
Sri keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri. Melirik Lucky sekilas yang sedang duduk di sofa sibuk dengan gawainya. Begitu tahu Sri keluar, lucky mendongak menatapnya. Tapi Sri cuek seakan tak melihat Lucky di kamar itu.
Lucky diam sambil memperhatikan apa yang di lakukan Sri. Pakaian Sri sudah di antar baris tadi. Sri melihat kopernya ada di atas tempat tidur. Ia melangkah kesana. Membukanya dan memilih satu stel pakaian.
Sri meletakkan pakaian itu di tempat tidur. Lalu beranjak membereskan pakaiannya ke lemari. Setelah selesai, mengambil pakaiannya di tempat tidur, lalu melangkah lagi ke kamar mandi. Menghilang di balik pintu.
Sumpah! Lucky gemas melihat sikap cuek Sri. Lucky menyadari kedatangan Amira sudah membuat Sri marah. Tapi mau bagaimana lagi. Itu tidak di rencanakan. Lucky menghela napasnya dan menatap layar gawainya lagi. Memeriksa pesan masuk dari Jacko. Ia harus menemui Deva sebentar lagi.
Sri keluar lagi dari dalam kamar mandi. Sudah berpakaian lengkap. Berjalan melenggang menganggap seperti tidak ada orang lain di kamar itu. Lucky menatap lekat memperhatikan gerak-gerik Sri. Berharap gadis itu akan menoleh padanya, atau hanya sekedar bertanya sesuatu.
Tapi itu semua tidak terjadi. Gadis itu diam saja. Duduk di meja rias dan mengeringkan rambut basahnya. Bunyi berisik dari hairdryer memenuhi seisi kamar. Sri seakan menjadi bisu sekarang. Jangankan bicara, melihat lucky barang sejenak pun dia tidak mau.
Ketika hairdryer mati, kesunyian seketika hadir. Sri tetap diam seribu bahasa. Lucky sungguh gemas.
"Sri" panggil Lucky memecah kesunyian.
Sri melirik sejenak. Tapi cepat membuang pandangannya lagi dan fokus ke cermin di depannya.
"Aku akan pergi sebentar. Ada yang harus ku temui" Lucky melanjutkan.
Sri masih diam tak menyahut. Lidahnya terasa kelu. Dia masih kesal pada lucky. Entah kenapa Sri merasa sakit hati.
"Apa kamu mau ikut?" tanya Lucky lagi. Tak peduli gadis itu menyahut atau tidak.
"Bukannya dalam kesepakatan kita, untuk mengurus urusan masing-masing Mase?" Sri balik bertanya tanpa melihat ke arah Lucky. Masih dalam posisi yang sama. Menatap dirinya di pantulan cermin meja rias.
Mendengar itu, rahang Lucky mengetat. Kata-kata Sri seakan mengingatkannya tentang apa batasan di antara mereka berdua. Kesepakatan yang masih berjalan sampai sekarang. Menampar Lucky dalam kesadaran penuh. Jadi menurutnya, kenapa harus merasa bersalah dengan kedatangan Amira? Amira juga menuntut hak yang di janjikan bukan?
"Baiklah" Lucky bangkit berdiri. " Sarapan mu akan di antarkan pelayan. Om Baris akan datang sebentar lagi"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Lucky beranjak mendekat ke arah Sri. Tubuh Sri sedikit bereaksi. Takut jika Lucky akan berbuat yang tidak-tidak. Tapi Sri salah. Lucky hanya ingin mengambil handuk di lemari. Lalu pergi ke kamar mandi tanpa menatap ke arahnya lagi.
Sri menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Seakan mencari sosok Lucky yang akan muncul lagi tiba-tiba. Memunculkan wajahnya dari balik pintu, dan akan bertanya atau memberitahu sesuatu padanya.
Tapi tidak. Setelah beberapa menit, pintu itu tetap tertutup rapat. Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Ada rasa nelangsa di hati Sri. Tapi apakah pantas dia berharap banyak dari Lucky? Bukankah hubungannya dengan Lucky hanya ingin sama-sama mencapai sebuah tujuan?
🌺
🌺
🌺
Amira masuk ke dalam kondominiumnya dengan langkah lebar. Kesal sekali Lucky Berani mengusirnya tadi. Air mata sudah berlinang membasahi pipinya. Amira menghempaskan tubuhnya di ranjang.
Yesi, asisten pribadinya tergesa mendekati Amira. menatap cemas melihat Amira menangis.
"Sial!! kenapa jadi aku yang merasa di sisihkan?! sial!!"
Amira memukuli bantal di depannya. Menyalurkan rasa kesal di hatinya. Yesi langsung paham kenapa majikan sekaligus temannya ini menangis.
"Bertengkar lagi?" tanya Yesi.
Amira bangkit. duduk menatap Yesi dengan linangan air mata yang sudah merusak make-upnya pagi ini.
"Lucky sudah tidak mencintai ku, yes! hikkss.. hikkss.." Amira mengadu.
"Kenapa? tapi aku lihat tuan Lucky biasa-biasa saja"
"Kamu tau tidak? dia tadi mengusirku dari kamarnya! Setelah dia bersenang-senang dengan perempuan sial itu, dia lupa pada ku!" Amira bersungut-sungut marah. Memukuli bantal di pangkuannya.
__ADS_1
"Kamu yakin, kalau mereka sudah tidur bersama?" tanya Yesi lagi.
"Iihh.. kamu ini! Kalau kamu lihat tadi bagaimana kondisi mereka, kamu pasti berpikir sama seperti ku!" Amira jadi semakin kesal Yesi menanyakan itu. Jelas-jelas tadi dia melihat mereka berdua dalam keadaan sama-sama berantakan.
"Tapi kamu bilang, Lucky tidak pernah tergoyahkan sekali pun kamu menggodanya. Apa iya, dia begitu cepat tergoda dengan parempuan itu?" Yesi mengingatkan Amira.
Amira diam. Memikirkan apa yang di katakan Yesi barusan. Memang selama ini Lucky selalu menolak jika Amira meminta lebih. Sekalipun Amira menggoda Lucky, pria itu tetap bersikukuh melakukan setelah pernikahan. Tapi lain lagi statusnya dengan Sri. Gadis itu istri sahnya. Sedangkan Amira masih berstatus kekasih saja.
"Mereka suami istri yang sah di mata hukum, Yes. Mana ada lelaki tahan dengan godaan daging segar di atas ranjang. Hikkss.. hikkss"
"Jangan berpikiran buruk dulu, Mir. Tuan Lucky sudah bilang pada mu 'kan, Kalau pernikahan itu hanya sementara? Dia tidak suka dengan gadis itu"
"Tapi sekarang kenyataannya berbeda, Yes! Lucky seakan semakin jauh dari ku" Amira menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Menangis tersedu.
"Tahan Mir. Tuan Lucky itu tuan muda. Dia yang mewarisi harta kakeknya. Kamu harus bersabar. Dan lagi pula, show mu masih belum kelar. Kalau kamu menyerah sekarang, kamu hancur" Yesi menepuk-nepuk punggung Amira mencoba menenangkan.
Amira membuka wajahnya. Wajah yang kini penuh dengan deraian air mata. Menatap Yesi dengan rasa hati nelangsa.
"Aku harus bagaimana, Yes?"
"Bersabar lah. Kamu harus bisa merebut tuan Lucky kembali. Kamu sudah meninggalkan segalanya hanya demi mendapatkan tuan Lucky. Walaupun kau pernah salah tidak mengambil kesempatan yang di tawarkan orang tuanya. Tapi kau masih bisa. Yang terpenting, kuasai hati tuan Lucky" Yesi memberi saran.
"Bantu aku, Yes"
"Aku selalu bersama mu bukan? Sudah lah. Waktu mu tidak banyak di sini. Ada event yang harus kau hadiri besok. Jangan menangis lagi"
Amira mengangguk. Menghapus air matanya. Untung ada Yesi yang selalu bersamanya memberi nasehat untuk dia tetap pada tujuannya.
Dia harus merebut Lucky kembali kepelukannya. Dia harus bermain cantik dan rapi untuk menyingkirkan Sri dari Lucky. Tidak ada yang bisa menghalangi Amira Delova sang primadona untuk mendapatkan sang tuan muda kaya raya Lucky Albronze.
__ADS_1