
Sri duduk di ranjangnya membelakangi pintu. Ia malu. Jantungnya berdebar kencang. Ahh.. Apa itu tadi? Kenapa langsung lari? sungguh memalukan! Sri tadi menganggap itu hanya halusinasi akibat kangen. Tapi malah ada Rian juga di rumah ibunya. Malunya setengah mati. Lucky melihatnya sangat berantakan.
Ceklek..
Deg!!
Sri mendengar pintu kamarnya terbuka. Itu pasti Lucky. Aaggrrhh... Malu!! Sri menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tidak berani melihat Lucky di belakangnya. Ini sungguh memalukan. Rambutnya masih acak-acakan, baju tidurnya pasti bau iler. Aduuhh.. Sri gugup setengah mati sekaligus merasa aneh dengan sikapnya sendiri. Segugup inikah dirinya karena Lucky melihatnya berantakan?
Lucky tersenyum simpul melihat istrinya panik. Ia melangkah ke dalam kamar setelah menutup pintu dan menguncinya. Meletakkan nampan yang berisi sarapan pagi untuk Sri. Lalu mendekati Sri yang masih menutup wajahnya.
"Sayang" panggil Lucky lembut.
Bukannya menjawab, Sri malah makin rapat menutup wajahnya. Matanya terpejam erat.
"Hehe.. Kamu kenapa?"
Lucky berusaha menarik tangan Sri. Tapi Sri menolak. mengedikkan tangannya agar tangan Lucky terlepas dari tangannya. Lucky semakin gemas melihat itu. Duduk di samping Sri dan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Mendekatkan bibirnya ke telinga Sri dan berbisik.
"tidak pa-pa, sayang. Kamu masih cantik kok. Aku tetap cinta kamu" bisiknya mesra. Dan mengecup kecil daun telinga Sri.
Seerrrr...
Darah Sri berdesir kencang. Meremang bulu kuduknya mendapat perlakuan manis dari suaminya. Tangannya reflek terbuka. Menampilkan wajah yang terpaku tegang.
"Haha.. Kamu lucu banget, sayang. Haha" Lucky tertawa renyah melihat reaksi Sri. Sri menoleh melihat wajah tampan itu tertawa. Sungguh sempurna gantengnya. Lucky menghentikan tawanya lalu menarik dagu Sri.
"Kenapa bengong? Hm? Ini aku. Bukan hantu"
"Tapi.. Tapi Sri belum mandi, Mase" lirih Sri.
"Kenapa kalau belum mandi? Justru harumnya membuatku mabuk." Lucky tersenyum sensual. Mengecup kecil bibir manis yang telah sangat ia rindukan.
"Kamu tetap manis walau belum mandi satu minggu. Jangan khawatir" Saling menatap netra masing-masing.
Hati Sri berbunga-bunga mendengar itu. Walau gombalannya kelewat ngawur. Tidak mandi satu minggu tetap manis? Yang ada Lucky pasti pingsan mencium aroma memabukkan yang berakibat fatal.
"Mase gombal!" Sri memukul dada Lucky pelan.
"Eh.. Tidak sayang. Beneran ini, kamu masih harum kok. Coba sini aku cium"
Lucky mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Sri. Mengendusnya dengan semangat. Mengecupi leher istrinya mesra. Sri sampai menggelinjang geli. Tentu saja mengendus aroma Sri itu hanya modus. Yang benar Lucky sudah tidak tahan menanggung rindu. Sesuatu yang tadinya lemah, kini menggeliat perlahan mengembang sempurna di bawah sana.
Sri mendorong dada Lucky. Memberi jarak agar Lucky tidak lebih menjilat lehernya. Masih banyak yang perlu ia tanyakan lebih dulu.
"Hmmm.. kenapa, Sri?" Lucky menggeram rendah merasa terganggu.
"Mase kapan sampe? Kenapa ndak kasi kabar dulu?"
__ADS_1
"Aku kangen kamu, sayang. Kan kejutan datang tiba-tiba. Hmm?" Kembali Lucky mengecupi tulang selangka Sri gemas.
"Tapi kenapa mas Iyan juga ikut?"
Lucky berhenti. Memundurkan kepalanya. Menatap Sri tajam. "Kenapa harus panggilan itu?"
"Eh.. Iya. Maksudnya kak Rian" Sri nyengir dan mengelus rahang Lucky agar tenang.
"Hmm.." Lucky tidak menghiraukan pertanyaan Sri. Kembali mengecupi leher istrinya.
"Mase.. Sri tanya lho" rengek Sri kesal.
Lucky berhenti lagi. Lalu duduk dengan benar. Memegangi tangan Sri.
"Dia sekalian pulang kampung. Bukan cuma Rian, tapi Noah juga ikut"
"Hah?! Pak Noah?"
Lucky menoleh menatap Sri. Ada rasa cemburu menyeruak di kalbunya melihat Sri antusias mendengar Noah juga ikut.
"Kenapa sih? Kok seneng banget kelihatannya" ketus Lucky.
"Ndak gitu Mase. Jadi benerkan, Mase sama pak Noah cuma pura-pura waktu di kamar hotel itu?"
"Hem" Lucky mengangguk. "Tapi soal Noah pingsan, itu tidak pura-pura. Mami udah menjelaskan sama kamu kan, sayang? jadi.. Lupakan itu,Sri. Aku kangen kamu. Ayo sayang"
"Sek toh maaas... Eemmpphh.."
Lucky tidak sabar. Tak dapat menahan lagi. Reaksi tubuhnya sempurna ketika berdekatan dengan Sri. Semuanya menegang dan butuh pelepasan. Tidak ada waktu untuk tanya jawab. Itu bisa nanti setelah sarafnya dingin.
Menyumpal mulut Sri dengan bibirnya. Menjilat bibir manis itu dan menyesapnya panas. Gemas ia gigit pelan sampai Sri merintih. Sri tak bisa bicara lagi. Suaminya tidak mau mengulur waktu lebih lama. Lidah Lucky menjulur menekan dengan kuat agar Sri membuka mulutnya.
Pasrah, Sri hanya menuruti. Lidah panas itu masuk dan menggeliat bersilat menggelitik setiap inci di dalam mulut Sri. Untung tadi sudah sempat sikat gigi. hehehehe..
Lucky melepaskan pagutannya kerena kehabisan napas. Napasnya tersengal memburu dengan tangan gemetar menahan gejolak napsu. Panas. Tubuhnya minta pelepasan untuk menurunkan tekanan hasrat yang membuat wajahnya memerah.
"Sayang.. Uuhmm.. Aku sangat rindu kamu" bisiknya dengan suara serak yang bergetar. Menatap sayu pada istrinya. Menjilati bibir manis dan basah istrinya akibat kenakalan lidahnya.
Tangannya bergerilya membuka kancing piyama Sri. Menarik sekali hentakan dan membuat dada Sri polos. Lucky menatap dada putih itu nanar. Mendongak lagi melihat wajah ayu istrinya. Lalu sekali caplok, masuklah ujung pinky itu ke mulutnya. Menyesapnya lembut dan memelintir dengan lidahnya sesekali.
"Uuhh.. Massee.."
Tubuh Sri melenting manja. Tak kuasa menerima gelitikan di bagian ujung dadanya. Meremas rambut belakang Lucky dengan gemas. Mengekpresikan rasa yang di beri tiada Terperi.
Puas dengan itu, Lucky merambat turun. Mengecupi di bawah gundukan indah dada istrinya. Membuat Sri menggelinjang geli. Merasakan sapuan lidah Lucky semakin merambat turun di perutnya. Sri segera tersadar akan kehamilannya. Dia belum bilang pada suaminya. Sekaranglah waktunya.
Sri mendorong kepala Lucky menjauh. Membuat lucky mengernyitkan keningnya tajam.
__ADS_1
"Ada apa sayang? Hmm? Mau gaya yang lain? Hem Hem?" Lucky menaik turunkan kedua alisnya menggoda Sri.
"Tunggu mas" Sri bangkit dari ranjang. Menutup kemeja piyamanya lagi.
Lucky mengira, Sri yang kali ini akan memimpin permainan. Segera ia menanggalkan semua kain yang melekat di tubuhnya hingga ia benar-benar telah polos. Setelah itu mengambil posisi nakal menanti sang istri memanjakannya. Lucky memerhatikan sri sambil mengurut pelan tongkat bisbolnya.
Sri tidak tau itu. Karena di membelakangi Lucky dan berdiri di depan lemari pakaian. Mengambil tas dan mengeluarkan kotak beludru panjang, warna merah. Berbalik dan agak kaget melihat posisi menantang Lucky menantinya.
"Mase.. Iihh.. Apaan sih?"
"Lho? Kan mau gaya baru, sayang. Ayo.. Aku sudah siap, baby.. Hmmm.." desah Lucky nakal.
"Apaan sih mas. Ntar dulu, ah"
Sri duduk di sisi ranjang. Menarik tangan Lucky agar duduk berjajar dengannya. Lucky menurut.
"Semua yang terjadi itu hanya akting. Bener toh mas?" tanya Sri menatap mata Lucky lekat. Lucky hanya mengangguk.
"Trus, Mase udah tau ini juga?"
Sri menyerahkan kotak merah itu pada suaminya. Lucky menerima dan membuka isinya. Melihat testpack bergaris dua. Dia tahu apa itu artinya. Tersenyum senang dan melihat istrinya lagi.
"Iya, sayang. Aku sudah tahu. Dokter Anwar yang menyampaikan itu padaku ketika kamu pingsan"
Wajah Sri langsung murung. Niat memberi surprise gagal total. Ternyata suaminya sudah tahu lebih dulu bukan dari mulutnya. Sri mengira Lucky akan terlonjak kaget. Tapi kenyataannya sangat jauh panggang dari api.
"Mase jahat! Hiks..hiks.." Sri menangis.
Lucky tersentak kaget. Tidak menyangka reaksi Sri akan seperti ini. Segera ia peluk istrinya.
"Sayang.. Maaf ya. Jangan nangis. Bukan maksudku.. "
"Awas! Sri benci Mase!"
Sri menepis tangan Lucky yang memeluknya. Bergerak menjauh. Duduk di sofa sambil terisak. Lucky panik. Tidak peduli keadaannya yang polos dengan posisi tingkat bisbol tergantung bebas. Lucky segera berlari mendekati Sri.
"Sayang.. Dengarkan aku dulu." Lucky bersimpuh di depan Sri. Menggenggam tangan Sri dan mengecupinya.
"Ndak mau! Mase jahat.. Hiks.. Mase udah tau kalo Sri hamil. Tapi Mase masih nyembunyiin semuanya dari Sri. Hikss.. Hikss.. Sri panik mas! Sri ketakutan! Sri hampir stres! Gimana kalo ada apa-apa sama anaknya Sri! Mase Ndak mikir! Awas..!"
Sri menepis tangan Lucky. Dia marah. Lucky tidak memikirkan kandungan Sri yang masih rentan. Bagaiman jika berpengaruh pada janinnya? Pastilah itu tidak bisa di maafkan. Tapi Lucky mengerti kenapa Sri jadi semarah itu. Dengan sabar, Lucky memberi pengertian pada istrinya.
"Sayang.. Aku mengerti kalau kamu marah begini. Tapi dengar dulu penjelasan ku"
Sri melengos. Tidak mau melihat wajah Lucky. Dia benar-benar kesal pada Lucky. Sekalipun Lucky membujuk, Sri tetap membuang mukanya ke arah lain sambil tersengguk dan sekaligus mengelap ingusnya dengan punggung tangannya dengan kasar. Kesal sekali rasanya.
Lucky menarik napas dalam. Melihat reaksi yang Sri tunjukkan, hasrat yang tadinya menggebu, kini luntur seketika. Tapi keadaannya masih polos. Lucky tidak peduli. Yang terpenting sekarang membujuk Sri dulu agar mengerti.
__ADS_1