OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Halusinasi


__ADS_3

Sri menggeliat malas. Bangun dari tidurnya dan mengerjap dengan mata setengah terbuka masih mengantuk. Duduk di tepi ranjang melirik kiri dan kanan. Memikirkan mimpinya tadi malam. Sepertinya Sri bermimpi di peluk suaminya.


"Ah.. Cuma ngimpi!"


Sri menggeplak kepalanya sendiri. Ia pikir, akibat terlalu merindukan Lucky sampai terbawa mimpi kalau suaminya datang dan memeluknya sepanjang malam. Sri mengerjab-ngerjab ingin memastikan kalau dia tidak mengalami morning sick. Tidak pusing dan tidak mual.


Agak aneh memang. Biasanya selama kehamilan trimester pertama dan kedua dia selalu merasa pusing dan mual. Tapi pagi ini sepertinya pusing dan mualnya sudah bosan mengganggunya. Sri berdiri dan beranjak ke kamar mandi. Melangkah terseok karena kantuk masih saja menggayuti matanya.


"Oooaaaahhhmmm..."


Menguap lebar lalu menggaruk kepalanya dengan rambut yang masih awut-awutan. Piyama lengan panjang dan celana panjang yang tampak kusut. Malas sekali rasanya jika harus mandi sepagi ini. Pasti sangat dingin menusuk kulit. Tapi Sri tetap saja melangkah dengan malas. Ketika langkahnya sudah masuk ke kamar mandi, Sri berhenti mendadak.


Sri mundur lagi selangkah keluar dari pintu kamar mandi. Wajahnya menoleh ke samping kirinya tempat gantungan baju di sebelah dinding kamar mandi. Menajamkan pandangannya ke sana. Mengernyitkan dahinya tajam.


Penasaran, Sri berbalik. Melangkah ke arah gantungan baju di dinding. Ia melihat setelan jas warna navi, lengkap dengan dasi dan kemeja lengan panjang. Sri menggaruk kepalanya bingung.


"Apa aku lupa masukin kelemari, ya? Jasnya Mase kok ada di sini?"


Sri mencoba mengingat-ingat apakah ia lupa kalau belum memasukkan jas Lucky ke lemari pakaian? Seingatnya dia tidak ada mengeluarkan baju Lucky dari lemari pakaian. Memang masih ada pakaian Lucky yang tertinggal dulu. Tapi Sri lupa kalau tidak ada setelan jas Lucky di lemarinya.


Sri memegang jas itu. Mengelusnya perlahan. Tergoda untuk menghirup aromanya. Mendekatkan jas itu ke wajahnya lalu menghirup aromanya dalam-dalam.


"Hhhhhhppmmm... Ahhh.. Harum.."


Sri tersenyum bahagia. Ia bisa menghirup aroma kesukaannya lagi. Melirik ke arah ranjang di mana bantal guling berkemejanya teronggok lesu. Sri terkikik geli membayangkan aroma kemeja Lucky pasti sudah bau. Sudah satu minggu tidak di cuci. Hahaaa..


Sri meraba perutnya. Lalu menarik jas Lucky ke sana. Tersenyum-senyum sendiri membayangkan baby-nya bertemu papanya.


"Sayang, kangen ndak sama papa? Nih ada bajunya. Kamu mau cium ndak? Hihihi.."


Sri menempelkan jas dan kemeja Lucky ke perutnya yang sudah agak menonjol sedikit. Mengusapkan pada perutnya. Sambil membayangkan Lucky mengecup perut buncitnya.


"Sabar ya, nak. Nanti kita ketemu papamu. Sebentar lagi papamu pasti dateng. Tapi mama masih males sebenernya, sayang. Papamu bohong sama mama. Ck.."


Sri merengut sedikit kesal mengingat Lucky sangat banyak menyembunyikan hal besar darinya. Nanti dia akan marah kalau Lucky sudah datang menyusulnya. Sri menyangkutkan gantungan baju itu lagi. Lalu pergi ke kamar mandi ingin buang air kecil. Setelah selesai, Sri langsung saja keluar dari kamar.


Sri berjalan menuju dapur. Berpapasan dengan dua keponakannya yang berlari berkejaran. Tertawa dengan riang.


"Buleekk..." panggil Fahmi sambil berlari. Sri menoleh dan tersenyum.

__ADS_1


"Opo?"


"Bulek jelek! Weekk.." Fahmi mengejek Sri dengan menjulurkan lidahnya. Lalu berlari sekencangnya.


"Eeehh.. Awas kamu ya!" Sri ingin mengejar. Tapi Fahmi sudah keburu berlari keluar.


Sri mengurungkan niatnya mengejar Fahmi. Kembali Sri berjalan ke arah dapur. Sudah biasa di rumahnya ramai dengan keponakannya. Dan biasanya kakak-kakak perempuannya juga sering datang. Karena jarah rumah mereka yang tidak terlalu jauh.


"Wes tangi, Sri?" sapa Warti begitu melihat putrinya datang.


"Nggeh, bune." jawab Sri sambil membenarkan rambutnya, mencepolmya asal. "Mami endi, buk?"


"Kayaknya di depan. Tadi sama mbakmu" jawab Warti masih saja sibuk membantu mbok Darmi membuat teh.


Sri duduk di kursi meja makan yang ada di dapur. Menopang kepalanya miring ke kiri. Masih agak terasa malas untuk beraktifitas. Kebetulan meja makan itu tepat mengarah ke halaman belakang.


Sri pelan-pelan menegakkan kepalanya. Menopang dagunya dengan kedua tangan di sisi pipi kiri dan kanan. Tersenyum kecil menatap lurus ke depan kandang burung murai milik almarhum bapaknya yang ada di halaman belakang. Sri melihat sesuatu yang tak biasa.


"MasyaAllah.. Gantenge.. Masku. Ngene Iki nek wes kangen ora iso ketemu. Dimana-mana jadi lihat kamu maaass.. Hehhh.. Aku kangen mas.." gumam Sri menatap mesra ke depan.


Bukan tanpa alasan Sri begitu. Di dekat kandang burung murai, Sri melihat Lucky sedang berbincang dengan pak Yono yang di tugaskan mengurus burung murai milik Pak Broto, ayahnya Sri.


Di mata Sri, Lucky tampak sangat tampan dan sangat bersinar di terpa cahaya mentari pagi. Sesekali tertawa dan kembali serius mendengarkan penjelasan pak Yono. Rasanya melihat malaikat dengan cahaya berpendar sangat menakjubkan di mata Sri.


Lucky menoleh ke arahnya. Menatapnya dengan tatapan mesra dan tersenyum manis Sri membalas senyuman cinta itu dengan lembut. Hatinya berbunga seribu jenis. Lalu Lucky memperhatikan pak Yono lagi sejenak, permisi pada lelaki setengah baya itu untuk masuk ke dalam.


Sri masih memperhatikan Lucky melangkah ke arahnya. Tampak sangat jantan dengan wajah tampan dan tubuh berototnya yang tercetak jelas pada kemeja krem polosnya. Bercelana pendek santai dengan sendal kulit yang di tapaki kaki panjang nan menggoda. Di mata Sri ini semua seperti slow motion saja. Sangat menyenangkan.


"Aku wes edan, mas. Kethok awakmu neng endi-ndi" gumam Sri lagi masih dengan senyum lembut. Menatap Lucky dengan penuh takjub. Belum ngeh jika ini adalah nyata.


Lucky duduk di kursi yang ada di seberang meja. Tepat di depan Sri. Menatap netra istrinya dan tersenyum lembut. mengulurkan tangan mengusap pipi Sri sangat pelan. Seakan takut jika kulit pipi Sri akan terluka tergores usapan tangannya. Sri memejamkan matanya meresapi usapan tangan Lucky.


"Sri, mas mu ajak sarapan Iki lho. Ini tehnya, nduk."


Sri tersentak kaget. Segera membuka matanya lebar. Masih ada Lucky di depannya. Dan.. Dan apa tadi ibunya bilang? Ajak sarapan? Bukannya ini cuma halusinasi? Kenapa ibunya bisa lihat Lucky juga?


"Kenapa, sayang?" tanya Lucky lembut.


Deg!!

__ADS_1


Suara itu memang lembut. Tapi mampu membuat jantung Sri berdegup dua kali lipat cepatnya. Apa bayangan bisa bersuara juga? Sri segera menoleh ke arah ibunya. Menatap tegang.


"Bune bisa lihat Mase juga?"


Warti berbalik menatap Sri heran. Apa-apaan pertanyaan putrinya ini? bisa lihat? memangnya mantunya itu hantu apa!


"Ojo ngawur toh, Sri.. lah wong Lucky segedi iku. Mosok bune ndak bisa lihat sih?"


"Hah?!" Sri mendelik. Ibunya bisa melihat keberadaan Lucky. Itu berarti ini nyata?!


Sri menoleh ke arah Lucky lagi pelan-pelan. Jantungnya berdebar keras. Rasa senang dan kaget juga malu bercampur aduk. Tapi rasa malu yang paling dominan. Menatap wajah tampan yang tersenyum di depannya. Ragu Sri mengulurkan tangannya menyentuh wajah suaminya.


Ehh.. Terasa!


Hati Sri menjerit ngeri. Ternyata Lucky bisa di sentuh. Itu artinya dia tidak halu. Dan Lucky sungguh berada tepat di depannya sekarang. Sri menyentuh lagi dengan mata mendelik ngeri. Meraba setiap inci kulit wajah suaminya. Lucky sampai terkekeh melihat wajah tegang Sri yang terlihat menggemaskan.


"Eehhh.. Ini beneran Mase? Sri ndak halu toh?"


"Tidak sayang. Ini aku. Suamimu" jawab Lucky sambil tersenyum lebar.


Deg!!


Jantung Sri sekaan berhenti berdetak saat itu juga. Ternyata Lucky benar ada di depannya. Ini nyata. Lucky sudah datang. Suaminya sudah sampai ke rumah ibunya untuk menjemputnya.


Dan rasa malu menguasai dirinya. Malu ketika Lucky melihatnya berantakan. Malu katika Lucky melihatnya belum mandi. Lebih malu dengan kehaluannya yang mengira ini hanya efek mimpi tadi malam. Dan.. Dan ternyata tadi malam berarti juga bukan mimpi. Itu nyata.


"Hai Sri, bune, tuan Lucky. Selamat isuuuukkk..."


Tiba-tiba Rian datang menyapa dengan ceria. Itu membuat Sri semakin yakin jika ini bukan khayalan akibat kangen. Sri melotot melihat ke arah Rian. Membuat pemuda itu langsung berhenti dan menatap bingung.


"Sayang.. Kamu baik-baik saja?" Lucky menyentuh tangan Sri. Menatapnya khawatir.


Bukannya menjawab, Sri malah makin tersentak. Matanya mendelik. Napasnya memburu. Dan akhirnya..


"Aaaaaaa..."


Sri menjerit dan berlari meninggalkan Lucky, Rian, dan ibunya di dapur. Membuat ketiga orang itu terkejut bukan main. Melongo melihat Sri lari seperti melihat hantu saja.


"Sriii.. Ojo mblayu-mblayu..." jerit Warti khawatir. Tapi Sri tidak menggubris itu. Tetap berlari ke kamarnya dan membanting pintu kamar dengan kencang.

__ADS_1


"Aneh. Sri kenapa, bune?" tanya Rian bingung.


"Hehehe.. istriku hanya shock" jawab Lucky santai. Yakin jika Sri hanya merasa terkejut dan malu.


__ADS_2