
"Pak.. Tolong pak.. jangan pecat saya pak" Sofi langsung merengek menghiba pada Noah.
Wajah memelas itu berlinang air mata. Sofi benar-benar ketakutan dipecat. Sri merasa kasihan melihat Sofi.
"Saya heran melihat kalian semua. Kenapa bertindak bodoh seperti ini? Apa maksud kalian? Kenapa kalian membatasi semua orang yang dekat dengan saya?" Noah sudah muak dengan fans club yang mengatasnamakan dirinya.
"Bubarkan fans club itu. Ini perintah" suara Noah tegas. " Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Sri. Kemarin malam kami hanya membicarakan tentang bisnis. Dan kamu Sofi, jangan selalu ikut campur dengan masalah orang lain"
"Maaf pak" Isak Sofi tertahan.
"Kalian berdua masih saya beri kesempatan. Saya tidak mau kejadian serupa terulang lagi. Dan kamu Susan, Jangan pernah mengintimidasi semua karyawan disini. Apalagi Sri. Dia dalam pengawasan saya langsung" Noah menatap Susan dan Sofi dengan tajam.
Susan hanya menunduk tak berani menatap Noah. Reputasi baiknya sudah tercoreng. Noah tidak akan meliriknya lagi. Hancurlah fans club yang di ketuainya sendiri.
"Sudah. Kalian berdua pergilah" Noah mengusir mereka berdua.
Susan dan Sofi mengucapkan terimakasih, lalu beranjak keluar ruang kerja Noah dengan tertunduk malu, tidak berani melirik Sri lagi.
"Makasih pak" ujar Sri.
"Untuk apa?" tanya Noah. Tatapannya dingin menusuk.
Sri menelan ludahnya susah payah. Dia tahu Noah bersikap begitu karena kejadian kemarin malam.
"Untuk keadilan bapak" Sri menunduk.
"Kenapa tidak membalas?"
"Sudah pak"
"Apanya yang sudah? Jangan mau di tindas jika kamu tidak salah Sri. Kamu berhak untuk itu. Kalau mereka melakukan kekerasan, kenapa tidak langsung di hajar saja?"
Hah? dihajar?
Sri mendongak menatap Noah. Yang tadinya Sri mengira wajah Noah sedingin es, kini ia dapat melihat wajah itu di penuhi senyum. Sri tercengang melihat itu.
"Hh.. kamu tidak apa-apa?"
Sri menggeleng. Menatap lurus ke wajah Noah yang sudah kembali teduh seperti yang biasanya Sri kenal. Tidak marah dan dingin lagi.
"Ya sudah. Sana kerja lagi. Kamu di gaji untuk kerja. Bukan bengong"
Eh? kenapa dia ini? secepat itu berubah? perasaan tadi marah sekali.
__ADS_1
"Baik pak" Sri beranjak ke pintu. Tapi sebelumnya dia keluar, Sri berbalik lagi menatap Noah. "Pak, maafkan saya soal kemarin malam. Saya pergi begitu saja" Sri membungkuk meminta maaf.
"Sudah, sana kerja"
Sri mendongak. Sial! ternyata Noah sudah tidak melihatnya lagi. Pria itu sudah sibuk menatap laptopnya serius. Mengusir Sri itu namanya! Sri mencebik lalu keluar dari ruang kerja Noah.
Betapa heboh tiga sekawan yang menantinya dengan telinga di dekatkan ke arah pintu ruang kerja Noah. Mereka berharap dengan begitu, bisa mendengar percakapan di dalam.
"Eh Sri. Kenapa sampai seheboh itu? ada masalah apa?" Dila memepet Sri begitu keluar dari ruang kerja Noah.
"Iya Sri. Ada masalah apa kamu sama Susan dan Sofi?" Agnes ikut menempel.
"Ah.. kalian bertengkar gara-gara pak Noah ya? pak Noah bela kamu kan? apa mereka di pecat Sri?"
Kepala Sri mau pecah mendengar begitu banyak pertanyaan dari tiga wanita judes ini. Sri merenggangkan tangannya agar mereka menjauh.
"Aduuh.. mbake.. Sri Ndak bisa napas. Ndak ada apa-apa mbak. Sudah ayo kerja. Ntar pak Noah marah"
Sri segera duduk di kubikelnya. Agar mereka bertiga tidak mengganggunya lagi. Dengan kecewa, ketiga temannya itu kembali bekerja.
š
š
š
Menunggu teman kerjanya pulang lebih dulu agar tidak kepergok ketika naik ke mobil. Takut akan banyak lagi gosip yang beredar. Tadi Banyak sekali pertanyaan mereka padanya. Sri sudah menjelaskan semuanya. Tapi tetap saja mereka seakan tak puas-puasnya bertanya.
"Mas Lucky bilang mau kemana pak?" tanya Sri pada pak Karim, setelah duduk di dalam mobil.
"Ke restoran, nona"
Pak Karim melajukan mobilnya memecah keramaian jalan raya yang padat karena waktunya jam pulang kerja.
Sri diam dan menurut saja duduk santai. Mobil mengarah ke sebuah restoran di tengah kota. Restoran mewah bernuansa semi klasik. Sri di antar seorang pelayan menuju ruang VIP yang sudah di pesan Lucky. Pria itu sudah ada di sana menunggunya. Tersenyum melihat kedatangan Sri.
'Hais! bahagia sekali dia? Apa baru dapat lotre? eh.. emang masih ada lotre ya jaman sekarang? š¤'
Sebuah ruangan VIP yang cukup luas. Meja bundar dan empat kursi empuk, Di sampingnya langsung menghadap taman bagian belakang restoran, dengan kolam ikan dan gemericik air mancur kecil di tengahnya.
"Sudah lama nunggu mas?" tanya Sri pada Lucky yang masih menatapnya dengan senyum paling manis yang ia punya.
"Belum. Sini.. duduk sini"
__ADS_1
Lucky menepuk kursi di sampingnya. Sri menurut. Lucky merangkul pundaknya dan mengendus belakang telinga Sri.
"Apaan sih Mase?" Sri menghindar. Tapi Lucky mengetatkan rangkulan di pundaknya. Mengendusi leher Sri.
"Aroma mu manis" Lucky berbisik.
"Hah? bohong tenan loh Mase Iki" Sri memukul tangan Lucky yang bebas. "Awas mas. Sri bau loh belum mandi" Sri menyikut pelan perut Lucky agar menjauh darinya.
"Hmm.. tapi tetap harum"
Sri menoleh menatap Lucky yang tersenyum menatapnya. Sri mencebik dengan gombalan Lucky. Bisa-bisanya pria ini mlontarkan gombalan itu.
"Kamu mau makan apa?" tanya Lucky seraya mengelus pipi Sri.
"Mase kok seneng banget toh? baru dapat rejeki nomplok ya?" Sri balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Lucky.
"Hmmm.. yah.. bisa di bilang begitu"
"Apa itu? dapat proyek besar?"
"Kita makan dulu. Nanti aku cerita"
Lucky memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka berdua. Setelah pelayan pergi, Lucky kembali sibuk mengendus aroma tubuh Sri. Itu candu baru baginya. Tubuh Sri selalu menguarkan aroma manis baginya. Sri sampai risih sendiri. Entah kenapa Lucky tampak sangat bahagia dan bersemangat sore ini.
Pelayan datang membawa banyak menu makanan. Menghidangkannya di meja. Mempersilahkan mereka menikmati hidangan, lalu pelayan pergi lagi.
"Mas, kebanyakan ini mas. Cuma kita berdua loh mas"
"Kamu harus makan banyak. Biar punya stamina yang cukup untuk nanti malam" jawab Lucky sambil mengerling genit pada Sri.
Sri langsung terdiam. Tubuhnya menegang. Menggerakkan matanya gusar. Stamina untuk nanti malam? Wadddooohh!! Pasti di gempur nih kayaknya.
"Hehehe.. kenapa? itu kewajiban istri kan?" Lucky mencolek dagu Sri.
"Mesum!"
Sri merengut kesal. Lucky selalu mesum dengannya. Bisa-bisanya sekarang memikirkan masalah ranjang. Lucky hanya terkekeh geli melihat Sri yang mencebikkan bibirnya.
"Sekarang cerita dulu mas. Mase dapet proyek gede ya? semangat banget" Mengulangi pertanyaannya lagi sambil makan.
"tidak"
"Terus?"
__ADS_1
"Aku melabrak Noah"
"Uhukkk.. uhukkk.."