
Jika Lucky terserang sindrom kehamilan simpatik, lain lagi keadaan sri. Kini wanita itu makin rajin. Tapi rajin tidur. Selain muntah-muntah akibat morning sick, Sri lebih rajin bergelung di bawah selimut. š itu mah namanya malas.
Dia bersyukur sebelum pergi dari mansion, sudah lebih dulu menyimpan baju Lucky yang belum di cuci. Sri merasa, aroma tubuh Lucky yang masih menempel di bajunya adalah obat mujarab untuk morning sick nya, dan juga menemaninya di saat tidur.
Menghendus aromanya membuat Sri nyaman. Saking nyamanya sampai lebih sering tidur dari pada beraktivitas. Tidak bisa bertemu dan tak bisa mengecupi dada suaminya membuat Sri jadi sedih. Beruntung baju kemeja Lucky bisa jadi pengganti.
Warti masuk ke kamar Sri untuk memeriksa putrinya. Sedari pagi tadi setelah muntah, Sri tidak keluar kamar. Agnes dan Melani lagi sibuk di dapur.
"Sri, tangi lho nduk.. Ngopo kok turu wae?" Warti mengguncang bahu Sri pelan.
Sri menggeliat malas. Menoleh menatap ibunya dengan mata setengah terbuka, lalu tidur lagi.
"Lho.. Piye toh? Tangi nduk. Mangan sek"
"Males bune" Sri semakin erat memeluk bantal gulingnya.
Warti menghela napas panjang. Menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi Warti agak mengerutkan keningnya. Memperhatikan bantal guling yang di peluk Sri.
"Lho? apa itu yang kamu peluk, Sri?" Warti berusaha meraih bantal guling di pelukan Sri.
"Opo toh, bune?" Sri berbalik badan. Menatap ibunya gemas merasa tidurnya terganggu.
"Itu.. Yang kamu peluk"
"Ya bantal"
"Tapi kok.. Ada kumisnya?" Warti tampak sangat penasaran.
Sri merenggangkan pelukan pada bantal gulingnya. Menjauhkan kepalanya sedikit. Melihat pada bantal itu. Lalu tersenyum malu.
"Ini Mase, bune" Memeluk lagi dengan erat. Menyembunyikan wajahnya di bantal.
"Oalaaahh.. Mas mu toh?" Warti terkekeh geli melihat bantal yang di beri kumis.
Sri malu setengah mati. Saking rindunya dengan suami tak tersampaikan, bantal guling di beri kumis palsu. Kumis yang ia beli di toko pernak-pernik ketika ingin mengerjai Lucky saat lamaran dulu. beruntung kumis itu masih ada.
Warti duduk di sini ranjang. Mengelus rambut Sri dengan lembut. Tersenyum geli melihat tingkah calon ibu muda ini.
"Kangen bojomu toh, nduk?"
Sri menelentang dan menatap netra ibunya. Mengangguk kecil mengiyakan pertanyaan Warti. Mendapat pertanyaan itu, Sri jadi merasa haru. Rasa rindu yang tak dapat di lampiaskan membuatnya lebih perasa. Matanya berkaca-kaca.
"Bantalmu tambah ngganteng. Eneng kumuse, nggawe kemeja mahal mbarang, Sri" goda warti. Sri cemberut manja. Wajahnya bersemu merah. Bangkit dan duduk di samping ibunya.
"Kenapa ndak telpon mas mu aja?"
"wedhi, bune" jawab Sri lirih.
"Lho? Kok wedhi karo bojone dewe?"
"Mase masih marah, bune. ntar Ndak mau nerima telpon ku" Keluh Sri seraya menunduk lesu.
Warti tersenyum. Wajar saja Sri takut. Karena Sri mengira suaminya masih marah. Sri menganggap Lucky memulangkannya ke kampung karena kejadian di kamar hotel. Warti tahu betul Lucky tidak marah pada putrinya. Hanya ingin membuat keadaan lebih kondusif. Dan Lucky sudah bicara dengannya di telepon.
"Ndak apa-apa, nduk. Nek kangen yo telponan kan iso. Ojo di tahan-tahan. Lah wong sekarang gampang iso kethok raine"
Sri memeluk ibunya. Warti mengelus kepala Sri lembut. Bisa ikut merasakan apa yang Sri rasakan. Apalagi putrinya sedang hamil muda. Pastilah moodnya sering berubah-ubah.
"Bune"
"Yo, opo?"
__ADS_1
"Nek mase ndak mau Sri pulang lagi, piye?"
"Lha? Ngopo kok mas mu ndak mau?"
"Mase ngambek"
"Ngambek?"
"Nesu!"
"Ngopo kok nesu?"
Sri duduk tegak. Menatap ibunya sedih. Sri menceritakan kejadian di kamar hotel dengan lancar. Mengadu pada ibunya bagaimana dia tidak tahu bisa sampai seranjang dengan Noah.
Warti mendengarkan sambil manggut-manggut. Tertawa geli dalam hati karena Sri tidak tahu kalau Lucky sudah menceritakan segalanya.
"Sumpah, bune! Sri Ndak ngerti kenapa bisa sampe di kamar itu. Mase Ndak percaya kayaknya."
"Mas mu ndak marah, Sri"
"Kok bune yakin toh?" Sri menatap ibunya kesal.
"Kalo mas mu marah, ngapain mami mu di sini nemenin kamu?"
Sri terdiam. Ibunya ada benarnya. Kalau Lucky marah, kenapa juga mami Melani ikut menemaninya pulang? Agnes juga di suruh ikut. Malah ada beberapa pengawal yang sengaja menjaganya di luar.
"Trus, itu.. kenapa bantalmu pake baju?" tanya Warti lagi.
"Eh.. Itu.."
"Itu baju bojo mu toh?"
Warti hanya tersenyum lembut. Mengusap-usap kepala Sri dengan penuhkasih sayang.
"Wes, Ojo mikir yang macem-macem. Kamu tau toh, mas mu lagi repot ngurusi kantor? jangan buat mas mu jadi tambah banyak pikiran."
"Nggeh bune."
"Ayo metu. Mangan sek. Ojo turu wae koyok limbok. Ra apik."
Sri menurut. Sekalipun malas, tapi tak urung menuruti ibunya. Sebelum keluar, Sri mengecup bantal gulingnya.
"Sri tinggal dulu Mase. Nanti kita kelon lagi yo?"
Terkikik geli lalu keluar dari kamar. Mami Melani sudah duduk manis di meja makan. Agnes tidak terlihat. Sri duduk di samping Melani.
"Ah.. Sayang mamiii.. Sini makan. Ayo, mami udah masak yang enak untuk kamu" Melani tersenyum ceria menyambut Sri. Sri melihat ke atas meja. Telah terhidang banyak makanan di sana.
"Niihh.. Mami buat sambal mangga. Enak sayang" melani menyendokkan makanan nasi kepiting Sri dan sambal mangga menggoda selera.
"Ini banyak banget, mi. Ini apa?" Sri menunjuk banyak makanan di meja.
"Ini gurame asam manis, perkedel, sop buntut, iga panggang..." Melani menjelaskan panjang lebar. Masih banyak lagi menu masakan yang ia jelaskan.
Sri mendelik ngeri. Suara ocehan Melani terasa dengungan kumbang di telinganya. Tapi Melani masih belum selesai menunjukkan semua menu masakan hari ini Mana bisa ia habiskan semua menu yang begitu banyak. Perutnya hanya sejengkal tapi makanannya penuh satu meja makan besar.
"Naahh.. Kamu mau makan yang mana dulu sayang?"
"Mami.. kebanyakan ini.." keluh Sri. Terasa sudah kenyang melihat begitu banyak makanan. Malah sekarang terasa mual lagi.
"Ya tidak apa-apa sayang. Kamu harus makan banyak. Biar sehat." tanpa peduli reaksi Sri, Melani menyendokkan bermacam lauk ke piring Sri. Warti hanya terkekeh melihat tingkah besannya.
__ADS_1
Sri menatap ibunya memohon pertolongan. Ingin menolak tapi merasa tak enak hati pada ibu mertuanya. Warti hanya tertawa saja. Tidak mau membantu Sri. Membiarkan Melani nyerocos mengomentari tentang apa yang harus Sri makan.
Tiliitt.. Tiliitt..
Ponsel Melani berdering. Mengambil ponselnya dan memeriksa. Frans menelepon. Melihat itu, Sri bernapas lega. Ayah mertuanya menjadi dewa penolong tepat waktu.
"Sebentar sayang. Mami angkat telpon papi kamu dulu ya?" Sri mengangguk. "Tapi, kamu harus habisin ini makannya, ya? nanti mami balik harus udah habis lho ya.."
Sri mengangguk lagi. Membiarkan Melani pergi menerima telpon dari suaminya. Sri menatap ibunya.
"Bune, Sri Ndak mau makan" Sri merengut.
"Makan, Sri. Ndak baik lho buang rejeki"
"Tapi ini kebanyakan"
"Ntar mami mu sedih kalo kamu Ndak makan, Sri"
Sri lemas. Menatap makanan di piringnya dengan tak berselera.
"Assalamualaikum.." Agnes datang.
"Walaikumsalam.." jawab mereka serempak.
Seketika wajah Sri cerah. Dia berpikir ada dewi penolong datang tepat waktu. Segera Sri menarik Agnes untuk duduk di sampingnya.
"Mbak Nes, dari mana?" tanya Sri.
"Baru dari depan. Tadi di ajak mbak welas lihat lesehan ibumu, Sri"
"Ohh.. Gitu.." Sri manggut-manggut. "Belum makan kan?" Agnes menggeleng. "Naahh.. ini nih.." Sri menggeser piringnya ke depan Agnes.
"Lho? Kok di kasih ke aku?" Agnes merasa curiga.
"Mbak Nes harus makan yang banyak. Tadi itu Sri udah nyiapin ini untuk mbak Nes, lho. Makan mbak. Enak ini." Sri tersenyum manis.
"Nggak ah.. Kebanyakan ini, Sri."
Sri bingung. Agnes juga menolak. Tapi Sri tak habis akal. Sri berbisik di telinga Agnes.
"Mbak Nes kan tau Sri lagi ngidam. Mbak Nes mau bayi Sri sedih? Ayo makan. Sri lagi ngidam lihat mbak Nes makan ini"
Agnes melirik warti. Tapi ibunya Sri malah asik makan dan tidak memperhatikan mereka berdua berbisik-bisik. Sri hanya memberitahu Agnes tentang kehamilannya. Dan meminta Agnes untuk merahasiakan. Jadi Agnes tidak bisa berbuat apa-apa.
Tak mau membuat Bu Warti curiga, Agnes terpaksa menuruti keinginan Sri. Menyuap makanan ke mulutnya. Sri bertepuk tangan bahagia Agnes mau makan dari piring Sri.
"Ayo mbak.. Semangat!"
Agnes melengos melihat Sri sangat girang dia mau menurutinya. Tapi memang dasarnya lapar, Agnes makan dengan lahap. Sampai sudah hampir setengah, mami Melani datang. Sri segera menarik piringnya lagi. Membuat Agnes melongo karena kaget.
"Waahh.. Hebat! Sayang mami makan banyak ya.." Melani senang melihat Sri sudah menghabiskan setengah isi di piringnya.
"Lho.. Tapi itu.." Agnes ingin protes.
"Eh... iya mami. Masakan mami enak banget ini" Sri cengengesan.
Agnes melotot menatap Sri. Dia baru ngeh jika hanya di kerjai Sri barusan.
"Dasar kamu Sri!" Agnes mencubit tangan Sri kesal.
"Heheh.. Maaf mbak Nes" Sri nyengir melihat Agnes merajuk.
__ADS_1