OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Mau Aku ajari?


__ADS_3

"Hallo" sapa Lucky menerima telepon Deva.


"Hai buddy!! kemana saja kau? Aku rindu pada mu"


Suara Deva dia seberang sana menggelegar di telinga Lucky.


"Ck.. Ayo lah Dev. Suaramu seperti ABG saja. Aku tidak tuli" Keluh Lucky.


"Hahahaa.. Kau yang ABG. Sampai sekarang kau belum menikah. Hahaa.." Deva tergelak ceria.


"Diam kau. Ada apa kau menelepon ku? Ada yang sulit?"


"Ahh.. Mana ada kesulitan berarti yang kutemui jika Jacko masih bersama ku"


"Hhh.. sombong sekali kau. Aku siap membunuh asisten kaku mu itu agar kau menderita seumur hidup"


"Aku dengar luck!"


terdengar suara Jacko menimpali di seberang sana. Lucky hanya tersenyum kecil mendengar suara asisten kaku itu.


"Jacko melihat mu di pulau x. Benarkah?"


Lucky melirik Sri sejenak. Gadis itu sibuk di depan lemari. Tampaknya seperti membongkar isi lemari dengan panik.


"Ck.. kenapa lagi dia?" gumam Lucky memperhatikan Sri.


"Hey.. ada apa?" Deva bertanya karena mendengar gumaman Lucky.


"Ah.. tidak ada. Apa tadi?"


"Hmmm.. Kau bersama kekasih mu?"


"Tidak. Tenang saja. Aku masih perawan. Akan ku persembahkan untuk Jacko nanti" jawab Lucky meledek Jacko. Pasti dia mendengar.


"Kau sungguh menjijikkan!" teriak Jacko geram. Dan Deva terbahak di seberang sana.


"Ada apa Dev? Kau bilang apa tadi?" Lucky mengulangi pertanyaannya.


"Kau di pulau x? Temui aku besok"


"Bagaimana kau tau?"


"Hhh.. kau meragukan kemampuan asisten ku?"


"Dimana aku menemui mu?"


"Jacko akan mengirim alamatnya besok"


"Baiklah. Tapi aku pulang masih dua hari kedepan"


"Haha.. Kau masih jadi ABG polos kawan?"


"Jangan menuduh ku Dev"


"Aawwhhh.. Aku tau. Kau lelaki dewasa yang kesepian"


"Tutup mulut mu!" Geram Lucky.


"Hahaha.. baiklah baiklah.. Temui aku besok. Sore aku sudah harus berangkat pulang"


"Baiklah"


Lucky menutup sambungan telepon. Kembali masuk ke dalam kamar. Memperhatikan Sri yang masih sibuk mengacak-acak isi lemari. Mendekatinya dan terbengong melihat gadis itu sudah membombardir isi lemari pakaian.


"Hey.. apa yang kau lakukan?"


Sri kaget. Membalikkan badannya menghadap lucky, sambil menyembunyikan beberapa potong baju di balik tubuhnya.


"Mase!"


Wajah gadis itu terlihat sedih dan ingin menangis. Lucky bingung kenapa Sri jadi begitu.


"Ada apa? kamu kenapa?" tanya Lucky lagi.


"Hikss.. Sri Ndak punya baju Mase! hwaaaa..."


Sri Menangis.


"Apa? Bukannya kamu bawa koper? Mana pakaian mu?"


"Ndak tau mas. hikss.. hikss.."


"Lalu, itu apa yang kamu sembunyikan?" lucky melongok ke balik tubuh Sri. tapi Sri menghindari.


"Ndak tau siapa yang ganti baju-baju ini ke lemari Mase. hikkss hikss.."


"Mana?" Lucky mengulurkan tangannya. Meminta Sri menunjukkan baju yang ia sembunyikan.


"Jangan mas" Sri menolak.


"Kenapa?"


Sri hanya menggeleng. Tetap bersikeras tidak mau menunjukkan apa yang dia sembunyikan. Lucky menghela napasnya berat. Jengkel dengan penolakan Sri.


"Sri, beri pada ku. Aku hanya ingin lihat"


Lagi lagi Sri menggeleng kuat. Tidak mau memberikan baju yang ia sembunyikan di balik punggungnya.


"Aku akan memaksa kalau tidak kamu tunjukkan. Aku hitung sampai satu"

__ADS_1


Lucky mengepalkan tangan besarnya menggantung di udara. Dan mulai akan membuka mulutnya. Tapi Sri mencegah.


"Eehh.. sek..sek Mase! kenapa ngitungnya cuma satu?"


"Biar cepat" jawab Lucky asal-asalan.


"Iihh.. Mase! Ojo ngono toh. Sri tetep Ndak mau tunjukin" Sri merengut.


"Terserah. Saa.."


Sri panik ketika Lucky sudah akan menyebut angka satu. Dari pada di paksa, lebih baik ditunjukkan saja. Sri mengacungkan pakaian di tangannya ke depan dadanya. Antara malu dan menderita. Wajah Sri merah padam.


"Huh! ini!"


Lucky tampak aneh dengan bentuk baju yang di tunjukkan Sri didepannya. Lucky meraih potongan kain berenda tipis itu. Penasaran, Lucky merentangkan kain itu. Sontak saja Lucky tertegun melihatnya. Ada tiga warna. Hitam, merah, dan silver. Kain renda tipis seperti saringan teh. Lucky tahu itu apa. Lingerie!!


Wajah Sri merah padam menahan malu ketika lucky merentangkan lingerie di depan wajahnya. Hanya mampu menunduk dalam tak berani melihat Lucky.


Jantung Lucky serasa mencelos. Pasti ini kerjaan mami dan asistennya papi. Siapa lagi kalau bukan Baris yang selalu mendukung apa yang di lakukan nyonyanya. Lucky menggulung lingerie itu dan mencampakkannya ke dalam rak lemari. Lalu menatap Sri yang menunduk malu.


"Jadi pakaian mu kemana?" tanyanya.


"Ndak tau Mase" jawab Sri lirih, masih menunduk.


"Ya sudah. Pakai baju ku dulu"


Setelah mengatakan itu, Lucky pergi ke kamar mandi. Meninggalkan Sr yang tercengang.


🌺


🌺


Pakai kemeja Lucky yang kebesaran di tubuhnya. tidak berani terlalu banyak mempertontonkan paha dan kakinya, Sri cepat mengambil tempat di tempat tidur. Menggelung diri di bawah selimut. Meringkuk dan berusaha cepat tidur.


Lucky keluar dari kamar mandi sambil menggusar rambut basahnya. Melihat Sri yang sudah meringkuk di bawah selimut.


Sri membuka matanya sedikit. Mengintip apa yang di lakukan Lucky. Begitu Lucky melihat he arahnya, Sri pura-pura tidur lagi. Lucky melengkungkan bibirnya naik keatas sedikit membentuk senyum kecil. Dia tahu kalau Sri belum bisa tidur. Terlihat dari napas gadis itu yang tidak teratur. Lucky duduk di pinggir tempat tidur. Melirik Sri di bawah selimut tebal.


"Terang benderang begini, apa bisa tidur?" tanya Lucky pada Sri.


Tapi tidak ada sahutan. Sri diam saja. Agar Lucky mengira dia sudah tidur. Lucky diam sejenak. Lalu beranjak mematikan semua lampu dan menyisakan lampu tidur. Merebahkan tubuhnya di samping Sri. Melirik punggung gadis itu lagi. Menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum geli, lalu mencoba untuk tidur.


"Mase" tiba-tiba Sri memanggil Lucky tanpa merubah posisi tidurnya.


"Hm"


"Kenapa kita Ndak pisah kamar aja mas?"


Lucky diam sejenak. Lalu membuka matanya dan menoleh ke sampingnya.


"Kenapa? Kamu mau pindah kamar?"


Sri berbalik. menelentangkan tubuhnya. Menoleh juga ke sampingnya menatap Lucky. Saling menatap untuk beberapa saat.


"Kamu kan tau, om Baris mengawasi kita. Kalau kita pisah kamar, om Baris akan mengadu pada papi. Jadi tidak bisa" Lucky membuang pandangannya lagi. Memejamkan matanya.


Sri menghela napas panjang. Sangat tidak nyaman seperti ini. Geraknya terbatas. Lucky hanya suaminya di atas kertas. Tidak bisa berbuat sesuai keinginannya.


"Bukannya lebih baik Mase sekamar sama mbak Amira aja?" ujar Sri lagi.


Lucky membuka matanya lagi. Terasa aneh jika Sri mengatakan itu. Gadis ini malah menyarankan dia sekamar dengan Amira? hhh.. Sinting! Lucky bergerak miring. Menatap Sri seraya menopang kepalanya dengan sebelah tangan.


"Menurut kamu, Amira itu bagaimana?"


"Ya mana Sri tau mas. Sri kan baru ketemu"


"Kamu dengar dia bilang apa waktu di apartemen Billy?" Lucky penasaran apa yang di dengar Sri waktu itu.


"Ndak ada mas" Sri cuma pingin keluar aja kok" Sri menghindar. Tidak mau memberitahu .


"Hmm begitu ya.." Lucky manggut-manggut. Menatap Sri dari arah samping. Ia tahu kalau Sri tidak mau mengatakannya. "Bukannya karna kamu cemburu?"


"Hah?!" Sri menoleh menatap mata Lucky lagi. "Ya Ndak la mas. Cemburu kenapa?"


"Kamu lihat aku dan Amira di dapur"


"Iihh.. Ndak mas. Lagian mase ngapain di dapur?" Sri melengos membuang pandangannya ke depan.


Lucky diam tidak menyahut. Dia jadi penasaran ingin menyelidiki lebih tentang Sri.


"Kamu punya pacar tidak?"


Sri menggeleng. "Tapi dulu pernah. Waktu SMP"


"Sama siapa?"


"Hihi.. teman sekelas ku mas" Sri mengenang masa SMP dulu.


"Berapa lama?"


"Satu hari"


"Apa? satu hari?" Lucky tercengang tak percaya.


"Iya, satu hari. Gara-gara dia nyium Sri. Trus Sri putusin"


"Loh, kenapa?"


"Ndak suka" sungut sri.

__ADS_1


"Kamu di cium di mana?"


"pipi" Sri menunjuk pipinya.


"Bukannya di bibir?"


Sri menggeleng. "Kenapa tidak di bibir?"


Wajah Sri merona merah. Bukannya mengingat kecupan mantap pacar cinta monyetnya, Sri malah teringat ciu man Lucky siang tadi.


"Sri. Kenapa?" Lucky jadi semakin penasaran.


"Ndak tau mas. Kan masih kecil"


"Jadi sekarang tau?"


"Ndak juga"


"Kan udah besar sekarang. Kenapa belum tau juga?"


"Ndak pernah" Sri menutup wajahnya dengan selimut. Wajahnya benar-benar sudah seperti tomat sekarang.


Lucky kaget. Belum pernah artinya.. tadi siang itu adalah ciu man pertama Sri. Lucky tersenyum bangga bisa mengambil ciu man pertama Sri. Tapi juga geli melihat gadis ini malu dengan wajah merona merah. Lucky menarik selimut dari wajah Sri. Menatap wajah Sri yang malu dan tidak mau menatap matanya.


"Mau aku ajarin lagi?"


"Iihh.. apaan toh Mase? Ndak ah... Sri Ndak mau"


Lucky jadi semakin nekad ingin mengusili Sri. Gadis polos ini sangat lugu. Apalagi Lucky mengingat tubuh polosnya tadi. Jadi gemas saja rasanya.


"Kenapa? Nanti kalau kamu punya pacar, biar tidak canggung lagi"


"Eleehh.. cuma nyium aja kok pake belajar mas"


"Kamu bisa?"


"Ya bisa lah. Cuma nyium aja kan?"


"Coba kamu praktekkan"


"Eh, sama siapa?"


"Aku"


"Iihh.. Ndak mau"


"Kenapa? biar aku bisa nilai cara kamu nyium"


Sri mendelik gusar. Apa harus segitunya, berciuman saja pakai belajar dulu? Sri memang belum pernah. Tapi tidak harus praktek dulu kan?


"Emang harus begitu mas?"


"Iya dong. Kalau gak pake praktek nanti pacar mu langsung mutusin kamu"


"Ah, mosok toh?"


"Hmm.. tidak percaya?"


Sri bimbang. Apa dia segitu bodohnya mengenai pacaran? atau Lucky hanya usil? Tapi Sri juga penasaran.


"Gimana caranya mas?" tanya Sri akhirnya.


Lucky tersenyum puas. Taktiknya berhasil. Sri menyerah. Hehe.. 😈


"Coba cium aku"


Sri menatap wajah Lucky. Sumpah dia meragu. Antara menuruti, atau menolak. Tapi apasalahnya di coba. Sri mendekati wajah Lucky. Lebih mengikis jarak antara mereka. Mengambil ancang-ancang Mencium pipi lucky.


cup


Satu kecupan mendarat di pipi Lucky. Lucky menegang. Bibir itu hangat dan kenyal. Mengalirkan percikan api dalam darahnya.


"Begitu mas?" tanya Sri meminta pendapat Lucky.


"Salah. Kenapa di pipi? di bibir dong" Lucky menunjuk bibirnya.


Sri melotot. Merasa keberatan jika harus mengecup bibir Lucky.


"Iihh jangan Mase. Kenapa harus di bibir?" protes Sri.


"Pacaran itu, cuimnya di bibir. Bukan di pipi. Ayo coba lagi"


Sri merengut kesal. Apa harus seperti itu? Perasaan tidak selalu harus di bibir kan?


"Ayo, coba lagi. Di sini"


Lucky menunjuk bibirnya lagi. Memajukan wajahnya lebih kedekat Sri. Memejamkan matanya menanti ciu man Sri mampir di bibirnya.


Dengan ragu Sri mendekat lagi. Menatap wajah tampan di depannya sejenak. Wajah tampan paripurna. Bibir itu menggoda untuk di kecup.


cup


Sekali lagi Sri mengecup singkat bibir Lucky. Lalu menjauhkan wajahnya dari wajah Lucky. wajahnya terasa panas membara. Semburat merah terasa memenuhi pipinya.


Kecupan itu membangkitkan desiran indah di dada Lucky. Karena begitu singkat, Lucky sampai tidak merasakan ada kecupan di bibirnya tadi.


"Begitu mas?" tanya Sri lirih. Malunya setengah mati.


Lucky membuka matanya. Menatap Sri intens. Gadis itu menunduk tak berani menatap Lucky. Lucky meraih dagu Sri menghadapkan ke wajahnya.

__ADS_1


"Itu salah. Bukan begitu caranya. Biar aku beritahu ya?" ujar Lucky dengan suara berat.


Tanpa sadar, Sri mengangguk menyetujui. Tak kuasa lagi mengeluarkan kata-kata dari bibirnya. Lucky mendekatkan wajahnya. Napas mereka saling menghempas ke wajah masing-masing. Jantung Sri berdegup kencang. Tapi sudah tidak bisa mengelak lagi.


__ADS_2