
Lucky sangat gusar menantikan kabar dari anak buahnya yang di tugaskan mencari Sri. Entah di mana istrinya itu. Dan Lucky sungguh bingung dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba saja Sri menghilang tanpa kabar. Berubah tanpa alasan.
Sudah ratusan pesan ia kirim, tapi Sri tidak pernah membuka pesannya. Ratusan kali mencoba menghubungi ponselnya Sri, tapi istrinya malah menonaktifkan ponselnya. Tidak fokus lagi pada pekerjaannya. Menyerahkan semua pada Beni. Pekerjaan sekretarisnya itu semakin berlipat ganda hari ini.
Padahal pagi tadi Sri masih baik-baik saja. Tapi entah kenapa setelah siang hari, Sri mendiamkannya tak membalas satupun pesan yang ia kirim. Sri tidak pernah begitu. Gadis itu selalu bersikap penurut. Tapi hari ini sikapnya sangat berbeda.
Apalagi mengingat Noah. Pria itu tidak bisa di hubungi. Ponselnya selalu sibuk. Entah dengan siapa dia terus menelepon. Kabar yang di terima Lucky, membuatnya s makin resah. Mereka bilang istrinya pergi dengan Noah? Tapi kemana? dan untuk apa? Apa mereka punya hubungan tanpa sepengetahuannya? Lucky tahu Noah dekat dengan Sri sebelum Sri tahu kebenaran yang sesungguhnya.
"Aargh.. Sial!!"
Teriak Lucky frustasi. Dia baru saja kembali dari kantor Bronze. Dan nihil. Tidak menemukan hasil yang memuaskan. Beni masuk dengan setumpuk berkas di tangannya. Meletakkan berkas itu di atas meja kerja Lucky.
"Apa kau sudah dapat kabar?" tanya Lucky tak sabar.
"Belum tuan"
"Argh.. sungguh sial! Pasti Noah membawanya ke suatu tempat. Aku benci lelaki itu!" Lucky menggerutu marah.
Beni sungguh sangat merasa bersalah pada Noah. Noah yang tidak tahu apa-apa, menjadi sasaran makian Lucky sedari siang tadi. Entah sudah apa saja makian Lucky pada Noah. Tapi Beni masih bimbang antara memberitahu atau tidak. Dia sudah berjanji pada Sri untuk tidak mengatakan apapun.
Dia tahu kenapa Sri tidak ada kabar sampai sekarang. Itu karena gadis itu mendengar dan menyaksikan sendiri apa yang terjadi. Tapi sayang, Sri tidak sempat menyaksikan adegan terakhir.
Tok.. tok tok..
Lucky dan Beni saling pandang. Mengingat tidak ada rapat atau janji temu dengan koleganya lagi. Tapi entah siapa yang mengetuk pintu.
"Lucky.. ini aku. Noah"
Keduanya terperanjat kaget. Beni kalah gesit dengan Lucky. saking antusiasnya, lucky sampai agak berlari menuju pintu dan menendang Beni yang sudah siap melangkah. Membuat Beni mengurungkan niatnya.
Setelah pintu terbuka, tampak Noah di ambang pintu menatap Lucky. Dengan tanpa basa-basi, Lucky menarik kerah jas Noah dengan kencang. Menyeretnya masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Brengsek kau!! kau sembunyikan di mana istriku!!" teriak Lucky lantang penuh amarah.
"Hey.. tenang dulu, Luck!" Noah tergopoh mengikuti langkah lebar Lucky menyeretnya.
"Tenang apanya?! istri ku hilang! kau menculiknya!!" Lucky berteriak marah.
__ADS_1
Beni segera menarik tangan Lucky. Tapi kalah tenaga. Lucky seperti banteng mengamuk ketika sudah marah. Cengkraman tangannya pada jas Noah sungguh erat membuat Beni kesusahan memegangi tangan Lucky.
"hey.. aku tidak menculik istri mu!! lepaskan aku!"
Noah memberontak minta di lepaskan. Tapi Lucky masih mencengkeramnya erat. Menatap mata Noah dan mendengus tak sabar.
"Mereka bilang kau pergi bersamanya! Lalu apa namanya itu jika kau tidak menculiknya? Hah!!?"
"Tuan.. tuan Lucky.. sadarlah.. jangan begini. Tuan salah paham!" Beni sekuat tenaga menarik tangan kokoh Lucky. Dan Lucky melepaskan cengkeramannya. Menoleh menatap Beni.
"Apa maksud mu?" tanyanya curiga.
Dengan napas tersengal kelelahan memegangi Lucky, Beni menatap prihatin pada noah. Tubuh Noah tak sekekar Lucky. Masih lebih pendek dari Lucky dan tidak memiliki tubuh setegap Lucky. Pastilah cengkraman Lucky tadi menyakitinya. Merasa bersalah pada Noah jika dia tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Katakan Ben!" sentak Lucky tak sabar.
"Maaf, tuan. Sebenarnya.. Emm.."
"Aku akan membunuhmu jika kau tidak mengatakannya. sekarang!" Hilang sudah kesabaran Lucky.
"I-iya tuan.. Sabarlah" Beni pucat pasi. Noah hanya diam sambil membenahi jasnya. "Tuan Noah tidak bersalah. Sebenarnya nona Sri.. melihat tuan dan nona Amira pagi tadi"
"Iya tuan" sambung Beni gemetar. Takut jika Lucky bersungguh-sungguh akan membunuhnya.
"Astaga!" Lucky lemas. Terhuyung duduk di sofa. "Tapi.. tapi bagaimana dia tau? dia lebih dulu pergi keluar"
"Dia kembali karena flashdisk laporannya ketinggalan" sahut Noah yang di jawab dengan tatapan mata Lucky menghujam padanya.
Otak Lucky terasa buntu. Berusaha mencerna apa yang di katakan Beni dan Noah barusan. Jika begitu, berarti Sri melihat semuanya. Melihat adegan isapan di kamar mandi? Melihat tubuh polos Amira? Lucky mengusap wajahnya kasar. Tak sanggup membayangkan bagaimana perasaan istrinya sekarang. Dia mendengar semua apa yang di katakan Amira.
"Kalian berdua tau dan tidak mengatakannya pada ku?!"
Noah dan Beni diam. Bukan tidak ingin mengatakan. Tapi mereka menjaga kepercayaan Sri.
"Kalian berdua brengsek! Kenapa tidak bilang dari tadi??" Lucky seperti kerasukan karena kesal pada kedua pria di depannya ini. Tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi tidak mengatakan apapun padanya.
"Dan kau, Noah! Dari mana saja kau sampai panggilan ku tertolak semua?" Sangat geram Lucky melihat kedua lelaki itu.
__ADS_1
Noah cuek saja. Melangkah ke arah sofa dan duduk di sana dengan tenang. "Apa urusan mu aku pergi kemana? Cih.. Kau seperti istri ku saja"
Lucky melotot mendengar itu. Rasa kesal yang ia derita, seperti tak berarti apa-apa bagi Noah.
"Dimana istri ku, No?" tanya Lucky dengan sabar.
"Ah.. kau seorang CEO. Kau cerdas. Kau kaya. Kau berpengaruh. Kenapa hanya mencari istri mu kau tidak bisa?" sarkas Noah.
"Hey.. hey! Apa hubungannya dengan hilangnya istri ku?" Lucky meradang dengan ejekan Noah padanya.
"Aku sudah bilang pada mu berapa kali Luck? Amira tidak sebaik yang kau kira"
"Jangan terlalu berpikaran kotor, No. Amira hanya tidak bisa menerima"
Noah diam. Penjelasan tidak akan merubah pendirian Lucky tentang Amira. Berulang kali Noah mencoba mengatakan siapa kekasihnya itu. Tapi tetap saja Lucky seakan menutup mata. Itu karena cintanya yang terlalu besar. Ketika Lucky jatuh cinta, dia akan menyerahkan seluruh hatinya pada orang yang dia cintai.
"Kau sudah periksa teman dekatnya?" tanya Noah.
"Siapa?"
"Ck.. suami macam apa kau ini? teman istri mu pun kau tidak tau"
"Dia belum punya te... astaga! gadis itu!"
Lucky baru teringat tentang Agnes. Ahh.. bodohnya dia tidak berpikir jika Sri berteman dengan Agnes. Saking kalut pikirannya.
"Hhhh.. Kau hanya berpikir buruk tentang ku. Aku menculik istri mu. Begitu?"
"Argh.. diamlah kau! Aku akan menjemputnya"
Tanpa basa-basi lagi, Lucky segera beranjak dari duduknya. Dengan kata lain, Noah menunjukkan dimana istrinya berada. Noah dan Beni mengikutinya. Melangkah keluar ruang kerja Lucky untuk menjemput Sri.
Noah tidak tahu apa nanti yang akan Sri katakan padanya. Gadis itu masih enggan bertemu Lucky. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan Sri keluar dari rumah tanpa di ketahui Lucky. Itu akan membuat masalah semakin runyam.
"Tuan, saya yakin.. Nanti nona Sri akan marah pada kita berdua" bisik Beni pada Noah.
"Siap-siap saja kita akan melihat drama percintaan klasik"
__ADS_1
Beni terkikik geli. Noah tersenyum sambil menatap Lucky melangkah di depan mereka dengan tergesa. Seakan ingin lari dari guncangan gedung yang akan runtuh akibat gempa bumi di hatinya.