OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Mata Saya Rabun Tuan


__ADS_3

Lelah. Itu yang tergambar di wajah lucky sekarang. Beberapa rapat sudah selesai. Bisnis di bidang properti memang menjanjikan. Harga tanah yang naik pesat belakangan ini, dan juga hunian yang menunjung kehidupan bagi sebagian kalangan atas bisa membuatnya meraih untung besar.


Bisnisnya bersama Deva juga berkembang baik. Memang teman yang satu itu sangat bisa memberinya untung. Tidak heran itu terjadi. Ada Jacko di belakangnya.


Lucky menyandarkan punggungnya di sandaran sofa di ruang kerjanya. Nanti masih ada pertemuan yang harus di hadiri bersama klien. Dia masih punya waktu satu jam lagi untuk bersantai.


"Tuan, ini harus anda tandatangani. Dan proposal CV, Angkasa untuk anda pelajari lagi" Beni menyerahkan beberapa dokumen di meja kerja Lucky. Lucky hanya menatapnya malas.


"Letakkan saja di situ"


Beni mendekati Lucky. Mengulurkan tangannya memberi pena beserta sebuah map.


"Ini harus di tandatangani sekarang juga tuan. Akan di serahkan ke bagian administrasi"


"Ben, bisakah kau diam sebentar? tangan ku lelah sekali harus memberi tanda tangan lagi" Lucky menatap memelas pada Beni.


Beni hanya tersenyum. Dia tahu kalau lucky kelelahan. Tapi harus tetap bekerja karena bisnisnya berkembang pesat akhir-akhir ini. Kadang Lucky merasa kewalahan jika harus setiap satu jam sekali menemui para klien dan kolega bisnisnya atau mengadakan rapat di kantor. Semalam sampai tidak pulang karena harus meninjau ke lapangan secepat mungkin.


"Hanya sedikit tanda tangan tuan. Setelah itu, tuan Lucky bisa istirahat" ujar Beni dengan sabar.


Kesal, Lucky merampas berkas di tangan Beni. Membubuhkan tanda tangannya secepat yang ia bisa. Lalu menyerahkan berkas itu dengan kesal.


Beni tersenyum sabar. Bosnya ini memang kadang tidak sabaran. Tapi tetap mau bisnisnya maju. Kadang, Beni harus dengan sabar menemani Lucky marah-marah tak jelas saking lelahnya.


Beni beranjak ke pintu. Ingin keluar dan menyerahkan berkas untuk di kirim ke bagian administrasi kantor. Tapi Lucky cepat mencegahnya.


"Ben, biarlah Sari yang menyerahkan itu ke sana. Kau, kemarilah"


Beni berhenti. Lalu membuka pintu sedikit dan memanggil Sari, sekertarisnya untuk menyerahkan berkas. Setelah itu, dia mendekati Lucky lagi. Berdiri di seberang sofa.


"Tuan Lucky butuh sesuatu?" tanya Beni.


"Duduk lah" Lucky menunjuk sofa di depannya. Menyuruh Beni duduk di sana.


Beni menurut. Menatap Lucky menunggu bosnya bicara. Tapi Lucky masih diam dan masih memainkan ponselnya. Lalu mendongak menatap Beni.


"Kau punya pacar?" tanya Lucky.


Beni agak mengerutkan dahinya. Sangat langka Lucky menanyakan itu padanya. Selama ini Lucky tidak pernah mengusik masalah pribadi Beni.


"Ada tuan"


"Siapa?"


"Gebi namanya. Teman kuliah saya dulu"

__ADS_1


"Kau sudah lama berpacaran dengannya?"


Ah.. apa-apaan tuan Lucky ini? kenapa sikapnya hari ini ubsurd sekali? aneh bin ajaib jika Lucky bertanya tentang kisah cinta Beni. Selama ini dia tidak pernah menanyakan yang bersifat pribadi.


"Baru enam bulan tuan" jawab Beni akhirnya.


"Kau cinta padanya?"


Arrgghh!! konyol! pertanyaan macam apa itu?


"Iya tuan. Saya mencintai Gebi sudah lama. Tapi baru menjalin hubungan baru enam bulan ini" Beni menjelaskan pada Lucky. Bermaksud agar lucky tidak bertanya lagi.


"Lalu bagaimana jika kau menyukai gadis lain? apa sikap yang kau ambil Ben?"


What!?? Apa sih tuan ubsurd ini? sangat ambigu apa yang dia inginkan.


"Hmm.. saya tidak tau tuan. Maaf, saya tidak pernah di posisi itu"


Mata Lucky agak berbinar. Menatap Beni dengan banyak pertanyaan yang muncul di otaknya. Beni sampai ngeri melihat tingkah tuannya ini. Mungkin Lucky sudah gila!


"Ayolah.. pikirkan! seandainya kau punya dua wanita yang kau suka, kau akan pilih yang mana?"


Waahh.. pemaksaan! ini namanya pemaksaan! bagaimana Beni bisa menjawab jika dia tidak pernah mengalami? jatuh cinta saja baru sekali. Dan punya pacar baru kali ini. Bagaimana menjawab dan harus memilih yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


"Tergantung tuan"


"Tergantung mana yang membuat saya nyaman, dan mana yang lebih lama saya kenal lebih dulu" jawab Beni.


Terlihat wajah Lucky meredup. Pria itu seperti hilang semangat. Menyandarkan punggungnya lagi. Menatap langit-langit ruang kerjanya.


Kini Beni mengerti. Lucky di dalam kebimbangan. Ini semua adalah karena istri dan kekasih tuannya. Pasti Lucky dalam dilema dalam menentukan pilihan.


"Saya kira, nona Sri baik" ujar Beni tiba-tiba.


Lucky terlonjak. Menegakkan punggungnya menatap Beni dengan antusias penuh.


"Kau sudah mengerti maksudku Ben. Bagaimana menurut mu?"


"Itulah yang saya katakan tergantung tadi tuan. Lihat posisi mereka berdua. Nona Sri adalah istri tuan. Tidak baik mengabaikannya. Dan nona Amira sudah lama anda kenal. Dia juga butuh kepastian anda"


Lucky diam tercenung. Beni benar. Tapi Amira bagaimana? janjinya? apa iya harus merobek janjinya pada Amira? pagi kemarin dia menghubungi minta bertemu membicarakan sponsor shownya di Paris. Dan Lucky masih menolaknya. Mungkin Minggu depan baru bisa memberi keputusan final.


Lalu Sri? Gadis itu menjungkir balikkan hatinya. Antara suka dan mengingat perjanjian mereka sebelum menikah. Apa Sri punya perasaan yang sama? atau Sri masih ingin bebas dan bekerja sesuai yang ia minta dulu? tapi... ia terpikat. Sri madu manis dan buah ranum yang telah ia petik. Apa iya harus mengabaikan gadis itu? istri sahnya.


Tapi Lucky harus mengambil sikap bukan? Tidak bisa terus menerus dalam dilema ini. Tapi dia masih menyayangi kedua gadis itu. Amira menelepon dan Sri langsung pergi meninggalkannya. Lucky kesal sekali menyadari Sri sudah minggat sebelum dia menyelesaikan telepon Amira. sampai sekarang Sri tidak mengiriminya pesan. Dan pastinya dia akan tidak menjawab pesannya juga.

__ADS_1


"Aku bingung Ben" keluh Lucky. mengusap wajahnya kasar. Dia dalam dilema.


"Saya tidak bisa memberi jawaban atas apa yang tuan Lucky rasakan. Karena saya tidak dalam posisi tuan. Tapi, apa tidak lebih baik tuan bicara langsung pada keduanya?"


Bicara apa? apa iya Lucky harus bertanya pada Sri apakah dia punya rasa yang sama? di saat mereka sedang memadu rasa di ranjang sekalipun, Sri tidak pernah mengatakan perasaannya. Padahal Lucky selalu mengatakan dia cemburu dan memanggilnya sayang. Tapi Sri tetap saja hanya diam.


Dan Amira? mau bertanya apa? sudah tentu Amira ingin Lucky tetap di sampingnya. Tidak pernah meninggalkannya sampai kapanpun. Karena memang itulah janji Lucky padanya. Aduuhh!! Lucky pusing dalam dilema.


"Tuan, kita harus berangkat sekarang. Agar tuan bisa pulang tidak terlalu larut" ujar Beni mengingatkan.


Lucky menghela napas panjang. Ia harus kerja lagi. Tak ada waktu memikirkan perasaan dilema yang ia rasakan sekarang.


🌺


🌺


🌺


Pertemuan kali ini di sebuah kafe yang terletak di tengah kota. Sebuah kafe shop dan resto dengan live musik. Lucky dan beni sudah sampai di pelataran parkir. Segera masuk kedalam dan di sambut seorang pelayan pria. Mengarahkan mereka ke ruangan vip yang sudah di pesan Beni.


Suasan redup langsung menyergap mata ketika masuk di depan resto. Dekorasi Manis dan lembut nuansa anak muda terpancar jelas di bagian depan kafe. Pelayan masih berjalan di depan mereka. Menunjukkan ruangan khusus VIP di bagian belakang kafe. Kesannya agar tidak terlalu terganggu dengan live musik di depan.


Tapi sebelum mereka berbelok di barisan Diding penyekat antara ruang VIP, Lucky berhenti mendadak. Mematung menatap ke sebelah kanan kafe. Itu ruangan medium yang hanya di isi dua orang pasangan. Tempatnya pun bersekat-sekat sebatas pinggang. Jadi masih bisa melihat siapa yang duduk disana. Agak jauh memang dari tempat dia berdiri sekarang. Sri tidak menyadari kalau Lucky ada di tempat ini juga.


Bagaikan di tancap panah beracun, jantung Lucky langsung berhenti berdegup mendadak. Seakan jantungnya sudah lemah untuk berdetak. Darahnya berhenti mengalir. Terkesiap melihat siapa yang duduk disana dengan orang yang Lucky kenal dengan baik. Tertawa lepas dan terlihat sangat bahagia.


Itu Sri!! gadis itu duduk berhadapan dengan.... Noah!! astaga!! Bagaimana mereka berdua bisa saling kenal? Dan ada di tempat seperti ini seperti layaknya pasangan kekasih yang sedang ngedate!!


Beni mundur lagi. Menyadari Lucky mandek menatap ke arah sebelah kanan. Mengikuti arah pandangan Lucky dan dia menjadi tercengang seketika.


"Ben, aku kira mata ku sudah rusak.Coba kau lihat siapa yang di sana itu" Lucky mengedikkan dagunya menunjuk ke arah Sri.


Beni menelan ludahnya susah payah. Tak menyangka istri tuannya sekarang sedang duduk bersama Noah. Tak tahu apa yang harus ia jawab.


"Kau punya mulut Ben?" tanya Lucky tajam. Suara itu mengandung kemarahan yang di tahan.


"I-itu.. ah.. mungkin mata saya juga sudah rabun tuan. Tidak jelas wajahnya"


Sontak saja Lucky menoleh menatap Beni dengan dingin. Jawaban yang membuat Lucky yakin itu adalah Sri dan Noah.


Lucky memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Menegakkan tubuhnya lebih tegas. Ingin rasanya dia menghajar Noah saat ini juga, dan menyeret Sri keluar dari kafe ini. Tapi dia tidak mau menimbulkan keributan dan pasti setelahnya akan ada gosip panas menyebar.


"Batalkan pertemuan ini. Katakan pada mereka aku sibuk. Hubungi istri ku dan minta dia ke mobil secepatnya" ujar Lucky dingin lalu pergi meninggalkan Beni yang masih mematung.


Kata-kata itu dingin sedingin es di kutub Utara. Tajam menusuk yang artinya akan terjadi Angkara murka setelah ini. Beni bergidik membayangkan kemarah Lucky.

__ADS_1


Secepatnya dia menemui klien mereka. Meminta maaf atas gagalnya pertemuan malam ini. Dengan kecewa, klien akhirnya menyetujui akan menyusun jadwal besok. Beni segera mengirim pesan pada Sri. Mengatakan tuannya menunggu di mobil.


__ADS_2