
Sebelum Sri semakin judes, Lucky segera menyimpan mulutnya dengan bibir hangatnya. Memaksa masuk dan menerobos mulut pedas itu. Gemetar menahan rindu semalaman di tinggal Sri.
Tubuh Sri menegang. Matanya melotot lebar. Tak menyangka Lucky akan berbuat mesum di ruangan Noah. Merasakan lidah panas Noah menggelitik bibirnya yang terkatup rapat. Lidah itu berusaha membuka bibirnya. Menekan-nekan tegas.
Meremas lengan Lucky kencang. Aliran darahnya terasa beku seketika. Hatinya berdesir hangat. Tapi otaknya menyatakan penolakan.
"Mmmpphh..."
Sri berusaha meronta. Tapi Lucky mengunci pinggangnya kuat. Sri kesusahan bergerak. Makin kencang meremat lengan Lucky. Bergidik merasakan lidah Lucky semakin liar menggelitik bibirnya. Menuntut balasan setimpal dari Sri.
Merasa tak mendapat respon, Lucky semakin memepet Sri lagi. Sri tertekan di meja kerja Noah. Terhimpit tubuh besar suaminya. Matanya makin melotot lebar ketika merasakan ada yang mengeras di bagian perutnya.
Lucky masih sibuk menyesap bibir Sri. Gemas menuntut Sri membalas pagutannya. Tapi Sri masih mempertahankan mengatupkan giginya. Lidah lucky menyeruak masuk menggelitik bibir Sri bagian dalam. Mencari jalan masuk di antara cela gigi Sri.
Merasakan geli akibat lidah Lucky, Sri menggelinjangkan tubuhnya. Menggeliat agar bisa segera lepas. Dia tidak kuat. Kalau begini terus bisa bobol pertahanannya.
Lucky melepaskan pagutannya. Terengah kehabisan napas. Berjuang membuat Sri menyerah. Tapi masih belum mendapat respon setimpal. Dengan terengah Sri melotot menatap manik mata Lucky yang menatapnya sayu. Protes dengan tindakan mesum yang di lakukan Lucky.
"Hhhh.. hhh.. Mase jahat!"
Sri memukul dada Lucky. Meronta agar bisa terlepas. Tapi Lucky tidak membiarkan begitu saja. Mengangkat tubuh Sri dan di dudukkan di meja kerja Noah. Dia memepet Sri dan menggesekkan bawahnya yang sudah menggembung keras di paha Sri. Menarik bokong istrinya agar lebih mendapat penekanan di bagian bawahnya.
"Hmm.. Katakan kau tidak mencintai ku"
Lucky menggeram dengan suara rendah. Menatap mata Sri dengan sensual. Wajah mereka sungguh dekat. Napasnya menyapu rahang dan leher Sri yang memalingkan wajahnya kesamping. Menghindari bibirnya nempel ke bibir Lucky. Bertahan jangan sampai tergoda dengan rangsangan hebat suaminya.
"Ndak mau!" sentak Sri. Menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan.
Lucky semakin geram melihat respon istrinya. Masih belum mau menyerah juga rupanya. Segera Lucky menangkup wajah Sri yang menggeleng kuat. Menahan kepala itu bergerak menghindar. Mata mereka bertemu. Saling menatap intens. Lucky mengusap bibir Sri dengan ibu jarinya yang gemetar menahan antara hasrat dan marah.
"Katakan kau tidak mencintai ku, Sri"
Sri diam saja. Masih menatap mata Lucky dengan pikiran dan hati yang berkecamuk. Cinta apa? dimana cinta itu jika dia masih bukan prioritas bagi suaminya? Lucky milik Amira. Lucky masih mencintai Amira. Dengannya hanya napsu semata.
__ADS_1
Sri mendorong dada Lucky dengan kencang. Berusaha menjauhkan tubuh Lucky dari tubuhnya. Tapi tubuh tegap itu bergeming. Dorongan tangannya hanya bagaikan angin lewat. Tak mampu menjauhkan tubuh suaminya. Rasa putus asa menyelimuti Sri.
"Masih bandel?" mata Lucky berkilat marah. "Katakan Sri. Di depan ku. Katakan tidak ada cinta buatku. Atau aku harus memaksa dan memperkosa mu di sini"
Deg!
Nyeri hati Sri mendengar itu. Memaksa dan memperkosa? Sebenarnya dia ini apa? hanya wanita ****** yang harus di hujani napsu saja? Pelampiasan karena sudah rela menyerahkan tubuhnya untuk suaminya? Apa itu salah? lalu harus mendapat hukuman seperti ini?
Lucky semakin meradang melihat keterpakuan Sri dalam diam. Marah karena Sri ternyata benar-benar tidak mau mengatakan ada cinta untuknya. Lucky di terpa cemburu yang ia ciptakan sendiri di hati dan otaknya. Apa ini karena Noah? rasa cemburu pada Noah semakin tumbuh pesat. Sebenarnya Sri tidak pernah mencintainya. Noah sudah masuk ketika mereka belum sedekat ini.
Memori di otaknya memaksa mundur kebelakang. Mengingat bagaimana Sri sangat dekat dengan Noah ketika di pulau. Tertawa lepas dan mereka berdua terlihat sangat mesra sebagai sepasang kekasih.
"Katakan Sri"
Tuntutnya terakhir kali. Tapi Sri tetap diam. Inikah balasan Sri setelah dia memutuskan dan menolak Amira? Hanya mendapatkan Sri yang diam membisu setelah dia menuntut cinta darinya?
Lucky kalap. Memagut paksa bibir Sri lagi. Memaksa Sri membuka mulut. Rasa marah dan cemburu di hatinya mendorong untuk mendapatkan jawaban balasan cinta.
Lucky semakin brutal melihat kepasrahan Sri. Mengobrak-abrik mulut istrinya dengan lidahnya yang sudah tidak terkontrol lagi. Meremas gundukan dada Sri dengan kasar. Semakin bersemangat mendengar rintihan Sri akibat remasan tangan kokohnya.
Tapi tiba-tiba Lucky berhenti mendadak. Dia merasakan air asin di bibir sri. Itu bukan Saliva istrinya.
Deg!
Lucky menegang. Segera menarik kepalanya menjauh. Melihat wajah pasrah Sri yang sudah melelehkan air bening dari matanya yang terpejam. Melihat itu, Lucky menegang. Langsung melepaskan tubuh Sri dari pelukannya.
Sri menangis. Istrinya menangis. Wanita yang di cintainya menangis akibat kebrutalannya. Wajah Lucky pias. Sri menangis tanpa suara. Hanya air mata berlinang di pipinya dan Sri menggigit bibirnya akibat menahan perih di hatinya.
Lucky mendekat lagi. Mengangkat tubuh Sri dari meja. Membopongnya duduk di sofa. Lalu dia menjauh dari sri. Merasa bersalah karena sudah memaksa. Dan Sri tersakiti karena ulahnya.
Sri terisak dengan menunduk. Menggigit bibirnya dengan keras. Berusaha meredam rasa sakit yang menghujam jantungnya. Lucky lemas. Terduduk di sofa di depan Sri. Mengusap wajahnya kasar. Melihat Sri yang terlihat rapuh terisak sedih.
"Maafkan aku" ujar Lucky lirih. "Aku... aku tidak bermaksud memaksa mu"
__ADS_1
Sri masih diam. Terisak lirih. Mendengar kata maaf itu membuatnya semakin nelangsa. Lucky menggegat grahamnya keras. Mengernyitkan dahinya menahan marah. Sri menolaknya. Baiklah. Lucky mengalah. Tidak akan pernah memaksa lagi jika memang tidak ada balasan cinta dari Sri.
"Maaf Sri. Aku tidak akan pernah memaksa mu lagi" sambung Lucky. "Kalau kamu mempermasalahkan kejadian di apartemen dengan Amira, aku bisa menjelaskan"
Lucky berdiri. Berjalan ke arah jendela kaca. Merogoh saku jasnya dan mengambil ponsel. Mengeceknya sebentar, lalu mengirimkan email video ke ponsel Sri.
"Aku sudah putus dengan Amira" ujar Lucky sambil matanya menatap keluar jendela. "Aku sudah mengatakan itu padamu kan? Tapi, aku tidak tau kenapa dia kembali lagi dan ingin menggodaku. Di apartemen kemarin, aku menolaknya. Aku pikir, aku sudah memilikimu. Aku tidak mau merusak hubungan kita"
Lucky menarik napas dalam. Tidak peduli Sri mendengarnya atau tidak. Tidak melihat wajah sri karena dia memunggunginya.
"Hhh.. aku sampai mendorong Amira waktu itu. Dia menangis menuntut ku. Aku tidak bisa berbuat lebih kasar lagi. Kami berpisah baik-baik tanpa ada keributan berarti. Aku tidak mau menyakitinya lebih banyak. Dan aku juga tidak bisa menyakiti mu juga"
Sri menatap punggung Lucky. Hatinya semakin terhempas nestapa. Bisa merasakan perasaan Lucky pada Amira. Mereka berpisah karena Sri masuk dalam kehidupan Lucky. Karena Lucky tidak mau menyakitinya sebagai istri, maka Lucky memutuskan Amira. Mereka berpisah tanpa ada masalah yang tercipta lebih dulu. Dirinya lah yang menjadi masalah mendasar dalam hubungan lucky dan Amira.
"Hhh.. sudah lah. Kita lupakan itu" Lucky berbalik. Menatap Sri yang juga menatapnya dengan linangan air mata. "Aku sudah mengirim video cctv di apartemen. Kau bisa melihatnya nanti"
"Tentang apa yang di katakan Amira di apartemen, itu semua benar" Lucky menatap netra Sri. Gadis itu tercekat mendengar pengakuan Lucky.
"Tapi itu dulu. Aku berjanji padanya seperti itu. Aku sangat percaya diri tidak akan pernah bisa membuka hati untuk mu. Masalah warisan, aku tidak peduli. Dulu aku pikir tidak akan pernah masuk lagi ke keluarga kakek. Berpikir aku bukan pewaris utama. Jadi aku hanya takut papi tidak akan membagi ku sepeserpun karena papi lebih memilihmu. Hhhh.. tapi kita hanya manusia. Tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi besok"
Sri hanya diam mendengarkan. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Lucky menceritakan semua tentang dirinya dan Amira. Ada desiran aneh menggelenyar di hati Sri mendengar keterbukaan Lucky menjelaskan padanya.
Lucky melangkah ke arah pintu. Sri hanya mematung memandangi Lucky.
"Sri, sekali lagi maafkan aku soal tadi. Aku tidak akan memaksa dan menuntut mu jika memang tidak ada cinta untuk ku. Kau berhak menentukan langkah mu"
Lucky keluar. Menutup pintu dengan rapat. Meninggalkan Sri yang masih terbengong mencerna apa yang di ucapkan Lucky tadi. Kesunyian menghantamnya seketika. Dia sendiri. Meluruhkan air matanya tanpa bisa berbuat banyak. Bimbang pada apa yang harus dia lakukan.
Lucky dan Amira berpisah karena dialah penyebabnya. Lucky lebih memilihnya Karena kewajiban mengayomi istrinya. Sri merasa bersalah juga telah menjadi penyebab putusnya hubungan mereka.
Tidak bisa menahan rasa cinta yang tumbuh mekar di hatinya untuk Lucky. Kesepakatan pernikahan yang dulu terucap dari bibir masing-masing, kini berganti rasa cinta yang ingin memusnahkan batasan di antara mereka berdua.
"Hikkss.. hikss... Sri mesti piye, Mase?" Sri terisak sedih. "READERSSS... tolong komen dong. Kek i solusi atas masalah ku Iki. Aku kudu piye? hikkss.. hiksss.. Mase tak los ke Karo Amira, opo piye?"
__ADS_1