OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Melihat Mu Dengan Yang Lain


__ADS_3

Noah membawa Sri ketempat-tempat pavoritnya. Sri sangat terhibur seharian ini. Mampir di pusat perbelanjaan pulau ini. Membeli beberapa potong pakaian yang ia pilih sendiri. Dan Noah masih saja terus mentraktirnya. Sri sudah menolak, tapi Noah tetap memaksa.


Setelah puas seharian berkeliling. Mereka berdua duduk melepas lelah di bangku yang di sediakan pusat perbelanjaan. Banyak meja dan kursi berjejer rapi. Banyak juga pengunjung yang datang, dan kebanyakan berpasang-pasangan.


"Bagaimana Sri? kamu suka?" tanya Noah menatap Sri dengan senyum.


"Sri suka Mase. Makasih Lo mas. Sudah nemenin Sri seharian ini" jawab Sri membalas tersenyum.


Ting..Ting..


ponsel di dalam tas tangannya berbunyi. Sri segera mengambil ponselnya. Memeriksa siapa yang mengirim pesan.


Lucky.


"Dimana?"


"Sudah makan siang?"


"Kamu dimana Sri, kenapa tidak menjawab pesan ku?"


"Jawab"


Melihat beberapa pesan Lucky yang tidak di lihatnya dari siang tadi, membuat Sri bimbang harus menjawab apa. Noah hanya diam memperhatikan Sri tertegun melihat ke layar ponselnya.


"Siapa Sri?" tanya Noah.


"Eh.. A-anu mas..." Sri menoleh kaget. Gugup ketika menyadari Noah memperhatikannya. " Ini Mase. Teman Sri"


"Ohh.. ok" Noah tersenyum.


Sri masih berpikir apa yang harus dia katakan pada Lucky. Entah dimana pria itu sekarang. Atau mungkin sudah balik ke kondominium? Tapi Sri tidak mau berbohong. Dia membalas pesan Lucky, mengatakan kalau dia sedang berada di pusat perbelanjaan pulau ini.


Lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam tas tangannya, setelah mengaktifkan silence mode agar suara ponsel tidak akan selalu mengganggunya.


"Kapan rencananya kamu pulang?"


"Rencananya besok mas. Mase kapan?"


"Masih lusa. Ada pekerjaan yang belum selesai"


"Mase sering ke sini Yo?"


"Tidak juga. Tapi aku senang di sini. Eh, kamu mau es krim?"


"Mau. Tapi Mase jangan ngilang lagi Yo"


"Kok ngilang? maksudnya?"


"Kayak di taman waktu itu. Mase ngilang pas nawarin es krim"


"Oohh.. haha.. Tidak akan" Noah menggunyar kepala Sri. "Sebentar ya"


Sri mengangguk. Noah membetulkan letak topinya. Menutupi wajahnya dari sinar matahari. Lalu pergi membelikannya es krim. Sri menatap punggung lelaki tampan itu berjalan menjauh menuju stand es krim. Sri beruntung bertemu Noah. Pria itu menjadi obat pelipur lara dan teman yang baik untuknya.


🌺


🌺


🌺


Lucky sedikit gelisah. Duduk dengan Deva dan Jacko tidak membuatnya melupakan kejengkelannya pagi tadi. Sri pergi tanpa menunggunya selesai mandi. Dan juga tidak menunggu Baris datang dengan pelayan membawakan sarapan pagi untuknya. Sri sudah minggat lebih dulu.


Dan sekarang, Setelah selesai berbincang dengan Deva tentang pekerjaan, Lucky mengirim pesan pada Sri menanyakan dimana gadis itu sekarang. Tapi belum ada jawaban. Entah kemana gadis itu.


"Sepertinya ada yang sedang banyak pikiran Jack" ujar Deva seraya melirik Lucky di depannya.


Jacko hanya mengulas senyum melirik Lucky sejenak.

__ADS_1


"Ayolah Dev. Jangan mengejekku terus" lucky merasa jengah.


"Haha.. wajah mu tidak bisa menyembunyikan suasana hati mu Luck" Deva tergelak melihat wajah Lucky.


"Ck.. kau menyebalkan Dev" Lucky berdecak sebal dengan pandangan sinis.


"Istri mu lari?"


Tanya Jacko tiba-tiba. Itu membuat Lucky mendongak menatap Jacko terkejut. Ternyata pria kaku ini sudah mengetahui tentang pernikahannya dengan Sri.


"Kau sungguh kaparat, Jack. Kau menguntit ku?" Lucky sedikit emosional.


"Hh.. apa aku harus menguntit mu, untuk tau kemana kau menghilang selama satu Minggu?" Jacko bicara sarkas.


Lucky diam. Ia tahu kemampuan Jacko. Tak sulit baginya untuk mengetahui apa saja yang di lakukan orang lain. Jacko lulusan terbaik dari universitas tempat mereka kuliah dulu. Dan dia penerima beasiswa dari badan intelejen dunia. Walaupun Jacko tidak menerimanya, dan lebih memilih berada di samping Deva.


"Ada apa Luck? kenapa kau menyembunyikan istri mu?" tanya Deva.


Lucky menghela napas berat. Memutuskan untuk membuka masalah ini pada Deva dan Jacko.


"Soal Amira. Aku tidak mau Amira kecewa" jawab Lucky.


"Hm.. aku pikir, kau tidak akan bisa menolak kenyataan jika sekarang kau sudah menikah. Amira hanya jadi orang ke tiga saat ini" Deva memberi pendapatnya.


"Aku tau. Aku bingung harus mengambil sikap seperti apa di antara keduanya"


"Jangan bermain api jika kau tidak mau terbakar Luck. Kau tau, menikah itu indah. Tapi itu jika kau tau cara mengendalikannya. Betul 'kan Jack?" Deva sengaja mengalihkan pertanyaan pada Jacko. Tapi bukannya menjawab, Jacko malah berdecak dan melengos sebal.


"Hahaa... Lihatlah.. dua pria dengan masalah yang hampir sama. Hahaa.." Deva tergelak melihat kedua temannya yang punya nasib sama.


"Jack, aku belum lihat istri mu. Kau punya fotonya? tunjukkan pada ku" pinta Lucky.


"Hey.. istri ku bukan pakaian online. Kau harus minta barang contoh untuk menilai kwalitasnya" geram Jacko.


"Hahaaahaa..." Deva hanya tergelak melihat keributan kedua pria dalam dilema yang sama ini.


"Tidak" tegas Jacko.


"Cih.. pelit sekali kau" Lucky menatap keponselnya lagi. Memeriksa pesannya pada Sri yang belum terjawab.


mencoba mengirim pesan lagi dan akhirnya kali ini Sri menjawabnya. Ada rasa lega melihat Sri membalas pesannya. Sri bilang, kalau dia ada di pusat perbelanjaan di pulau ini. Sedang jalan-jalan.


"Dev, sekarang kita ada di mana?" tanya Lucky.


"Eh.. Apa kau sedang bermimpi atau apa? Kau lupa sekarang kita ada di mana?" Deva mengerutkan keningnya. Merasa heran dengan pertanyaan Lucky.


"Bukan begitu. Maksud ku.. di mana pusat perbelanjaan di pulau ini?"


"Astaga! Aku rasa kepala mu bermasalah sekarang bung. Lihat lah sekeliling mu. Ini di area pusat perbelanjaan" Deva menunjuk gedung di depan cafe tempat mereka sekarang.


Lucky mengedarkan pandangannya ke tempat yang Deva tunjuk. Benar saja. Mereka masih ada di area pusat perbelanjaan pulau ini. Lucky menepuk jidatnya sendiri. Terlalu banyak yang di pikirkan sampai dia tidak menyadari sekarang ada di mana. Berarti, Sri ada di sekitaran sini juga.


"Dev, kita harus pergi sekarang. Jadwal pesawat dua jam lagi" ujar Jacko.


"Ah ya. baik lah" Deva mengangguk menyetujui. "Baiklah Luck. Kita harus berpisah di sini. Temui aku ketika kau sudah kembali"


"Baik lah" ujar lucky.


Mereka bertiga serempak bersiap keluar dari cafe. Melangkah beriringan. Tapi begitu baru saja keluar dari pintu cafe, mata Lucky menemukan sosok yang ia khawatirkan sejak pagi tadi. Sri.


Gadis itu duduk di bawah payung besar, di bangku yang berjejer di kaki lima gedung. Sedangkan di sampingnya ada seorang lelaki bersamanya. Tapi Lucky tidak melihat wajah lelaki itu karena mereka membelakanginya, dan pria itu memakai topi yang menutupi wajahnya.


Tubuh Lucky terasa kaku. Rahangnya mengetat. Sedangkan wajahnya telah berubah menggelap. Terlihat mereka berbicara sangat akrab. Sepetinya Lucky mengenal pria itu. Tapi Lucky sedikit kesusahan mengenalinya. Karena Lucky hanya melihat punggungnya saja. Dan jarak mereka cukup jauh.


"Luck" panggil Deva. Tapi Lucky seakan tak mendengar panggilan itu. Matanya masih menatap lurus kedepan dengan sorot mata marah.


Deva dan Jacko mengikuti arah pandangan Lucky. Memperhatikan seorang gadis dan seorang pemuda yang sedang duduk bersama. Seperti layaknya pasangan kekasih yang sedang menghabiskan waktu berlibur di pulau ini.

__ADS_1


Terlihat sangat akrab mengobrol sambil tertawa. Lalu terlihat si pria menggunyar rambut wanitanya dengan sayang. Dan pria itu bergerak berdiri dan pergi meninggalkan si gadis.


"Sepertinya sebentar lagi akan pecah perang dunia ke tiga" bisik Jacko pada Deva.


Deva mengernyitkan keningnya. Menoleh menatap Jacko di sampingnya. Jacko hanya tersenyum smirk. Dan mengertilah Deva. Bahwa yang mereka lihat itu adalah istri Lucky.


"Hey.. buddy.."


Deva menyenggol bahu Lucky. Menyadarkan pria itu jika dia masih bersama kedua sahabatnya.


"Ada apa?"


"Tidak ada. Kalian pulang lah. Aku masih ada urusan" ujar Lucky dingin. Tak dapat menyembunyikan Suasana hatinya yang sedang terbakar dan berkobar panas.


"Baik lah. Kami pergi dulu Luck" lucky hanya mengangguk.


Deva dan Jacko masuk kedalam mobil. Dan Deva melongokkan kepalanya keluar. Lucky menoleh kearahnya.


"Luck, saran ku, jaga dia sebelum yang lain merebutnya" ujar Deva sambil mengedipkan sebelah matanya.


Lucky hanya diam. Membiarkan Deva dan Jacko pergi meninggalkannya sendiri. Kembali Lucky menatap Sri yang sekarang duduk sendiri. Lalu mengambil ponselnya dari dalam tas dan memainkannya.


Ada rasa panas menyelimuti hatinya. Lucky beranjak mengambil tempat aman untuk sedikit melindungi dirinya agar Sri tidak mudah menemukannya. Lucky membuka ponselnya. Mengirim pesan pada Sri.


"Kamu lagi apa?"


Ting!


Pesan terkirim. Lucky mendongak melihat ke arah Sri lagi. Terlihat gadis itu memainkan ponselnya. Tak lama balasan pesannya di jawab Sri.


" Duduk"


Hmm dia tidak berbohong. Lalu Lucky membalas lagi.


"Kamu sendiri? Tidak ada teman?"


Ting!


Langsung terjawab.


"Sendiri"


"Yakin?"


"Ya"


Lucky berhenti sejenak. Memperhatikan Sri. Tak lama, Pria yang bersama Sri tadi kembali membawa dua es krim di tangannya. Menyerahkan pada Sri. Lucky tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena tertutup topi. Dan jarak yang lumayan jauh dan banyak orang yang berseliweran di jalan.


Rasa Harga diri yang terkoyak menggerogoti dadanya. Panas bukan main. Wajahnya merah padam. Gadis itu berbohong. Sri bilang dia sendiri. Tapi nyatanya ada seorang pria yang menemaninya. Jadi ini yang membuat Sri tidak membalas pesannya dari tadi pagi. Ternyata gadis itu dengan laki-laki lain sedang bersenang-senang.


Melihat miliknya berbicara dengan ceria kepada pria lain dan tertawa ceria tanpa ada beban. Tawa Sri sangat lepas. Tidak seperti dengannya. Gadis itu sangat sulit tersenyum.


Lucky menghubungi Sri. Dia akan menyuruh Sri untuk kembali ke kamar. Tapi Sri tidak mau menjawab panggilannya. Malah memasukkan ponselnya ke dalam tasnya lagi.


"Sial!!"


Maki Lucky karena Sri tidak mau mengangkat panggilannya. Beberapa orang menoleh padanya dengan pandangan aneh. Lucky tidak peduli. Ia mencoba menghubungi Sri lagi dan lagi. Tapi tetap gadis itu tidak mau menjawab. Malah sekarang tatapannya hanya tertuju pada laki-laki itu.


Tanpa berpikir panjang lagi, Lucky melangkah menyebrang jalan untuk dapat menjangkau Sri. Dia akan meninju laki-laki itu. dengan tangan terkepal, Lucky melangkah.


Tapi Sebelum Lucky bisa menyebrangi jalan, pria itu kembali beranjak pergi. Rasa geram sudah di ubun-ubun. Ingin rasanya membanting mereka berdua. Tapi Sri sekarang sendiri lagi.


Lucky berdiri langsung di depan Sri. Menatap gadis itu seakan ingin menelannya bulat-bulat. Merasa ada yang memperhatikannya, Sri mendongak. Dan betapa terkejutnya Sri melihat siapa yang berdiri tegak menjulang tinggi di depannya, dengan mata yang menyiratkan amarah yang sebentar lagi akan meledak.


"M-ma-mase!!"


😱😰😨🄶🄶🄶

__ADS_1


__ADS_2