OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Breakfast With Dewiku


__ADS_3

Hari ini Sri menyambut pagi dalam rengkuhan hangat suaminya. Berdiri berdua saling merapatkan pelukan di balkon kamar. Menatapi langit cerah berhiaskan awan putih berarak nan indah. Lucky merapatkan pipinya ke pipi Sri. Melingkari perut Sri erat.


"Nanti datang ke kantor. Bawakan makan siangku" Sri mengangguk. "Jangan bekerja lagi. Kau ratuku. Mengerti, Sri?"


"Iya mas" Sri tersenyum ketika Lucky menggesek pipinya. "Tapi, akun Sri ndak bisa di buka lagi, mas"


"Aku sudah memblokir semuanya. Jangan buka lagi. Nanti kita buat yang baru"


Sri terkikik geli. Lucky mau buat akun Facebook yang baru? Rasanya tak mungkin sampai Lucky mengurusi media sosial seperti itu.


"Ayo. Kita buat status baru yang menggemparkan"


Lucky menggandeng tangan Sri. Mengajaknya keluar dari kamar. Menuruni tangga menuju ke lantai bawah. Mami Melani sudah menunggu di meja makan. Tersenyum melihat kedatangan mereka berdua.


"Pagi, sayang" sapa Melani tersenyum melihat Sri tampak baik-baik saja.


"Pagi mami"


Duduk bersisian bersama Lucky. Hidangan sarapan pagi sudah tersedia. Pak Sam segera mendekat menuangkan kopi ke cangkir lucky, dan teh untuk Sri.


Lucky segera merapatkan gelas mereka berdua. Mengambil beberapa potong sandwich di piring, lalu menggengam jemari Sri. Sri tidak mengerti apa maunya Lucky. Melani juga mengernyitkan dahi melihat kelakuan putranya itu.


"Kenapa, Luck?" tanya Melani.


"Hhh.. buat status baru, mi" jawab Lucky agak tertawa geli.


Lucky mengambil ponselnya lalu bersiap mengarahkan kamera. Mengambil s buah foto gengaman tangannya dan tangan Sri. Memamerkan cincin pernikahan mereka berdua. Dengan background sarapan pagi beserta kopi dan teh yang masih mengepulkan asap. Tampak hangat sekali.


"Sayang, kita buat apa caption-nya?"


Lucky menunjukkan layar ponselnya pada Sri. Istrinya tersipu malu melihat foto epic itu. Lucky akan segera mengunggahnya di Instagram miliknya.


"Terserah Mase aja" ujar Sri malu-malu.


"Hehehe.. kau akan menjadi trending topik hari ini, sayang"


Lucky terkekeh senang. Sementara Melani hanya geleng-geleng kepala. Lucky mulai mengetik di ponselnya.


"Breakfast with DEWIKU"


Lalu segera mengunggahnya. Tersenyum puas melihat postingannya segera dilihat banyak orang. Sebelumnya dia telah menghapus semua postingan yang ada berbau Amira.


"Luck, sarapan dulu" Melani mengingatkan Lucky.


Lucky menurut. Meletakkan ponselnya dan mulai sarapan dengan senyum mengembang. Suasana hatinya sedikit baik pagi ini. Itu karena Sri bisa memahami keadaannya sekarang. Berharap setelah ini mereka bisa menghadapi masalah yang lebih buruk dari ini.


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Beni menyambut kedatangan Lucky di depan lobi kantor. Langsung mengikuti langkah tuannya. Melewati lobi dengan banyak kepala yang tertunduk. Tidak berani membicarakan gosip heboh yang menerpa Presdir mereka.

__ADS_1


Lucky cuek saja. Tetap melangkah drngan gagah dan penuh wibawa. Sedikitpun tidak ingin melihat para staf kantor di sekitarnya. Setelah masuk ke lift, Beni segera menyampaikan sesuatu yang penting.


"Tuan, tuan besar sudah menunggu"


Lucky menaikkan sebelah alisnya dan menoleh menatap Beni di sampingnya.


"Papi?"


"Iya, tuan. Pagi-pagi sekali tuan Frans sudah tiba. Dan langsung menuju kemari"


"Noah sudah datang?"


"Sudah, tuan"


"Hmm" Lucky lalu diam.


Keluar dari lift dan langsung menuju ruang rapat. Beni membuka pintu ruangan dan terlihatlah papi Frans sudah duduk di sana bersama om Baris dan Noah juga Erwin asisten Noah. Lucky masuk dan langsung memeluk papi Frans.


"Kau baik-baik saja?" tanya Frans mengurai pelukannya.


"Ya, pi" Mereka duduk di meja rapat.


"Bagaimana istrimu?"


"Lumayan baik. Agak sedikit terkejut pasti. Tapi semua masih dalam kendali"


"Syukur lah" Frans tersenyum.


"Tapi, aku tidak yakin dengan mami. Dia pasti akan membunuhku ketika tau papi sudah pulang, dan tidak memberinya kabar"


Lucky geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


"Baiklah, aku mau dengar kabar buruk dulu" ujar Lucky mulai serius. Menatap Noah yang sudah siap dengan setumpuk berkas di depannya.


"Baik, kabar buruk mu" Noah menyerahkan sebuah berkas ke depan Lucky. "Saham perusahanmu anjok drastis karena gosip itu"


Lucky membuka map di depannya. Memeriksa sebentar. "Bagaimana dengan Bronze?"


"Hampir sama. Saham kita juga menurun. Gosip itu membuat reputasimu memburuk. Para investor meragukan kerja sama dengan kita"


Kembali Noah menyerahkan berkas lain ke depan Lucky. Lucky memeriksanya dengan teliti. Menautkan alisnya tajam.


"Sudah aku duga akan begini" gumam Lucky.


"Itu tidak masalah" Frans menyambung. "Itu akan kembali secepatnya. Yang harus kau bereskan lebih dahulu adalah, bersihkan nama baik istrimu dulu, Luck"


Lucky mengangguk. Lalu Noah menyerahkan berkas yang lain ke depan Lucky.


"Sekarang kabar baiknya" ujar Noah.


Lucky membuka lagi map lain di depannya. Membaca dengan teliti. Banyak foto di sana. Tampak wajah puas di wajahnya.


"Mereka sudah masuk perangkap. Amira sedang di atas angin. Selanjutnya kita akan terus waspada pada Levi. Ada penyusup yang di tempatkan di bagian divisi personalia. Lihatlah fotonya"

__ADS_1


Lucky memeriksa banyak foto di depannya. Senyum jijik tergambar jelas di wajahnya.


"Ben, kau sudah siapkan Konferensi pers?" Lucky menatap Beni tajam.


"Sudah, tuan. Janji dengan wartawan siang nanti setelah jam makan siang" jawab Beni tegas.


"Perhatikan Luck. Amira membayar sejumlah wartawan untuk menyebarkan gosip itu. Mereka sudah mulai gencar menyerang kita" Noah menyambung lagi.


"Apa yang lain baik-baik saja?" tanya Lucky. Maksudnya mansion kakek Fredi.


"Sejauh ini baik. Aku menyiapkan beberapa pengawal bayangan di beberapa titik"


"Bagus. Teruslah waspada"


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Sri bersiap pergi ke kantor Bronze. Membawa bekal makan siang untuk suaminya sesuai yang diinginkan Lucky. Mami Melani berpesan banyak hal pada Sri. Sri hanya bisa mengiyakan semua yang di katakan ibu mertuanya.


Berangkat dengan pak Karim. Sebenarnya Sri agak cemas memikirkan reaksi teman-temannya di kantor nanti. Mereka ikut menghujat, mencibir, atau malah menjilatnya? Sri yakin pasti akan banyak tatapan sinis dan mencemohnya nanti.


Tapi Sri menguatkan hati untuk tidak mendengarkan apapun cemoohan yang akan dia dengar. Biarlah mereka akan mengetahui sendiri kebenaran itu.


Mobil telah sampai di depan kantor. Tepat di pintu lobi. Itu bukan kemauan pak Karim. Tapi perintah Lucky untuk menurunkan Sri tepat di depan pintu masuk kantor.


Sri masih diam di tempat duduknya. Menatapi ke samping tepat di pintu masuk. Ragu untuk turun. Membayangkan reaksi semua orang ketika melihatnya.


"Silahkan, nona Sri" ujar pak Karim setelah membukakan pintu mobil untuk Sri.


"Kenapa dekat banget gini toh pak?" Sri protes.


"Sesuai perintah tuan muda, nona" Pak Karim membungkuk hormat.


Sri menghela napasnya. Lalu bersiap turun. Menenteng bekal makan siang Lucky dan tas, Sri berjalan ke arah pintu masuk. Sekuriti membukakan pintu. Sri masuk. Melirik sana sini.


Dan benar saja. Banyak orang yang langsung menoleh padanya. Memperhatikan Sri dengan seksama. Tatapan sinis menghujam padanya. Seakan menghakimi Sri dari kepala sampai ujung kaki.


Sri bergidik merasakan aura permusuhan itu. Di meja resepsionis juga Sri mendapatkan tatapan intimidasi. Seolah ingin meremukkannya saja. Tapi Sri mencoba bersabar. Tetap melangkah maju.


"Heh.. awas.. pelakor lewat!"


"Hhh.. benar saja itu tangannya di postingan tuan Lucky pagi ini" Mereka melirik jari manis Sri. Cincin pernikahan sama persis dalam postingan Instagram Lucky pagi tadi.


"Huh! pelakor! kemarin pak Noah, eehh.. sekarang malah langsung naik tingkat sama tuan Presdir!" Sri bisa mendengar itu. Hatinya bagai di remas tangan besar.


"Simpan pacar kalian baik-baik. Entar di embat dia juga lho!"


Mata Sri hampir menjatuhkan buliran bening. Tapi Sri tahan kuat-kuat. Ingin rasanya menampar mulut-mulut kotor dan sok tahu itu. Tapi dia menjaga reputasi suaminya.


Masuk ke lift lalu menatap siapa saja yang sudah menggunjingkannya. Tampak beberapa wanita bergerombol. Sri tidak mengenal mereka entah dari divisi mana. Sri hanya melihat wajah-wajah sinis dan menatapnya menghina.

__ADS_1


Pintu lift tertutup. Sri menghela napas panjang mentralkan debaran jantung yang bergemuruh menahan diri untuk tidak terpancing emosi.


__ADS_2