
Kembali tidur dengan gelisah. Entah kenapa Sri tidak bisa nyenyak. Matanya terpejam tapi pikirannya melayang entah kemana. Menelentangkan tubuhnya menghadap ke langit-langit kamar. Matanya terbuka. Berkomat kamit mencoba menghitung dari satu sampai seribu, berharap akan kelelahan dan tidur. sambil sesekali melirik Lucky.
Lama kelamaan, hitungan Sri jadi berhenti. Kini hanya menatapi punggung suaminya yang tidur miring memunggunginya . Yang terlihat hanya punggung telan Jang Lucky. Naik turun dengan napas teratur. Punggung lebar dan terlihat mengkilap di timpa cahaya lampu tidur.
Opo rasane Yo nek di sentuh?
Pikiran Sri berkecamuk. Punggung itu seakan memanggilnya untuk segera menyentuh. Tapi otaknya masih berpikir waras. Untuk apa menyentuhnya? itu tidak ada gunanya. Yang ada nanti kena maki.
Berkali-kali Sri berkompromi dengan hati dan otaknya. Jangan sampai berbuat gegabah. Entah kenapa Sri sangat ingin menyentuh punggung Lucky. Mungkin otaknya sudah rusak malam ini. Kegelisahan semakin mendesak dadanya.
"Mase"
Sri meyakinkan diri, Lucky sudah tidur atau belum. Tidak ada jawaban. Lucky diam. Mungkin sudah tidur.
"Mas Lucky"
Ada guncangan halus terlihat di punggung itu. Geliat otot bereaksi akibat panggilan Sri. Sri tahu kalau Lucky belum begitu nyenyak.
"Mase udah tidur Yo?"
Sri setengah bangkit dari ranjang. Miring ke kanan bertumpu dengan siku tangannya, dan agak melongokkan kepalanya mencoba melihat wajah Lucky. Tapi tidak terlihat. Karena di antara mereka ada bantal guling yang membatasi jarak.
Penasaran Sri lebih mendekat. Melewati batas bantal guling. Lebih melongokkan kepalanya melihat wajah Lucky. Tapi tiba-tiba Lucky berbalik. Tanpa di sangka, jarak mereka menjadi sangat dekat. Wajah bertemu wajah. Napas Lucky menghembus hangat ke wajah Sri.
Serrr...
Jantung Sri berdesir. Tubuhnya menegang. Menahan napas untuk tidak bergerak. Mendelik ngeri kalau sampai Lucky tiba-tiba membuka matanya. sekarang wajah Sri tepat di atas wajah Lucky. Ternyata Lucky sudah tidur. Dia tidak tahu kalau jarak Sri sekarang sudah sangat dekat dengannya.
Sri memandangi wajah tampan itu lekat-lekat. Seakan menikmati pemandangan alam yang menakjubkan. Mata yang selalu menatapnya tajam itu sekarang sedang terpejam. Sangat teduh ketika lucky dalam keadaan tidur begini.
__ADS_1
Hidung mancung yang sangat terlihat tinggi. Hampir menendang hidung Sri sendiri. Bibir Lucky sungguh menggoda. sedikit tebal di bagian bawah dengan warna merah segar.
Sri ingat kejadian di apartemen Billy. Lucky dan Amira berci Uman. Sampai mereka tidak menyadari Sri melewati mereka berdua.
Opo seenak itu toh ciu**n Mase?
Hampir saja Sri ingin mengelus bibir itu. Tapi segera mengurungkan niatnya. Menahan dirinya mati-matian. Baru kali ini dia berada sedekat ini dengan laki-laki. Sri tidak pernah berdekatan sampai bisa merasakan napas pria lain.
Tapi penasarannya tak kunjung padam. Sri ingin merasakan bibir itu. Seenak apa sih bibir Lucky? sampai Amira selalu menggelendot padanya?
Dengan gemetar, Sri lebih menurunkan wajahnya. Napas Lucky lebih terasa hangat. Darah Sri terasa berdesir indah. Entah perasaan apa ini. Kenekadan yang di rutuki Sri di dalam hati. Lancang mendekati Lucky dan ingin merasakan bibir yang menggoda itu.
Sudah lebih dekat. Bibirnya nyaris menyentuh bibir Lucky. Gemetaran dengan keringat yang mulai menyembul di dahinya.
Cup!
Sri mengecup. Tapi hanya sedikit. Lebih tepatnya hanya menempelkan bibirnya lalu segera menarik wajahnya menjauh. Bergeser ke tempatnya semula. Menarik selimut sampai menutupi wajahnya.
Aaaaaa... Apa yang sudah aku lakukan!! Sri!! bodoh!! Kenapa harus senekad ini sih?? eehh.. tapi.. Apa selembut itu bibirnya? Aaaa... maluuuu...
Sri menggusal-gusal selimut yang menutupi wajahnya. Meremas gemas dengan kenekadan yang baru ia lakukan. Menggerinjalkan kakinya merasa geli sendiri. Tersenyum-senyum sendiri merasa lucu, gemas, dan geli sendiri.
Sreeettt!!!
"Ngapain kamu?!"
Tiba-tiba selimut Sri terbuka dengan paksa. Seketika senyum Sri terhenti begitu melihat wajah Lucky sudah ada di depannya. Sri mendelik. Sangat kaget melihat Lucky sudah bangun dan menatapnya heran.
"Eh!! Mase!!"
__ADS_1
Sri menarik lagi selimut dari tangan Lucky. menariknya sampai ke leher. Meremas selimut itu erat menutupi seluruh tubuhnya.
"Ngapain kamu bergerak-gerak begitu?" tanya Lucky lagi dengan tajam.
"Endak ada kok. Sri tidur" Wajah Sri pias. Mati lah dia kalau Lucky ternyata tau dia baru saja mengecup bibirnya.
Lucky terbangun karena gerakan Sri menggerinjalkan kakinya. Lucky pikir Sri kesurupan. Makanya dia menarik paksa selimut yang menutupi seluruh tubuh Sri sampai kepala.
"Tidur kok senyum-senyum?" tanya Lucky lagi masih penasaran. Menatap Sri dari kaki sampai ke matanya.
"A-anu mas. Nyamuk"
Lucky mengerutkan keningnya. Tidak masuk akal alasan Sri. Mana ada nyamuk di kamarnya. Bisa mampus pelayan yang bertugas membereskan kamarnya kalau sampai ada nyamuk berkeliaran.
Sreeettt!!!
"Aaaaa.."
Lagi! Lucky menarik selimut dengan kencang. Membuka tubuh Sri seluruhnya. Membuat Sri kalang kabut. Meringkuk menutupi tubuhnya. Takut kalau Lucky berbuat macam-macam.
Lucky menatap menyelidik tubuh Sri dari kaki sampai kepala. Sangat merasa penasaran kenapa Sri tadi bergerak sampai menggerinjal di bawah selimut. Tapi tidak ada apa-apa. Mungkin Sri bermimpi. Itu pikiran Lucky.
Melemparkan lagi selimut tebal itu ke tubuh Sri. Lalu bergerak ketempatnya dan berbaring lagi. Kesal sekali karena tidurnya terusik akibat Sri yang tak bisa diam.
"tidur lah. Jangan berisik"
Sri merapatkan selimut ke tubuhnya. Bernapas lega karena Lucky tidak menyadari aksi nekadnya tadi. Melirik Lucky yang sudah memejamkan mata.
Hhhaahh.. Untung saja. Hihihii.. tapi bibir mu lembut Mase!
__ADS_1
Sri memejamkan matanya dengan senyum mengembang. Ada rasa nyaman menyelinap di hatinya setelah kejadian mengecup bibir Lucky. Kini ia bisa pulas. Membawa rasa lembut itu ke alam bawah sadarnya.