
Paginya, Sri tidak menemukan Lucky di sampingnya. Padahal ini masih pagi buta. Tapi Lucky sudah lebih dulu bangun. Sri melihat jam di atas nakas masih menunjukkan pukul empat kurang. Dan Lucky tidak ada. Apa Lucky sudah ke ruang gym sepagi ini? Atau suaminya tidak tidur bersamanya tadi malam?
Kepalanya pusing. Rasa mual mendera sangat intens akhir-akhir ini. Sri turun dari ranjang dan muntah di kamar mandi. Terengah lemas memegangi kepalanya yang terasa berputar. Merangkak kembali ke tempat tidur. Meringkuk menyelimuti tubuhnya.
Memejamkan mata berharap rasa mualnya cepat hilang. Ah.. Padahal kemarin dia ingin menyampaikan kabar bahagia tentang kehamilannya. Tapi terhalang dengan penculikannya. Dan merasa bodoh kenapa tadi malam dia tidak bilang pada suaminya? Sri pikir pagi ini dia akan bilang pada Lucky.
Melani sibuk menghubungi ponsel suami dan putranya. Pak Sam melapor pagi ini, bahwa tadi pagi buta kedua tuannya sudah pergi. Melani mengomel karena kedua pria itu tidak bisa di hubungi. Keluar rumah juga tidak pamit.
"Apa yang terjadi pada mereka? kenapa terlalu banyak rahasia dariku?" gerutu Melani jengkel. "Pak Sam, apa kau memang tidak tahu kemana mereka berdua?"
"Maaf, nyonya. Saya tidak tau" pak Sam membungkuk hormat.
Melani mendengus kesal. Kembali mencoba menghubungi. Tapi tetap nihil. Sudah mengirimi banyak pesan, tapi satupun tidak ada yang di jawab.
Tampak Sri turun dari lantai atas. Dia bangun kesiangan karena baru bisa tidur setelah subuh. Melani langsung mendekatinya.
"Sayang, dimana suamimu?"
"Lho? bukannya Mase ada di ruang gym, mami?" Sri balik bertanya dengan heran.
"Tidak ada Sri. Dari pagi tadi mami sudah mencari mereka berdua. Bukan suamimu saja yang hilang, tapi mertuamu juga lenyap. Huh! Entah apa yang mereka kerjakan sampai menyimpan rahasia dariku!"
Melani kembali duduk dengan gusar. Mengomel panjang lebar. Kesal sekali mengetahui putra dan suaminya lenyap begitu saja.
"Sri pikir Mase sudah ke ruang gym pagi-pagi sekali, mi" Sri ikut duduk di samping Melani.
"Mami kira juga begitu. Tapi tidak ada. Malah papimu juga tidak ada."
Sri terbengong. Kemana perginya Lucky? Tidak biasanya mereka berdua sudah pergi ke kantor sepagi itu bukan? Dan apa yang mereka kerjakan sampai pergi tanpa pamit?
"Mami sudah coba hubungi om Baris?"
"Akkhh.. Mereka semua sama saja. Bahkan Noah tidak bisa di hubungi"
Noah? Bagaimana kabarnya pria itu? Dan ibu mertuanya belum tahu tentang Noah?
"Ah.. Sudahlah. Biarkan mereka. Ayo Sri, kita sarapan"
Melani mengajak Sri ke ruang makan. Sarapan sudah tersaji di sana. Masih dengan kekesalan yang tersisa, Melani sarapan dengan cepat.
"Mami" panggil Sri. Melani mendongak menatapnya heran.
"Ada apa, sayang?"
"Apa mami belum tau tentang pak Noah?"
Melani menggeleng. "Ada apa dengan Noah?"
Sri menatap ibu mertuanya dengan ragu. Bingung harus menjelaskan apa.
"Sri, kenapa Noah?" Melani mengulangi pertanyaannya.
"Emm.. Itu mam.. Kejadian semalam"
"Lucky menghajarnya?"
Sri mengangguk.
"Ah.. Tidak apa-apa. Nanti juga mereka baikan" Melani menepis tangannya di udara.
"Tapi, mi.. Mase bilang suruh lenyapin pak Noah. Kasi makan buaya katanya"
"Uhuukk.. Uhukk.." Melani tersentak sampai tersedak.
__ADS_1
"Pelan-pelan mi"
Sri kaget dan menyodorkan gelas yang berisi air putih pada Melani. Menepuk-nepuk punggung Melani pelan. Merasa bersalah telah mengatakan itu.
"Kamu serius, Sri?"
Sri hanya bisa mengangguk tegang. Melani terkesiap kaget. Separah itukah kemarahan Lucky sampai memerintahkan untuk melenyapkan Noah?
Pak Sam datang menghadap. Membungkuk hormat dan menyampaikan kalau tuannya sudah pulang. Segera saja Melani beranjak ke ruang depan diikuti Sri.Tampak Lucky dan Frans bertampang kusut. Mungkin karena s malaman tidak tidur.
"Kalian dari mama saja? Aku menghubungi seratus kali tapi tidak kalian angkat?! Apa kalian merahasiakan sesuatu dariku?" cecar Melani begitu melihat keduanya.
Lucky dan Frans hanya diam. Lucky melirik Sri sejenak tapi tak mengatakan apapun. Melani gemas sampai menarik lengan Frans untuk menjawab semua pertanyaannya.
"Tenang dulu, sayang" Frans menepuk-nepuk tangan istrinya.
"Apanya yang tenang? Kau selalu saja bilang begitu. Aku cemas sedari tadi menghubungimu" omel Melani dengan jengkel.
"Mami, kita perlu bicara" ujar Lucky tiba-tiba.
"Eh?" Melani langsung terbengong mendengar nada suara Lucky yang tidak biasanya. "Ada apa?"
Lucky tidak menjawab. Melangkah naik ke lantai atas menuju ruang kerja papinya. Melani menatap suaminya dengan penuh tanda tanya. Tapi Frans juga diam saja tanpa penjelasan.
"Ada apa, Frans?"
"Kita perlu bicara, sayang"
"Tapi.. Tapi.." Melani melihat ke arah Lucky yang sudah naik ke lantai atas dan Frans bergantian.
Frans tidak menjawab pertanyaan istrinya. Tapi malah melihat pada Sri. "Sri, kamu tunggu di sini sebentar ya?"
Sri merasa ada sesuatu yang terjadi. Akhir-akhir ini sikap Lucky sangat aneh. Lebih banyak diam dan kaku. Sri menganggukkan kepala dengan berat hati. Mereka tidak ingin Sri mendengar percakapan itu. Frans langsung mengajak Melani keruang kerjanya.
"Apa?!" Melani melotot garang. Ia marah. Tak menyangka Lucky akan mengatakan itu saat ini. "Apa maksudmu, Luck? Jelaskan pada mami! Kenapa kau ingin Sri pulang ke rumah orang tuanya? Apa kau sudah gila? Hah?"
"Sayang, tenanglah. Dengarkan dulu apa yang akan Lucky katakan. Jangan langsung marah begini" Frans menenangkan istrinya yang sudah tampak sangat murka.
"Kau juga sama! Kalian berdua menyembunyikan banyak hal dariku akhir-akhir ini. Kalian tidak mau aku dan Sri tau. Ada apa sebenarnya?"
"Mam, sabar dulu. Duduklah. Dengar penjelasanku" Lucky menarik tangan Melani untuk duduk bersamanya di sofa.
"Baiklah. Sekarang ceritakan pada mami. Awas kau kalau bohong!" ancam Melani.
Lucky menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Lalu mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Mami tau 'Kan keadaan perusahaan sekarang lagi sekarat? Itu semua ulah Levi dan paman Fardo. Mereka membuat segala cara dan jebakan menghancurkan kita, mam"
"Astaga!" Melani terkejut dan menutup mulutnya. Seakan tak percaya apa yang dikatakan Lucky barusan.
"Mengenai kakek, itu juga ulah mereka" Melani semakin melebarkan matanya. "Dan yang membuat aku ingin istriku pulang, karena Amira ikut terlibat di dalamnya"
"Tapi.. Tapi apa hubungannya? Istrimu di sini saja juga tidak berpengaruh 'kan?" Melani merasa tak terima.
"Kemarin, Geby datang ke kantor. Dia bilang sempat mendengar percakapan orang tuanya dengan Amira. Mereka memata-matai kita, mam. Amira tidak akan berhenti membuat ulah sebelum aku membuang istriku"
"Astaga! Gadis ular!" desis Melani jijik.
"Ini demi kebaikan Sri, mami. Aku tidak bisa leluasa bersikap setelah kejadian semalam. Agar mereka percaya aku sudah membenci istriku, aku harus menyingkirkan Sri dulu. Agar Amira merasa puas"
"Jadi, kejadian di kamar hotel itu hanya rekayasa?"
Lucky mengangguk mengiyakan. "Mereka berusaha menjebak sri dan Noah. Jadi, kami juga ikut merekayasa kejadian semalam"
__ADS_1
"Astaga! Lalu, bagaimana dengan Noah? Sri bilang, kau akan membuat Noah jadi makanan buaya. Kau sudah gila, Luck?" Amira memukul paha Lucky gemas. Lucky tersenyum kecil.
"Masih ada Amira waktu itu. Aku harus membuat dia terkesan dengan drama itu"
"Kalian sudah gila main drama drama seperti itu!" Amira menatap suaminya kesal. "Tapi mami tetap tidak setuju kalau Sri harus pulang ke kampung. Titik!"
"Mami.. Mengertilah. Amira tidak akan berhenti melukai istriku, mam. Sri harus aman" Lucky menatap Melani memohon.
"Dia di sini saja. Tidak akan terjadi apa-apa. Mereka tidak akan bisa menyentuh menantuku. Perkuat saja penjagaan" Melani tetap ngotot.
"Sayang, kau harus setuju. Ini demi kebaikan menantumu. Kau harus menemaninya pulang. Agar mereka percaya bahwa Lucky telah memulangkan Sri ke rumah orang tuanya karena kejadian di kamar hotel itu" Frans ikut meyakinkan istrinya.
"Akhh.. Tidak masuk akal! Aku tetap tidak setuju, sayang. Menantuku tetap di sini! Titik!" Melani menolak. "Apa susahnya sih? Sri akan baik-baik saja di sini!"
"Tidak mam. Karena di sini juga ada mata-mata"
"Apa?! Siapa maksudmu?"
"Lina."
"Hah?!"
Melani tercekat. Sangat banyak kejadian yang dia tidak tahu selama ini. Ini di luar dugaannya. Lina adalah pelayan yang baru masuk beberapa bulan. Melani tidak menyangka jika Lina juga salah satu dari anak buah Levi.
"Dan kenapa aku ingin mami menemani istriku pulang, karena Sri sedang hamil, mam"
Tubuh Melani menegang. Sangat kaget mendengar apa yang dikatakan putranya barusan. Matanya memanas. Rasa haru menyeruak penuh di dalam hatinya. Menantunya hamil. Ini impiannya sejak dulu. Tapi kenapa harus ada masalah ini? Kenapa kisahnya terulang lagi?
"Benarkah, Luck?" lirih tanya itu terucap dari bibir Melani yang gemetar menahan tangis.
"Iya, mam" Lucky mengangguk.
"Lalu, kenapa kau tidak menyampaikan itu pada istrimu?" Melani mengguncang lengan Lucky.
"Tidak bisa sekarang, mam. Jangan sampai ada yang tau tentang ini. Jangan sampai bocor. Aku tidak ingin Amira mengetahui kehamilan Sri. Makanya mami.. Aku mohon temani istriku. Jaga dia. Jangan sampai dia stress. Katakan apa saja alasan yang membuat dia mengerti. Aku tidak bisa terlalu dekat dengannya sekarang. Tolong mam"
Melani menatap suaminya dengan linangan air mata. Seakan meminta pembenaran dari suaminya, apa yang dikatakan Lucky adalah benar adanya. Frans Tersenyum dan mengangguk kecil.
"hikss... Hiks.. Kasihan menantuku. Dia harus menghadapi ini semua." Melani terisak haru.
"Mami, jangan sampai bersikap mencurigakan setelah ini. Karena itu, aku ingin mami keluar dari rumah ini dengan Sri. Agar semuanya berjalan lancar. Kami sudah merencanakan ini jauh-jauh hari. Tapi tentang kehamilan Sri, itu di luar rencana."
"Apakah dokter Anwar yang mengatakan kehamilan Sri?" Tanya Melani tersendat-sendat.
"Ya, sayang. Dan Anwar sudah melakukan tindakan awal untuk membuat janin Sri baik-baik saja. Usahakan agar menantumu tidak stres dan berpikir terlalu keras. Kau harus menjaganya dengan baik" ujar Frans sambil mengusap-usap punggung istrinya.
"Tapi bagaimana dengan mertuamu, Luck? Pasti mbak Warti akan bingung kenapa Sri pulang tanpa mu"
"Kita akan telpon ibu mertua nanti. Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Tapi tolong mami, jangan katakan apapun tentang masalah ini pada Sri. Rahasiakan dulu. Aku khawatir Sri tidak bisa menahan diri. Maka akan terbongkar semua. Tinggal satu langkah lagi, mam"
Tak bisa berbuat banyak, Melani mengangguk mantap. Dia berjanji akan menjaga menantunya dan calon jabang bayi di rahim Sri. Calon cucunya.
"Katakan, sudah berapa bulan, Luck?"
"Enam Minggu"
"Alhamdulillah.. Aku akan punya cucu" Melani semakin berlinangan air mata.
Mereka bertiga larut dalam keharuan. Apalagi Lucky, matanya berkaca-kaca karena belum bisa bebas bersikap mesra pada istrinya. Ingin mengelus perut itu dan menciuminya, tapi hanya bisa dilakukan ketika Sri terlelap dalam tidurnya. Agar terkesan bahwa Lucky tidak tahu apa-apa.
"Lalu... Noah? Apa dia baik-baik saja? Tidak ada buaya sungguhan kan?" tiba-tiba Melani bertanya dengan tubuh yang tegak. Ia ingat keponakannya yang sudah di hajar Lucky
Lucky memutar bola matanya malas. Yang tadinya ingin menangis karena haru, kini jadi merasa kesal. Sangat iri ketika Sri dan Melani selalu menyebut nama Noah.
__ADS_1
"Mami, apa aku saja belum cukup? kenapa selalu memusingkan Noah? Atau mami mau aku benar-benar memberinya untuk makanan buaya?" Lucky kesal.
"Hehehe.. Iya iyaaa... Kau putraku tersayang" Melani memeluk Lucky dan mengguncangnya gemas.