
Cinta itu memang indah. Tidak dapat mengungkapkannya hanya dengan kata-kata. Karena kata belum mampu untuk menguraikan rasa dari cinta itu sendiri. Bahagia yang menggunung, rasa nyaman ketika bersama, dan masih banyak rasa bahagia lainnya yang membuncah siap diledakkan.
Akibat kebucinan suaminya, Sri terjebak di ruangan Presdir sampai menjelang jam kerja usai. Lucky menyandera Sri di ruangannya dan tidak ingin melepas sedikit pun. Sri kewalahan meredam keinginan mesum suaminya. Membujuk untuk tidak berbuat lebih. Membuat Lucky cemberut.
"Ojo nesu Mase. Entar di rumah"
"Di sini juga bisa, sayang" Lucky masih merayunya.
Wajah Sri merah padam. Malu dan risih menjadi satu. Lucky masih mendusal di ceruk lehernya. Mengecupi sampai bagian tuan selangkanya.
"Ini kan di kantor lho, mas. Ndak baik"
"Eehhmm..." Lucky seperti tak mendengarkan apa yang dikatakan Sri. Menggeram gemas seperti ingin menerkam Sri saat ini juga.
Sri tersenyum geli melihat wajah Lucky menahan hasratnya mati-matian. Mengecupi pipinya bertubi-tubi. seluruh wajah Sri habis jadi sasaran bibir Lucky.
"Ssshhh.. sayang. Aku kangen kamu. Nih nih.. tegang sayang"
Lucky agak melorotkan duduknya. Lalu menghentakkan pinggulnya keatas. Menyundul bokong Sri di pangkuannya. Sri blingsatan tak karuan. Wajahnya merah padam menahan malu. Memalingkan wajahnya tak berani menatap suaminya dalam mode mesum tingkat tinggi.
"Ojo ngono Mase" lirih Sri. Menelan ludahnya susah payah. Sangat ngeri merasakan gundukan keras di bawah bokongnya.
Lucky tersenyum smirk. Bukannya berhenti, dia semakin bergerak intens. Bergerak liar menyundul ke atas. Memegangi pinggul Sri erat, sambil matanya menatap wajah Sri dengan reaksi berubah-ubah.
Sri memegangi tangan Lucky di pinggulnya. Ingin menarik agar terlepas. Tapi tangan kokoh dan gerakan pinggul Lucky membuatnya merinding terhentak-hentak naik turun di pangkuan suaminya.
Sri menggigit bibir bawahnya. Memejamkan mata menahan serangan Lucky. Mengerang lirih seakan takut suaranya akan menggema ke seluruh gedung. Sesuatu di antara kedua paha Lucky membumbung keras. Bagaikan menduduki kayu sebesar lengan bayi. Bergidik merinding Sri di buatnya.
Lucky bergerak memperbaiki duduknya lagi. Memeluk Sri erat. Tangannya mulai aktif membuka satu persatu kancing blus istrinya. Sri menahan tangan kokoh itu agar berhenti. Tapi Lucky hanya tersenyum dan terus melanjutkan aksinya.
"Mas.. Jangan di sini" lirih Sri menolak.
"Hmm.. aku ingin di sini sayang" serak suara Lucky.
Sudah berhasil membuka kancing bagian depan baju Sri. Menampilkan dada indah putih mulus yang masih tertutup bra. Menaikkan bra itu keatas. Menyembulkan bukit besar Sri menggantung indah.
Lucky menangkup sebelah. Meremas dengan tangan bergetar. Dan bibirnya tak mau kalah. Langsung mencucup pu**Ng pinky di depannya.
"Hegghh.."
Sri melenguh ketika merasakan kedua ujung pinkynya di pilin dan diisap hangat. Memejamkan matanya dengan tubuh bergetar. Meremas rambut belakang Lucky gemas.
"Maass.. "
"Hemm.."
Hanya itu yang bisa mereka ucapkan. Tak mampu mengeluarkan suara lebih. Asik meresapi rasa indah yang tercipta. Lucky tak peduli masih berada di kantor. Dia tak dapat menahan diri ketika berdekatan dengan istrinya.
Lucky melepaskan isapan itu. Mendorong tubuh Sri kedepannya. Membuat Sri menahan tubuhnya miring di pinggir meja kerja besar itu. Lucky bergerak terburu-buru membuka resleting celananya. Mengeluarkan jagoan gemuk yang sudah sangat sakit minta pembebasan.
Sri melirik apa yang di lakukan Lucky. Terperanjat mendelik kaget melihat jagoan gemuk berurat itu. Lucky memegangnya dan menampar-namparkan di pinggul Sri.
Astaga!! Mase edaaann!!
Sri menjerit dalam hati. Melirik wajah mesum suaminya. Lucky malah tersenyum senang sudah membuat istrinya kelabakan. Menarik keatas sedikit rok Sri. Lalu menyingkap kain kecil di bokong istrinya.
"Aduuhh.. Mase Ojo ngene lhoo.."
Sri berusaha menutup kembali. Tapi tangan Lucky menahannya. Wajah Sri sudah sangat merah padam menahan malu dan gairah sekaligus. Menatap netra Lucky memohon menghentikan itu.
__ADS_1
Dasar Lucky mesum, bukannya berhenti malah dia tersenyum sensual. Menempatkan kepala jagoannya yang sudah mengembang seperti jamur, tepat di bagian inti Sri yang mengintip kecil.
Menggesek sebentar, lalu menghujam perlahan. Sri mendelik merasakan sensasi aneh yang menggelenyar dalam tubuhnya. Tak dapat menghentikan lagi apa yang di lakukan Lucky.
Dasar pasangan edan! Melakukan dalam keadaan duduk dan hanya sedikit yang terbuka, menyuguhkan sensasi baru bagi keduanya.
"Aahhh..." Sri menjerit lirih.
"Agghhrr..." Lucky mengeram serak.
Penyatuan terjadi. Lucky menarik tubuh Sri untuk duduk tegak lagi. Mendiamkan jagoannya di dalam lembah hangat istrinya. Memeluk Sri erat. Merasakan denyutan dalam sesak di inti masing-masing.
Sri terpejam erat sambil terengah. Tangannya masih menarik rambut belakang Lucky dengan gemas. Merasakan sesak dan nikmat sekaligus.
"Maassee.. mesum!" masih bisa berkata begitu sambil terpejam.
"Hmm.. hangat, sayang. Kau sempit sekali" Erang Lucky.
Sontak Sri membuka matanya dan menatap netra Lucky. Seakan protes kenapa di sini dan dalam keadaan duduk di pangkuan Lucky. Tapi Lucky hanya tersenyum sensual. Dia tahu protes yang di layangkan Sri lewat tatapan matanya. Tapi sensasi ini sungguh mendebarkan hatinya.
Mulai bergerak maju mundur. Membuat Sri memukuli punggung Lucky pelan. Suami mesumnya ini pasti tidak akan berhenti lagi. Sri menggigit bibitnya keras. Merasakan sensasi sesak yang nikmat. Membiarkan saja Lucky menghujamnya lembut.
"Enak, sayang? hmm?" tanya Lucky berbisik.
Sri malu. Memalingkan lagi wajahnya kearah lain. Menggigit bibirnya makin keras. Nikmat itu tak dapat di tolak. Tubuhnya bergidik dan bergetar halus. Batang kokoh itu menyumpal intinya penuh. Menggesek perlahan keluar masuk.
"Sriiii.. sshhh... cinta kuuu.. Aahh.. ini nikmat sayaaanghh"
Lucky melenguh dan meracau. Sangat gemas melihat Sri menahan nikmat dengan menutup mulutnya agar tak lepas jeritan keras. Lucky bergerak perlahan saja. Tapi menghujam keras. Memilin ujung pinky istrinya lembut.
Sri tidak kuat untuk berdiam diri. Rasa itu menuntutnya untuk bereaksi. Melihat pada mata Lucky. Mereka saling menatap dengan pancaran sejuta cinta dan mesra. Lucky menjulurkan lidahnya. Meminta Sri menyambutnya.
Tersengal napas keduanya. Terengah penuh racauan. Menatap sayu penuh hasrat yang siap di salurkan. Masih dengan posisi yang sama dan tak ingin menghentikan.
TOK..TOK.. TOK..!!
Deg!!
Keduanya berhenti. Ketukan di pintu mengangetkan keduanya. Jantung Sri mencelos ngeri. Mendelik menatap Lucky. Dan Lucky terlihat frustasi atas gangguan itu.
"Mase.. ada yang datang"
Sri bergerak ingin melepaskan diri. Tapi lucky masih menahannya. Menggerakkan pinggulnya lagi sambil menatap ke arah pintu dengan geram. Setelah ini, pasti dia akan membunuh Beni.
TOK..TOK..TOK..
"Lucky! Ayo cepatlah. Rapat akan segera di mulai"
Mereka berdua saling pandang lagi. Itu suara Noah. Lucky sampai lupa kalau waktunya hanya tersisa sedikit. Dia harus mengadakan rapat lagi dengan dewan direksi. Begitu bertemu Sri, segalanya langsung ambyaarr...
Sri menggeliat keras. Memaksa untuk terlepas dan bangkit. Dia panik mendengar suara Noah di luar. Tapi gerakan Sri membuat Lucky semakin menggeram nikmat. Sensasi indah langsung menyebar di tubuhnya.
"Aahh.. bergerak lagi sayang" erang Lucky memejamkan matanya.
Sri melotot panik melihat Lucky. Bukannya melepaskan, justru makin keenakan.
"Iisshh.. Mase! Ojo ngono! ada pak Noah itu" Sri memukul dada Lucky pelan. Sambil terus bergerak minta di lepaskan tangan kokoh Lucky di pinggulnya.
"Iyaahh.. begitu sayang.. oowwhh"
__ADS_1
"Lucky! Mereka menunggu mu!" suara Noah lebih sedikit kencang.
Sri mendelik semakin panik. Tapi melihat Lucky merem melek, Sri kebingungan sendiri. Tapi tak bisa di biarkan begitu saja. Biarlah di lanjutkan di lain waktu. Sri menyentak bangkit dengan keras.
Pluk!!
Penyatuan terlepas. Jagoan gemuk tampak berkilat basah mengacung mengangguk menantang dengan pongahnya. Sri bergidik melihat itu. Membenahi baju dan roknya. Membuat Lucky kewalahan merasa kehilangan ruang sempit yang hangat itu. Sri sudah berhasil terlepas.
"Mas.. toilet?" Sri sungguh panik.
Lucky menggeram kesal melihat ke pintu. Bertambah satu lagi orang yang akan ia bunuh. Noah!
Lucky bangkit berdiri masih membiarkan jagoannya menggantung bergoyang bebas. Sri membuang muka, malu melihat jagoan Lucky masih belum tuntas.
""Ayo sini sayang"
Lucky menarik tangan Sri ke arah kanan. Menunjukkan kamar mandi yang ada di kamar pribadinya di ruangan ini.
Tok.. tok..tok..
"Waktumu lima menit Luck!" seru Noah dari luar.
Lucky menggeram kesal sekali. Melirik pintu seakan ingin mengebomnya saat ini juga. Menoleh menatap Sri lagi.
"Ada kamar mandi di dalam sini. Aku ada rapat. Kamu istirahat saja di sini. Nanti aku menjemput mu. Oke?"
"Tapi Mase.. Sri masih ada pekerjaan sedikit lagi"
Entah karena belum tuntas, atau memang Lucky kecanduan bibir istrinya. Melihat bibir itu bergerak berbicara, Lucky gemas. Langsung saja melum** lagi bibir Sri.
"Uummpphh"
Sri kaget. Lucky menyesap lagi dengan liar. Merasa belum puas. Mendorong Sri ke dinding kamar. Menaikkan satu paha Sri. Membimbing jagoan gemuknya lagi ke bibir bawah istrinya. Menggesek di sana mencari jalan.
Sri mendorong wajah Lucky melepas luma***nya. Terengah sesak napas.
"Maseee.. hhhh.. jangan" keluhnya.
"Aahh.. aku tidak bisa berhenti, sayang"
"Uugghh.."
Sri tersentak begitu Lucky berhasil menerobos lagi. Menghentak Sri mepet ke dinding. Menghujamnya lembut dan kencang sekaligus. Membuat Sri megap-megap merasakan jagoan yang menggaruk ke dalam intinya.
Tapi Lucky berhenti dan mencabut jagoannya begitu saja. Terengah menatap Sri dengan sayu.
"Aku tidak punya banyak waktu sayang. Nanti kita lanjutkan"
Ujar Lucky terengah. Menjaga dari Sri dan mengambil tisu. Membersikan jagoannya ke kamar mandi. Keluar lagi setelah selesai. Menatap Sri mesra.
"Masih mau?" tanyanya menggoda.
Sri tertunduk malu. Wajahnya merah padam. Lucky terkekeh senang.
"Nanti kita lanjutkan lagi, sayang" Lucky mengecup bibir sri lembut. "Aku harus membereskan kedua orang menyebalkan itu dulu"
Sri mengernyitkan dahi. "Siapa mas?"
"Sekertaris berengsek, dan selingkuhan mu yang jelek itu!"
__ADS_1
š± itu pasti Noah!