
Di kantor Bronze terjadi kehebohan. Pihak auditor telah selesai mengaudit seluruh keuangan kantor. Rapat di adakan dengan segera. Para staf yang berkepentingan berkumpul. Wajah-wajah tegang terpancar diantara mereka.
"Apa ini?!" bentak Lucky keras. Menatap semua staf dengan marah.
"Itu hasilnya, tuan Lucky. Setelah melakukan observasi panjang, tim auditor saya telah mengumpulkan semuanya. Dan bukti mengarah pada bapak Noah"
Lucky menatap Noah tajam. Matanya melotot marah. Tidak bisa lagi mentolerir apa yang di lakukan Noah.
"Ini bukti rekening bodongnya, tuan. Dan ini laporan rekening korannya. Data yang terlampir dan yang tercetak adalah rincian mengenai alur debit dan kredit, termasuk dari dana hasil transfer masuk atau keluar. Dan itu semua atas nama pak noah" Pak Zainal selaku pihak audit menjelaskan pada Lucky. Menunjukkan setiap lembar laporan audit di depan Lucky.
Semua mata menuju pada Noah. Mereka tidak menyangka Noah melakukan penggelapan dana di divisi pemasaran. Yang mereka tahu selama ini Noah bersih. Tapi kenapa sekarang semua berbanding terbalik?
"Itu semua bohong!" teriak Noah lantang. "Saya tidak pernah menggunakan akun bank manapun. Saya bersih. Saya juga membawa bukti. Itu fitnah!"
"Fitnah?! Fitnah katamu?!"
Lucky marah. Tak bisa lagi menahan emosinya. Ini sudah keterlaluan sekali. Noah yang ia percaya bisa membantu malah melakukan hal yang paling fatal dalam perusahaan.
"Ya! Itu fitnah" Noah berani menantang. Berdiri dan balas menatap Lucky dengan tegas.
"Buktikan lah jika itu tidak benar" Lucky menggeram marah.
"Ini"
Noah beranjak ke depan Lucky. Menyerahkan berkas dalam map, dan membentangkan isinya di depan Lucky. Lucky segera memeriksanya. Membaca dengan seksama.
"Saya tidak pernah menggunakan akun bank bodong itu. Ini rekening bank saya. Semua bersih. Saya di fitnah" sambung Noah.
Lucky mendongak. Menatap Noah jijik. Entah bagaiman Noah masih bisa mengelak. Semua bukti telah mengarah padanya. Penggelapan uang perusahaan bukan main-main. Perkisaran angkanya sampai miliaran.
__ADS_1
"Pak Bayu" Lucky menatap pak Bayu dari divisi keuangan. "Jelaskan ini semua. Jangan sampai ada kebohongan. Perusahaan ini sudah di ujung tanduk"
Lelaki bertubuh tinggi kurus itu menelan salivanya dengan susah payah. Tampak pias menghadapi keadaan yang sudah di luar kendali. Rapat ini sudah seperti pengadilan saja rasanya. Menatap semua mata yang tertuju padanya.
"M-maaf tuan Lucky" lirihnya seraya mencuri pandang kearah Noah dengan gugup. "Maaf kalau saya harus mengatakan ini pak Noah. Saya tidak bisa menyembunyikannya lagi" Pak Bayu tampak gelisah dan gugup. Menatap Lucky dan Noah bergantian.
"Jangan bertele-tele! Katakan saja!" sentak Lucky tak sabar.
"Mm.. Begini tuan Lucky... M-mm.. Maksud saya.. Itu semua benar"
"Apanya? Yang jelas jika bicara pak Bayu!" Lucky semakin meradang.
"Pak Noah mentransfer dana itu ke rekening barunya"
Duar!!!
Rasanya seperti petir menyambar kepala Noah dengan telak. Matanya mendelik melihat pak Bayu dengan marah. Tak percaya lelaki itu berani memfitnahnya. Pak Bayu tak berani menatap mata Noah. Tapi aksinya tak sampai di situ saja. Pak Bayu menyerahkan juga beberapa berkas ke depan Lucky. Segera Lucky memeriksanya.
Begitu melihat laporan yang di berikan pak Bayu, Lucky mendongak lagi melihat ke arah Noah. Matanya menyiratkan penuh kebencian dan amarah. Bergerak berdiri, menarik berkas laporan di mejanya. Berjalan dengan langkah lebar mendekati Noah.
Semua orang semakin tegang. Presdir mereka sudah di atas ambang kesabarannya. Tak seorang pun berani menyela. Mereka hanya bisa melihat kemarahan Lucky pada Noah.
SSSRAAKK... BBRRRR ..
Lucky melemparkan kertas laporan itu di dada Noah. Berhamburan jatuh ke lantai. Semua staf terjangkit kaget melihat pemandangan yang luar biasa bagi mereka.
"Lihat! Lihat ini! Semua sudah jelas bukti mengarah padamu! Apa lagi yang kau sangkal? katakan!!" teriak Lucky tepat di depan wajah Noah.
Noah diam membatu. Tubuhnya tidak bisa bergerak sekalipun hanya menghindari lemparan Lucky pada dadanya. Noah melihat banyak kertas berhamburan di lantai. Banyak namanya di sana. Entah bagaiman Noah akan menjelaskan ini semua. Menjalankan bahwa ini adalah fitnah keji yang di tujukan atas namanya.
__ADS_1
Noah menegakkan kepalanya lagi. Menatap netra Lucky tepat di depan wajahnya. Seakan ingin kakaknya ini mengerti posisinya yang terjepit. Tapi sayang, Lucky sangat murka dengan semua ini.
"Saya tidak bersalah, tuan" desis Noah tertahan. Menahan emosi yang tak bisa tersalurkan. "Ini fitnah, tuan"
Betapa Lucky merasa muak. Noah yang ia percaya, yang di harapkan bisa menemaninya dalam keterpurukan, malah Noah yang menciptakan kegaduhan lebih parah dalam perusahaan.
"Kau, di pecat!!"
"Hah?!"
Semua orang tersentak kaget. Bergumam riuh. Tapi tidak ada yang berani membela Noah. Semua bukti telah terpampang jelas. Noah menggelapkan uang perusahaan.
Noah memicingkan matanya. Sangat geram Lucky termakan fitnah busuk ini. Tapi dia juga tidak bisa membela diri lagi.
"Dan ingat, kembalikan uang perusahaan. Jika itu tidak kau lakukan dalam waktu satu Minggu, aku akan menuntut mu!" tuntut Lucky kejam.
Noah diam membisu. Masih bertatapan dengan Lucky. Sama-sama memendam emosi di mata masing-masing.
"Pergilah" dingin suara Lucky mengusir Noah.
Tapi Noah masih bertahan. Lucky meninggalkannya dan kembali duduk di kursinya. Tak ingin lagi melihat pada Noah. Dia kecewa. Sangat kecewa pada Noah. Sementara Noah masih menatapnya memohon pengertian Lucky untuk mengerti ini semua adalah fitnah keji.
Semua staf rapat tak berani mengeluarkan suara. Dila yang sedari tadi melihat kejadian ini, hanya bisa menatap Noah prihatin dengan mata berkaca-kaca. Dia tahu betul sepak terjang Noah. Dan dia tahu Noah bersih. Ini adalah fitnah keji. Tapi apalah daya Dila, bukti kuat mengarah pada Noah. Telak menunjuk wajahnya.
Pak Bayu melirik mereka berdua dengan senyum licik. Rencana telah berhasil. Tinggal laporan kepada tuannya. Pasti lah berita ini sangat mengejutkan dan sekaligus membuat tuannya bahagia bukan main. Dan tentu saja bagi-bagi cuan akan menjadi momen paling menyenangkan baginya.
"Apalagi? Keluar lah. Kami akan melanjutkan rapat tanpa mu" Lucky mengusir Noah lagi.
Dengan helaan napas berat, Noah mundur. Berbalik menuju ke pintu. Langkahnya sangat berat. Lucky percaya itu semua. Noah pergi. Tak ada yang bisa dia lakukan lagi.
__ADS_1
Terasa ada yang hilang dalam relung hati Lucky begitu Noah menghilang di balik pintu. Kepalanya tiba-tiba terasa sakit. Tapi hatinya lebih sakit lagi. Sepertinya kehancuran semua ladang bisnisnya sudah di depan mata. Orang-orang kepercayaannya hilang satu persatu.