madu dulu. Kalau sudah kembali, kamu boleh bekerja"
Seketika wajah Sri menegang. Senyum ceria lenyap begitu saja. Mendengar syarat aneh yang diinginkan Frans untuk bisa melangkah kedepan.
Bulan madu? Itukan untuk suami istri Yo? Untuk nganu-nganuan sama suami. Iihhh.. ntar mas Lucky ngapain aku! eh tapi.. kan enak Yo? ngerasain lambe( bibir) ne meneh(lagi)!! hahahaaa
__ADS_1
"Sri"
Lucky menggerakkan tangannya di depan wajah Sri karena gadis itu tampak menatap kosong. Entah apa yang di lamunkannya. Sri tergagap dengan wajah merona. Lucky heran melihat perubahan wajah Sri yang tersipu malu.
"Ya sudah Mase. Ndak apa-apa kok. Yang penting Sri bisa kerja" jawab Sri tertunduk malu.
Lucky mengerutkan keningnya. Menatap heran kenapa Sri jadi tersipu begitu. menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku mau keluar kota untuk beberapa hari. Menyelesaikan pekerjaan yang belum berjalan lancar. Kamu berani sendiri kan?" tanya Lucky lagi.
"Eh.. i-iya Mase. berani. Kan ada mami"
"Maksudku, tidur sendiri"
serrr..
Jantung Sri berdesir mendengar pertanyaan Lucky. Ngapain bertanya begitu? tidur sendiri? sok perhatian! Biasanya juga kalau bisa Sri di tendang keluar kamar.
"Berani mas" jawab Sri sambil menunduk.
"Kalau ada apa-apa, bicara sama mami" Lucky masih menatap Sri tajam. Membuat Sri semakin belingsatan.
"hu'um"
Sri hanya bisa menjawab itu. Entah kenapa jantungnya jadi berdetak tak beraturan. Ada rasa di perhatikan Lucky hari ini. Sampai bertanya berani tidur sendiri atau tidak.
"Ya sudah. Aku mau mandi dulu. Siapkan baju ku"
Lucky meraih handuknya dan berlalu pergi. Begitu Lucky menghilang, Sri terlonjak kegirangan. Tersenyum bahagia karena papi Frans sudah mengijinkannya kerja.
"Uuuhhh.. senengeee!! yes! yes!"
Sri menghentak-hentakan kakinya saking girangnya. Mengepal tangannya ke pipi. Bersorak ria menyambut ijin yang berhasil di perolehnya berkat bantuan lucky.
Tapi begitu melihat ke pintu, seketika wajah Sri merah padam. Ternyata Lucky melongokkan kepalanya dari pembatas dinding, melihat tingkah konyolnya.
"Eh.. Mase... heehee.."
Sri cengengesan menghilangkan rasa malu kepergok Lucky. Lucky menaikkan sudut bibirnya tersenyum kecil melihat tingkah Sri. Menggeleng-gelengkan kepalanya dan pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Sri menutup wajah dengan kedua tangan saking malunya. Tersenyum menyembunyikan wajahnya di balik tangan. Mungkin sekarang wajahnya sudah berubah hitam saking panas dan merah padam. Ternyata Lucky belum pergi dan melihat dia melonjak kegirangan.
Ternyata Lucky memang seorang yang pegang janji. Menepati janjinya mengijinkannya berkerja. Sejauh ini Lucky juga konsisten tidak pernah mengganggunya dan tidak pernah macam-macam. Walaupun mungkin saja itu karena Lucky tidak berselara padanya.