
"M-ma-mase!!"
Sri terperanjat kaget melihat Lucky sudah berdiri tegak di depannya. Wajah pria itu menggelap. Menunjukkan kemarahan tiada ampun. Menatapnya tajam seolah Sri adalah objek yang harus di teliti dengan seksama.
Sreeettt..!!!
Darahnya tiba-tiba saja serasa menyembur deras. Membuka semua pori-pori di tubuhnya. Menjalar sampai terasa ke ujung-ujung saraf jari-jari tangannya.
"Mas.. K-kenapa sudah di sini?" Sri bicara tergagap saking kagetnya. Meremat tangannya sendiri yang sudah berkeringat.
"Pulang" Ucap Lucky datar dengan tatapan dingin menusuk.
"T-tapiii.. Anu.. Mase.."
Sri menelan ludahnya dengan susah payah. Melirik kearah Noah tadi pergi. Pria itu tak kelihatan. Entah kemana dia. Tapi yang lebih menyeramkan adalah sosok pria di depannya ini. Sudah terlihat seperti penampakan malaikat maut membaca pedang bermata dua.
Melihat Sri kebingungan, dengan kasar Lucky menarik paksa tangannya. Menggeret Sri sampai gadis itu tersentak ke depan dengan keras. Tangannya sempat meraih paper bag belanjaannya tadi.
"Aduuuhh.. Mase! I-itu.. tapi.."
Dengan bingung dan terkejut yang bercampur menjadi satu, Sri mencari keberadaan Noah. Tapi pria itu tak terlihat lagi batang hidungnya. Noah hanya ingin membeli roti panggang. Tapi mungkin tempatnya agak jauh.
Lucky tak menghiraukan ocehan Sri. Kemarahannya sudah di ubun-ubun. Ingin memberi pelajaran pada gadis pembohong ini. Enak-enakan selingkuh tapi tidak mengaku.
Lucky terus menarik tangan Sri menyebrang jalan. Banyak kendaraan yang membunyikan klakson bersahutan karena Lucky tak melihat kanan kirinya, langsung saja menerobos menyeberangi jalan. Hanya sebelah tangannya lurus merentang kesamping untuk memberhentikan kendaraan yang melintas.
Susah payah Sri mengimbangi langkah lebar Lucky, sampai ia harus berlari-lari kecil di belakang pria itu. Tubuh tinggi tegap Lucky bagaikan algojo yang sebentar lagi akan mengeksekusi mati dirinya di tiang gantungan.
Sesampainya di mobil, Lucky membuka pintunya dan menarik Sri dengan paksa dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Hekhh!!"
Sri menahan napas ketika terhempas di jok belakang mobil. Lucky melemparkannya bagai kain lusuh seringan kapas. Lalu menutup pintu mobil dengan hempasan kencang.
BLAM!!
Sri sampai menutup matanya erat saking kencangnya pintu mobil menutup di sampingnya. Tubuhnya bergetar takut melihat Lucky berjalan memutari mobil dan membuka pintu lain. Duduk di belakang setir seraya melirik Sri dengan tatapan dingin membunuh. Menyalakan mesin mobil tanpa berkata sepatah kata pun. Lalu menjalankan mobilnya dengan kencang.
Sementara Noah tercengang melihat Sri sudah menghilang ketika dia kembali dengan membawa roti bakar yang baru saja di belinya.
"Kemana dia?" gumam Noah.
Mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Tapi dia tidak dapat menemukan Sri. Cepat-cepat Noah mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Sri. Tapi gadis itu tidak mengangkat panggilannya.
Noah kebingungan mencari Sri. Ketika seseorang yang juga pengunjung memberitahunya kalau Sri sudah pergi.
"Nona itu sudah pergi tuan" ujar salah seorang yang juga seorang pengunjung.
"Ohh.. ya, maaf. Tapi dia pergi kemana tuan?" tanya Noah penasaran.
"Tadi ada yang datang dan menariknya. Memasukkannya ke dalam mobil di seberang sana" Orang itu menunjuk seberang jalan.
__ADS_1
Noah diam dan berpikir cepat. Apakah Sri di culik? Kalau mendengar kesaksian pengunjung tadi, sepertinya Sri di culik. Tapi.. apa benar? Seandainya Sri di culik, Jarak tempat ini ke seberang jalan cukup jauh. Tidak mungkin Sri tidak berteriak ketika orang itu menyeretnya menyeberangi jalan.
"Bagaimana ciri-ciri orang yang membawanya tuan?" tanya Noah lagi.
"Sama seperti tuan" jawabnya.
Noah diam mematung. Apa mungkin temannya Sri? Tapi jika sama sepertinya, berarti seorang laki-laki. Tapi kenapa Sri tidak mau menerima panggilan teleponnya? Dan kenapa pergi dengan sangat terburu-buru dan tidak menunggunya kembali?
❤️
🌹
❤️
Sesampainya di kondominium, Lucky kembali menyeret Sri memasuki kamar mereka. Sapaan Baris pun tak di hiraukan Lucky. Sri menatap Baris dengan tatapan mata meminta tolong. Tapi Baris tidak bisa berbuat apa-apa. Dia melihat Lucky tidak akan bisa di ajak berkompromi, dan matanya menunjukkan Lucky tidak mau ada protes apapun saat ini.
Membuka pintu dan berhenti menatap baris sejenak.
"Aku tidak ingin di ganggu. Usir semua orang yang mendekat"
Itu perintah Lucky. Tidak ada kata tidak atau kata tanya setelahnya. Baris hanya bisa mengangguk dan membungkuk hormat. Lucky kembali menarik Sri masuk kedalam kamar. Menghempaskan Sri ke tempat tidur. Sri terhempas dengan paper bag berhamburan di ranjang. Lucky Mengunci kamar dan menyimpan cardlock itu di sakunya.
Menatap Sri tajam bagaikan mata serigala yang sedang mengintai musuhnya. Tubuh Sri bergidik saking ngerinya. Meremas tangannya resah. Tidak mengerti kenapa Lucky menjadi sangat dingin dan terlihat marah.
Lucky melirik paper bag yang sudah menghamburkan isinya keluar. Tatapan itu sangat terlihat ngeri. Memicingkan matanya melihat apa isi paper bag itu. Lalu menatap Sri lagi seraya menggulung lengan kemejanya sampai ke siku. Lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Dari mana kamu?" tanya Lucky dingin.
"Jawab aku!" sentak Lucky kenang.
Sri sampai terjengkit kaget mendengar suara lantang itu. Menggigil ketakutan melihat mata Lucky yang berkilat malah.
"Sri cu-cuma jalan sebentar Mase. Ojo marah Lo" jawab Sri dengan suara bergetar ngeri.
"Sama siapa?" Tanya Lucky lagi dengan penekanan intonasi suaranya.
Sri bingung. Kalau dia bilang dengan Noah, pasti Lucky akan marah. Tapi jika dia berbohong, maka sama saja. Matilah dia kali ini.
"T-tadi sama t-te-man, Mase" jawab Sri terputus-putus. Napasnya seperti berhenti hanya sampai di tenggorokan saja. Susah payah menjawab dengan kerongkongan yang terasa kering.
Lucky bergerak mendekati Sri. Menatap mata Sri lekat-lekat. Mencondongkan tubuhnya ke depan Sri. Sontak saja Sri beringsut mundur. Takut kalau Lucky tiba-tiba mencekiknya. Wajahnya pias seputih kapas.
"Siapa dia?" desis Lucky bertanya tepat di depan wajah Sri.
Glek!
Susah rasanya untuk membuka mulutnya. tenggorokannya kering kerontang. Di tambah lagi debaran jantungnya yang ingin melompat dari tempatnya.
Lucky meraih dagu Sri dan menghadapkannya tepat di depan wajahnya. Wajah lucky sangat dekat sekali. jarak mereka hanya beberapa senti saja.
"Aku tidak suka melihat mu dengan orang lain!" suara lucky terdengar berat. Suara yang didalamnya mengandung peringatan yang tidak bisa di bantah.
__ADS_1
Sri diam tak bergerak. Menatap mata besar de depan wajahnya. Dia bisa merasakan napas Lucky memburu saking geramnya. Lucky menatap wajah Sri dari mata sampai ke bibirnya. Lalu tiba-tiba menghempaskan wajah Sri Samapi Sri terhentak kesamping kiri.
Lucky menarik semua paper bag dan isinya. Merentangkan beberapa potong pakaian yang baru di beli Noah untuknya.
"ini menjijikkan!" desis Lucky seakan bicara pada dirinya sendiri. Berbalik dan berjalan ke arah tempat sampah yang ada di dekat pintu masuk. Membuka wadah sampah itu dan melemparkan paper bag dan isinya ke sana. Menutup lagi lagi menepuk-nepuk tangannya seakan baru saja membuang debu yang melekat di tangannya.
Melihat itu, keberanian Sri sontak kembali datang dan memenuhi rongga dadanya. Mendelik melihat Lucky membuang baju-baju itu ke tempat sampah.
"Mase! kenapa di buang?" Sri merasa itu keterlaluan. Protes langsung saja di layangkan. Sri beranjak dari ranjang, melangkah tergesa ke arah Lucky.
Sssiing!!!
Lucky menoleh menatapnya pagaikan goresan silet yang siap melukai kulit siapa saja yang terkena tatapan membunuh itu. Sri sontak berhenti. Berdiri mematung sebelum sampai ke tempat sampah. Lalu laki berbalik dan berjalan pelan mendekati Sri.
Belum sempat Sri menghindar, Lucky sudah menarik tangannya dengan kencang. Membuat tubuh Sri sontak maju kedepan dan menubruk dada Lucky. Mereka saling menatap. Mata Lucky sangat jelas tersirat kemarahan yang siap meledak.
"Kenapa? Hah? karena kekasih mu itu yang membelikan untuk mu? itu hanya sampah yang tak pantas berada di tubuh mu" Lucky menggeram menatap mata Sri.
"Hah? kekasih? Sampah?' Sri menautkan alisnya.
"Aku sudah melihatnya. Kekasih jelek mu itu. Selingkuhan yang tak pantas di bandingkan dengan ku" pongah Lucky.
Sri mendelik. Menatap Lucky tak percaya kalau dari bibir pria ini lah kata-kata itu keluar barusan. Lucky meraih dagu Sri. Menengadahkan wajah Sri lebih dekat padanya. Menarik pinggang Sri lebih merapat padanya.
Sri kaget dan cepat meremas tengan Lucky agar melepaskannya. Tapi dia kalah tenaga. Tangan kokoh itu merengkuhnya kuat.
"Kau milik ku. Tidak ada yang bisa mendekati mu selain aku"
Suara berat Lucky bagaikan Guntur yang keras di telinga Sri. Dia tidak mengerti kenapa pria ini mendadak menjadi posesif.
"T-tapi.. Dia bukan selingkuhan ku Mase.."
Sri mencoba meralat kata-kata Lucky yang menurutnya salah. Bagaimana bisa pria ini mengatakan kalau Noah adalah kekasihnya.
"Dia sudah mengecup ini?" Lucky mengusap bibir Sri dengan jempolnya.
Sri bergidik ngeri seraya menggeleng kuat. Rasanya ingin lari jika ada kesempatan. Tapi tangan Lucky terlalu kuat merengkuh tubuhnya.
"Kau sudah mempraktekkan pelajaran ku kemarin?"
Lagi lagi Sri menggeleng kuat. Menatap wajah Lucky dengan nanar. Jantungnya berdegup kencang. meremas tangan Lucky yang melingkari pinggangnya dengan kuat. Tak memberi Sri ruang untuk melepaskan diri.
"Bibir ini milik ku. Jangan pernah memberinya pada orang lain selain aku" bisik Lucky mendesis di depan wajah Sri.
Kini jarak mereka hanya berada dalam hitungan inci. Lucky semakin mendekat dan menjulurkan lidahnya menji Lat bibir manis Sri. Sontak saja Sri memejamkan matanya merasakan sapuan lidah panas dan basah itu di bibirnya, membuat Sri bergidik dan menahan napas. Aliran listrik tegangan rendah menjalari darahnya.
Napas mereka tersengal terputus-putus. Lucky menatap lekat wajah polos di depannya. Gemas memikirkan kalau Sri sudah mempraktekkan ciumannya pada lelaki yang tadi bersamanya. Mengingat itu, dada Lucky seakan terbakar. Panas yang tak Terperi.
"Mmpphh.."
Bibir Lucky melekat erat pada bibir Sri. Mema gutnya lembut. Menyesap bibir manis yang dia tak rela jika Sri memberinya pada pria busuk yang bersamanya tadi. Menyumpal mulut Sri hingga gadis itu tak bisa bicara untuk menyampaikan protesnya.
__ADS_1