OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Kabar Dari Papi Frans


__ADS_3

Pekerjaan hari ini tidak terlalu menguras tenaga. Mereka banyak bersantai dan bersenda gurau. Kebetulan besok hari libur dan pekerjaan sudah selesai.


Dila mengajak mereka ke rumahnya. Ternyata hari ini Dila ulang tahun. Mereka bisa pulang lebih cepat dari jam pulang kantor biasanya. Awalnya Sri agak bimbang. Takut jika Lucky tidak mengijinkannya.


Tapi setelah melihat jawaban suaminya di aplikasi chating, Sri cukup puas. Lucky mengijinkannya ikut kerumah Dila dengan catatan tidak boleh pulang terlalu sore.


Mereka menuju rumah Dila di jemput suami Dila. Dia juga seorang staf di sebuah perusahaan lain. Dodit namanya. Orangnya cukup ganteng dan ramah. Suka bercanda dan ceria. Sri suka dengan sikap Dodit yang periang.


Sesampainya di rumah Dila, kedua anak Dila menyambut mereka. Ada juga keluarga Dila yang datang. Dila mengadakan syukuran kecil-kecilan. Hanya ada keluarga inti saja.


Baru kali ini Sri datang berkunjung kerumah Dila. Agnes dan Niar masih ngontrak. Sri belum pernah kerumah mereka.


suasana sangat ceria. Memulai acara dengan tiup lilin dan potong kue. Sri cukup terhibur bergabung bersama mereka. Sejenak melepas dahaga merasakan dunia luar selain di mansion dan mengurusi Lucky saja.


"Ulang tahunmu kapan, Sri?" Tanya Agnes sambil menyuapkan kue ke mulutnya. Mereka duduk di teras rumah Dila.


"Empat bulan lagi mbak. Masih lama. Kalau mbak Agnes?"


"aku sama Niar udah lewat. Sebelum kamu masuk"


"Wah, ketinggalan dong Sri Yo mbak?"


"Kamu sih, masuknya lama.."


Mereka tertawa. Dila masih sibuk mengurusi anaknya yang menangis karena di jahili kakaknya. Sri memperhatikan bagaimana sibuknya mengurus dua bocah kecil yang menggemaskan. Ada keinginan punya buah hati seperti Dila. Pasti seru.


"Enak ya, mbak Dila. Sudah punya suami dan anak. Suami ganteng dan mapan. Sayang lagi" Agnes ikut memperhatikan Dila.


"Ya nikah lah Nes. Masak kamu mau cuma ngeliatin mbak Dila doang?" Niar menepuk lengan Agnes.


"Bilang nikah sih gampang. Yang mau juga banyak. Tapi susah nyari yang sehati" Agnes mencebik.


"Maksudmu, yang sehati kayak pak Noah? Haha.. udah lah Nes. Gak usah mimpi. Kamu kan tau kalau pak Noah itu gak bisa di gapai. Pria sedingin salju!" Niar menoyor keras pangkal lengan Agnes, sampai gadis itu terhuyung.


"Alaaahh.. kayak kamu udah nikah aja. Si Fadil juga belum mau nikahin kamu kan?" Agnes mencebik lagi mengejek Niar.


"Iihh.. Fadil lain itu ceritanya. Yang penting kan, kita udah pacaran. Dari pada kamu? Pak Noah ngelirik kamu aja nggak tuh"


"Eleeehh.. paling juga dia main-main" Agnes menjulurkan lidahnya.


Sri terkikik geli melihat kedua gadis ini saling mengejek. Agnes adalah fans beratnya Noah. Selalu saja cari perhatian ketika ada Noah. Tapi pria yang di taksir memang seperti gunung es yang tak mudah mencair. Teguh tak pernah melirik sana-sini.


"Sri.. kamu tuh gimana sih? Cepetan bilang ke suamimu. Nih si Agnes cepet di comblangin sama pak Noah. Jangan sampe jamuran nih cewek. Hahaa.." Niar tergelak dengan omongannya sendiri. Membayangkan tubuh Agnes penuh jamur.

__ADS_1


"Iya Sri. Mana suami kamu? Kenalin aku dong Sri. Atau... Telpon gih. Suru jemput kamu di sini. Biar aku bisa ngobrol" Agnes ikut menuntut janji Sri.


Sri tergagap mendengar itu. Mana dia bisa mengenalkan Lucky pada teman-temannya ini. Yang ada Lucky bakalan marah besar karena Sri mengaku suaminya kerja sebagai ojol.


"Maaf mbak Agnes. Suami Sri sibuk terus. Kan harus kejar setoran. Masih harus ngumpulin duit mbak"


"Duit di cari tuh gak pernah cukup, Sri. Sekali-sekali ajak suami kamu main ke sini" Dodit tiba-tiba muncul bergabung bersama mereka bertiga.


"Eh.. mas Dodit" Sri tersenyum kikuk. "Iya mas. Tapi suami Sri Ndak sempet loh mas"


"Emang suami kamu orang mana, Sri?" Dodit duduk di depan mereka.


Sri bingung harus menjawab apa dengan pertanyaan ini. Lucky orang mana? Ya orang sini juga lah. Tapi mana mungkin dia berterus terang? Sri jadi canggung menghadapi pertanyaan Dodit.


"Masih orang sini juga sih mas" Sri menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenalin sama aku, Sri. Siapa tau cocok kan. Kita bisa jadi teman" Dodit tersenyum.


"Iya mas"


Hanya itu yang bisa di katakan Sri. Dia merasa bersyukur ketika anak Dodit datang menghampiri dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Semakin banyak pertanyaan tentang suami Sri, bisa-bisa jadi terbongkar siapa sebenarnya suaminya.


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Setelah beberapa saat sampai di apartemen, Lucky pulang dan memintanya bersiap untuk pergi bersamanya. Dia bilang, papi mengajak mereka berdua makan malam bersama.


Sri bersiap dengan segera. Duduk manis di dalam mobil bersama Lucky. Sesekali Lucky menjahili Sri dengan mencolek pipi dan hidung mungilnya. Pria ini bersenandung kecil tampak suasana hatinya sedang dalam keadaan sangat baik.


Mereka sampai di depan sebuah gedung megah. Restoran mewah di tengah kota. Lucky menggandeng Sri masuk ke dalam restoran. Seorang pelayang langsung mengarahkan mereka ke ruang VIP restoran.


Melani menyambut mereka seperti biasa dengan senyum ceria. Mertua Sri ini selalu menunjukkan sikap lembut dan ceria pada Sri. Sri sangat sayang dan menghormati kedua mertuanya. Memeluknya erat dan cipika-cipiki.


"Waahh.. yang sedang di mabuk cinta, sudah lupa sama mami ya?" Melani menggoda sri.


Sri menunduk tersipu malu. Duduk di samping Melani. Sementara Lucky duduk di samping papinya. Frans tersenyum hangat pada Sri. Dan Sri mengangguk hormat pada mertua lelakinya.


"Gimana kabar kamu, Sri?" tanya Melani menggenggam tangan Sri.


"Sri sehat, mi. Mami dan papi gimana?"

__ADS_1


"Seperti yang kamu lihat, sayang. Mami dan papi baik"


Melani mempersilahkan mereka berdua untuk makan. Sri sangat nyaman bersama kedua mertuanya yang selalu perhatian padanya. Dan Melani bisa berlega hati melihat Lucky sekarang sudah menunjukkan rasa sayang dan cinta pada menantunya ini.


"Luck, bagaimana? apa kamu sudah membuat keputusan?" tanya Frans di sela makan malam.


"Tentang apa, pap?"


"Bronze group. Kau menerima jabatan itu?"


Lucky menatap papinya sejenak. Lalu meneruskan menyuapkan makanan kemulutnya. Belum menjawab pertanyaan papinya. Sri dan Melani juga menatapnya menanti jawaban Lucky.


"Apa kakek yang meminta jawaban ini, pap?"


"Tidak. Papi hanya ingin tau apa keputusanmu"


"Untuk apa, pa? toh kita tidak tergantung pada mereka. Keluarga kakek bisa mengurus itu. Kenapa harus aku yang repot?"


"Jadi kau tidak menerima?" Frans menatap Lucky dengan alis bertaut.


"Banyak yang harus di benahi di sana. Setelah aku mempelajari semua berkasnya, kantor cabang mulai goyah. Paman Fardo dan Levi membuat kerusakan terlalu besar"


"Ah.. kalian ini. Lagi makan begini juga, masih saja urusan kantor yang di bicarakan. Sudah lah.. makan dulu" Melani menyela agar keduanya tidak meneruskan masalah kantor.


"Tidak apa sayang. Aku harus bicara dengan Lucky sekarang" Frans masih saja meneruskan. "Baik lah kalau kau masih belum mau. Jadi papi bisa meninggalkanmu tanpa harus bingung dengan urusan kantor kita"


"Apa yang papi bicarakan? meninggalkan bagaimana maksudnya?" Lucky menghentikan makannya. Menatap Frans lekat.


"Tadi, kantor di Singapura mengatakan papi harus kesana. Ada proyek baru yang harus di garap. Papi pikir, biar papi saja yang ke sana. Kamu mengurus yang di sini. Karena Sri juga kerja. Kalau mami kan free. Jadi papi bisa membawa mami mu ke sana"


"Apa butuh waktu lama, pap?"


"Belum dapat di pastikan. Tapi sepertinya akan memakan waktu lama. Bagaimana menurut mu?"


"Terserah papi saja. Aku masih bisa mengatasi keadaan di sini"


"Hmm.. baiklah kalau begitu. Besok papi dan mami akan berangkat"


"Secepat itu?"


"Ya. Mereka meminta secepatnya papi berangkat"


"Mami pikir, mami sudah bisa menyerahkan tanggung jawab menjaga Sri, Luck. Jangan buat menantu ku ini menangis" Melani melebarkan matanya menatap Lucky. Menyatakan ancamannya kalau sampai Sri menangis karena Lucky.

__ADS_1


"Tenang saja, mam"


__ADS_2