OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Bayangan Sri


__ADS_3

Lucky membawa Amira ke Kondominium tempat Amira menginap. Dia tidak mau kalau sampai Baris melihat Amira juga ada di pulau ini. Amira datang bersama asistennya. Begitu tahu Sri yang menjawab teleponnya, Amira langsung Menyelidiki kemana Lucky pergi. Dan begitu mendapat informasi, Amira langsung terbang menemui Lucky di pulau ini.


Amira menggelendot manja di samping Lucky. Menge Cupi pipi Lucky dengan mesra. Tapi pria itu agak sedikit menahan gerakan Amira.


"Kenapa harus menyusul ke sini Mira? om Baris juga ada di sini. Bagaimana jika dia tahu? dia akan mengadu pada papi"


Amira menghentikan ke cupannya. Menatap Lucky dengan memberengut kesal.


"Jadi kamu tidak suka aku datang?"


"Bukan begitu. Om Baris bisa saja mengadu"


"Aku tidak peduli. Papi tau tentang kita. Lalu apa lagi?" Amira membuang pandangannya ke arah lain. Melipat tangannya di dada. Sangat jengkel Lucky mengatakan itu.


"Mengertilah sayang. Kita sudah membicarakan ini bukan? Ini tidak semudah seperti yang kita pikirkan. Jangan gegabah" Lucky mencoba memberi pengertian pada kekasihnya ini.


"Aku tidak peduli Luck. Aku muak dengan semua ini. Aku ingin orang tahu kalau kau hanya milik ku. Publik juga tau kalau kita ini sepasang kekasih. Aku tidak mau kalau sampai Sri naik kepermukaan" Amira mulai mengeluarkan emosinya.


Lucky diam. Memijat keningnya pelan. Masalah ini jadi semakin rumit. Amira tidak mau diam hanya menyaksikan Lucky bersama Sri. Tapi lucky juga tidak bisa membiarkan Sri sendirian. Semua posisinya menjadi serba salah di antara kedua gadis ini.


"Luck. Ayo ceraikan dia. Aku sudah bersedia menikah dengan mu. Kenapa orang tua mu jadi tidak setuju?" Rengek Amira.


"Kau menyia-nyiakan waktu emas mu dulu. Padahal papi sudah mengukur waktu untuk memberi mu kesempatan. Tapi kau membuangnya"


"Kenapa kau tidak mengatakan itu pada ku dulu? aku bisa mengatur bicara ku pada papi Frans"


"Aku juga ingin tau sampai di mana kau menginginkan ku" ujar Lucky dingin.


Amira terdiam mendengar itu. Ya, Frans sudah memberinya waktu dan kesempatan emas untuk memilih. Tapi waktu itu karirnya sedang menanjak pesat. Dia juga tidak bisa meninggalkan kesempatan emas itu.


"Katakan pada papi Frans. Aku akan berlutut padanya untuk kesempatan kedua. Aku menyerah. Aku mencintai mu sayang" Amira merengek lagi. Memeluk Lucky erat. Merebahkan kepalanya di dada bidang kekasihnya ini.


Lucky menghela napasnya panjang. Tidak ada kesempatan lagi untuk Amira. Pintu itu seakan telah tertutup di keluarga Lucky untuknya. Tapi hati ini... hati Lucky masih belum goyah. Dia masih mencintai Amira walaupun terkadang sedikit muak dan jengkel melihat sikap Amira yang keras kepala.


Lucky beranjak berdiri. Berjalan menuju balkon. Berdiri memandangi laut gelap di depannya. Amira menyusul dan memeluknya dari belakang.


"Sayang, aku mohon. Aku selalu cemburu melihat mu dengannya. Aku tidak tahan"


"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk membujuk papi memberi mu kesempatan kedua Amira" ujar Lucky.


Matanya menatap bibir pantai paling ujung. Seperti melihat Sri sedang duduk di sana. Menajamkan penglihatannya lagi. Tapi karena merasa kurang jelas, Lucky melepaskan tangan Amira dari dadanya. Lalu begeser ketempat yang lebih mudah menajamkan pandanganya.


Benar itu Sri. Tapi siapa laki-laki yang bersamanya? Haruskah ia menghubungi Sri dan bertanya? Hatinya terasa panas. Baru saja dia menyuruhnya kembali ke kamar. Tapi Sri membangkang.


Tapi Lucky mengurungkan niatnya menghubungi Sri. Dia lebih memilih menghubungi om Baris untuk mengecek keberadaan Sri saat ini. Siapa tahu matanya bermasalah dan yang di pantai itu bukan Sri.


Lucky menghubungi Baris. Itu membuat Amira curiga. Mendekati Lucky dan coba mendengarkan apa yang di katakan Lucky di telepon. Melirik kearah mana Lucky melihat dengan penuh minat.


Deg!

__ADS_1


jantungnya seperti di pukul godam besar. Lucky melihat Sri di pantai. Itu yang membuat Lucky penasaran.


"Cek istri ku di kamar. Segera hubungi aku nanti"


Lucky memutus sambungan telepon. Lalu berbalik dan terpaku melihat Amira yang matanya sudah berkaca-kaca mendengar Lucky menyebut kata 'istriku' untuk Sri.


"Amira.. Ini bukan seperti yang.."


"Cukup Luck! kau.. Kau sudah berubah!"


Amira berlari kedalam kamar. Menghempaskan dirinya di sofa sambil menagis terisak. Lucky mengusap wajahnya kasar dan menyusul Amira masuk. Mendekati gadis itu dan mengelus rambutnya.


"Jangan salah paham sayang. Tolong mengerti Lah. Dia tanggung jawab ku juga. Aku harus memastikan keselamatannya" Lucky membujuk Amira.


"Benarkah?" Amira menatap mata Lucky dengan linangan air mata. " Tapi aku melihat yang lain di mata mu Luck"


"Apa?"


"Kau cemburu"


"Apa? Aku? cemburu padanya?" Lucky mengernyitkan keningnya merasa aneh mendengar kata 'cemburu'disematkan padanya. Benarkah? dia cemburu?


"Hikkss.. hiikkss.. aku mengenal mu dengan baik Luck. Kau pencemburu yang luar biasa. Hikkss.. hikss.. aku melihat itu tadi"


Amira terisak. Hati Lucky merasa terenyuh mendengar itu. Ia tarik tubuh Amira kedalam pelukannya seraya mengusap rambut Amira dengan sayang.


Amira hanya bisa tersengguk pilu. Kenapa jadi begini? kenapa ia merasa Lucky semakin jauh dari jangkauannya? Dia memang bodoh meninggalkan kesempatan yang telah di berikan di depan matanya untuk menjadi istri Lucky.


Ia pikir, Lucky tidak akan pernah berpaling darinya dan akan setia menunggunya sampai semua impiannya terwujud. Tapi dia salah. Mimpi belum tergapai tapi Lucky pun mulai lenyap samar-samar.


Lucky mengangkat dagu Amira menghadapnya. Menatap mata basah itu dan menghapus air mata kekasihnya lembut. Mencoba tersenyum menenangkan Amira.


"Jangan menangis. Kenapa jadi cengeng begini? hmm?"


"A-aku mencintai mu Luck hiikkss.. Aku takut kehilangan mu" Isak Amira terbata.


"Aku masih di sini bukan?"


Lucky menge cup lembut bibir Amira. Gadis itu memejamkan matanya meresapi ke cupan di bibirnya. Lucky mema gutnya dalam. Amira mulai membalas. Ia harus mendapatkan hati Lucky lagi seutuhnya. Dia tidak boleh gagal lagi. Lucky harus memberinya status yang sebenarnya.


Mendapat balasan setimpal, Lucky lebih intens memberi lu matan panas. Bibir itu lembut menggoda. Mengalirkan rasa indah bergelora. Tapi.. tapi kenapa tidak manis seperti bibir... Sri!


Sejenak Lucky berhenti. Melepaskan pagu tannya dengan napas tersengal. Menatap bibir merah di depannya. Seperti merasa ada yang kurang. Ingin memastikan ada rasa manis di bibir Amira, kembali Lucky mencucup kecil. Mengecap rasa yang di inginkannya. Tapi nihil.


"Kenapa sayang?" tanya Amira dengan desa han manja.


Lucky menatap mata Amira. Mencari-cari di kedalaman netra itu. Entah kenapa terasa kosong. Binar mata itu berbeda. Hanya penuh kabut nafsu. Tak sabar Amira kembali mema gut bibir Lucky. Kali ini ia menyajikan gerakan lebih panas. Lucky menyambutnya dengan perasaan berkecamuk.


Amira membalik posisi mereka sekarang. Ia mendominasi keadaan. Tak mau buruannya lepas. Ia harus memberi servis yang selayaknya. Ia harus mendapatkan Lucky malam ini, mumpung ada kesempatan yang jarang terjadi.

__ADS_1


Amira berada di atas Lucky. Me lu mat bibir pria itu dengan panas. Menyusuri leher dan belakang telinga Lucky dengan sapuan lidah yang ber gelora.


"Eehhgmm.." Lucky menggeram parah.


Itu membuat semangat Amira semakin berkobar. Menji Lat rahang tegas Lucky. Lalu melu mat bibir sexy itu lagi. Lucky terbuai. Amira sungguh pandai membawanya ke awan empuk yang melenakan.


"Ssshhh..."


Mendesis meresapi sapuan panas di bibirnya. Sekelebat otaknya menampilkan visual Sri. Gadis itu seperti menatapnya marah. Lucky berhenti. Mendorong Amira sedikit keras. Amira tersentak kaget.


"Ada apa sayang? Ingin lebih?" Amira mende sah di telinga Lucky sambil bergerak meng gesek sesuatu yang telah mengeras di bawah sana. Membuatnya bersemangat dan pantang menyerah.


Lucky menelan salivanya kasar. Melirik kesana kemari mencari sosok Sri di setiap sudut ruangan. Tapi tak menemukan apapun. Otaknya sudah terkontaminasi dengan Sri. Sudah sedikit kendur untuk melanjutkan aksinya dengan Amira.


Tapi tanpa di sangka, dan Lucky juga tidak memperhatikan apa yang di lakukan Amira. Tiba-tiba saja, Lucky merasakan sesuatu yang lembut dan basah di bawahnya. Lucky melihat ke bawah. Dan matanya terbelalak melihat Amira sudah melu Masi juniornya yang sudah tegak menga cung ke atas.


"Uuhhgg.."


Lucky mengerang panjang ketika Amira sudah memasukkan setengah ke dalam mulut panasnya. Lucky menautkan alisnya sambil ternganga merasakan sensasi liar itu. Entah kapan Amira berhasil membuka celananya dan mengeluarkan junior dari sarangnya.


Tlilit.. tlilit..


Lucky tersentak kaget. ponselnya berdering. Terburu-buru melihat layar ponselnya. Om Baris menelepon. Panik Lucky menahan gerakan kepala Amira. Amira mendongak dan Lucky meletakkan jari telunjuk ke bibirnya. Memberi isyarat agar Amira berhenti dan diam.


"Halo om?"


"Nona Sri tidak ada di kamar, tuan muda. Saya akan mencarinya"


ujar Baris di sebarang sana. Tak di sangka, Amira tak mengindahkan larangan Lucky untuk diam. Gadis itu melanjutkan aksinya lagi. Lucky melotot menatap Amira yang sibuk menggerakkan kepalanya di bawah Lucky. Tak peduli bagaimana reaksi Lucky menerima serangan panas itu.


"Baik. Carilah dulu. Aku juga akan menhh.. cari..nya" napas Lucky terputus-putus akibat sedotan di bawahnya. Lalu memutuskan sambungan telepon.


Tak kuasa menerima gelora i sa pan di ujung kepala juniornya. Memegangi kepala Amira yang terus bergerak. Tapi otaknya berbagi konsentrasi. Begitu melihat ke depan, Lucky tersentak. Sekelebat ia melihat bayangan Sri melintas dengan wajah sedih.


Lucky melompat dari sofa hingga membentur dagu Amira. Amira terpental kebelakang. Wajah Lucky pias. Ini salah. Dia tidak boleh melakukan ini dengan Amira. Sri tidak ada di kamarnya. Entah kemana gadis itu. Apakah benar yang dilihatnya tadi? Sri sedang bersama pria lain?


Hatinya berdesir marah. Memikirkan Sri sedang berduaan dengan pria tak di kenal. Cepat-cepat ia menaikkan celananya dan mengancingkan lagi. Wajah Amira sudah tak bisa menampilkan raut wajah sedih. Ia tercengang melihat Lucky menolaknya terang-terangan.


"Maaf Amira. Ini salah. Kita tidak bisa melakukan itu. Maafkan aku" Lucky mendekati Amira dan memeluk gadis itu yang terdiam mematung dengan wajah tak percaya.


Lucky mengecup puncak kepala Amira dan melepaskan pelukannya. Lalu bergerak menjauh kerah pintu. Membukanya dan menoleh lagi pada Amira.


"Istirahatlah Mira. Aku harus pergi"


Lucky pergi. Menutup pintu kamar Amira. Gadis itu masih terpaku dan tercengang menatap kepergian Lucky yang kini menyisakan pintu kamar yang tertutup dan kesunyian yang langsung datang menyergapnya.


"Aaaaaa... brengsek!!!"


Maki Amira sambil menangis meraung.

__ADS_1


__ADS_2