
Acara peresmian perusahaan baru telah hancur. Gagal total. Yang tadinya meriah dan gegap gempita, kini berubah jadi acara saling buka aib. Levi berharap ini langkah terakhirnya merebut kesuksesan yang selalu di sandang Lucky. Tapi nyatanya, dia harus tersungkur lagi di depan Lucky. Dan kali ini tidak main-main. Ini terjadi di depan para kolega dan investor bisnisnya. Sia-sia.
Sebenarnya beberapa kalangan, tidak terlalu terkejut dengan sifat kotor Levi dan Fardo. Mereka sudah mengetahui dan sudah terbiasa dengan itu. Tapi kali ini agak berbeda. Rencana busuk Levi di bongkar Lucky di depan publik. Dan pastinya, ini jadi tontonan banyak orang. Apalagi media meliput ini secara live. Habislah Levi kali ini.
"Aaaaaa...! Pembohong!!" teriak Neni histeris. Wanita itu lari naik ke atas panggung. Menyerbu Lucky. Memukuli dada Lucky membabi buta. "Kau jahat!! Aku benci padamuuuu!!"
"Hentikan, bibi!"
Lucky memegang kedua tangan Neni. Sehingga Neni tidak bisa lagi memukuli dadanya sesuka hati.
"Diam kau!! Lepaskan tanganku!!" teriak Neni kencang.
"Kalian yang diaamm!!" teriak Lucky murka. Menghempaskan tangan Neni dengan keras. Hingga Neni terhuyung dan di tangkap oleh Fardo.
Semua orang terperanjat kaget. Neni melotot tak percaya Lucky akan menghempaskannya dengan kasar. Belum pernah Lucky melakukan itu.
"Kalian semua selalu menyuruhku untuk diam dan tutup mulut! Aku sudah menutup mulutku sejak tadi. Ketika putramu itu menghinaku sedari tadi, kenapa kau tidak melarangnya? Hah??!!" Lucky mendelik marah menatap mereka nanar. Sungguh sabarnya sudah diambang batas.
"Aku masih menganggap mu seorang ibu. Ibu dari seseorang yang aku anggap adik sepupuku. Tapi apa yang kau lakukan? Hah? Kau malah membuat masalah ini semakin kacau! Ibu macam apa kau yang mendukung putramu berbuat salah?"
Neni mendelik gusar. Menatap semua orang dengan perasaan malu bercampur aduk. Dia wanita terhormat. Tidak ada seorangpun yang berani mempermalukannya begini.
"Aku membencimu, Luck!" geramnya mendesis benci.
"Tidak masalah. Kebencianmu memberiku kekuatan untuk melawan. Aku harus berterima kasih pada putramu, bibi. Aku tidak perlu bersusah payah membangun gedung, lalu mempersiapkan segalanya. Putramu memberikan ini padaku tanpa dia sadari" Lucky melirik Levi dan tersenyum sinis.
"Apa?! milikmu?! Kau sudah gila?! Ini perusahaan ku! Ini milikku! Kenapa jadi kau yang merasa memiliki?" sentak Levi tidak terima.
"Hahaha... Inilah kenapa kakek bilang kau tidak sepintar aku, Lev. Kau ini licik. Tapi tidak pintar. Pantas saja kakek tidak suka padamu. Haha.." Lucky terbahak.
"Apa maksudmu?!" Levi meradang di rendahkan di depan banyak orang.
"Oohh.. Kau tidak tau, atau hanya pura-pura tidak tau?" sindir Lucky. Levi hanya menahan geraman dengan napas memburu menahan amarah.
"Baiklah.. Akan aku jelaskan" Lucky berjalan ke depan layar. "Kau membangun gedung ini dari hasil korupsi" Layar monitor menampilkan grafik keuangan dan semua dokumen yang telah di palsukan Lucky.
"Lihatlah ke sini" Lucky menunjuk ke layar. "Ini semua pemalsuan dokumen yang kau lakukan. Aliran dana yang mengalir ke reking mu, dan ini semua biaya korupsi yang sudah ada di tanganmu"
Levi, Fardo dan Neni melotot ngeri. Tidak menyangka Lucky akan membongkar seluruh kejahatan mereka di depan semua orang.
"Jadi... Dengan kata lain, kau memberiku hadiah tanpa kau sadari. Gedung ini hasil dari uangku. Nanti kau akan di tuntut biaya ganti rugi yang sangat luar biasa besar, Lev. Dan gedung ini adalah jaminannya" Lucky tersenyum penuh kemenangan.
"Kau pendusta! Kau sendiri menyaksikan Noah lah yang melakukan korupsi itu!" teriak Levi.
"Oohh.. Ya ya.. Aku lupa. Noah, ya.. Hhmmm.." Lucky manggut-manggut dengan jari telunjuk di dagunya. Seakan perpikir keras.
"Ya!! Levi benar!" Amira berteriak nyaring. Mencoba membantu kekasihnya. Semua orang menatap Amira terkejut. "Noah lah yang korupsi. Bukan Levi. Dan kalian tau.. Lucky sudah membunuh Noah! Dia membuang Noah untuk makanan buaya!! Aku mendengarnya sendiri. Sumpah!!"
"Hah!?"
Semua orang semakin shock mendengar ucapan Amira. Tapi tidak dengan Lucky dia malah tersenyum geli.
Plok! Plok! Plok!
Lucky bertepuk tangan. Menatap Amira dengan tatapan mengejek. Amira menatapnya bingung. Bukannya mundur, Lucky malah tidak terpengaruh sedikitpun.
"Sungguh. Kau wanita luar biasa Amira. Tidak heran kau sangat menggilai lelaki licik ini. Karena, kalian berdua itu cocok. Sama-sama menjijikkan!"
__ADS_1
"Iisshh.." Amira melengos.
"Bagaimana kau yakin aku sudah membunuh Noah?"
"Aku mendengar kau bicara begitu, Luck! dan aku.. Aku melihat anak buahmu menyeretnya keluar"
"Hemm.. Hhh.. Kalau begitu, benar bukan kau yang menjebak istriku?"
"Eh.. Itu.. Itu tidak benar!" Amira gugup dan terbata-bata.
"Ah.. Masih saja kau mengelak, Mira. Baiklah.. Mengenai Noah, dia tidak pernah korupsi. Lihat kesini" Lucky menunjuk layar lagi. Menampilkan semua dokumen keuangan dari pihak auditor yang sudah bekerja keras. "Ini datanya. Semua keuangan mengalir ke rekening bodong. Dan setau ku, tidak ada tersangka yang akan menunjukkan siapa dirinya, bukan? Noah tidak akan memakai namanya di rekening itu jika dia benar korupsi"
"Dan lihat ini" Lucky menunjuk kelayar lagi. "Dana itu mengalir lagi ke rekening baru, atas nama Bayu" Lucky melirik pak Bayu yang sudah lemas terduduk lesu di kursi dengan wajah pias seputih kapas. "Sudah jelas?" Lucky menantang.
Mereka semua diam. Tidak ada lagi yang bisa membantu menghentikan Lucky. Semua sudah terbongkar. Amira terhuyung lemah. Dunianya seakan runtuh. Reputasinya hancur. Lucky merusaknya tiada ampun.
"Tidak mungkin. Bagaimana kau bisa tau semua ini? Aku melihatmu sangat marah dan menghajar Noah waktu itu" lirih Amira. Matanya menatap kosong. Merasa terguncang.
"Aku heran padamu, Amira. Kau seorang aktris yang sering bermain peran. Tapi kenapa kau tidak bisa membedakan antara sandiwara dan kenyataan? Apa kalian mengira aku diam karena terlalu bodoh?" Lucky menatap mereka satu persatu. "Jika kalian bisa berperan dengan baik untuk membodohi aku, lalu kenapa aku tidak bisa berbuat yang sama untuk membodohi kalian? Jadi kita impas bukan?"
"Hentikan bualanmu, Luck!" Levi merasa jengah dengan semua ini. Cukup sudah dia dan keluarganya di permalukan di depan orang banyak.
"Ah.. Baiklah. Kita hentikan semua ini. Aku juga merasa malu jika aib keluarga Albronze di buka di depan semua orang. Tapi... Satu lagi. Ijinkan aku menyampaikan janjiku"
Lucky tidak mempedulikan tatapan marah Levi. Ia berdiri di depan panggung. Menatap pada para investor.
"Baiklah tuan Mr.bown, tuan Wijaya, dan para investor lainnya. Saya sudah menunaikan janji saya. Menunjukkan kwalitas saya dan Levi. Jadi janji saya sudah lunas bukan? Saya rasa anda semua bisa membandingkan kwalitas kerja saya dan levi. Apakah anda puas?"
Para investor tersenyum senang. Janji Lucky sudah terpenuhi. Dia telah melobi para investor untuk melihat dan membandingkan hasil kinerjanya pada saat peresmian perusahaan baru Levi. Dan mereka mengacungkan dua jempolnya untuk Lucky. Sangat merasa puas.
AKP Sutomo dan anak buahnya menyeruak kerumunan. Langsung setiap satu anggota mendekati para tersangka.
"Apa-apaan ini?!" teriak Levi. Tidak terima di perlakukan tak sopan. Tangannya akan di borgol.
"Maaf tuan Levi, dan tuan fardo, kami hanya melaksanakan tugas" ujar AKP Sutomo.
"Atas dasar apa anda menangkap kami?!" Fardo meradang. Polisi sudah akan memborgolnya.
"Tuan Lucky menuntut anda atas tindakan korupsi, dan juga penyeludupan barang terlarang, serta tuduhan penjebakan terhadap istrinya. Ini surat perintah penangkapan" AKP Sutomo merentangkan selembar kertas surat perintah.
"Tidak!! Jangan tangkap aku! Aku tidak bersalah!!" teriak Amira ketika akan di borgol polisi. Sampai anggota polisi yang akan memborgolnya kewalahan.
"Ini perintah, nona. Anda bisa ikut kami dengan kooperatif tanpa ada perlawanan" ujar AKP Sutomo.
"Hikss.. Hikss.. kau jahat, Luck!" Amira terisak saking geramnya.
"Aku? Jahat? Apa yang ku lakukan?" Lucky menatap Amira lamat.
"Aku begini karena kamu! kamu membuang ku begitu saja! kau lebih memilih istri kampunganmu itu!! Hikss.. Hikss.." Amira terisak pilu.
Mata Lucky sontak berkilat sadis begitu Amira mengikut sertakan istrinya. Rahangnya menagatup keras. Tangannya mengepal geram.
"Benarkah? Gara-gara aku? Kau yakin?"
"Ya! Ini semua gara-gara istrimu!"
"Baiklah. Sebentar pak Sutomo. Wanita ini masih belum puas" Lucky sungguh merasa jijik mendengar itu. "Noah!!" teriak Lucky lantang.
__ADS_1
Noah datang dari balik panggung. Amira sangat terkejut melihat pria itu berdiri tegak tanpa ada luka sedikitpun seperti saat dia melihat Lucky menghajarnya cukup parah.
"Kau belum puas rupanya. Tadinya aku sudah akan mengakhiri ini semua. Tapi jika kau memaksa, apa dayaku?" Lucky turun dari panggung dan berdiri dari depan Amira.
Mata Amira langsung menatap netra Lucky didepannya. Kilatan benci dan marah tergambar jelas di mata Lucky. Amira bisa merasakan itu semua.
"Sekali lagi Amira. Aku tegaskan padamu. Aku tidak pernah mengkhianatimu. Kau sudah berselingkuh sebelum aku menikah"
"Bohong! Aku setia padamu! Kau yang mengkhianati aku!" teriak Amira dengan derai air mata.
"Hmm.. Oke.. Baiklah" Lucky mengangguk geram. Wanita yang satu ini masih saja berusaha membersihkan namanya. Lucky mendongak melihat kee arah ruang kontrol. Rian mengangguk.
Sekali lagi layar lebar itu menayangkan slide video yang membuat semua orang terperangah. Semua perbuatan perselingkuhan Amira terekam di sana. Sungguh sangat tidak pantas untuk di lihat. Banyak lelaki yang sudah menjamah tubuh Amira. Membuat Amira hampir semaput. Ingin pingsan saja saat in juga.
"Lihatlah. Itu yang kau katakan setia?" Amira terhuyung limbung. Kakinya lemah tak mampu menopang tubuhnya lagi. "Hhhh.. Kau licik seperti ular, Amira. Tadinya aku masih menghargaimu. Tapi begitu kau menyangkut pautkan istriku, aku tidak bisa menahannya lagi. cukup sudah"
"Tapi.. Tapi.." Amira tergagap ingin bicara. Tapi Lucky cepat memotongnya.
"Kau masih belum puas?" Lucky gemas. "Noah!" panggil Lucky tanpa melihat ke arah Noah.
Noah sudah mengerti apa yang harus dia lakukan. Bergerak ke samping panggung dan memencet sebuah tombol kecil di dindingnya.
Tar!!!
Dari langit-langit aula, jaring besar putus di. Kedua ujung sisinya. Menumpahkan banyak foto Amira dalam berbagai gaya dan pose bersama banyak pria. Salah satunya adalah fotonya bersama Levi. Foto itu berjatuhan menyebar ke segala penjuru. Semua orang di hujani foto tak senonoh Amira dengan para selingkuhannya.
Banyak orang yang mengutip foto-foto itu. Dan banyak wanita mengupat karena suami mereka memandangi tanpa berkedip.
Amira merasakan dunianya benar-benar hancur saat ini. Reputasinya seakan di koyak paksa. Hancur lebur tidak tersisa. Remuk berkeping menjadi abu.
"Kau yang memintanya Amira" desis Lucky. Dan biar ku tau saja. Walaupun istriku adalah orang kampung, den sedikit kampungan, tapi aku bersyukur mendapatkan istri sepertinya. Setidaknya dia tidak seliar dan selicik dirimu. Dan perlu kau ingat, aku sangat mencintainya."
Lucky bergerak sedikit menjauhi Amira. Membiarkan wanita itu terduduk lesu di lantai. Tatapannya kosong. Tidak ada lagi yang bisa ia pertahankan. Semuanya kandas.
"Pak Sutomo, silahkan." Lucky membiarkan anggota kepolisian menarik Amira berdiri. Menyeretnya keluar aula.
Begitupun para tersangka yang lain. Neni berteriak histeris menendang polisi untuk tidak membawanya. Levi menatap lucky penuh dengan kebencian. Tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Diluar, para wartawan siap menghujani mereka dengan lampu blitz berkelip menyilaukan. Anggota kepolisian dan keamanan gedung mengondisikan keadaan. Memasukkan Levi dan rombongan ke mobil polisi, lalu meninggalkan gedung.
Frans menatap putranya terharu. Memeluknya erat dan mengucapkan selamat.
"Kau berhasil nak"
Lucky merenggangkan pelukannya. Tersenyum menatap papinya. Lalu beralih ke arah panggung. Noah masih di sana.
"Kau tidak ingin memelukku, No?" Lucky merentangkan tangannya menunggu Noah datang.
Noah menatap Lucky lamat. Lalu senyum mengembang di bibirnya. Berlari turun dari panggung dan langsung menghambur kepelukan kakaknya. Lucky menyambut pelukan Noah erat.
"Kau berhasil, kak" bisik Noah haru.
"Bukan aku. Tapi kita"
Sampai sudah setua ini, baru kali ini Lucky memeluknya tulus dan penuh kehangatan. Baru kali ini Noah merasakan benar-benar dalam pelukan seorang kakak. Memeluknya erat sebagai seorang kakak yang melindungi adik tersayangnya.
"
__ADS_1