OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Tidak Pulang


__ADS_3

Berkali-kali deringan ponselnya di abaikan. Sri terluka. Lucky terlalu plin plan mempermainkan perasaannya. Kalau masih dengan Amira, untuk apa di meraih puncak bersama berulang kali. Tak bisa di kasih hati!


Lucky sampai menghubungi pak Karim agar berhenti di tengah jalan dan menunggunya sampai. Tapi Sri mengancam kalau sampai pak Karim berhenti, dia akan turun dan naik taksi.


Hati Sri terbakar. Panas. Sampai di kantor berusaha bersikap normal semampunya. Bertemu dengan Dila dan beberapa teman satu divisi, membuatnya bisa meredam dan melupakan amarahnya sejenak.


Noah tidak masuk hari ini. Dila bilang, pak Noah lagi kunjungan kebagian distributor. Pengiriman barang yang harus di cek sampai selesai. Sri tak bertanya banyak. Lebih sibuk mengurus pekerjaannya di bawah bimbingan Dila.


Sampai jam makan siang, Sri masih ada di kubikelnya. Masih harus memeriksa bon barang masuk dan keluar. Mengeceknya di komputer dan mengedit bagian yang salah.


"Hai Sri" sapa Agnes. gadis berusia dua puluh lima tahun, berparas ayu dengan rambut keriting seperti mi instan. Terlihat manis cocok dengan wajahnya dengan dagu runcing. "Sudah selesai?"


"Belum mbak. Masih banyak bon yang belum masuk daftar" Jawab Sri menggeleng.


"Nanti lagi. Ayo kita ke kantin dulu. Laper" Agnes mengelus perutnya. Mengatakan kalau sudah waktunya minta di isi.


"Tapi Sri masih belum selesai ini mbak. Mbak Agnes sama Niar saja mbak" tolak Sri halus.


"Sri, aku juga belum selesai. Sudah ayolah. Gabung dengan mbak Dila. Dia udah nunggu tuh di kantin" Niar menyela. Ikut mengajak Sri ke kantin.


Tidak enak jika menolak terus, Sri membereskan pekerjaannya dan mengikuti langkah rekan sedivisinya ke kantin di lantai dasar kantor.


Kantinnya ternyata letaknya terpisah dari gedung kantor. Kantin itu berada di belakang gedung. Cukup besar dan berlantai dua. Lebih cocok di sebut kafe. Nyaman dan bersih.


Dila melambaikan tangannya ke arah mereka bertiga. Dila duduk paling pinggir di dekat pagar pembatas di lantai dua kantin. Setelah mengambil bagian mereka masing-masing, Segera mereka menuju ke mejanya Dila.


"Kenapa lama banget sih kalian?" tanya Dila begitu mereka sudah bergabung.


"Biasa mbak. Anak baru lagi getol kerja" jawab Agnes melirik Sri dan tertawa.


"Emang kerjamu belum siap Sri?"


"Belum mbak. Kan harus hati-hati. Ntar salah mbak" Sri tersipu di ledek Agnes.


"Eh.. kalian udah denger gosip belum?" Dila mulai membuka berita baru yang harus di dengar rekannya.


"Waahh.. apa tuh? kayaknya seru nih" Niar terlihat antusias.


"Tadi nih aku ketemu Sofi. Dia bilang.. Susan mau di rekomendasikan jadi staf ahli. Hmmph.. kalian bisa nebak kan apa tujuannya?" Dila mencebik.


"Si Sofi tau dari mana mbak?" tanya Niar sambil menyedot minumannya.


"Yah tau lah ya.. Sofi kan biang gosip. Ya pasti tau deluan lah" sambung Agnes.


"Iya bener itu. Tapi, aku gak yakin pak Noah akan menerima. Soalnya yang buat rekomendasi kan pak Sapri. Taulah ya si genit itu" lagi-lagi Dila mencebik sebal.

__ADS_1


Sri yang tidak paham apa maksudnya, hanya mendengarkan saja. Lebih menikmati makanannya dari pada mendengar gosip yang belum jelas.


"Paling-paling Susan cuma model buka.. emmmpphh.." Niar menyibak kerah bajunya sampai kepundak. Mengatakan Susan hanya modal buka baju.


"Hahaha.. bener itu. Dia cuma tau menghina orang. Padahal dia sendiri gak beres ya" Agnes bicara sambil menyong-monyong saking antusiasnya bergosip ria.


Mereka bertiga tertawa lepas. Sri hanya nyengir melihat kelakuan rekan-rekannya ini.


"Aku sih bilangnya, Susan cuma pingin Deket sama pak Noah. Secara pak Noah kan uugghh.. hansome abeesss.." Niar geregetan sampai menggigit sedotan di gelasnya dengan gaya centil.


Mereka tertawa terkikik-kikik melihat tingkah Niar. Sri semakin geli melihatnya.


"Apalagi kalau pak Noah lagi pake baju putih.. Aduuhh.. gak tahan aku. Six pack nya itu loh.. ahh.. roti sobek benerrr.." Dila menimpali.


Astaga! mereka ini.. pada ngomongin apasih? padahal setau Sri, Noah terlihat biasa saja kalau pakai baju putih. tidak sampai mencetak perut kotak-kotaknya. Lagian Dila yang sudah menikah saja berani bicara begitu. Apalagi ke dua gadis lainnya. Sri geleng-geleng kepala.


"Eh.. Sri, sebenernya pak Noah itu apanya kamu? kok bisa dapet orang dalam kayak pak Noah?" tanya Dila menatap Sri serius.


"Hah? apa mbak? Ndak ada kok" Sri tercekat mendapat pertanyaan seperti itu.


"Eleehh.. bisa aja kamu Sri. Tau gak sih? biasanya yang masuk ke kantor ini itu susah Sri. Kalau tidak ada yang backing, mana bisa langsung dapat meja kayak kamu" celetuk Agnes.


"Oohh.. gitu ya mbak?" Sri manggut-manggut.


"iya lah. tesnya berat. interview mendalam. Pertanyaan ribet" Niar menjelaskan.


Lahh.. kalau sesulit seperti yang di katakan Dila, berarti Sri sangat beruntung Noah mau menjaminnya. Tanpa harus di persulit soal interview dan serangkaian tes berat yang harus di lewati Sri.


Sampai jam istirahat berakhir, mereka kembali ke kantor dan mengerjakan kembali tugas masing-masing. Sri merasa bersyukur bisa langsung kerja dan mendapat rekan kerja yang super ramah dan bisa langsung membaur bersamanya. Sri harus bekerja keras dan tidak akan mengecewakan Noah yang sudah baik membackingnya masuk ke sini.


🌺


🌺


🌺


Lucky tidak sibuk mengirim pesan dan menghubunginya lagi. Sri juga tidak mau ambil pusing. Setelah di hubungi Amira, pastilah Lucky sibuk bersenang-senang dengan gadis itu. Itu yang Sri pikirkan.


Pulang ke mansion dengan pikiran berusaha di buat tenang. Tidak enak hati jika ibu mertuanya melihatnya cemberut. Sri membawa pekerjaannya pulang. Masih ada sedikit bon lagi yang harus ia periksa. Kalau di kerjakan besok lagi, maka pekerjaannya akan menumpuk.


Setelah membersihkan diri, Sri turun ke lantai bawah menemui Melani. Ibu mertuanya itu mengajaknya makan malam. Mengobrol santai seperti biasanya. Melani selalu ceria. Membuat Sri menjadi sangat sayang padanya. Dan begitu juga Melani. Merasa tak salah memilih mantu. Sikap polos dan apa adanya dari Sri, membuat rasa sayang Melani menjadi berlipat ganda.


Sri pamit pada Melani untuk ke kamarnya lebih dulu. Dan Melani mengangguk menyetujui. Sri mengecek ponselnya yang sedari tadi di charge. Sri membiarkan ponselnya mati ketika di charge. Ada perasaan resah sedari tadi yang ia simpan. Lucky belum pulang. Dan pesannya pun tak mampir ke ponsel Sri.


Duduk dengan kesal menatap layar laptopnya dan setumpuk pekerjaan yang belum di selesaikan. Tapi otaknya tidak mau di ajak berpikir. Lucky tidak menghubunginya. Entah apa yang di kerjakannhnya sekarang. Apa pekerjaannya sesibuk itu sampai harus pulang larut hampir tiap malam?

__ADS_1


Atau... dia bersama Amira? argghh!! Sri menggusar rambutnya kasar. Kesal sekali rasanya. Maunya tidak memikirkan tentang Amira. Tapi lagi-lagi otaknya tertuju pada gadis cantik jelita itu.


Dengannya saja Lucky sudah menjadi dewa mesum tingkat tinggi. Apalagi dengan Amira yang jauh di atas Sri? apa dia tahan tidak menyentuh Amira?


"Buneeeee... Sri mau pulang aja!!"


Sri menghentakkan kakinya kesal. Berkali-kali dia membolak-balik bon faktor yang menumpuk. Tapi sedikit pun tidak masuk keotaknya apa yang harus dia lakukan sekarang. Menimbang-nimbang ponsel di tangannya. Ingin rasanya mengetik pesan atau menghubungi Lucky langsung. Tapi gengsi!!!


Tok.. tok.. tok...


"Sri.. ini mami.."


Melani mengetuk pintu. Cepat Sri membukanya. tumben sekali ibu mertuanya mendatangi Sri ke kamar. Pasti ada yang penting.


"Mami, masuk mi" Sri menggeser mempersilahkan Melani masuk.


"Tidak sayang. Mami cuma mau bilang. Lucky tidak pulang malam ini. Tadi dia telpon mami. Katanya hp kamu mati ya?"


Deg!! tidak pulang!! Lucky tidak pulang!! oooo... diamput!!


"Sri"


Melani memanggil Sri karena gadis itu jadi tertegun diam. Hatinya mencelos mendengar kabar ini.


"Eh.. iya mi. Ndak apa-apa" jawab Sri tergagap.


"Apa ponsel mu mati?"


"Iya mi. Tadi lowbet jadi Sri cas"


"Ohh.. ya sudah. Lucky tidak pulang malam ini. Ada kerjaan yang harus diurus. kamu tidak apa-apa kan, sayang?"


"Ndak mi. Ndak apa-apa kok"


"Kalau ponsel mu sudah bisa di pakai, hubungi saja Lucky ya?"


"Iya mi"


"Ya sudah. Istirahat ya"


Melani pamit pergi. Sri mengangguk dan tersenyum. Begitu menutup pintu, wajahnya berubah mendung. Entah kenapa hatinya merasa begitu nelangsa. Matanya memanas menghasilkan air mata yang menumpuk di kelopaknya. Menetes tanpa Sri bisa mencegahnya. Melirik ponselnya yang diam tak berteriak karena ada panggilan masuk.


"Oohh.. gitu ya! tidak pulang?? sama Amira Mase?? Oke.. oke.. losss... sana sama Amira teruuss.. eghhh!!!"


Mengomel dan memencet ponselnya dengan geram. Menonaktifkan ponsel itu sekalian. Biar Lucky tidak bisa menghubunginya sekalian.

__ADS_1


"Awas Mase Yo.. lihat aja nanti! Ndak tak sapa sampean!!"


__ADS_2