
Kecewa? pasti. Marah? apalagi. Geram? sangat! Sri tidak mau bertemu dengannya. Lucky harus segera mengambil keputusan. Kali ini dia harus mengakui Noah menang. Bisa-bisanya pemuda itu mengerti apa yang bakal terjadi antara dirinya dan Sri. Merekrut Sri di kantornya untuk memancing dia mendekati umpan. Dan Noah berhasil.
Cara satu-satunya untuk tetap memantau Sri adalah menerima tawaran kakek Fredi. Menjadi Presdir di Bronze group. Sebenarnya tidak sulit. Dan Lucky pasti mendapat keuntungan lebih besar. Tapi dulu dia pikir, tidak mau melibatkan diri lebih dalam di keluarga kakeknya. Toh dari dulu kakeknya juga tidak mengakui papinya. Jadi untuk apa membantu memulihkan aset paling besar di keluarga Albronze?
Tapi kini pemikiran itu ia tepiskan dulu. Hitung-hitung membantu. Dan keuntungan ganda dia bisa melihat Sri setiap hari tanpa harus minta video call. Istrinya itu sudah menjungkir balikkan perasaannya. Sangat bandel dan keras kepala sekali. Tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
Beni mengikuti langkah lebar di belakang Lucky, memasuki perusahaan besar Bronze group. Harus di akui Lucky, bahwa perusahaan kakeknya ini lebih besar dari miliknya. Sudah lebih dua puluh lima tahun kakeknya mempertahankan perusahaan elit ini. Jatuh bangun dan segala macam problematika di dalamnya sanggup kakek Fredi tembus. Sampai mempertaruhkan putra pertamanya sendiri.
Tidak ada yang berani menghentikan langkah Lucky. Semua staf tahu siapa Lucky. Mereka hanya menunduk dan membungkuk hormat ketika Lucky lewat di depan mereka. Lucky Melangkah tegas dan penuh wibawa. Siap saja yang melihat, pastilah mencair seperti lelehan madu.
Tidak ada jadwal, tidak ada janji temu. Tidak ada pemberitahuan. Hari ini Lucky akan menemui Noah. Tidak penting lagi Noah akan protes karena jadwal kerjanya terganggu. Lucky harus memantau istrinya. Jika tidak, masalahnya akan semakin runyam.
Resepsionis kantor sibuk menghubungi asistennya Barry. Lucky hanya melirik sekilas. Langsung menuju lift dan naik kelantai atas gedung. Di sambut Darko asistennya paman Barry sebagai CEO.
"Tuan Lucky. Selamat pagi" Darko membungkuk hormat.
" Paman Barry ada?" jawab Lucky tanpa basa-basi
"Silahkan, Tuan"
Darko membawa Lucky dan Beni menuju ruang kerja paman Barry. Disambut dengan senyuman hangat paman Barry. Mempersilahkan mereka duduk dengan nyaman.
"Kenapa tidak ada pemberitahuan lebih dulu, Luck?"
"Ini darurat paman. Panggilkan Noah. Kita harus rapat mendadak" ujar Lucky datar.
Barry menaikkan kedua alisnya. Menatap Lucky penuh tanda tanya. Dia tahu betul bagaimana Lucky. Jika sudah begini, pastilah putra sahabatnya ini sedang serius dan fokus.
"Baiklah. Darko akan segera menghubungi Noah. Dan aku pikir, ini sangat sensitif. Lebih baik kita ke ruang rapat saja" Barry mengambil inisiatif.
Tanpa banyak tanya, Lucky mengangguk saja sambil mengikuti Barry menuju ruang rapat yang lebih leluasa untuk mereka membicarakan rapat yang di maksud Lucky. Darko segera menghubungi Erwin asisten Noah. Dan langsung mempersiapkan ruang rapat yang tidak bisa di masuki sembarang orang.
Noah dan Erwin datang setelah beberapa menit Lucky menunggu. Tampak wajah Noah serius melihat Lucky sudah duduk bersama Barry.
"Aku belum memberi tempat kita bertemu. Kenapa buru-buru?" tanya Noah seraya duduk di barisan kursi di meja rapat yang panjang itu.
"Aku tidak bisa menunggu lagi. Kau terlalu lelet" sarkas Lucky. Noah hanya diam saja. Melirik Barry sekilas.
__ADS_1
"Ya.. ya.. Aku tau kau yang paling tangkas dalam mengintai" Noah membalas ejekan Lucky. Dia tahu jika Lucky hanya ingin memantau istrinya.
Mereka semua duduk berbaris dan berhadap-hadapan. Noah menantikan Lucky bicara.
"No, katakan pada kakek, aku menerima tawarannya" ujar Lucky tegas.
Noah menaikkan alisnya. Lalu bibirnya membentuk lengkungan senyum menatap Lucky. Dan paman Barry tampak antusias.
"Ini tentang Levi. Dia menemui ku dan memberi ancaman kecil" Lucky membuka bicara.
"Ancaman?" Barry mengernyitkan dahi.
"Ya paman. Dia ingin kursi nomor satu. Dan memastikan tidak ada yang akan menghalanginya"
"Itu tidak bisa, Luck. Semua sesuai prosedur. Kamu lah yang tepat di posisi itu" Barry tidak terima.
"Bisa paman"
Mereka semua serempak menatap Noah. Noah menarik napas dalam.
"Astaga" Barry terhenyak. Menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Tapi terlalu banyak yang harus ia singkirkan. Kau dan Lucky.. dan Frans juga pasti berdiri paling depan"
"Papa yang paling dia intimidasi" Noah menggeram dengan suara rendah.
"Jangan lengah No. Suruh orang mu untuk mengawasi Levi. Dan paman harus ada yang menjaga ketat"
"Aku sudah menduga itu" mata Noah menyipit. "Dia pikir, papa yang paling lemah"
"Karena itu aku memutuskan menerima tawaran kakek" Mereka berdua saling bertatapan. "Kita harus mengusut korupsi di kantor cabang. Pasti ada orang yang mendukung Levi di bagian divisi keuangan. Aku menemukan banyak kejanggalan" Sambung Lucky.
"Tapi bagaimana dengan perusahaan mu, Luck?" tanya Barry.
"Sementara ini, papi masih di Singapura. Aku bisa menangani keduanya" Lucky sudah bertekad.
"Tidak menyulitkan mu, Luck?" Barry masih meragu. "Mmm.. maksud paman, pasti di sini akan banyak menyita perhatian mu" Tidak enak hati meragukan kemampuan Lucky.
"Noah akan membantuku paman. Jangan khawatir" Lucky melirik Noah. Dan pemuda itu hanya mencebik saja.
__ADS_1
"Baiklah. Semakin cepat semakin baik. Aku juga tidak bisa terlalu menindas Fardo. Karena dia tahu, sebenarnya posisi ku adalah posisinya Noah. Jadi dia menyepelekan aku" Barry memberi penjelasan.
"Dan kau.. kenapa masih suka bersembunyi? Apa kau malu sebagai anggota keluarga Albronze?" Lucky mengedikkan dagunya menatap Noah.
"Ahh.. jangan ungkit itu lagi. Aku sudah bilang bukan, lebih suka di balik layar. Semua staf tidak tau kalau aku cucu Albronze. Jadi biarlah begitu"
"Ck.. pengecut" gumam Lucky.
Noah meliriknya malas. Selalu saja mengejeknya. Tapi ada benarnya Lucky. Noah memang tidak suka jika di pandang sebagai anggota keluarga kaya itu. Banyak aturan. Dan orang-orang akan datang padanya srbagai penjilat.
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan mengabari dewan direksi. Besok kau sudah bisa menggantikan posisi paman Fredi, Luck" Barry bersiap pergi.
"Itu lebih baik paman. Atur saja. Besok, sambutlah aku sebagai pemilik perusahaan ini" Lucky mengedipkan sebelah matanya pada Noah.
Barry tertawa renyah mendengar candaan Lucky. Putra sahabatnya ini terlalu kaku. Sampai bercanda pun masih terlihat kaku. Noah memutar bola matanya malas. Dia tahu maksud Lucky. Sambil menyelam minum susu.
Setelah Barry dan Darko pamit pergi, Noah menginstruksikan pada Erwin asistennya, apa saja yang ia tugaskan. Lalu Erwin juga pamit pergi.
"Ada lagi? Aku harus berkerja lagi" tanya Noah.
"Kau mengusirku?" Lucky melotot.
"Ck.. aku bukan seorang Presdir. Aku harus bekerja" Noah menendang kaki Lucky di bawah meja.
"Salah mu sendiri. Kenapa kau serahkan pada paman Barry? kau bodoh"
"Ah.. sudahlah. Aku harus pergi" Noah bangkit berdiri. Bersiap untuk keluar ruang rapat.
"Kau mau keruangan mu?!" Lucky terjengkit kaget melihat itu. Tampak waspada untuk menarik Noah jika ingin melangkah keluar.
Noah berbalik. Menatap Lucky dengan jengah. "Hey.. kenapa kau? Aku bukan simpanan mu. Kenapa begitu lapar menatapku?"
"Aku ikut" Lucky segera bangkit berdiri. Mensejajari langkah Noah.
"Terserah"
Noah tidak menghiraukan Lucky lagi. Melangkah meninggalkan ruang rapat. Lucky dan Beni menguntit di belakangnya. Noah hanya tersenyum melihat tingkah kakak sepupunya yang kaku ini. ada maksud tersirat dari keingiannya ikut ke ruang kerja Noah.
__ADS_1