
Lucky membuka matanya nyalang. Terkaget bangun dari tidurnya dengan wajah dan tubuhnya bersimbah keringat. Baru saja Lucky bermimpi buruk. Napasnya terngah dan mata menatap nanar.
Menyadari dia masih di dalam kamarnya, Lucky menghembuskan napas lega. Mengusap wajahnya yang penuh keringat. Melirik jam di atas nakas. Masih pagi. Ternyata dia baru bisa tertidur ketika menjelang subuh. Dan sialnya malah bermimpi buruk.
Menyibak selimutnya, dan beranjak turun dari ranjang. Tapi begitu menginjakkan kakinya ke lantai, Lucky terjangkit kaget. Lantai itu terasa sangat dingin seperti es. Perutnya langsung kram dan terasa mual. Kepalanya langsung pusing sedikit berputar.
Aneh! Sungguh aneh. Lucky tidak pernah begitu. Lantai itu layaknya es balok. Kakinya sampai beringsut naik ke ranjang lagi. Rasa mual menyerangnya kuat. Lucky tidak kuat. Ia ingin muntah. Tapi tidak bisa menginjakkan kakinya ke lantai.
Memegangi kepalanya yang terasa pusing, dan perutnya mual. Keringat dingin mengucur begitu saja. Napasnya terengah lagi. Memandang nanar ke arah pintu. Berharap seseorang datang.
"Aduh.. Kenapa aku begini? Mual sekali.. A-aku m-mau.. Huuueekkk!!"
Lucky muntah. Tapi tidak mengeluarkan apapun dari mulutnya. Mual itu sungguh menyiksanya sampai pori-porinya meremang merinding. Tubuhnya mulai menggigil.
"Astaga.. Aku kenapa.." keluh Lucky sambil ambruk ke ranjang. Meringkuk mengigil dengan pandangan yang terasa berputar.
Tidak ada yang tahu kondisinya saat ini. Dia sendiri di kamarnya. Memang tidak di mansion. Tapi di rumah lain tempatnya menyiapkan segala sesuatu untuk pekerjaan yang tidak ingin di ketahui orang banyak. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke rumah ini.
Lucky melirik tombol di atas nakas. Tombol khusus untuk memanggil seorang pelayan. Tapi untuk bergerak kesana saja Lucky sekaan tidak punya tenaga. Dia lemas. Kepalanya seakan berat tak bisa bergeser. Pusing dan mual seperti mabuk kendaraan.
Pelan-pelan Lucky bergeser dengan susah payah. Meraih tombol yang rasanya bermeter-meter jauhnya. Padahal hanya dekat saja. Itu karena tubuhnya terasa lemas mendadak.
Teeettt!!!
"Noooo... To..long.." panggilnya lemah.
Memencet agak lama dengan geram. Ambruk lagi di ranjang memegangi kepalanya. Lucky seakan sekarat. Tak berapa lama, pintu di ketuk. Seseorang memanggil Lucky. Tapi Lucky tak bisa menyahut dengan keras. Suaranya lemah dalam keluhan.
Hening sejenak. Lalu pintu terbuka. Muncul Noah, Rian dan seorang pelayan yang tampak kaget melihat keadaan Lucky.
"Luck!"
Noah langsung berlari panik mendekati Lucky. Memeriksa keadaan pria malang itu. Terkejut melihat wajah pias pria gagah itu.
"Kau kenapa kak?" tanya Noah lagi. Rian juga kebingungan melihat Lucky tak berdaya.
"P-pusing, No. M-mau muntah.." keluh Lucky dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Rian, tolong aku. Bawa Lucky ke kamar mandi"
"I-iya pak!"
Rian membantu mengangkat Lucky dari ranjang. Memapah tubuh tegap itu dengan susah payah.
"Kamu, cepat telepon dokter" Noah memerintahkan pelayan untuk menelepon dokter. Segera pelayan itu pergi.
Baru saja sampai di ambang pintu kamar mandi, Lucky langsung muntah. Tak tahan dengan kepalanya yang terasa berputar. Jatuh terduduk dan memuntahkan isi lambungnya.
"Huueekkk.. Hueekkk.."
Noah dan Rian saling pandang. Lalu menatap Lucky lagi. Noah menepuk-nepuk punggung Lucky. Dan Rian memijit tengkuknya.
"Hahhh.. Hahhhh... Aduuuhh.. Kepalaku pusing, Nooooohh..."
__ADS_1
Lucky memijit kepalnya yang terasa berat. Napasnya memburu kehabisan tenaga setelah mengejan terus menerus karena muntah. Matanya terpejam erat. Tidak mau membuka matanya karena jika matanya terbuka, maka semua seakan berputar.
Wajahnya pucat pasi. Ingus meleleh tak di pedulikan lagi. Lucky tampak sangat berantakan.
"Kau makan apa sampai begini, kak?" Noah berjongkok dan memperhatikan Lucky dengan prihatin.
"Aku tidak tau. Ahh.. Huuueekkk..." Lucky muntah lagi. Liurnya tak berhenti menetes. Mual sekali.
"Mungkin masuk angin, pak" celetuk Rian.
"Masuk angin? Badan besar begini kalah sama angin?" Noah mengernyit.
Merasa sudah selesai, Lucky di papah Noah dan Rian lagi. Merebahkannya di tempat tidur. Menyelimuti tubuh Lucky yang sangat lemas. Rian mengambil tisu dan menyerahkannya pada Noah. Dengan telaten Noah membersihkan air mata dan lelehan ingus Lucky.
"Ada apa denganku? Kenapa begini?" Lucky mengeluh lagi.
"Kami juga tidak tau, kak" Noah memijiti kepala Lucky.
"Apa mungkin...." Rian menggantung bicaranya.
Lucky membuka mata. Mereka berdua serempak menoleh menatap Rian.
"Mungkin apa?"
"Kena guna-guna, pak!"
Sontak saja keduanya memutar bola matanya malas. Rian emang somplak. Masak iya Lucky di guna-guna orang? Rian cuma nyengir.
"Otak mu miring, Rian" dengus Lucky.
Noah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah absurdnya. Menyuruh Rian mengambil air putih untuk Lucky. Tapi begitu Lucky meminumnya, rasanya ingin muntah lagi.
Setengah jam lamanya mereka menunggu dokter Irwan datang. Langsung memeriksa keadaan Lucky. Dan hanya tersenyum saja ketika selesai.
"Hey.. Aku tak butuh senyummu Ir. Aku kenapa?" tanya Lucky tak sabar.
"Tidak ada masalah, Luck" jawab dokter Irwan santai.
"Tapi tadi dia muntah-muntah. Kenapa tidak apa-apa?" Noah menyela.
"Nahh.. Benar kan, pak No? tuan Lucky pasti kena guna-guna!" Rian nyeletuk lantang.
PLETAK!
"Aduh!!"
Noah menggetok kepala Rian saking gemasnya. Rian mengaduh kesakitan. Menatap Noah tak mengerti kenapa sampai kepalanya di getok.
"Serius, Rian!" sentak Noah. Rian malah cengengesan.
"Tenanglah. Lucky tidak apa-apa. Dia hanya mengalami Sindrom kehamilan simpatik." dokter Irwan tersenyum geli melihat Rian masih mengusap kepalanya.
"Hah? Apa itu?" tanya Lucky dan Noah serempak.
__ADS_1
"Sindrom kehamilan simpatik terjadi ketika suami ngidam dan mengalami gejala-gejala kehamilan seperti yang dialami istrinya ketika mengandung. Dalam dunia medis dikenal dengan nama couvade syndrome. Tidak hanya suami, teman dekat ibu hamil juga bisa mengalami sindrom ini" Irwan menjelaskan.
"Oohh.. Berarti saya juga bisa ngidam ya, dok?" celetuk Rian.
Serempak mereka bertiga menatap Rian dengan raut wajah yang berbeda-beda. Noah melongo, Lucky melotot, dan dokter Irwan menaikkan kedua alisnya heran.
"Eh.. Hehehe.. Saya kan teman dekatnya Sri, pak dokter"
Noah menepuk jidatnya dan geleng-geleng kepala. Lucky melengos tak senang. Sedangkan dokter Irwan hanya tergelak senang.
"Hahaha... Bisa jadi. Sindrom kehamilan simpatik ini, membuat suami atau teman dekat Bunda mengalami mual, kram, dan gejala kehamilan lainnya. Biasanya, sindrom ini hanya bersifat sementara, dan akan menghilang setelah bayi lahir"
"Oohh.. Begitu ya" Rian manggut-manggut.
"Ir, sembuhkan aku. Aku bakalan tidak bisa bekerja kalau begini" Lucky bangun dari berbaring. Noah membantunya untuk duduk bersandar.
"Haha.. Itu tidak bisa di sembuhkan Luck. Bisa dibilang, semakin kuat ikatan batin suami dengan sang istri, maka gejala yang ia alami juga lebih intens. Bahkan tak hanya suami ngidam, dia juga bisa mengalami pembengkakan payudara akibat meningkatnya hormon prolaktin, hormon yang membantu produksi ASI pada ibu hamil."
"Astaga!"
Rian berseru kaget. Buru-buru mendekati Lucky. Merentangkan tangan Lucky dengan tiba-tiba. Semua orang bingung melihat kelakuan Rian. Kebetulan Lucky bertelanjang dada. Rian memeriksa dada Lucky. Terlihat sangat penasaran.
"Heh! Kau sedang apa?" Lucky mendelik.
"Memeriksa payudara tuan. Siapa tau sudah bengkak" jawab Rian polos.
"Astaga! Kau gila!" sentak Lucky.
"Hahaha..." Noah dan Irwan terbahak melihat itu.
Rian hanya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Tersenyum kecut menyadari kekonyolannya.
"Tenang Luck. Kau tidak apa-apa. Semua baik. Tapi tolong, kurangi tingkat stresmu. Tingginya tingkat stres pada suami saat istri hamil menjadi pemicu"
"Aahh.. Yeah mungkin aku stres" Lucky mengusap wajahnya frustasi.
"Stres membuat tubuh melepaskan senyawa kimia yang berubah menjadi gejala kehamilan simpatik. Kehamilan bisa menimbulkan stres bagi suami maupun istri, kecemasan finansial, masalah kesehatan, ditambah empati maka muncullah sindrom kehamilan simpatik" Irwan melanjutkan lagi penjelasannya.
Wajah Lucky berubah murung. Ya benar. Mungkin dia stres akhir-akhir ini.
"Sayangnya tidak ada obat khusus yang bisa menyembuhkan itu. Kelola saja level stresmu. Kau akan baik-baik saja." Irwan mengambil obat dari tasnya. "Ini aku beri obat pereda mual dan pusing mu. Lihat aturan pakainya"
"No, dia tidak apa-apa. Jangan cemas. Hanya saran ku, lebih dekat dengan istri, maka akan lebih baik" lanjut Irwan memberi saran.
"Baiklah, terima kasih" Noah berdiri dan menerima obat dari dokter Irwan.
"Baiklah, aku permisi"
Rian mengantar dokter Irwan pergi. Noah membuka bungkus obat dan menyerahkan obat itu pada Lucky.
"Kak, minum dulu obatnya"
"Hiks.. Hiks..."
__ADS_1
😳 Noah terbengong kaget melihat Lucky sudah terisak sedih.