OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Menjenguk Lucky


__ADS_3

Lucky belum bisa pulang karena masih dalam pemeriksaan di kantor polisi. Sri gelisah dan selalu menangis karena belum dapat informasi yang belum bisa menenangkan perasaannya. Mami Melani juga sama. Terlalu menghawatirkan putra semata wayangnya hingga membuat mami Melani lemas.


Dengan sabar mereka menunggu. Sudah berkali-kali menghubungi papi Frans, tapi belum ada jawaban. Hingga beni datang pada malam hari.


"Ben, bagaimana putraku? katakan!" mami Melani mendesak Beni dengan cemas.


"Tuan muda baik-baik saja nyonya. Jangan khawatir"


"Bagaimana tidak khawatir? Kamu lihat semua berita di media? ini bukan perkara gampang, Ben!"


Beni diam. Benar apa yang dikatakan nyonya Melani. Ini bukan perkara gampang. Barang bukti tidak bisa di bilang sedikit. Apalagi Noah, dia yang bertanggung jawab di divisi pemasaran. Masalahnya semakin rumit ketika semua orang tidak ada yang mengaku siapa yang memasukkan barang haram itu kedalam bak truk pengantar barang.


Yang menjadi tersangka utama adalah sopir truk. Tapi supir truk juga sampai menangis karena merasa tidak tahu menahu bagaimana narkotika itu bisa masuk. Penyelidikan masih berjalan alot.


"Pak Beni, boleh kita ikut ke kantor polisi?" tanya Sri sambil terisak sedih.


"Maaf nona, tuan Frans berpesan, nona dan nyonya belum bisa ke sana" jawab Beni pelan.


"Ah.. kenapa harus pesan begitu?" Melani tampak jengkel. Kembali mencoba menghubungi suaminya. Tapi tetap tidak di jawab.


"Pemeriksaan masih berjalan alot, nyonya. Bersabarlah"


"Sabar sabar! aku tidak sabar, Ben! kamu ngerti tidak sih?" Melani naik darah mendengar Beni selalu menenangkan tapi tidak mempan.


"Setidaknya tunggu sampai malam ini, nyonya. Mungkin besok, nyonya dan nona bisa menjenguk ke sana"


Sri terhenyak. Bagaimana bisa ini terjadi? entah sampai kapan Lucky akan tinggal di kantor polisi dalam pemeriksaan guna penyidikan.


Tidak enak makan, dan juga tidak bisa beristirahat dengan tenang. Bagaimana suaminya di sana? pastilah Lucky dalam tekanan dan tidak bisa tenang.


Malam ini Sri tidak bisa tidur. Memikirkan suaminya. Lucky tidak mengirim kabar apapun. Sri juga takut untuk menghubungi. Takut jika akan mengganggu jalannya pemeriksaan.


Berbaring sendiri di tempat tidur. Terasa sepi menghentak hati. Terbiasa bersama Lucky, membuatnya hampir tak dapat memejamkan matanya. Terasa waktu sangat lamban bergerak. Menanti datangnya pagi segera menjelang. Hingga tertidur ketika subuh.


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Tergesa Sri bangun pagi ini. Mami membangunkannya tiba-tiba. Padahal Sri baru saja tidur dua jam. Rasa pusing menyerangnya. Kepalanya berdenyut nyeri. Sri meringis menahan sakitnya. Tapi ia kesampingkan dulu rasa sakit di kepalanya. Segera pergi ke kamar mandi.


Tak tahan terkena dinginnya air, Sri memutuskan untuk tidak mandi. Hanya mengelap tubuhnya dengan air hangat. Segera bersiap berpakaian rapi. Lalu segera keluar dari kamar menemui mami Melani dan Beni yang sudah menunggu di lantai bawah.


"Sudah siap, sayang?" mami Melani menyambut Sri.


Sri tersenyum dan mengangguk. Melangkah bergandengan tangan dengan ibu mertuanya. Hatinya berbunga-bunga pagi ini. Beni datang dan akan membawa mereka berdua bertemu dengan Lucky.


"Mari, silahkan nyonya, nona Sri"


Beni membukakan pintu mobil. Melani dan Sri naik. Segera Beni duduk di belakang setir dan segera melajukan mobil.

__ADS_1


Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, mereka sampai di kantor polisi. Beni membawa Sri dan Melani masuk ke dalam. Setelah melapor pada petugas piket, lalu mereka masuk ke ruang tunggu. Tak berapa lama, papi Frans datang.


"Sayang, mana putraku? dia baik-baik saja kan?" mami Melani langsung saja mencecar suaminya.


"Iya, tenanglah. Ayo kita bertemu Lucky"


Segera saja mereka berjalan menuju ruang Sat reserse narkoba. Keruangan AKP Sutomo. Sri meremat tangannya yang sudah berkeringat. Gugup menantikan mengetahui bagaimana keadaan Lucky sekarang. Ingin rasanya segera mendobrak pintu itu. Tapi Sri mencoba bersabar.


Papi Frans mengetuk pintu sejenak. Lalu pintu terbuka. Seorang polisi berdiri di ambang pintu.


"Oh.. pak Frans. Silahkan masuk" sapanya tersenyum ramah. Bergeser memberi jalan pada Frans.


Mereka masuk satu persatu. Yang terakhir adalah Sri. Jantungnya berdebar kencang. Begitu dia masuk, matanya langsung tertuju pada suaminya yang duduk di sofa bersama Noah.


Melihat mami dan papinya datang, Lucky dan Noah berdiri. Melani segera memeluk putranya dan menangis. Menangis tersengguk. Lucky membalas pelukan maminya dengan erat.


"Lucky.. anakku. Kamu baik-baik saja, sayang?"


"Iya mami. Aku baik-baik saja. Sudah jangan menangis lagi"


Lucky mengurai pelukannya. Melani menangkup pipi Lucky mengelusnya dengan sayang.


"Mami takut, Luck"


"Tidak apa-apa mam. Aku baik-baik saja" Lucky tersenyum. Melani melepaskan pelukannya. Dan beralih pada Noah.


"Noah.."


"Kami baik-baik saja bibi. Jangan menangis" ujar Noah pelan.


Sri masih diam mematung memandangi Melani memeluk kedua putranya. Mata Sri bertemu dengan Lucky. Saling menatap penuh rindu. Air mata Sri menggenang mengaburkan pandangannya. Sangat terharu bisa melihat suaminya lagi dalam keadaan baik-baik saja.


"Sayang, kamu tidak rindu aku?" Lucky tersenyum dan mengedipkan matanya menggoda Sri.


Tidak ada lagi tersipu malu. Sri malah makin mewek mendengar kata-kata godaan dari suaminya. Tidak peduli banyak yang melihat. Tidak peduli siapa saja yang ada di ruangan ini. Sri langsung berlari dan menubruk tubuh kekar suaminya. Merengkuh dalam hangatnya pelukan rindu. Menangis tersengguk saking cemasnya.


Lucky tertawa renyah menerima pelukan erat istrinya. Mengelus lembut rambut Sri. Dia juga tidak peduli semua orang menatap mereka berdua.


"Hehehe.. Kenapa malah menangis, baby? hmm?" Sri tak mampu menjawab. Hanya terisak penuh haru.


"Sudah sudah.. Aku baik-baik saja"


Lucky mengurai pelukannya dan menatap mata basah istrinya. Mengusap lembut buliran bening yang mengalir deras di pipi Sri.


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Setelah mendengarkan penjelasan dari AKP Sutomo, barulah Sri mengerti. Lucky dan Noah tidak terlibat. Mereka tidak pulang hanya karena menemani supir truk yang ketakutan. Merasa tidak bersalah dan tak tahu menahu bagaimana barang haram itu bisa berada di truk yang ia bawa.

__ADS_1


Pihak kepolisian masih melakukan pengembangan penyidikan atas kasus ini. Dan semua mengarah pada kantor cabang yang di kepalai paman Fardo.


Tapi untuk selanjutnya Sri tidak begitu mendengarkan lagi. Dia hanya ingin suaminya. Terus memeluk Lucky seperti lintah. Sebenarnya Sri malu dengan sikapnya yang menurutnya berlebihan. Tapi entah mengapa Sri seakan tak bisa lepas dari Lucky. Keinginan hatinya meminta dia selalu menempel erat pada Lucky.


AKP Sutomo ternyata orang yang sangat pengertian. Hanya tersenyum melihat dua insan yang saling merindu. Mengerti bahwa mereka berdua masih sedang manis-manisnya menjalin asmara pengantin baru. Hingga rela meminjamkan ruangannya untuk pasangan suami istri ini bicara dengan leluasa. Mereka semua keluar dari ruangan dan pergi.


"Sayang, aku masih harus menemani Noah. Belum bisa pulang" Lucky mengecupi pipi Sri.


"Tapi mas, kan mase ndak salah toh? pulang mas. Sri ndak bisa" rengek Sri menggelendot manja.


"Kamu rindu? hmm?" Menaikkan dagu Sri menghadapnya. Sri mengangguk dengan pipi merona.


"Ah.. manis sekali istriku" Lucky mengecup kecil bibir Sri sejenak. "Sabarlah. Nanti sore mungkin Kami bisa pulang"


"Beneran ya mas?"


"Iya sayang. Aku janji"


Sri tersenyum senang. Melingkarkan tangannya di leher Lucky. Lucky mendekatkan wajahnya dan menempelkan ujung hidung mereka. Menggesek pelas dengan mata saling tatap.


"Mase"


"Hmm?"


"Sri mau ini"


"Apa, sayang?"


"Dada"


"Eh.. kita masih di kantor polisi, sayang"


"Dikit aja mas"


Lucky melirik pintu yang masih tertutup. Lalu pelan membuka kancing kemejanya. Sri tak sabar ingin segera menempel. Membuat Lucky tertawa geli melihat binar mata bulat istrinya.


Begitu terbuka, Sri langsung menempel. Mengendusi dada bidang nan liat milik suaminya. Jangan ditanya bagaimana rasanya. sangat menenangkan jiwa. Seperti candu yang memabukkan Sri mengirup aroma tubuh Lucky dengan segenap perasaan.


Ceklek!


"Luck"


Noah muncul tiba-tiba diambang pintu. Membuat Sri terlonjak kaget. Dan Noah melihat adegan itu dengan mata kepalanya sendiri. Sangat canggung. Kikuk lalu membuang pandangannya kearah lain.


"Maaf." Noah hanya di pintu. Membalikkan badannya memunggungi mereka. "Kamu di tunggu Luck. Cepatlah kesana"


Noah pergi begitu saja. Lucky melirik wajah istrinya yang sudah memerah menahan malu sambil menunduk.


"Hehe.. Kecup lagi, baby. Ayo"


Sri malu setengah mati. Memukul pelan dada Lucky. Suaminya tak dapat menahan tawa melihat Sri belingsatan.

__ADS_1


__ADS_2