
Ting..Tong!!
Amira memencet bel pintu dengan geram. Menunggu pintu di buka dengan wajah yang kusut. Ia tidak peduli lagi. Makeup cantiknya luntur dengan maskara meleleh di bawah matanya. Tangisnya belum berhenti sejak meninggalkan kantor Lucky.
Amira terlihat sangat kesal karena pintu penthouse milik Levi belum juga terbuka. Tidak sabar akhirnya Amira kembali memencet bel pintu beberapa kali lagi.
Ting..tong.. Ting.. tong!!
Belum ada jawaban dan tanda-tanda pintu akan terbuka. Amira tidak punya keycardnya. Levi belum memberi ijin untuk Amira masuk sesuka hati di penthouse miliknya yang satu ini.
Doorr.. doorrr..doorr..
"Leviii.. buka pintunya!!" Tak sabar Amira menggedor pintu dan berteriak.
Pintu terbuka. Wajah Levi muncul dari balik pintu yang terbuka sedikit. Tampak wajahnya berkeringat dan Levi menyeringai.
"Hey!! buka pintunya! kamu ngapain sih?" Amira mendorong pintu yang masih di tahan Levi dari dalam. Hanya membuka sedikit saja untuk memberi ruang menjulurkan kepalanya.
"Hey.. kamu kenapa sayang?" Levi tampak heran melihat penampilan Amira yang berantakan.
"Ck.. buka dulu pintunya!" Amira mendorong lagi.
Tapi Levi tetep menahannya. Melirik kedalam sebentar, lalu menyeringai lagi menatap Amira sambil membuka pintu lebar. Levi bertelanjang dada. Hanya mengenakan celana panjang bahan. Tubuhnya sedikit berkeringat dan rambut yang berantakan.
Amira menerobos masuk. Tapi begitu ia ada di dalam, matanya melotot kaget melihat ada seorang wanita yang tampak berpenampilan sama berantakannya dengan Levi. Rambutnya masih belum benar-benar rapi.
Amira menoleh menatap Levi dengan marah. Tak percaya dengan apa yang dilakukan Levi ketika dia tidak bersamanya. Levi menaikkan alisnya dengan wajah yang di buat sebodoh mungkin didepan Amira.
"Siapa dia, Lev?" tanya Amira geram.
"E.. ehmm.. Dia.. dia karyawan di kantor" jawab Levi sekenanya.
"Apa?" Amira merasa tak percaya.
Levi merasa terpojok. Tapi pria licik ini tentu saja tidak kehabisan akal. Dia harus menutupi apa yang baru saja terjadi jika tidak mau Amira meneriakinya dengan berisik nanti. Segera Levi mengubah mimik wajahnya agar lebih santai. Mendekati Amira dan merangkul pundaknya.
"Hey.. sudahlah sayang. Jangan begitu. Dia Josel staf di kantorku. Hanya mengantarkan berkas" Levi mengedipkan matanya pada Josel. Lalu mengusir Josel agar cepat menyingkir. "Kau pergilah. Nanti aku periksa berkasnya"
Josel hanya mengangguk dan melirik Amira dengan canggung bercampur takut. Amira menatapnya tajam. Josel terburu-buru melangkah keluar dan menutup pintu. Setelah Josel pergi, Levi segera saja memeluk Amira.
"Kamu kenapa?"
"Iisshh.. awas!"
Amira merengut kesal. Menepis tangan Levi dari tubuhnya. Menuju sofa dan menghentakkan bokongnya di sana. Merasa hari ini sungguh hari yang berat baginya. Dan disini, malah melihat Levi sedang main gila dengan wanita lain.
__ADS_1
"Hey.. Ada apa, hmm?" Levi menyusul Amira dan duduk di sampingnya.
"Kau keterlaluan, Lev! Kamu tidak tau bagaimana hancurnya aku saat ini. kau malah main gila!" Amira tersengguk.
"Oowwhh.. Amira, ayolaahh.. aku tidak tau apa yang terjadi padamu sampai berantakan begini. Jadi jangan salahkan aku" Levi membela dirinya.
"Mana mungkin kau tidak tau. Kau hanya tidak peduli padaku!"
"Jangan begitu, baby.. tenanglah"
Levi kembali memeluk Amira dengan paksa. Sedikit geram karena permainan panasnya harus tertunda tadi. Mengelus-elus kepala Amira mencoba menenangkannya.
"Tenanglah. Aku tidak main gila. Josel hanya seorang staf di kantorku. Sudahlah sudah.."
Levi menepuk-nepuk punggung Amira. Gadis itu masih saja menangis tersengguk. Levi membiarkan saja Amira menangis sampai puas. Lalu mengurai pelukannya setelah di rasa Amira sudah mulai lebih tenang.
"Sudah jangan sedih begini. Sekarang katakan padaku apa yang terjadi"
"Lucky. Dia memutuskan semua kerja sama dan dukungannya dariku. Aku bangkrut! Banyak stasiun televisi memutuskan kontrak. Aku harus bagaimana, Lev??" Amira menjelaskan dengan penuh emosional.
"Ini semua idemu! aku sudah bilang ini tidak akan berhasil. Tapi kau terus memaksa" Amira memukuli dada Levi.
"Ah.. sudah. Sudahlah Amira. Hanya masalah itu saja kau sampai menangis begini? Masih ada aku. Jangan berlebihan"
"Diamlah!"
Levi marah. Membentak Amira dengan kasar. Menghempaskan bahu Amira dengan keras. Membuat Amira terhuyung oleng kesamping.
"Jangan memperotes terlalu banyak, Amira! jangan bawa-bawa ibuku!"
Amira melotot marah. Membenarkan duduknya tegak. Gantian mendorong tubuh Levi juga. Tapi tenaganya tidak terlalu kuat untuk membuat tubuh besar Levi. levi bergerak hanya sedikit.
"Kenapa? hah? kenapa tidak boleh bawa ibumu? bukannya ini juga idenya? Dia otak dari semua ini!" pekik Amira marah.
Levi semakin emosi melihat Amira melawannya. Levi mencengkram bahu Amira dengan kasar lalu menguncangnya.
"Tutup mulutmu! kau juga senang dengan idenya kan? kenapa sekarang kau malah mengeluh?"
Amira meringis kesakitan. Cengkraman tangan Levi menyakiti bahunya. Belum hilang rasa sakit akibat cengkraman Lucky, kini Levi mengulanginya.
"Awwhh.. Sakit.." keluh Amira pelan. Meringis menahan tangis.
Levi segera sadar telah membuat Amira tersakiti. Segera melepaskan cengkeramannya di bahu Amira.
"Maaf"
__ADS_1
Levi menjauh dari Amira. Merasa bersalah. Amira kembali tersengguk sedih. Levi tidak mengerti bagaimana dia terpuruk saat ini. Mementingkan egonya sendiri.
"Aku hancur, Lev. Lucky tidak main-main kali ini"
Levi menatap Amira iba. Sekalipun dia memanfaatkan Amira untuk tujuannya, tapi setidaknya dia harus bersikap lembut pada gadis ini. Levi mendekati Amira lagi. Memegang tangannya.
"Amira, tenanglah. Jangan begini. Kita akan memikirkan lagi bagaimana caranya. Oke?" bujuk Levi.
"Bantu aku, Lev" pinta Amira lirih.
"Iya. Tenanglah. Masih ada aku"
Levi meraih dagu Amira. Menghadapkan padanya. Mengecup bibir Amira yang tampak membengkak karena terlalu banyak menangis.
"Kita akan rusak internal mereka. Kita buat mereka hancur dari dalam. Tenanglah. Noah adalah benteng Lucky" bisik Levi.
Amira menatap netra Levi lamat. Meyakinkan hatinya bahwa Levi bisa menjalankan misi selanjutnya. Jangan sampai kehilangan karirnya menjadi sia-sia.
"Kau mencintaiku Lev?"
Levi tertegun mendengar pertanyaan Amira yang tiba-tiba. Dari dulu Levi tidak pernah menyatakan cinta pada Amira. Mereka berdua hanya sepakat menjalin hubungan dan memberikan penawaran menarik yang akan memberi keuntungan besar. Menjebak Lucky dan menarik semua apa yang Lucky punya.
Itu adalah obsesi Levi dari dulu. Dia sangat membenci Lucky. Kakeknya selalu tidak pernah absen membanggakan Lucky. Padahal kakek sudah mengusir paman Frans. Dan di mata kakeknya, Levi hanya pecundang yang tidak punya kemampuan apapun. Levi selalu kalah dari Lucky. Dia benci itu.
"Tentu saja" akhirnya Levi menjawab.
Amira tersenyum. Memeluk Levi erat. Sebenarnya rasa itu sudah tumbuh sejak lama di hati Amira. Dia lebih menyukai levi dari pada Lucky. Levi bisa memberikan apa yang Amira mau. Selera yang sama membuat mereka menjalin hubungan di belakang Lucky. Tapi satu tujuan Amira yang paling di patokkan. Meluluhkan Lucky untuk mencapai puncak.
Lucky adalah puncak popularitas baginya. Walaupun bersikap terlalu lembut dan tidak pernah berbuat macam-macam pada Amira. Gadis ini tidak puas. Lucky bisa memberi segalanya tapi tidak urusan mesum. Lucky terlalu naif. Berbuat jauh hanya setelah menikah. Bagi Amira, itu hanyalah omong kosong.
Levi hanya tidak mau Amira merusak segalanya. Jadi, apa salahnya memanjakan gadis ini dengan segala obsesi yang ia punya? selain mendapatkan keuntungan dari Amira, dia juga bisa mencapai puncak jika bisa melenyapkan Lucky dan Noah dari hidupnya.
Levi membelai lembut rambut panjang Amira dalam pelukannya. Menyeringai licik tanpa Amira tahu.
"Aku sudah memperoduksi obat-obatan dan menyeludupkannya lewat agensi di perusahaan pusat. Kau jangan khawatir, baby. Semua baik-baik saja. Kita dapat keuntungan besar. Dan jika itu bocor, pasti Lucky yang akan kena getahnya" ujar Levi.
"Itu akan berhasil?" tanya Amira dalam pelukan Levi.
"Tentu saja. Itu sudah berlangsung selama ini. Dan akan lebih berhasil, jika kita bisa menyingkirkan Noah. Maka jalan menuju puncak akan lebih mudah. Lucky hancur, dan Noah lenyap"
Amira Mendongak menatap Levi dengan mata berbinar. Tersenyum mengagumi rencana Levi yang cemerlang. Tidak sia-sia dia bergabung bersama Levi dan keluarganya.
"Aku akan membalaskan apa yang dilakukan Lucky padamu. Hmm?"
Senyum Amira semakin mengembang. Levi mendekatkan wajahnya dan me**mat bibir Amira rakus. Melanjutkan kemesuman yang sempat tertunda bersama Josel. Melampiaskannya pada gadis mantan kekasih Lucky dengan buas. Amira senang-senang saja. Dan itulah yang ia suka. Keliaran Levi di ranjang yang membuatnya tergila-gila.
__ADS_1