
Lucky masih tidur ketika Sri masuk ke kamar. Menatapi wajah tampan suaminya. Teringat apa yang di katakan Noah tadi. Ternyata Lucky juga mengalami ngidam. Dan Sri tidak tahu itu. Lucky tidak cerita padanya.
Sri naik ke tempat tidur. Meringkuk di sebelah suaminya. Memegang dada telanjang yang berotot itu. Matanya berkaca-kaca. Dia marah. Dia kesal pada Lucky. Tapi itu sungguh egois bukan?
Dia hanya memikirkan kekesalannya sendiri. Tapi kenapa dia tidak berpikir dari sisi Lucky? Lucky berubah juga karena punya satu tujuan. Sebab memikirkan keselamatan Sri lah makanya Lucky berbuat demikian. Suaminya memikirkannya. Tapi Sri malah marah padanya dan menghukum untuk apa yang tidak dia lakukan.
"Eemmmpphh..."
Lucky menggeliat. Merasa ada yang menempel di lengannya. Lucky terbangun. Menoleh ke sampingnya dan menemukan Sri yang meringkuk di sampingnya, mepet di lengannya.
"Sri?" Lucky bergeser sedikit. Lalu memperhatikan Sri yang hanya diam. "Sayang? Kamu kenapa?" Lucky menarik kepala Sri agar melihat padanya.
Tapi Lucky terkejut melihat mata bulat itu sudah bersimbah air mata. Jelas saja Lucky langsung panik. Lucky langsung bangkit. Duduk di samping Sri sambil dan memeriksa keadaan istrinya.
"Sayang, Kamu kenapa? hah? Ada yang sakit? Kamu sakit? Katakan Sri!"
Sri menggeleng lemah. Air matanya semakin deras membanjir. Sepanik itu Lucky melihatnya menangis? Suaminya sungguh menghawatirkannya.
Bruuggh..
"Huuu... Mase!"
Tiba-tiba saja Sri memeluk Lucky erat. terisak di dada polos Lucky. Merasa sangat bersalah sudah memarahi Lucky pagi tadi.
"Kenapa sayang? Ada apa?" Lucky masih kebingungan.
"Mase.. maaf"
Hanya itu yang bisa Sri katakan. Selain itu hanya isakan yang keluar dari mulutnya.
"Maaf? Tapi kenapa? Untuk apa?"
Sri masih belum bisa menjawab. Semakin mengetatkan pelukannya. Terisak sedih. Dengan sabar, Lucky mengelus kepala istrinya lembut. Membiarkan Sri menangis sampai puas. Setelah di rasa tangisan Sri mereda, Lucky merenggangkan pelukan Sri. Menatap mata basah itu teduh. Mengusap air mata yang mengalir di pipi mulus istrinya.
"Ada apa, Sri?" tanyanya lembut.
"Hikss.. Sri minta maaf mas"
"Maaf untuk apa? Kamu tidak berbuat salah kan?"
"Sri yang jahat. Sri marah dan menghukum Mase dari tadi pagi."
Ah.. Lucky mengerti sekarang. Istrinya hanya merasa bersalah telah marah dan menghukumnya dengan tidak mau meladeninya. Lucky tersenyum.
"Sudah. Tidak apa-apa. Jangan menangis lagi. Aku sayang kamu. Jangan sedih-sedih terus. Nanti baby-nya ikutan sedih. Hmm?"
Sri mengangguk. Lucky memeluknya hangat. Membawa istrinya berbaring. Berpelukan hangat.
"Mase kenapa ndak cerita kalo Mase juga ngidam?"
"Untuk apa sayang? Kamu lebih menahan rasa tidak enaknya ngidam itu, tapi kamu juga diam saja. Yang aku rasakan itu cuma sedikit dari yang kamu rasakan."
__ADS_1
Ah.. Sri lumer mendengar itu. Manis sekali. Lucky tidak cengeng untuk di hargai cuma karena alasan sindrom kehamilan simpatiknya.
"Yang jelas, kamu sudah tau kan, apa yang aku lakukan itu semua hanya demi kamu. Demi kita. Demi calon bayi kita. Aku sayang kamu Sri. Cinta kamu"
"Mase.. Sri juga cinta Mase"
Sri mengecupi pipi dan rahang Lucky. Membuat Lucky menggeram rendah.
"Sekarang sudah tidak marah lagi kan?" Sri menggeleng. "Kalau gitu, sudah bisa kan?" Lucky menaik turunkan alisnya menggoda Sri.
"Ihh.. udah sore, mas. Ntar malem aja ya?"
"Aduhh.. Sayang. Ini keras lagi" Lucky melirik kebawah. Sri ikut melihat ke arah bawah. Hmm benar saja. Bagian itu sudah menggembung besar. Pipi Sri terasa hangat. Rona merah menjalari pipinya.
"Mesum!" Sri mencubit perut liat suaminya.
"Hehe.. Mesum sama kamu kan, sayang?"
Lucky mengecupi pipi Sri gemas. Sri terkikik kegelian. Menggeliat akibat bibir hangat Lucky terus saja mengejar pipinya. Mendorong wajah Lucky agar menjauh. Dan Lucky tiba-tiba berhenti. Menatap wajah manis di bawah kungkungannya.
"Tapi.. Kenapa kamu tiba-tiba tau, kalau aku ngidam? Siapa yang cerita? Hmm?"
Deg!
Sri bingung. Haruskah dia menyebut nama Noah? Dia ingat Lucky pernah menghajarnya karena cemburu dengan Noah. Samapi Sri kewalahan meladeni saking lucky bersemangat.
"Hmm.. Melihat diammu, aku tau. Noah?"
Tanpa aba-aba, Lucky melu**at bibir basah istrinya. Menyesapnya panas. Seakan bibir Sri adalah oase yang mampu melenyapkan dahaganya setelah sekian lama. Melesakkan lidahnya ke dalam mulut Sri. Istrinya pasrah. Memberi apa saja yang di inginkan suaminya.
Membuka mulutnya memberi kesempatan Lucky untuk lebih menjelajah. Membelit dan menyedot lidah Sri kuat. Tangannya pun tak tinggal diam. Sibuk merogoh dari bawah baju Sri. Menemukan gundukan hangat yang masih tertutup bra.
Meremasnya pelan dengan tangan gemetar menahan panasnya gelombang hasrat menggebu. Melepaskan pag**annya untuk membiarkan istrinya mengambil napas.
Mata mereka bertemu. Saling menatap sayu. Aahh... Lucky meronta di dalam hati. Ini yang ia rindukan dari istrinya. Wajah mungil yang polos itu selalu membuatnya rindu. Dengan napas terengah, mata bulat ini selalu mengerjap manja ketika Lucky memberinya sentuhan hangat.
Tangan Lucky menyibak cup bra yang menutupi daging kenyal di bawahnya. Menemukan daging kecil di ujungnya dan memi**nnya lembut. Membuat alis Sri menaut rapat. Matanya terpejam meresapi kenakalan jari suaminya.
"Katakan. Noah bilang apa padamu? Hmm?" bisik Lucky dengan suara rendah. Tangannya masih aktif.
Sri membuka matanya. Mata mereka bertemu pandang lagi. Sri menggigit bibir bawahnya dengan kening mengernyit tajam.
"Pak Noah bilang, Sri beruntung punya masssee... Uuhmmm.." dada Sri melenting tajam merasakan pili**n kuat di ujungnya.
Indah.. Itu yang terlihat di mata Lucky. Reaksi manja istrinya yang membuatnya mabuk kepayang. Menaikkan baju Sri sebatas leher. Melihat suguhan indah yang semakin hari tambah montok saja.
"Katakan, dia bilang apa lagi?" menggeram berat dengan mata tertuju pada ujung pinky istrinya.
"Kenapa.. Harus bicara tentang pak.. auujhh.."
Sri terpekik tak bisa melanjutkan protesnya ketika tiba-tiba ujung dadanya terasa hangat dan geli. Lucky sudah menyerbunya dan memberikan sensasi lebih gila yang Sri rasakan.
__ADS_1
"Ayo katakan sayang.. Hmm.. Noah bilang apa lagi.. Eegghhmm.." Sambil masih mengulum, Lucky bicara.
Sri tidak menjawab. Sibuk dengan meresapi rasa tak terperi yang di berikan Lucky. Tangannya sibuk meremas rambut Lucky. Mulutnya menganga kehabisan napas. Merasa tak di beri jawaban, Lucky menggeram. Melepas keasikannya di dada istrinya. Bangun dan duduk di bawah Sri.
Dengan cepat ia pereteli semua kain yang melekat di tubuh Sri. Hingga Sri polos tanpa selembar benang pun yang menempel. Lalu ia kembali rebahan di samping Sri. Merengkuh kepala sri di letakkan di lengan kokohnya.
"Tidak mau bilang? Hmm?"
"Tapi, Mase.. Ummmpphh.."
Kembali Lucky menyumpal mulut Sri dengan bibirnya. Menjelajah lebih panas. Mengobrak-abrik mulut Sri dengan lembut dan sekaligus menggebu. Tangannya meraba ke paha istrinya. Mengelus dan merayap sampai ke pangkal.
Merenggangkannya lalu mengelus bukit kecil yang selalu polos tanpa rumput. Lucky suka itu. Lembut dan kenyal. Mengelus mengikuti alur yang membelah vertikal. Menelusup dan menemukan kacang kecil yang sudah mengetat menantang. Menyentuhnya dan menggesek pelan.
"Sri.. Ayo katakan sayang.. Noah bilang apa?" bisiknya lagi.
"Aaahh.. Mase.. P-pak Noohh.. Aauugghh.. Maaaassss.." Sri tak kuasa menjawab. Suaranya terputus-putus. Matanya sayu hampir menutup. Tangannya meremat lengan Lucky yang bergerak di bawahnya.
"Katakan sayang... Uuhh.. Kau indah sekali seperti ini.. Ummhh"
"Sshhh.. Dia bilang... Ahhh.. Mase cinta Sri.. maasss.. Iyaaahh.. Begitu.."
Lucky mempercepat gerakan tangannya. Membuat Sri kelojotan. Sri terbawa suasana. Rasa canggung pada hal mesum bersama Lucky sirna sudah. Ia melepaskan ekspresi liar di depan suaminya. Dan Lucky sangat menyukai itu.
Mendengar ucapan Sri, Lucky malah lebih bersemangat. Tergesa ia melepas celana pendeknya. Polos berdiri dengan lututnya tepat di bawah Sri. Menatap wajah istrinya dengan sensual. Menindih Sri tanpa penekanan di bagian perut.
Sri menahan dada Lucky dan meremasnya kuat. Wajah manjanya ia tampilkan. Mengigit bibirnya sensual. Bersiap menerima serangan suaminya selanjutnya. Lucky menempatkan kepala tongkat bisbolnya tepat di inti Sri. Mengesekknya perlahan untuk membuka jalan.
"Uuhh.. sayang.. Aku cinta kamu"
Sri hanya tersenyum. Baru saja Lucky mendorong sedikit, rasa sesak menyumpal intinya. Sri memejamkan matanya erat. Lucky siap mendorong lebih dalam. Tubuh sri melenting lagi. Tak kuasa merasakan kenikmatan ini.
setelah penuh, Lucky mendiamkan sejenak. mengecup dan menjilat bibir Sri yang terbuka dan mendesis merdu.
"Aahhh.. sayang.. kau menghisap ku kuat. Itu tersedot lebih dalam" erang lucky sambil memejamkan matanya.
Mulai memompa pelan. Meresapi sensasi memabukkan yang ia rindukan beberapa hari belakangan.
"Mase.. Yang kuat.. Sri mau yang kuat..iisshh..." Sri mendesis minta Lucky menambah kecepatan. Tapi Lucky tidak melakukannya.
"No, baby.. Kamu hamil. aku.. Aahh.. Tidak bisa kasar. Uuhh... Kamu hangat sekali sayang"
Lembut sekali gerakan Lucky. Takut mengganggu bayi mereka. Lucky bermain lembut. Walau Sri merengek, tapi yang lembutpun sudah mampu membuatnya kelojotan.
Sampai akhirnya Lucky memompa agak lebih keras, menggapai pelepasan sempurna. Tongkat bisbolnya terasa di remas dengan hangat. Inti istrinya yang sedang hamil bekerja lebih baik dua kali lipat. Berpelukan dengan napas terdengah-engah. Peluh membanjir di tubuh mereka berdua.
"Mase, semangat banget dengan fantasi pak Noah, ya."
"Ehh.. Sayang bukan begitu. Aku hanya.. Emm.. Yah begitulah"
"Hihihii.."
__ADS_1
Lucky nyengir malu. Sementara Sri terkikik lalu memeluk dada basah suaminya. Mereka tertidur setelah kelelahan.