OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Makan Malam Romantis


__ADS_3

Cinta. Apa itu cinta? bagi Sri, cinta itu adalah anugrah dari Tuhan sang pencipta. Suatu rasa yang di titipkan di hati setiap insan di dunia. Rasa ketertarikan yang tidak hanya di ungkapkan dengan kata, tapi juga dengan tindakan tentunya.


Sanggup berkorban apa saja tanpa berharap pamrih yang setimpal dari orang yang kita cinta. Apa itu tidak terlalu naif? Masih adakah cinta yang seperti itu di dunia ini? Hhh.. Sri merasa itu hanya ucapan tanpa bukti. Banyak orang mencintai dan mengharapkan lawan jenisnya akan memberi cinta yang sama. Jika tidak, pasti akan merasa sangat kecewa.


Kebimbangan itu yang kini hadir di hati Sri. Di satu sisi, dia mencintai Lucky suaminya. Tapi di sisi yang lain, dia juga merasa bersalah telah melangkahi kesepakatannya bersama Lucky. Dan mengenai Amira, apa dia tidak terlalu kejam pada gadis itu?


Amira juga punya perasaan dan cinta untuk Lucky. Dan jika Lucky kini melanggar janjinya demi Sri, apa itu tidak kelewatan? Tentu saja Amira merasa kecewa dan sakit hati. Tapi, bagaimana dengan hati Sri sendiri? apa ini yang di katakan cinta butuh pengorbanan?


Sri Sudah melihat video yang di kirim Lucky lewat email tadi. Dan dia bisa mengerti bahwa Lucky lebih memilihnya ketimbang Amira. Tidak ada kejadian yang membuatnya sakit hati lagi. Tapi sekarang masalahnya, hati Sri menjadi semakin nelangsa melihat betapa cintanya Amira pada Lucky. Jika dia bersikeras mempertahankan Lucky, apa dia tidak terlalu kejam pada Amira?


Agnes menemaninya duduk di bangku taman kota. Tadi Sri membawa Agnes untuk menemaninya setelah minta ijin pada Noah untuk pulang lebih awal. Dan Noah mengijinkan. Berkali-kali sudah ia tonton video cctv itu. Berkali-kali juga Sri menghela napas berat.


"Sri" Agnes menyentuh pundak Sri. " Boleh aku kasih saran?"


Sri menoleh sejenak. Dengan lemah, ia mengangguk.


"Kamu jangan jadi bimbang begini. Tuan Lucky kan sudah jadi suami sah mu. Kamu harus kuat Sri. Kalau aku lihat di video itu, tuan Lucky mencintai mu dan lebih memilih mu"


Sri menunduk. Melihat lagi video di ponselnya. Visual Lucky dan Amira yang sedang menangis.


"Apa aku Ndak terlalu kejam, mbak Nes? Mbak Amira cinta mati sama Mase" Ujar Sri lirih.


"Kalau kamu malah ngelepasin suami mu, pasti tuan Lucky kecewa. Karena dia udah mutusin nona Amira itu demi kamu, Sri"


"Sri bingung. Sri kasihan sama mbake Amira, mbak Nes. Kalau Sri yang di posisi dia, apa Sri gak bunuh diri?" Sri menatap Agnes dengan wajah melas.


"Trus, kalau kamu nyerahin tuan Lucky sama nona Amira, apa menurut mu tuan Lucky akan senang dan bahagia? pasti lah hubungan mereka berdua juga udah gak kayak dulu"


Sri menatap lurus. Seakan mengenang momen bahagia yang sudah terbangun belakangan ini bersama Lucky. Mereka sangat menikmati kebersamaan indah tanpa Amira. Ingat ciuman Lucky ketika di rumah Oma. Lucky bilang itu cinta.


"Kamu itu cinta gak sih, sama suamimu?" Agnes gemas.


"Ya cinta, mbak. Kalo Ndak cinta mana aku mau di unyel-unyel sama Mase"


Agnes tersenyum mendengar itu. Bisa mengerti dilema di hati Sri. Sebenarnya Sri hanya tidak mau menjadi orang kejam yang akan menyakiti Amira.


"Kalau gitu, ya pertahanin dong. Masak kamu mau suamimu jadi ngunyel-ngunyel perempuan lain? apa kamu rela?"


"Eehh.. ya Ndak la mbak Nes!"


"Naahh... itu. Makanya suami itu jangan di tinggal lama-lama. Entar kalau udah ngunyel yang lain, kamu nyesel lho"


Sri terdiam. Memikirkan omongan Agnes. Membenarkan apa yang di katakan Agnes. Jangan pernah memberi peluang untuk orang ketiga. Bisa tambah runyam masalahnya.


"Sri, tuan Lucky putus sama nona Amira, itu sudah seharusnya. Tuan Lucky udah bener itu. Dia gak mau buat dosa dengan masih berhubungan sama gadis lain. Kamu kok malah nyuruh dia selingkuh?"


"Lho? Ndak nyuruh loh, mbak Nes. Sri cuma kasihan sama mbak Amira" Sri protes.

__ADS_1


"Nih.. coba pikir Sri. Kalau mereka berdua masih berhubungan, kamu pikir nona Amira juga mikirin kamu? belum tentu neng!"


"Hah? neng? Neneng? bukan mbak.. aku Sri lho mbake"


Agnes menepuk jidatnya. Sri ini lugu atau apa sih? Gemas ia cubit lengan Sri.


"Aduuhh.. sakit mbak" Sri mengusap bekas cubitan Agnes di lengannya. Rasanya perih juga.


"Udah lah.. jangan terlalu di pikirin masalah nona Amira itu. Secara dia artis. Masih banyak cowok-cowok keren yang naksir dia. Tuan Lucky itu suami mu, cuma milik mu. Apalagi tuan Lucky itu keren abis. Kaya, ganteng, cerdas. Kamu gak takut kalau paha kokohnya itu di belai cewek lain? dadanya di kecup, bibirnya di..."


"Eee..eee.. e..... Mbak Agnes Iki opo toh yo? kok malah mesum?"


"Hehehe.."


Agnes nyengir kuda. Kebablasan membicarakan penampakan suami Sri yang gagah perkasa di depan istrinya. Agnes gendeng.


"Tapi, Mase tadi udah marah sama aku, mbak Nes. Trus gimana lagi?"


"Yaelaaahh.. kamu itu istrinya. Ya gampang lah itu"


"Haaa.. piye mbak piye?" Sri tampak antusias mendengarkan Agnes yang akan membatunya memebri solusi.


"Ntar malem, kamu siap-siap. Pakek tu lingerie paling seksi yang kamu punya. Bila perlu gak usah pake lingerie sekalian! kamu buat suami kamu klepek-klepek"


"Hah? Mesti ngono yo, mbak?"


"Kok mbak Agnes tau?"


"Eh.."


Agnes gelagepan. Mau bilang apa kalau di tanya itu? dia belum punya suami. Kok bisa lebih ngerti ketimbang Sri? Agnes garuk-garuk kepala.


"Itu yang kakak aku bilang. Katanya, kalau suami ngambek, langsung kasi servis yang memuaskan. Di jamin tu muka bakalan penuh senyum"


"Ohh.. gitu... Kirain mbak Agnes yang udah ngalamin"


"Hehe.. kamu bisa aja Sri"


Agnes menendang bahu Sri dengan bahunya sambil mesem-mesem malu.


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Setelah mendapat pencerahan dari Agnes, Sri jadi ada semangat lagi. Meneguhkan hatinya untuk tetap mempertahankan rumah tangganya. Dan lagi pula, suaminya ternyata mencintainya. Apa salahnya jika dia mempertahankan Lucky? Dan mengenai Amira, semoga saja Lucky benar-benar sudah menjauh darinya.

__ADS_1


Lucky belum pulang ketika Sri sampai di mansion. Segera saja Sri meminta pak Sam untuk memasak menu spesial untuknya dan Lucky. Sri ingin memanjakan suaminya malam ini.


Mengingat saran Agnes, harus pakai lingerie paling seksi yang Lucky suka. Ia berinisiatif untuk memulai lebih agresif lebih dulu. Tadi Sri sudah menolak Lucky. Sekarang harus membuka peluang untuk suaminya tersenyum kembali.


Setelah bersiap selesai mandi, Sri turun ke bawah. Bertanya pada pak Sam apa persiapannya sudah siap. Meminta pak Sam menyediakan makan malam romantis di tepi kolam renang belakang mansion. Sri sudah pakai gaun malam indah untuk dinner dengan Lucky. Biar lah di rumah saja. Yang penting romantis. Toh mansion ini tidak kalah mewah dari hotel bintang tujuh. (punyer sakit kepala 🄓).


Menanti Lucky pulang dengan berdebar. Sengaja tidak bertanya pada Lucky dan tidak mengabarinya. Ingin memberi kejutan indah pada suaminya. Sri senyum-senyum sendiri membayangkan nanti Lucky akan senang dan pasti akan kaget melihat ini.


Tapi penantian itu sungguh melelahkan. Orang bilang, menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Sri duduk gelisah di ruang depan. Pak Sam menemaninya dengan setia.


"Pakne, belum ada kabar dari Mase toh?"


"Belum, nona" Pak Sam membungkuk hormat.


"Mase kemana sih ya? durung muleh"


Memandang ke luar pintu utama. Berharap Lucky segera muncul. Tapi hanya kesunyian yang ada di luar mansion.


Membuka aplikasi chatingnya. Membuka chat Lucky, dan mengecek last seen nya. Tapi itu sudah beberapa jam yang lalu. Ragu untuk mengechat dan menanyakan Lucky di mana sekarang.


"Maaf, nona Sri. Lebih baik nona menghubungi tuan muda saja" ujar pak Sam memberi saran.


"Laahh.. ora dadi kejutan dong pakne.." Sri menolak.


Pak Sam diam. Ada kecemasan melanda lelaki tua itu. Tapi Sri tidak memperhatikan. Masih saja sibuk membalas chating Nunik.


"Itu lebih baik nona. Tuan Lucky akan segera pulang jika nona menghubunginya" pak Sam memberi saran lagi.


Sri menimbang sesaat. Saran pak Sam ada benarnya. Tapi jadi gagal dong kejutannya kalau dia menghubungi Lucky? lagi pula Sri takut mengganggu Lucky. Siapa tahu dia sedang bersama rekan bisnis, atau sedang sibuk kerja.


Atau lebih baik menghubungi Beni. Pasti dia tahu dimana Lucky sekarang. Dia akan meminta Beni untuk memberi alasan pada Lucky untuk segera pulang. Sri juga sudah lelah menunggu lama. Ini sudah hampir jam sepuluh malam.


Ting..Ting


Belum sempat Sri mengetik pesan pada Beni, ada pesan masuk dari nomor tak di kenal. Sri memperhatikan nomor ponsel itu dengan kening berkerut. Dia tidak mengenal nomor siapa itu. Tapi terlihat nomor itu mengirim sebuah foto.


Dengan ragu, Sri mengecek lebih dulu. Tidak ada tanda-tanda Sri mengenalnya. Tapi penasaran ingin tahu foto apa yang di kirimkan padanya. Sri segera membuka pesan itu dengan penasaran.


Duuaarrr!!


Sri terhenyak kaget. Jantungnya berhenti berdetak. Itu foto Lucky sedang ada di sebuah club. Minum dengan beberapa orang yang Sri tidak kenal. Dan yang lebih menyakitkan, Ada wajah yang terbidik separuh dengan senyum mengejek.


Itu Amira. Dia mengambil bidikan berswa foto dengan background Lucky sedang mabuk. Jantung Sri serasa di remas kuat. Menjadi sesak seketika. Tangan Sri gemetar. Matanya berkaca-kaca. Pak Sam sampai kebingungan dengan cemas mendekati Sri.


"Nona Sri, anda baik-baik saja?"


Sri tidak menjawab. Hanya air matanya luruh meluncur begitu saja. Sudah lama menunggu tapi hanya foto ini yang di dapat. Lucky bersama Amira. Lalu apa yang dikatakannya di kantor itu adalah kebohongan? dan apa yang di video itu adalah rekayasa? Apa ini? permainan apa yang telah di aminkan Lucky?

__ADS_1


Sri berlari kekamarnya. Meninggalkan pak Sam yang terbengong melihat itu. Sri tak peduli lagi dengan makan malam yang telah di persiapkan menyambut suaminya. Hatinya sakit. Ingin melampiaskan rasa kesal dan kecewa.


__ADS_2