OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Tubuh Polosmu


__ADS_3

Lucky bertemu dengan Baris di taman samping kondominium. Baris masih belum menemukan Sri. Itu membuat Lucky semakin panik.


"Kau sudah menghubungi ponselny" tanyanya pada Baris.


"Tidak aktif, tuan"


"Akhhh.. brengsek! kemana dia?"


Lucky mengusap rambut sampai ke wajahnya dengan kasar. Tapi tak mau berputus asa, Lucky mencoba menghubungi ponsel Sri lagi.


Tuuuttt.. Tuuuttt..


Terhubung!


Dengan cemas Lucky menunggu Sri menerima panggilannya. Tapi sampai beberapa detik, belum ada jawaban. Lucky menghubungi ulang beberapa kali. Sampai terdengar suara Sri berteriak.


"Aawwhh.. Halo!"


"Srii!! kamu tidak apa-apa? Kamu kenapa? katakan!!" Lucky juga ikut berteriak saking cemasnya. Wajah tegang itu tak bisa di sembunyikan lagi.


"Aduuhh.. Mase Iki! Ono opo toh Krang kring krang kring terus? Sri lagi mandi Iki sampe kepeleset!" suara jengkel Sri melengking di seberang sana.


"Apa??!! Mandi??! Kamu mandi di mana?! sama laki-laki itu??!" teriak Lucky melotot marah. Seakan Sri ada di depannya.


"Wuooppoo toohh.. Malah laki-laki mbarang iku loh! Sri mandi di kamar ini Lo mas!"


Sentak Sri terdengar jengkel. Mendengar itu, amarah Lucky sedikit mereda. Melihat sikap tuan mudanya, Baris menahan senyum di belakang Lucky. Lucky terlihat sangat panik dan cemas.


"Ya sudah. Lanjutkan mandi mu" ujarnya datar kemudian. Tiba-tiba wajah marah, cemas dan panik yang tadi tak dapat di sembunyikan lucky, kini menghilang begitu saja. Cepat berganti wajah datanya lagi.


"Iiishh.. Cuma mau nanya mandi saja kok heboh tenan!"


Sri memutuskan sambungan telepon. Lucky menjauhkan ponsel dari telinganya karena bunyi sambungan telepon terputus dengan nyaring di telinganya. Menatap Baris yang masih setia menunggu.


"Istri ku ada di kamar, bagaimana om tadi bilang dia tidak ada?" tanya Lucky pada baris dengan tajam.


"Maaf tuan. Mungkin kami selisih jalan, tuan muda. Tadi saya periksa tidak ada. Dan ponselnya tidak aktif" jawab Baris membungkuk hormat.


Lucky menghela napas panjang. Bersyukur Sri tidak kenapa-kenapa.


"Ya sudah. Om Baris boleh pergi"


Baris mengangguk dan pergi meninggalkan Lucky. Lucky terduduk lemas di bangku taman. Hampir saja ia kehilangan Sri. Kalau sampai terjadi apa-apa, pastilah orang tuanya tidak akan memaafkannya.


🌺


🌺


Setelah selesai mandi, Sri membawa kopernya ke tempat tidur. Hanya memakai handuk minim melekat di tubuhnya, Dia membuka koper itu yang ternyata isinya sudah kosong.


"Siapa yang beresin koper ku?" gumam Sri.


Mungkin ketika dia keluar tadi, ada pelayan kamar yang bertugas membereskan pakaiannya. Sri melangkah ke lemari besar itu. Membukanya, dan benar saja. Pakaiannya sudah tersusun rapi.


ceklek!


Pintu terbuka. Sri terperanjat kaget menoleh kearah pintu. Tampak Lucky masuk ke kamar. Berdiri di balik pintu yang sudah menutup lagi. Menatap Sri yang belingsatan menyembunyikan tubuhnya di balik pintu lemari. Dan sepertinya itu sia-sia. Pintu lemari itu tidak bisa menyembunyikan tubuhnya.


terpaksa Sri agak menutupkan pintu itu sedikit, agar tubuhnya bisa terhalangi daun pintu lemari. Sri tidak mahu Lucky melihatnya yang hanya memakai handuk kecil sebatas paha atas dan mempertontonkan bahu dan dada bagian atasnya.

__ADS_1


"Ngapain kamu di situ?" tanya Lucky dingin.


"Awas Mase. Sana sana.. cepat pergi" Sri mengintip dan menggerakkan tangannya mengusir Lucky.


Lucky menaikkan sebelah alisnya. Merasa tersinggung Sri mengusirnya dari kamar. Segera dia melangkah mendekati Sri di balik pintu.


"Eeehh.. aduuhh... Mase ngapain ke sini. huss.. huss.. sana Mase!" pekik Sri ketakutan.


Lucky berhenti di depan pintu yang tertutup menggantung karena terhalang tubuh Sri. Sri sudah sangat mepet ke rak lemari. Membuat Lucky melongokkan sedikit kepalanya ingin melihat apa yang di tutupi Sri di balik pintu.


"Eh, apa sih Mase! Jangan lihat!" Sri memekik nyaring. Melotot menatap Lucky dengan tangan telulur kedepan berusaha menghentikan Lucky.


Lucky menyeringai licik. Kini ia tahu kenapa Sri mencoba menghalanginya mendekat. Secepat kilat Lucky menarik daun pintu lemari dengan kencang agar terbuka. Tak mampu Sri menahan gerakan kilat itu. Tangannya yang memegangi pinggiran daun pintu ikut tertarik maju.


"Aaaaa.."


Sri menjerit menghentak ke depan. Saking kuatnya tarikan Lucky, sampai tubuh Sri juga ikut menubruk tubuh Lucky. Tangannya kini ada di dada Lucky. Tubuhnya mepet ke tubuh Lucky. Handuk kecil yang menggelung rambut basahnya terlepas jatuh kebelakang.


Rambut basah itu tergerai begitu saja. Sebagian menutupi wajahnya. Kini terpampang jelas bahu dan bagian dada bagian atasnya di depan Lucky.


Lucky dapat merasakan kulit dingin tangan Sri yang menempel di dadanya. Dan tak hanya kulit tangan. Tapi seluruh kulit tubuh Sri kini menempel di tubuhnya. Hanya terhalang pakaian lucky saja. Dan sepertinya Sri belum menyadari kalau handuk yang melilit tubuhnya terlepas melorot ke bawah.


Sri tela njang bulat!! (kenapa gak lonjong ya?" 🤣)


"Mase ini apa-apaan sih?!" Sri memukul dada Lucky pelan. mundur kebelang dua langkah menjauhi Lucky, dengan wajah yang sudah bersemu merah.


Glek!


Tubuh Lucky kaku seketika. Menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya susah untuk berkedip melihat pemandangan di depannya. Tubuh mungil putih mulus. Dada membusung mengkal. Perut rata yang menggoda. Dan lebih kebawah...


Lucky bisa melihat segalanya. Baru kali ini dia melihat tubuh wanita sepolos-polosnya dengan nyata. Tidak mimpi, tidak pula di layar tv, tidak di video bokep, tidak di lembar majalah. Ini nyata!


"AAAAAAAA...."


Bukannya lari menjauh. Sri malah menubruk Lucky lagi. Dia pikir, kalau lari menjauh, Lucky malah akan melihat tubuhnya dengan sempurna, depan dan belakang. Jadi Sri spontan menubruk Lucky dan segera menutup mata Lucky dengan kedua tangannya.


"Jangan lihat Mase!! tolong jangan lihat!! Ya ampuuunn..!!"


Sri membekap erat kedua mata Lucky. Pria itu sampai gelagapan karena Sri bergerak-gerak gelisah menghentak-hentakan kakinya ke lantai dengan posisi tubuh menempel erat di tubuh Lucky bagian depan.


Lucky bisa merasakan kenyalnya tubuh Sri. Akibat gerakan Sri, tubuhnya seakan menggesek bagian tubuh depan Lucky. Karena kedua tangan Sri naik keatas, membuat dadanya semakin nyata terasa di dada Lucky.


"Berhenti bergerak Sri!" Lucky menggeram dengan suara berat.


Sontak Sri diam tak bergerak. Sri panik bukan main. Memikirkan cara bagaimana agar Lucky tidak melihat tubuh polosnya. Handuknya sudah tertinggal di bawah lemari yang jaraknya masih beberapa langkah kebelakangnya. Lari ke kamar mandi, lalu siapa yang akan menutup mata Lucky? pasti pria ini akan melihatnya berlari kekamar mandi.


"Aduuhh... Mase! tolong... Jangan buka mata ya.." rengek Sri sambil mendongak melihat wajah Lucky yang matanya di tutup dengan tangan Sri.


Tidak ada lagi jarak diantara mereka. Lucky bisa merasakan napas Sri yang memburu karena panik. Jika ia menunduk sedikit saja, pastilah bibirnya akan menyentuh bibir Sri.


"Aku lihat apa? Kamu tutup mata ku begitu" ujar Lucky.


"Ayo mas. geser ke tempat tidur. Cepetan!"


Sri bergerak ke samping bermaksud mengajak Lucky untuk bergerak kearah tempat tidur. Tapi Lucky bergeming. Masih tegak di tempatnya. Spontan Sri balik lagi memepet tubuh Lucky.


"Iiihhh.. Mase!! ayooo.. jalan ke samping kanan sini... Kenapa diam aja to??!!


Sri menggerinjalkan kakinya lagi dengan gemas. Karena Lucky tidak mengikuti arahannya.

__ADS_1


"Mana jalannya? aku tidak bisa lihat" Keluh Lucky.


"Ya makanya ke sini tooohh.. Sri kasih tau arahnya"


Sri mencoba lagi mengarahkan Lucky melangkah ke sebelah kanan. Tapi Lucky semakin tertatih karena takut menabrak sesuatu.


"Aku tidak lihat Sri!" keluh Lucky jengkel. Tangannya meraba-raba kesamping kanan dan kiri. Berjalan layaknya orang buta.


Sri berpikir sejenak. Bagaimana caranya Lucky bisa melangkah ke arah tempat tidur? Kamar ini memang luas. Jadi selisih jarak prabotan cukup jauh.


"Ya sudah. Mase Pegang tangan Sri"


Lucky menurut. Menggapai-gapai di udara meraih tangan Sri. Tapi apalah daya. Bukannya tangan, tapi malah pinggang Sri yang lebih dulu dapat tersentuh Lucky.


Nyeesss!!


Langsung saja kulit dingin Sri yang polos itu bagai mengalirkan sengatan listrik tegangan tinggi di telapak tangan Lucky. Memberi sensasi aneh menjalari seluruh aliran darahnya. Sementara Sri mendelik gusar begitu tangan hangat Lucky menempel di pinggangnya.


"Aaa.. Mase! kenapa di situ??"


Sri rasanya mau menangis saja. Wajahnya terasa panas akibat darah yang mengalir deras kekepalanya karena malu. Ingin mengubur dirinya dalam-dalam saat ini juga. Sungguh sial hari ini.


"Aku tidak tahu tangan mu di mana" Suara Lucky bergetar halus. Menahan tangannya agar tidak banyak bergerak.


Sri bingung. Dalam keadaan mata tertutup, pastilah Lucky akan sulit menemukan pegangan yang akan mengarahkan langkahnya. Jika ia suruh Lucky meraba keatas, maka mati saja lah dia. Karena Lucky pasti akan menyusuri kulitnya dan akan menyentuh sisi dadanya.


"Ya sudah. Di situ saja jangan bergerak lagi. Ayo jalan kekanan"


Sri agak menarik tangannya kearah kanan di mata Lucky. Lucky mengikuti arah yang di inginkan Sri. Tapi karena bergerak melangkah., membuat tangan Lucky menjadi bergesekan dengan tubuh Sri.


Lucky menahan diri mati-matian agar jangan sampai meremas bokong Sri saat ini juga. Dan Sri pun mati-matian menahan desiran akibat gesekan kulit tangan Lucky di lengan atasnya, dan di kanan kiri sisi tubuhnya.


Tubuh mereka menempel erat. Pergerakan itu menghasilkan percikan api dalam darah Lucky. Napasnya mulai memburu. Tangannya sudah tidak memegang pinggang Sri lagi. Tapi lebih ingin menyentuh bagian belakang Sri.


"Sudah mas. berhenti"


Sri menghentikan langkahnya. Dan Lucky ikut berhenti.


"Sudah mas! lepas tangannya"


Bukannya melepas, Lucky malah menekan bagian belakang pinggul Sri. Sri jadi semakin merapat ketubuhnya. Meremas pelan pinggul Sri dengan tangan gemetar.


"Mase! Ojo ngono mase"


Keluh Sri pelan. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Tapi Lucky seakan tak mendengar. Meraba pinggul belakangnya sampai ke bagian dua bongkahan di belang Sri. Meremas pelan seakan menikmati rasa itu.


Tliling.. tliling..


Deg!


Sontak keduanya membeku. Di kejutkan suara deringan telepon lucky di saku celananya. Sri cepat-cepat tersadar dan menarik kencang selimut tipis dari tempat tidur. Membelitkan di tubuhnya sebelum Lucky menyadari apa yang terjadi.


Lucky masih mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya lampu kamar yang terang. Menoleh melihat Sri sudah duduk di tepi ranjang dengan selimut membebat tubuh polosnya.


Kesal Lucky merogoh saku celananya. Mengambil ponsel yang menjerit minta di angkat. Tertera di layar ponselnya nama seseorang yang sudah lama tidak di temuinya.


DEVA ELLIOT


Menoleh sejenak ke arah Sri, lalu bergerak menjauh. Pergi ke balkon kamar untuk menerima telepon dari Deva.

__ADS_1


__ADS_2