
Sri mengecek pesan yang baru saja di terimanya. Dari Lucky. Cepat-cepat dia membuka.
"Ok"
𤨠Sri menaikkan sebelah alisnya. Tadi dia mengira Lucky bakalan membalas agak sedikit manis. Tapi ternyata hanya itu. Kaku!
Sri menghempaskan ponselnya di ranjang. Merasa dongkol Lucky mengirim pesan kaku itu. Berbaring di ranjang sendirian.
Entah kenapa perasaan Sri menjadi tidak karuan setelah melihat pesan Lucky. Hatinya dongkol bukan main. Lebih baik tidak di jawab daripada hanya bilang 'ok' saja. Yah.. tapi biarlah. Toh tidak ada untungnya juga jika Lucky bermanis kata padanya. Dia milik Amira.
Sri bangkit dari rebahan. Beranjak memeriksa paper bag yang di bawa pulang tadi. Isinya semua produk kecantikan. Sri mengambil dan menjejerkannya di meja rias. Itu semua di belikan Melani untuknya. Dan masih banyak lagi dari dokter Anna.
Ting!
Ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk. Sri beranjak dan meraih ponselnya di ranjang.
"Eh.. Pesan Mase lagi" gumam Sri. Segera dia memeriksa.
"Kirim foto mu"
Hah?? foto?? mau ngapain dia? tumben banget minta foto ku? Ono opo toh mase Iki!
Sri mengerutkan keningnya. Rebahan lagi di ranjang. Memikirkan apa maksud Lucky meminta fotonya. Membalas pesan Lucky.
"Untuk apa Mase?"
"kirim saja"
"š¤ Tapi untuk apa?"
"kirim!"
"No"
"Sekarang!"
Wajah Sri memerah menahan jengkel. Lucky kembali memaksa. Entah apa maunya. Dengan malas Sri mengambil fotonya. Lalu mengirim pada Lucky. Menunggu jawaban Lucky selanjutnya.
Tapi setelah sekian menit ditunggu, Lucky belum menjawab pesannya. Rasa dongkol kembali memenuhi dadanya. Kalau Lucky dekat, pasti Sri sudah menendang kakinya.
"Itu foto ku mas. Buat apa sih?" Sri kembali mengirim pesan.
Tapi pesan terakhir tidak di buka Lucky. Entah apa yang dia kerjakan di sana. Sri menghempaskan lagi ponselnya di ranjang. Kesal sekali Lucky memerintah semaunya saja.
š¾
š¾
š¾
__ADS_1
Sudah dua hari Lucky belum pulang juga. Tidak ada satu pesan pun yang mampir dari Lucky di aplikasi chatingnya. Hanya kemarin pagi Lucky menjawab pesan di foto Sri. Dan itu membuat Sri mangkel setengah mati.
Setelah menunggu lama, Sri sampai ketiduran menantikan jawaban itu. Dan begitu bangun di pagi harinya, mengecek pesan Lucky. Tapi jawabannya sungguh membuat Sri mati kutu.
"Jelek"
Hanya itu dan tidak ada yang lain. Rasanya ingin membanting ponselnya. Geregetan sendiri membaca jawaban Lucky lagi dan lagi. Ngomel sendiri di depan layar ponselnya.
"Kurang ajar sampeyan Mase! aku Ndak mau jawab pesan mu lagi! Kapok aku wes kapookk!!"
Dan sampai hari ini, Lucky mangkir tak pernah mengirim pesan lagi pada Sri. Sri sudah kapok. Dia juga tidak mau lebih dulu mengabari Lucky apapun. Lebih baik menyibukkan diri mengirim surat lamaran ke berbagai lowongan pekerjaan.
š¤©
š¤©
"Sial!! kenapa aku jadi memikirkan dia terus!"
Maki Lucky pada dirinya sendiri. Mondar-mandir di dalam kamar hotel. Berkali-kali menghidup matikan ponselnya. Tapi kembali membatalkan niatnya untuk mengirim pesan pada Sri.
Pekerjaannya masih belum kelar. Bertemu investor yang sulit di ajak negosiasi. Seharusnya pekerjaan yang sudah selesai dalam dua hari, Kini harus di perpanjang satu hari lagi.
Lucky beranjak ke balkon kamar. Duduk di sana dan kembali membuka ponselnya. Mengecek kembali aplikasi chating milik Sri. Kemarin dia meminta Sri mengirim fotonya. Siapa tahu maminya cuma iseng mengirim foto seorang gadis yang mirip Sri.
Tapi setelah Sri mengirim fotonya lagi setelah di rumah, Lucky yakin tadi foto yang di kirim maminya benar adalah Sri. Dengan gengsi tingkat tinggi yang muncul mendadak, Lucky pura-pura tak melihat foto Sri dan tak membalas pesan Sri yang terakhir.
Tapi karena tak ingin Sri besar kepala, Lucky membalas juga. Tapi dengan harga diri yang tak bisa tergoyahkan. Dia hanya membalas 'jelek'. Lalu tersenyum membayangkan Sri akan uring-uringan membaca pesannya.
"Hhhh.. Kenapa dia bisa jadi sangat berubah begitu?" gumam Lucky pada dirinya sendiri.
Tok.. Tok..
Pintu kamar di ketuk. Lucky mempersilahkan masuk karena pintu tidak di kunci. Lalu Beni muncul dan masuk ke dalam menemui Lucky.
"tuan, Mr Barry sudah menyetujui persyaratan yang kita ajukan. Apa tuan bersedia menemuinya lagi?" Tanya Beni sambil membungkuk hormat.
"Ya, baiklah. Kita akan menemuinya. Selesaikan pekerjaan ini secepatnya Ben. Aku mau pulang. Gadis itu tidak bisa di biarkan terlalu lama" ujar Lucky dan bergumam pada kalimat terakhirnya.
"Hah? maaf tuan, maksudnya gadis yang mana?" Tanya Beni bingung.
Lucky berhenti sejenak. Tertegun mencerna pertanyaan Beni barusan. Gadis? apa dia ada bilang gadis tadi? ah... terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak membuat Lucky tidak konsentrasi pada kata-katanya sendiri.
"Lupakan lah" jawabnya dingin.
ā¤ļø
ā¤ļø
Sri menghabiskan waktu dengan para pelayan. Tidak ada teman yang bisa di ajak bicara. Tak ada rotan, akar pun jadi. Sri bergabung bersama semua pelayan yang sedang beristirahat siang ini. Setelah semua pekerjaan mereka selesai.
__ADS_1
Melani sedang pergi bersama temannya. Frans juga masih di kantor. Jadilah Sri datang ke paviliun belakang, tempat semua pelayan tinggal. Awalnya, semua pelayan yang berjumlah sepuluh orang itu sangat merasa segan. Tapi lama-kelamaan mereka semua tampak bersikap ramah.
Yang menjadi masalah, pak Sam tidak mengetahui ini. Begitu pak Sam berdiri di ambang pintu paviliun, semua pelayan serempak berdiri ketakutan. Pak Sam menatap tajam semua pelayan. Lalu menatap Sri.
"Nona Sri, tidak seharusnya anda ada di sini. Jika tuan muda tahu, mereka semua akan kena marah" ujar pak Sam tegas.
"Mas Lucky Ndak ada pak. Mami papi juga pergi. Ndak ada yang marah" ujar Sri santai.
Pak Sam diam. Tapi tetap saja memaksa Sri untuk meninggalkan paviliun.
"Maaf nona. Ini peraturannya. Pelayan di sini tidak boleh bergabung bersama nona"
"Peraturan siapa?" Sri berdiri berhadapan dengan pak Sam.
"Tuan muda"
"Mas Lucky?"
Pak Sam mengangguk. Sri merasa kesal dengan peraturan Lucky yang menurutnya tidak masuk akal. Kenapa harus ada batasan dengan pelayan? lagipula sudah selesai bekerja.
"Kan sudah saya bilang, mas Lucky tidak ada"
"Tetap tidak boleh nona"
Sri melengos sebal. Para pelayan sudah beringsut mundur. Takut kalau sampai pak Sam marah pada mereka. Sri pun tak bisa berbuat banyak. Ini sudah menjadi peraturan yang di terapkan di mansion keluarga Lucky. Dan kasihan juga melihat para pelayan itu kalau sampai di marahi.
"Baiklah, aku pergi. Tapi, pak Sam jangan marah sama mereka Yo?" Sri menunjuk semua pelayan.
Pak Sam menatap tajam mereka semua. Lalu mengangguk mengiyakan. Sri berpamitan lalu pergi Meninggalkan mereka dan menuju ke ruang depan.
Sangat bosan tidak punya kegiatan berarti. Setiap hari kegiatannya hanya itu-itu saja. Walaupun sekarang ada keasyikan sendiri mengelus-elus kulit tubuhnya saja dengan segala produk kecantikan yang di berikan dokter Anna. Tapi itu tidak mampu menghilangkan kejenuhan Sri.
Rumah begini besar, apa tidak ada orang lain lagi keluarga Lucky? Hanya bertiga hidup di kota ini? Apa itu tidak aneh? Sri belum pernah bertemu sekuarga Lucky yang lain. Dan dia juga belum menanyakan pada Melani tentang itu.
Seorang keamanan yang bertugas di gerbang, datang mencari pak Sam. Dia bilang, ada tamu yang datang mencari Frans, dan namanya Tuan Noah. Pak Sam segera pergi ke depan untuk memeriksa.
Sri merasa seperti pernah mendengar nama itu. Noah? pernah dengar di mana ya? Sepertinya akrab sekali di telinganya.
Penasaran, Sri beranjak kedepan. Ingin melihat siapa gerangan tamu yang datang itu. Tapi sebelum mencapai pintu depan, pak Sam sudah kembali. Mereka berpapasan dan Sri bertanya.
"Loh? pak Sam udah balik? tamunya mana pak?" Sri melongokkan kepalanya melihat keluar. Tapi tidak ada orang.
"Sudah pergi, nona"
"Siapa pak?"
"Mencari tuan Frans"
"Oohh.."
__ADS_1
Pak Sam tidak melanjutkan lagi. Segera pergi masuk kedalam. Sri masih terbengong di melihat pria tua itu meninggalkannya.
"Huh! sama saja. Ndak tuan Ndak pelayan, sami mawon. Kaku!" gerutu Sri kesal