
Seperti hari-hari sebelumnya, suasana kantor masih sama seperti biasa. Selalu sibuk dan semua staf berkutat di kubikel mereka menyelesaikan tugas masing-masing.
Akhir-akhir ini Noah jarang terlihat. Jarang menyapa Sri. Sri sebenarnya ingin menanyakan masalah Lucky melabraknya waktu itu. Tapi tidak pernah ada kesempatan baik. Jadi Sri hanya diam.
Jam istirahat datang. Seperti biasa, empat sekawan itu berkumpul di kantin kantor. Tempat favorit keempatnya. Dan Agnes masih saja membujuk Sri untuk bertemu dengan suami gojeknya. Dan tentu saja Sri harus menyiapkan segala macam alasan untuk menolaknya.
Tapi Niar, gadis itu sepertinya punya gebetan baru. Tidak terlalu terpengaruh dengan fans Noah club. Walau sebenarnya Noah sudah memerintahkan untuk membubarkan, tapi tetap saja mereka masih melanjutkan secara diam-diam.
"Siapa gebetan mu, Niar?" tanya Dila penasaran.
"Ihh.. ada deh pokoknya. Kepo banget sih mbak Dila?" Niar menyeruput kuah soto di sendoknya.
"Halaaahh.. sok kamu! palingan si Daru. Satpam kantor" Agnes mencebik.
Mendengar itu, mereka bertiga tertawa. Si Daru, satpam kantor jadi korban. Lelaki keturunan Ambon yang bertubuh tinggi dan berkulit hitam yang bertugas di bagian pos jaga.
"Aduuhh amit-amit Neess... enak aja kamu!" Niar marah karena Agnes langsung menjatuhkan seleranya.
"Makanya bilang dong" Dila menimpali.
"Ck.. ntar jadi gosip mbak Dil. Malas ah" Niar menolak. Takut beritanya di jadikan gosip di kalangan staf lainnya.
"Ini kan cuma antara kita. Ya jangan sampai keluar lah" ujar Dila.
"Beneran nih?" Niar masih bimbang.
"Ck.. iya lah. Gak percayaan amat lu" Agnes menoyor lengan Niar.
Niar diam sesaat. Meragu akan menyampaikan atau tidak. Masih merasa takut beritanya akan cepat menyebar.
"Sebenarnya.. Aku.. Udah jadian sama Fadil"
"Hah!"
"Apa!?"
Dila dan Agnes berseru kencang secara bersamaan. Membuat Sri kaget bukan main. Tersedak miumannya sendiri. Seekstrim itukah reaksi keduanya sampai berseru sekencang itu?
"Tuuh kan. Heboh deh!" keluh Niar.
"Heh.. gila lu ah. Pacaran sama Fadil mantan pacarnya Susan? serius kamu?" Agnes mengguncang lengan Niar.
Sontak saja Niar membekap mulut Agnes. Suara Agnes kencang. Sampai ada beberapa staf kantor yang menoleh kearah mereka.
"Hiiisshhh.. ni anak ya.. ember banget. Pelan dikit Nes! ketahuan yang lain entar!" Niar melotot pada Agnes.
"Kenapa kalau yang lain tau?" tanya Sri heran.
"Iisshh.. ni lagi bocah.." Niar menatap Sri jengah. "Jelasin mbak Dila" pintanya menatap Dila serius dan melepas tangannya dari mulut Agnes.
__ADS_1
"Fadil itu mantan pacarnya Susan, Sri. Anak akunting. Punya posisi bagus di sini. Kalau Susan tau, bisa habis si Niar digonyoh Susan" Dila menjelaskan.
"Kan udah mantan mbake. Ngopo kok marah?" Sri mengerutkan dahi.
"Susan itu gak pernah suka kalau ada cewek yang jadian sama mantannya" Agnes menimpali.
"Lah aneh to Yo? kok bisa gitu?" Sri menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hati-hati aja kamu Niar. Bisa mampus kamu di jambak Susan entar" Dila memperingatkan Niar.
"Makanya jangan sampek bocor mbak Dil" Niar memohon.
"Eh.. tapi gimana ceritanya lu bisa jadian sama dia?" Agnes tampak antusias.
"Gak sengaja sih... Orang tuan Fadil pindah rumah. Jadi tetangga ku" jawab Niar.
"Waahh.. hebat dong lu bisa menarik perhatian Fadil. Secara lu kan gak sebanding sama Susan" Agnes mencebik.
"Huh.. dasar. Kamu menghina aku Nes!" Niar merasa tersinggung.
"Yang namanya suka, mana pandang status. Suka ya suka aja. Masak iya harus pake cantik dulu?" Dila menimpali.
"Iihh.. mbak Dila! kalian ini bilang aku jelek ya?"
"Hihihiii.."
Mereka cekikikan melihat Niar merengut kesal. Tapi perhatian Sri segera beralih ke ponselnya. Ada pesan masuk dari Lucky.
Sri sudah tidak mendengar ocehan ketiga sahabatnya lagi. Fokus pada layar ponselnya. Dia harus apa? Masih ada beberapa jam lagi waktu kerjanya. Kalau pak Karim menjemputnya jam tiga, itu artinya dia harus bolos? Bagaimana caranya?
Sri mengetik balasan pesan untuk Lucky. Ada apa sampai dia harus pulang lebih cepat sebelum jam pulang kantor? apa di ajak shoping lagi?
"Ada apa mas? Kenapa harus pulang jam tiga? itu Sri masih kerja mas"
Tak berapa lama, Lucky membalas lagi.
"Katakan sama si brengsek itu, kamu pulang deluan, sayang"
Astaga! si brengsek? Sri tau siapa yang di maksudkan 'si brengsek' oleh Lucky. Tentu saja Noah. Entah ada dendam apa Lucky pada Noah sehingga dia begitu entengnya memanggil Noah dengan sebutan buruk itu.
"Ndak sopan loh mas, pak Noah namanya. Ojo ngono Mase!"
Sri mengetik pesan dengan sedikit kesal pada Lucky. Merasa keberatan jika orang baik seperti Noah di sebut brengsek. Itu membuat Lucky mengirim emotikon dengan wajah merah.
"š” Pokoknya harus pulang jam tiga. Kalau dia tidak kasih, katakan padaku"
Sri membaca balasan pesan Lucky dengan bergidik ngeri. Lucky si pemaksa ini mengeluarkan perintah yang tidak bisa di tolak lagi. Tapi bagaimana caranya dia harus ijin ke Noah? Apa harus bilang kalau suaminya yang meminta dia pulang lebih awal? š„¶ bisa mampus! tidak lucu bukan?
Tapi keadaan berbeda ketika mereka berempat keluar dari kafetaria kantor dan menuju ruangan mereka, ternyata Noah sudah ada di ruangannya. Dan staf lain mengatakan kalau Sri di panggil Noah dan untuk segera menghadap.
__ADS_1
Sri gelagepan. Bagaimana sangat kebetulan sekali Noah memanggilnya setelah Sri mendapat pesan ancaman dari Lucky? Apa Lucky melabraknya lagi?
Meragu Sri mengetuk pintu ruang kerja Noah. Dan ada sahutan dari dalam untuk menyuruhnya masuk. Sri membuka pintu. Melongokkan kepalanya kedalam. Terlihat Noah sibuk mengetik di depan laptopnya.
Sri melangkah pelan dan berdiri di depan meja kerja Noah. Sri selalu senang melihat Noah yang terlihat necis. Tampan dan rapi. Wajah manisnya tampak serius memperhatikan layar laptop tanpa menghiraukan kehadiran Sri.
"Bapak memanggil saya pak? ada yang bisa saya bantu?" Sapa Sri karena sekian menit Noah mengacuhkannya.
"Duduk Sri" ujarnya tanpa melihat Sri.
Sri duduk di depan Noah. Memperhatikan pria itu yang masih saja tak menatapnya sedikitpun.
Hiisshh.. Opo toh! kenapa dia diam aja sih? Sampe kapan aku di cuekin gini?
Sri mendengus kesal. Noah mendongak menatapnya dan menghentikan gerakan tangannya mengetik di laptopnya. Menaikkan sebelah alisnya melihat Sri tampak kesal.
"Kamu sudah punya suami?" tanya Noah tiba-tiba.
Sri terkesiap. Tak menyangka Noah akan menanyakan itu.
"Dua kali suami brengsek mu itu melabrak ku" sambungnya lagi.
Apa? brengsek?! Kenapa mereka berdua jadi sama-sama saling menghujat? Ada apa sih mereka ini?
"Maaf pak" hanya itu yang bisa terucap dari bibir Sri.
"Hhh.. Suami kamu itu benar-benar bodoh. Masih saja mau di tipu perempuan" ujar Noah.
Sri mendongak menatap Noah makin mengernyitkan dahinya dalam.
"Maksud bapak?"
Noah tidak menjawab. Melengkungkan bibirnya sedikit membentuk senyum kecil.
"Kamu pulang saja lebih dulu. Tidak apa-apa. Dari pada aku di gorok suami mu"
Sri mendelik mendengar ucapan Noah. Banyak pertanyaan berputar di otaknya. Tampaknya Noah dan Lucky sudah saling mengenal sejak lama. Dan itu membuat Sri semakin penasaran.
Teringat apa yang dikatakan Lucky waktu itu. Noah itu adiknya. Entah apa maksud kedua lelaki ini. Sri memang buta sama sekali dengan kehidupan Lucky, dan tidak pernah mencoba bertanya banyak.
"Pak Noah sudah kenal mas Lucky, ya?" Sri memberanikan diri untuk bertanya.
Noah menatap Sri lekat. Tak menjawab. Hanya menyunggingkan sedikit senyum. Dia mengerti kenapa Sri tidak mengenalnya sama sekali. Dan Lucky belum membuka tentang hidupnya pada istri polosnya ini.
"Nanti kamu tau sendiri." Noah menyandarkan punggungnya besikap santai. "Ya sudah, Hanya itu. Nanti kamu pulang deluan saja. Aku mengijinkan"
Sri menuruti saja. Bangkit berdiri dan melangkah keluar ruang kerja Noah. Banyak pertanyaan bergelud di otaknya. Noah tahu banyak tentang Lucky, dan begitupun Lucky sudah mengenal Noah sejak lama.
Setalh Sri menutup pintu, Noah menghela napas panjang.
__ADS_1
"Sri. Untung saja aku segera tau kalau kau istri Lucky. Jika tidak, cintaku akan semakin susah di buang" gumam Noah.