OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Mase Nangis


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Sri diam dan merengut kesal. Lucky juga demikian. Sama-sama ngambek. Sama-sama jengkel. Duduk berjauhan. Saling membuang pandangan keluar jendela mobil.


Beni melirik dari kaca spion. Melihat tuan dan nonanya yang lagi perang dingin. Tersenyum kecil dan geleng-geleng kepala. Pasangan suami istri ini sungguh edan. Yang satu cemburuan, yang satu lagi keras kepala. Sama-sama belum begitu paham karakter masing-masing.


Mobil berhenti tepat di depan pintu mansion. Beni segera turun dan membukakan pintu Lucky. Setelah itu Lucky keluar dan memutar arah membuka pintu mobil untuk Sri. Tapi Sri tidak mau. Masih diam saja duduk di mobil dan menghindari melihat Lucky.


"Ayo turun" ujar Lucky dingin.


"hhmp!" Sri membuang muka. Cemberut menunjukkan sikap membangkang.


Graham Lucky bergemeretuk saking jengkelnya. Wajahnya memerah menahan marah. Napasnya sedikit memburu menahan kejolak amarah yang tiba-tiba makin menggelegak lagi.


"Turun Sri!"


"Ndak mau! Sri bisa turun sendiri!"


Kilatan membunuh hadir begitu saja. Sungguh Sri membuatnya gila. Sudah cemburu, tapi Sri seperti tidak mengerti hal itu. Lucky rasanya ingin menendang dan menghancurkan body mobil saat ini juga. Tapi dia coba menahan mati-matian. Melirik Beni yang berdiri tak jauh dari mobil.


Lucky membiarkan Sri. Melangkah menjauh. Sri melirik Lucky dengan sinis. Begitu di rasa Lucky sudah cukup jauh, Sri keluar dari mobil. Tapi tak di sangka-sangka, begitu melirik Sri sudah keluar dari mobil, Lucky berlari berbalik mendekati Sri dan segera mengangkat tubuh Sri.


Sri kaget setengah mati. Lucky memanggul Sri di bahunya seperti karung beras. Membawa masuk istrinya ke dalam mansion. Sontak saja Sri meronta dengan keras. Berusaha bangkit dari pundak Lucky. Memukuli punggung Lucky membabi buta.


"Maseeee!! lepasin.. ihh.. ihh.."


Lucky hanya tersenyum cuek penuh kemenangan. Berhasil memperdaya Sri keluar dari mobil dan sekarang bisa memanggulnya. Pantat Sri di samping wajahnya ia tepuk nyaring.


Plak!


Heg!


Sri melotot. Sangat terkejut. Melirik malu pada Beni yang menatap mereka dengan tawa yang di tahan mati-matian. Wajah Sri merah padam. Lalu segera tersadar kembali. Memukuli punggung Lucky dengan keras. Bahkan menjambak rambut Lucky agar pria itu menurunkannya.


"Sayaaaang.. mami sudah pulaaang"


Mami Melani berseru dari dalam. Bermaksud ingin menyambut kepulangan putra dan menantu tercinta. Bersama pak Sam dan beberapa pelayan yang sudah siap menyambut mereka. Tapi begitu melihat kelakuan keduanya, mami Melani terpaku kaget bagai tersambar geledek. Semua para pelayan langsung menunduk melihat itu.

__ADS_1


"Maamiii.. tolong Sri miii" teriak Sri menggerinjal di bahu Lucky.


Mami semakin melotot saja melihat itu. Kebingungan dengan apa yang terjadi.


"Heeyy.. lucky! ada apa ini? turunkan istri mu!" teriak mami panik.


Bukannya menurut, Lucky malah menatap maminya tajam. Meletakkan jari telunjuknya di bibir. Mengisyaratkan agar mami Melani diam.


"Hey.. gila kamu Luck! istri mu bisa jatuh!" Melani menarik-narik lengan Lucky agar menurunkan menantunya. Tapi tubuh putranya yang begitu tinggi besar itu sedikitpun tak terpengaruh dengan tarikannya.


"Mom, please. Don't interfere. I will beat up your naughty daughter in law" Desis Lucky meminta mami Melani untuk tidak ikut membela Sri.


"What?" Melani melotot panik.


Segera Lucky memboyong istrinya ke dalam kamar. Ia akan memberi pelajaran pada istri pembangkangnya ini. Tidak mempedulikan Sri yang sudah berhasil menegakkan tubuhnya dalam gendongan Lucky. Tegak dalam dekapan. Wajah Lucky tepat di perut Sri. Sehingga Sri bisa sesuka hati menjambak rambut Lucky dengan keras.


"Lepas Ndak mas?? lepaaass.."


Tidak peduli seberapa keras Sri menjambak rambutnya. Tetap saja tidak berpengaruh. Ia takut istrinya akan lari dan mengunci diri di kamar lain lagi seperti waktu itu. Lucky membuka pintu kamar dan menutup kembali lalu menguncinya dengan susah payah. Meringis akibat tarikan keras di rambutnya.


Menurunkan Sri dari gendongannya. Tapi tangan Sri masih menancap erat menjambak rambutnya sampai kepala Lucky menunduk mengikuti tarikan tangan Sri. Sri melepaskan cengkeramannya dari rambut suaminya. Melotot menatap mata Lucky yang juga berkobar.


"Apa sih maunya Mase?!" sentak Sri melotot garang.


"Apa?! kamu masih tanya lagi?" lucky juga dengan angkuh menatap sambil melotot.


"Mas Iyan itu tetangga aku di kampung! kenapa Mase sombong banget sih?"


"Waaahh.. wahh.."


Plok! plok!!


Lucky bertepuk tangan dan tersenyum sinis pada sri. Lalu menirukan bicara Sri dengan intonasi menye-menye.


"Mas Iyan.. mas Iyaan.. tetangga ku di kampung. Dia itu mas ku.. mas mas mas!"

__ADS_1


Kini melotot lagi menatap Sri. Sangat merasa tidak suka Sri menyebut embel-embel 'Mas' pada lelaki lain. Sri mengerutkan keningnya. Menatap heran pada suaminya yang mendadak gila. Marah dan mengejek bersamaan.


"Sampeyan ini kenapa toh mas!? Masih sehat kan?" Sri menempelkan tangannya ke kening Lucky.


Lucky semakin marah dan terbelalak lebar di perlakukan begitu. Sri menganggapnya sudah gila! apa salah mencintai istrinya sediri? apa salah kalau dia cemburu? lalu itu di anggap gila?


"Dia itu pacar mu di kampung kan?" Lucky menepis tangan Sri dari keningnya. "Pacar mu yang sudah mengecup bibir ini?" Lucky mendekatkan wajahnya pada Sri, lalu mengusap kasar bibir Sri penuh penekanan. "Pacar waktu kecil mu dulu?"


Deg!


Sri sangat ngeri melihat kemarahan Lucky. Pria ini sudah gila dengan pikirannya sendiri. Cemburu yang membabi buta. Benar Rian adalah pacar seharinya Sri waktu sekolah dasar. Tapi itu dulu. Sewaktu masa kecil yang mengelap ingus saja belum benar.


"Itu dulu mas" gemetar suara Sri.


"Dulu? aku bisa lihat cinta itu di matanya. Dan kamu.." Lucky semakin mengusap bibir Sri ganas. "Kamu masih suka sama dia kan? kamu masih menerima dia kan?" Apa dia lebih dari aku? apa dia.."


"Stop Mase!"


teriak Sri. Menepis tangan Lucky dari bibirnya. Bergerak mundur menjauh dari Lucky. Hatinya sakit mendengar ocehan Lucky yang tak berdasar. Cemburu membutakan suaminya.


"Mase jahat" lirih Sri.


"Apa? aku jahat?"


Lucky melotot menatap Sri. Mendekatinya dengan wajah merah padam penuh dengan kemarahan. Melangkah mendekati Sri dengan pelan. Terlihat seperti singa lapar yang siap menerkam mangsanya. Sri mengigil ketakutan.


Semakin dekat di depan Sri dengan mata yang masih melotot marah. Menatap tajam penuh kebencian. Tepat di depan wajah Sri yang sudah pias. Suaminya sudah gila!!


Tapi tak di sangka, Bukannya marah dan memukul Sri, tiba-tiba Lucky malah jatuh bersimpuh di depan Sri. Memeluk pinggang Sri dan menempelkam wajahnya di perut Sri lekat.


"Maaf sayang. Aku cemburu. Maafkan aku.."


Seeerrr...


Sri tercekat kaget. Darahnya langsung mengalir di setiap urat nadinya yang sempat berhenti. Tak percaya apa yang di lakukan Lucky. Tadinya Sri mengira suaminya akan menghajarnya. Tapi malah seperti anak kecil yang minta pengampunan atas kesalahan yang sudah di lakukan barusan.

__ADS_1


"Aku cemburu, sayaaang.." Lucky mengguncang tubuh Sri sejenak. Terlihat sangat jengkel karena Sri tidak mengerti perasaannya. "Kenapa kamu tidak mengerti srii.. hiks.."


Astaga! Mase nangis?


__ADS_2