
Seperti biasa, Melani dan Sri mengantar Frans dan lucky yang akan berangkat ke kantor. Sudah rutinitas setiap suami mau berangkat kerja, maka istri mengantar sampai depan. Tapi biasanya Sri hanya berdiri di teras saja. Tidak mengantar Lucky sampai ke mobilnya. Untuk apa? toh Lucky tidak meliriknya sama sekali.
Tidak seperti Melani yang selalu menggelendot manja di lengan suaminya. Mengantar sampai ke mobil, merapikan dasi dan cipika-cipiki. Kedua mertuanya ini memang selalu mesra kapan saja. Kadang Sri segan harus melihat kemesraan mereka.
Seperti sekarang, Melani sedang membenarkan letak dari Frans. Lalu cipika-cipiki. Sri tak mau melihat. Hanya menunduk menatap lantai saja.
"Ehem.."
Lucky berdehem agak kencang. Sri mendongak dan menatapnya heran. Pria itu masih berdiri saja di pintu mobil. Padahal Beni sudah membukakan pintu untuknya.
Tak di sangka, Lucky mengulurkan tangannya ke arah Sri. Mennunggingkan punggung tangannya.
"Tidak mau cium tangan suami?" tanyanya dingin sambil melirik Sri lalu melirik tangannya. Memberi kode agar Sri mencium tangannya.
Eh!! apaan sih dia? Tumben-tumbenan minta cium tangan? biasanya juga langsung pergi tanpa melirik sedikitpun. Sri melirik Melani dan Frans. Mereka berdua hanya tersenyum simpul. Dengan kikuk, Sri melangkah mendekati Lucky. Menatap mata Lucky sejenak dengan jengkel. Lalu mencium punggung tangannya secepat kilat.
"Cuma itu?" tanya Lucky.
Aduh! apalagi sih?! banyak syarat ini Lanang kaku!
"Apa lagi mas?" Sri menatap Lucky protes.
"Contoh itu mami" Lucky mengedikkan dagunya menunjuk Melani. Sri tahu maksudnya. Lucky mau dia juga cipika cipiki.
Dasar setan mesum! MODUS!!
Umpat Sri dalam hati. jengkel sekali melihat tingkah Lucky pagi ini. Banyak maunya. Sri lebih mendekat lagi. Berjinjit mendekati pipi Lucky. Tapi belum sempat Sri mengecup pipinya, Lucky sudah lebih dulu mengecup bibirnya.
Cup!
Astaga! Sri melotot. Ingin rasanya menendang tulang kering Lucky saat ini juga. Wajahnya langsung merona merah. Melani dan Frans tertawa melihat tingkah pengantin baru yang baru bulan madu itu. Sementara Beni tersenyum ditahan dengan menundukkan kepalanya.
Santai saja Lucky menaikkan alisnya. Merasa menang dengan sikap angkuh. Tersenyum smirk melirik Sri yang wajahnya sudah semerah tomat matang. Malu sekali di saksikan kedua mertuanya.
Frans dan Lucky sudah pergi. Kini giliran Sri yang sudah bersiap untuk mengembara mencari kerja. Akan mendatangi perusahaan temannya Noah. Dia harus berusaha sendiri. Noah sudah memberinya sedikit jalan. Tinggal usaha Sri yang harus di tingkatkan.
Pak Sam mengenalkan Sri pada seorang supir yang kelihatan sudah setengah umur. Namanya pak Karim. Dia yang akan menemani Sri kemanapun Sri mau.
"sayang, kamu hati-hati ya. Karim yang akan menunjukkan semua tempat pada mu. Kalau ada apa-apa langsung telpon Lucky, mami, papi, atau siapa saja. Oke?"
Sri tersenyum geli. Memangnya Sri masih anak TK sampai Melani merasa Sri tidak tahu apapun sama sekali? Tapi Sri tahu, Melani hanya menghawatirkannya saja. Itulah bentuk cinta seorang ibu pada anaknya. Akan selalu menganggap anaknya masih kecil.
"Iya, mami. Sri akan selalu ingat pesan mami"
Sri mencium punggung tangan ibu mertuanya. Lalu berpamitan pergi. Pak Karim membawanya menuju tempat yang Sri katakan.
šŗ
šŗ
šŗ
Sri ikut mengantri berderet di ruang tunggu. Berkas lamaran pekerjaannya sudah di terima di pihak HRD. Banyak juga orang yang mengantri bersamanya. Sri mencoba menghubungi Noah. Tapi pria itu tidak membalas pesan chatnya. Yang ada malah setan kaku yang selalu mengganggunya. Membuat Sri hilang konsentrasi.
"Kamu pasti jelek hari ini. Tidak ada yang akan menerima lamaran pekerjaan mu"
Begitu setan kaku itu mengiriminya pesan. Coba saja bayangkan, lagi ikut antrian, akan langsung di interview, ini adalah kesempatan emas bagi Sri. Tapi Lucky malah memecah konsentrasinya. Rasanya ingin memaki Lucky sekencangnya.
"Biarin. Yang penting otak š"
"Memangnya kamu punya otak?"
Iiisshh dasar setan kakuuu!! Awas saja nanti di rumah. Akan aku Jambak rambut mu!
"Mase aja yang belum tau"
"Setau aku, kamu cuma bisa mende sah"
__ADS_1
Bangsat! Bisa-bisanya dia bilang begitu! wajah Sri merah padam. Sangat geram membaca pesan yang di kirim Lucky. Hatinya goyah. Konsentrasinya benar-benar terpecah saat ini. Duduk gelisah menanti pihak HRD memanggil namanya.
"Aku benar kan? aahh.. massseeee.. aahh"
Astaga!! edan tenan iku Lanang Yo! gembluuung sampeyan!! Sri memaki Lucky dengan gumam geram. Entah apa maunya pria gila yang satu ini. Pesan chat itu mengingatkan kejadian bulan madu kemarin. Membuat Sri linglung. Lucky mencontohkan desa hannya.
"Bisa diam Ndak toh mas! Sri blockir ntar nomer hp Mase"
Lucky tidak menjawab lagi. Sri sedikit lega. Melirik antrian yang masih mengular. Sekarang sudah jam sebelas siang. Sebentar lagi pasti waktu istirahat makan siang. Kalau dia tidak di panggil sekarang, pasti harus menunggu lebih lama lagi.
"Dewi Sri"
Seseorang memanggil namanya. Sontak Sri berdiri dan mengacungkan tangannya ke atas. Melangkah mendekati pintu masuk ke ruang interview.
"Iya saya Bu"
Sri membungkuk hormat. Mereka mempersilahkan Sri masuk. Sri melangkah dengan jantung berdebar. Di dalam ruangan ada tiga orang yang duduk di belakang meja panjang. Dua lelaki paruh baya, dan satu wanita dengan dandanan full makeup. Menampilkan wajah-wajah serius. Dan di depan mereka ada satu kursi untuk peserta interview.
"Silahkan duduk"
Sri duduk di depan mereka. Berusaha tegar dan bersikap profesional semaksimal mungkin. Ini pengalam pertamanya di interview.
"Nama anda Dewi Sri?" Tanya salah seorang dari mereka.
"iya. Saya pak"
"Lulusan S1 ekonomi?"
"Benar pak"
"Apa motivasi anda ingin bergabung di perusahaan kami?"
Sri menarik napas dalam. Bersiap untuk menjawab. Tapi sial, sebelum jawaban meluncur dari bibirnya, ponselnya berulang kali berdering.
Kriing.. kriing.. kriing..
'Aduuuhhh.. Aku lupa matiin hp ku.. aku kudu piye Iki??'
Mereka masih menunggu jawaban Sri. Dan Sri mencoba mengabaikan suara deringan ponselnya. Menarik napas panjang dan menjawab pertanyaan tadi.
"Motivasi saya ingin bergabung di sini..."
Kriing.. kriing..
Lagi lagi dering ponselnya memutus kata-kata Sri. Mampus!! habislah kesempatannya. Wanita didepannya menatap Sri tak senang. Mereka bergumam marah. Keringat dingin Sri mulai merembes sebesar biji jagung.
"Silahkan anda terima panggilan itu. Silahkan keluar" ujar wanita itu.
Hening. Otak Sri terasa kosong. Itu pengusiran yang memalukan. Sudah pasti mereka menolak sikap Sri yang tidak profesional sama sekali. Sangat menyesal kenapa dia lupa mematikan ponselnya sebelum masuk ke ruangan interview.
Tanpa kata, Sri bangkit berdiri. Melangkah gontai ke pintu keluar. Rasanya ingin menangis kencang saat ini juga. Matanya sudah berkaca-kaca. Tapi ia tahan sebisa mungkin. Melewati deretan antrian tempat dia tadi menunggu berjam-jam.
Ponselnya masih berdering beberapa kali. Itu membuat kemarahan Sri memuncak. Di lorong ruangan, Sri merogoh sakunya dan mengecek ponselnya. Lucky!! Itu panggilan Lucky. Ada Lima belas panggilan tidak terjawab.
Air matanya luruh. Kesal sekali dengan makhluk yang satu ini. Ngapain lagi dia menghubungi Sri di saat-saat genting? Tidak ada kerjaan lain apa? Atau dia memang sengaja ingin menggagalkan interview Sri?
Tapi setelah Sri berada di luar, Lucky malah tidak menghubunginya lagi. Ponselnya diam tiada deringan sama sekali. Ingin menjerit dan menghentak-hentakan kakinya ke lantai saat ini. Ingin mencakar dinding ruangan sampai membentuk garis akibat kukunya menancap di tembok.
Tapi itu tidak mungkin. Rasanya ingin membanting ponselnya sampai hancur. Tapi sayang. Ini ponsel satu-satunya. Kalau di banting, buang duit untuk beli yang baru.
Sri lemas. Tubuhnya luruh ke lantai. Berjongkok bersandar ke tembok. Menengadahkan kepalanya berusaha menahan tangis karena hatinya yang jengkel bukan kepalang.
Lucky sialan!! Lanang edan!! gembung!! Tak sobek-sobek entar lambe muuuu!!!
Hanya bisa memaki dalam hati. Banyak orang yang masih mengantri di ruangan depan lorong tempatnya sekarang. Tidak ada lagi kesempatan untuknya di sini. Sri menghapus air matanya dan bangkit. Berjalan lunglai menuju lobi. Ingin pulang secepatnya dan akan menumpahkan kekesalannya di kamar.
"Hey.. Sri tunggu!"
__ADS_1
Sri menoleh. Mencari sumber suara yang memanggil namanya. Dan semakin merasa nelangsa melihat siapa yang memanggilnya. Amira. Ngapain dia di sini? Dan kenapa harus berjumpa di sini sih?
Gadis itu berjalan mendekatinya, dengan gaya berkelas. Memakai gaun sebatas paha dan high heels yang kira-kira setinggi lima senti. Menampilkan sosok wanita berkelas dan sangat enak di pandang mata. Menatapnya serius dari ujung kaki sampai ujung kepala Sri.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Amira sambil memperhatikan Sri. "Mau beli property?"
"Mbak Amira juga ngapain di sini?" Sri balik bertanya.
"Oh.. aku?" Amira menunjuk dadanya. "Aku lagi ada kerjaan. Biasalah, Lagi meeting proyek iklan" jawab Amira pongah. "Kamu, ngapain?"
Sri bimbang. Antara jujur dan ingin menutupi. Kalau bisa sih inginnya lari saja menjauhi Amira. Tapi tidak ada kesempatan untuknya bisa langsung menghilang.
"Sri lagi ada interview, mbak" jawab Sri.
"Interview? Maksuknya, lamaran kerja?" Amira menatapnya setengah hati. Seperti menertawakan apa yang Sri lakukan saat ini.
Sri hanya mengangguk. Dia tahu, pastilah Amira akan bicara pedas yang akan menyakiti hatinya.
"Hahaa.. Kamu lagi interview mau kerja? Kerja kantoran? Apa kamu bisa?"
Deg!!
Benarkan.... Benar saja. Gadis sombong yang satu ini sudah melontarkan hinaan merendahkan kemampuan Sri. Sudah lah gagal interview, sekarang malah harus menghadapi mulut pedas Amira.
"Kenapa mbak?" Sri mulai menunjukkan sikap tak suka melihat Amira.
"Apa Lucky tidak mau menafkahi mu? Atau kamu sudah di usir Lucky dari rumah, Sampai kamu sibuk cari kerja?"
Astaga!! pedasnya!! Seperti bon cabe level tertinggi rasa pedas di hati Sri saat ini. Gadis ini harus di beri pelajaran agar mulutnya bungkam.
"Oohh.. Yo ndak toh mbak. Mas Lucky baik banget sama Sri. Apalagi setelah pulang bulan madu. Mas Lucky Ndak pernah mau lepas dari Sri, mbak. Haha.. Aneh memang mas Lucky itu ya mbak, mosok pinginnya di tempat tidur terus" Sri menjelaskan dengan tawa centil yang di buat-buat
Wajah Amira menegang. Rasa marah mewarnai wajah cantiknya mendengar jawaban Sri. Menampar wajahnya sampai tembus ke ulu hati.
"Trus kenapa kamu cari kerja?" tanya Amira sinis.
"Yah.. Sri itu bosen di rumah Mbak. Setiap hari cuma perawatan, Shoping-shoping, Trus.. cuma pose cantik nungguin Mase di tempat tidur. Sri pingin cari kesibukan gitu loh mbak" jawab Sri berusaha setegar mungkin.
hmmm kapok kuwe kan! rasaknooo.. tak Hajar rai mu mbak miraaa... Hayooo.. nambah lagi??
Sri bersorak dalam hati melihat wajah Amira yang sudah merah padam mendengar jawabannya.
"Hhh.. kenapa aku tidak percaya ya?" Amira melirik skeptis. Hatinya membara.
"Walaaahh.. mbak Amira kok ya Ndak percaya toh?"
Sri merogoh tasnya. mengeluarkan dompet lalu mengambil black kard dan kartu ATM yang di serahkan Lucky pagi tadi padanya.
"Nih... mbak.. mas Lucky kasi ini sama Sri. Kalau udah punya ini, trus buat apa Sri kerja lagi toh mbak? Sri itu cuma pingin cari kesibukan aja loh mbakee"
Sri mengacungkan kartu-kartu itu di depan wajah Amira. Membuat Amira semakin shock berat. Napasnya memburu akibat amarah yang tidak bisa di keluarkan dengan bebas. Banyak orang di lobi kantor. Dan dia juga menjaga imej di depan semua orang. Melihat black card dan ATM di tangan Sri, itu menujukkan Sri tidak berbohong.
Kriingg.. kriing..
ponsel Sri berdering lagi. Sri melihat ponselnya. Lucky menghubunginya. Pucuk di cinta ulam pun tiba.. gotchaaa... keberuntungan ada di pihaknya detik ini.
"Aadduuhh.. suami tersayang ini kok Maruk Yo.. pingin di cium terus.. nih mbak.. mas Lucky pasti lagi kangen"
Sri mengacungkan layar ponselnya di depan wajah Amira. Membuat gadis itu semakin berubah-ubah warna wajahnya. Sebentar pias sebentar merah. Marah bergabung dengan kaget yang mendera jantungnya. dia tidak dapat berkata apa-apa lagi.
"Halo sayang" Sapa Sri begitu membuka panggilan Lucky.
Amira semakin gemetaran. Matanya sudah mulai berkaca-kaca saking geramnya. Tapi Sri pura-pura bodoh tak melihat perubahan wajah Amira. Dengan santai, Sri permisi pada Amira untuk pergi.
"Maaf ya mbake.. Sri pergi dulu. Ndak enak cium-cium suami di depan banyak orang. Bye mbak.."
Sri melambaikam tangannya sambil melangkah dan terkikik-kikik berbicara dengan Lucky di ponselnya.
__ADS_1
"Iya Mase sayang.. Sri juga rindu.. hihihii..."