
Duduk berdua tanpa mengenakan baju. Sama-sama melihat keadaan masing-masing lalu tertawa. Lucky senang Sri sudah terlihat lebih tenang. Duduk bersebelahan dengan rambut masih basah.
Lucky tidak pernah melakukan itu selama hidup. Hidupnya sungguh teratur dan harus perfeksionis. Tapi bersama Sri, kesempurnaan itu mulai berubah sedikit.
"Kamu ingat kan aku cerita tentang paman Fardo dan bibi Neni?"
"Hem" Sri mengangguk.
"Aku dan Noah sedang menyelidiki itu. Mereka sudah keterlaluan. Kemungkinan, mereka akan memasukkan mata-mata di setiap celah yang bisa di masuki. Tidak terkecuali mansion kita"
Sri agak terkejut. Tapi masih diam mendengarkan Lucky melanjutkan ceritanya. Maklum, Sri tidak tahu apapun tentang keluarga Lucky. Begitu menikah, langsung masuk ke dalam kerumitan keluarga Albronze.
"Dan Noah menemukan fakta baru. Bahwa Amira ikut terlibat. Aku tidak bisa langsung menyingkirkannya. Aku bisa mendapat bukti dari apa yang ia lakukan"
"Bukannya karena Mase cinta sama mbak Amira Yo?" Sri menyela.
"Hmm.. sayang, Amira memang pernah singgah di hati ku. Tapi jika dia juga ingin menghancurkan aku, apa pantas di kasih hati?"
"Tapi Mase masih aja baik sama mbake" Sri cemberut.
"Haha.." Lucky tergelak. "Kamu cemburu?" Menowel pipi Sri.
"Isshh.. opo toh?" Sri menepis tangan Lucky dengan cemberut. "Kalo pak Noah baik sama Sri, apa Mase Ndak cemburu?"
Wajah ceria Lucky langsung berubah masam. Menatap Sri penuh kecemburuan.
"Dia lain. Aku tidak suka" jawab Lucky tegas.
"Naaahh.. tu kaan.. egois itu jenenge masee.." Sri mencebik.
"Haha.. iyaa iya.. aku egois" Lucky tergelak. Tapi langsung merubah mimik wajah serius lagi. "Tapi tetap. Aku tidak suka kamu dekat Noah! titik!"
"Hadeehh.. padune ngekang maass" Sri jengah. Lucky tersenyum geli.
"Tapi.. gimana caranya bisa dapat bukti dari mbake, mas?"
"Kamu harus mengikuti permainannya, sayang. Dia pasti selalu mencari cara agar kita kacau. Mereka tidak bisa menyentuh aku. Jadi mencari celah dari pihak mu. Kalau kamu lemah, maka aku juga lemah"
"Sri, aku tidak bisa melihat orang-orang tersayang ku tersakiti. Jadi Levi mengincar kamu. Kamu masih terlalu dini masuk dalam permainan paman Fardo. Mereka licik. Merusak hubungan kita dan perusahaan kakek"
"Kenapa toh paman itu kejam banget, mas? kakek dan kamu itu kan keluarga kandunge yo? kok mau merusak? kalo keluarga dan perusahaannya rusak, pastilah mereka juga Ndak dapet apa-apa. Heran aku lho mas. Kok iso yo?"
"Sebenarnya.."
Sri tampak antusias menatap Lucky. "Opo mas?"
"Paman Fardo itu.. anak dari nenek Liana"
"Maksute?" Sri mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Kakek menikah yang ke dua. Nenek Liana. Nenek kandung ku sudah meninggal. Nenek Liana jadi ibu sambung papi. Papi itu anak pertama dari nenek yang pertama. Paman Fardo, anak bawaan dari nenek Liana. Setelah menikah dengan kakek, nenek Liana punya anak. Paman Fardan. Mengerti, sayang?"
Sri terkesiap mendengar itu. Baru kali ini Lucky menjelaskan silsilah keluarga kakeknya. Sri manggut-manggut.
"Kalau gitu, paman Fardo itu ya kelewatan mas. Lah wong bukan anak kandunge kakek lho ya? kok mau menguasai"
Lucky tersenyum. Merengkuh pundak Sri. Mengelus rambut basah istrinya.
"Aku meminta pada mu Sri. Jadilah istri yang tegar. Setelah ini, pasti akan lebih banyak rintangan yang akan kita hadapi"
Sri gemas lalu mencubit perut liat suaminya.
"Awwhh.." Lucky mengaduh kesakitan. Mengusap perutnya bekas cubitan Sri.
"Kenapa gak cerito dari dulu? Sri kan Ndak tau" Galak Sri melotot pada Lucky.
Lucky nyengir kuda. "Aku kira kamu bandel seperti saat menghadapi ku. Ternyata kamu jadi sering cengeng"
"Giman ndak cengeng coba? Suamine Karo wedok liyo, peluk-pelukan, trus mbela wedoane terus. Aku Iki nduwe hati mas!"
"Sri.." Lucky mengurai pelukannya. Menatap Sri serius.
"Eh.. opo mas?" Sri heran melihat sikap Sri.
"Barusan tadi kamu ngomong apa sih?"
š³ Wes ngomel panjang lebar, malah ora mudeng sampeyan! š
Lucky menarik tubuh Sri kedalam pelukannya. Tersenyum menatap penuh cinta pada istrinya. Membelai wajah Sri lembut.
"Aku suka kamu cemburu" ujarnya lirih.
"Iishh.. sakit mas"
"Hehe.. aku tau. Bukan cuma alasan ingin mengungkap maksud Amira saja. Tapi aku suka buat kamu cemburu"
"Aku mau kamu merajuk terus. Aku senang melihat cinta di saat kamu cemberut"
"Gombal" Sri memukul pipi Lucky pelan.
"Hmm.. sudah bisa sayang?"
"Apanya mas?"
"Boleh celup sedikit?"
Sri mengerutkan dahinya berpikir apa maksud Lucky. Tapi dia segera tahu ketika Lucky menggerakkan pinggulnya ke paha Sri. Melotot menatap mata sendu itu. Segera bangkit berdiri dan berlari ke walk in closed sambil berseru.
"Mase mesuuumm!!"
__ADS_1
"Hahaha.."
š
š
š
Hati keduanya bermekaran bunga cinta lagi. Banyak tersenyum di pagi ini. Sri sudah mengerti dengan semua penjelasan Lucky. Mengerti maksud suaminya. Lucky hanya memainkan perannya pada Amira. Dan Sri juga harus mendukung suaminya.
Pak Sam mengantar sarapan pagi ke kamar. Lucky mau bermesraan sarapan berdua dengan istrinya. Menyuapi Sri dengan telaten. Sarapan sepiring berdua. Aseeekkk!! šš
Sri berangkat lebih dulu dengan pak Karim. Lucky ingin memberi kejutan untuk Sri nanti di kantor. Belum memberitahukan kalau hari ini dia akan menjabat sebagai Presdir di perusahaan Bronze. Pasti nanti Sri kaget. Lucky tersenyum sendiri mengingat itu.
Sesampainya di kantor, semua staf sudah sibuk mempersiapkan diri. Mereka akan menyambut Presdir baru yang akan menggantikan Presdir lama yang sudah pensiun.
Mereka tahu kalau cucu dari Presdir lama yang akan menjabat. Riuh membicarakan tentang Lucky.
"Sri, bibir mu pucat amat. Nih pake lipstik ku" Niar menyodorkan lipstik pada Sri.
"Lah.. untuk apa mbak? Ngetik di laptop pake jari lho mbake. Bukan pake bibir" Sri mencebik.
"Eehh.. ni anak ngeyel kalo di bilangin" Niar menatap Sri sinis. "Kamu mau kelihatan jelek apa di depan Presdir baru? kita di tuntut rapi dan berpenampilan menarik. Gak lupa bibir menor biar klop"
"Hah? Presdir baru?"
"Ee.. emangnya kamu belum denger?"
Sri menggeleng. Kemarin dia lebih dulu pulang bersama Agnes. Tidak mendengar pengumuman di setiap divisi, bahwa hari ini akan menyambut Presdir baru.
"Ah.. Makanya update dong!" Niar mencebik. Memoles lipstik warna merah membara itu ke bibirnya lagi. Jadi makin merah kayak bon cabe.
"Ayo ladies. Kita kumpul ke aula. Sebentar lagi Presdir datang. Jangan terlambat" Dila menyeru sambil melangkah keluar ruang kerja mereka di ikuti Niar.
"Mbak agnes" Sri menggamit tangan Agnes. "Mbake tau toh, siapa Presdir barunya?"
Agnes menggeleng. "Kamu kan tau kemarin aku pulang deluan sama kamu"
"Apa di grup Ndak ada yang heboh mbak?"
"Ada"
"Nah.. gimana ceritanya mbak?"
"Alaaahh ocehan Susan mana ada yang bener. Dia cuma bilang kalau presdirnya ganteng. Palingan perutnya buncit kayak tuan Barry. Kumisan, jenggotan gak di cukur, terus mukanya bopeng bekas jerawat"
Eeiihh!! š³ Sri mendelik mendengar ocehan Agnes panjang lebar.
"Udah yuk. Ntar kita telat lho"
__ADS_1
Agnes menarik tangan Sri agar berjalan lebih cepat. Tapi Sri masih memikirkan omongan Agnes. Apa iya presdirnya menyedihkan seperti gambaran Agnes? bukannya Mase udah nolak jabatan itu? Trus, siapa yang jadi persdir?