OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Diantar Selingkuhanku


__ADS_3

Sri sangat panik begitu melihat Agnes tergeletak tak sadarkan diri. Meminta beberapa pelayan lelaki untuk menggotong Agnes masuk ke dalam mansion. Lucky sendiri hanya terbengong. Merasa aneh kenapa temannya Sri sampai jatuh pingsan.


Nita mengoleskan minyak kayu putih ke telapak tangan dan kaki Agnes. Mengoleskan sedikit di bawah hidungnya agar Agnes segera siuman. Sri menggosok tangan Agnes dan sesekali mengguncang tubuh gadis itu bermaksud agar lekas sadarkan diri. Tapi Agnes masih betah memejamkan matanya.


Lucky yang sedari tadi duduk dan hanya memperhatikan, kini mendekat dan membungkukkan tubuhnya di samping Sri. Memperhatikan keadaan Agnes dengan penasaran.


"Sayang, sebenarnya teman kamu ini kenapa?"


Sri mendongak sejenak melihat Lucky. Lalu menggeleng dan melihat Agnes lagi.


"Mana Sri tau Mase. Mase kan tau kita lagi masuk ke dalam. Mbak Nita nih yang di situ" Sri mengedikkan dagunya menunjuk Nita.


Nita hanya menunduk takut. Tak berani menatap tuan dan nyonyanya. Lucky menarik Sri berdiri. Mengajaknya duduk di sofa lain.


"Dia tidak apa-apa. Sudah sini, duduk dengan ku"


Lucky merengkuh pundak Sri. Merapatkan ke dadanya. Mengendus rambut dan leher Sri. Gadis itu menepis. Merasa malu karena ada Nita bersama mereka. Tapi Lucky tidak peduli.


"Nita, katakan apa yang terjadi" perintah Lucky pada Nita.


Nita sedikit menggeser posisi bersimpuhnya dari samping sofa tempat Agnes tergeletak. Menghadap pada tuannya.


"Maaf, tuan. Saya juga tidak tau pasti. Tapi setelah tuan dan nona Sri pergi, nona Agnes bertanya pada saya tentang tuan dan nyonya. Saya jawab tuan Lucky pemilik mansion dan suaminya nona Sri. Tau tau nona Agnes langsung pingsan, tuan" Nita menjelaskan dengan tertunduk.


Lucky menaikkan sebelah alisnya. Dahinya berkerut keheranan. "Kenapa dia pingsan setelah tau aku ini suamimu, Sri?" Lucky bergeser sedikit menatap istrinya.


Sri terkekeh geli. Ternyata Agnes langsung shock begitu mengetahui Sri adalah istri dari Lucky.


"Ini gara-gara kamu loh mas" Sri mencubit perut Lucky. Membuat pria itu terjengkit kesakitan.


"Hah? kenapa aku?"


"Mas, temen-temen Sri itu kan Ndak tau Sri nikah sama siapa. Jadi mbak Agnes kaget mungkin"


"Hh.. memangnya kenapa kalau kamu nikah sama aku? tidak boleh?"


"Bukan gitu Mase"


Sri bingung harus menjelaskan pada Lucky. Kalau sebenarnya teman-temannya sudah berfantasi liar padanya.


"Temen-temen Sri, pada naksir sama Mase"


"Oh, ya?" Lucky tercengang. "Kalau naksir kenapa pingsan?"


Sebelum Sri menjelaskan lagi, tubuh Agnes bergerak. Gadis itu siuman. Segera Sri mendekat lagi ke sofa di depannya. Lucky juga ikut mendekat.


Tampak Agnes membuka matanya perlahan. Lalu mengernyitkan dahinya melihat siapa orang-orang yang ada di dekatnya. Tapi begitu melihat Lucky, sontak saja Agnes langsung bangkit terduduk dan gemetaran dengan wajah cemas dan takut.


"Mbak Agnes. Mbak.. mbak Agnes kenapa?" Sri memegangi tangan Agnes yang terasa sedingin es.


"T-tuan.. L-lucky" desis Agnes takut.

__ADS_1


Lucky menegakkan tubuhnya. Bingung kenapa Agnes ketakutan melihatnya. Seperti melihat hantu saja. Sri menyadari ketakutan Agnes. Dia melirik Lucky yang menatap Agnes dengan kening berkerut.


"Mas.. Mase!" Ujar Sri dengan suara tertahan.


Lucky menoleh padanya. Menggerakkan dagunya seakan bertanya ada apa. Tapi wajahnya masih menyiratkan kebingungan.


"Sana dulu mas. Sana.. sana"


Sri menggerakkan tangannya mengusir Lucky agar menjauh. Nita sampai mengkerut takut melihat Sri berani mengusir Lucky dengan gampang. Rahang Lucky mengatup erat. Jengkel melihat Sri mengusirnya tanpa tau apa kesalahannya. Pria itu bergerak menjauh meninggalkan mereka.


Pandangan Agnes mengikuti kemana Lucky pergi sampai menghilang dari pandangan matanya.


"Mbak. Mbak Agnes gak apa-apa kan?" Sri mengelus lengan Agnes.


Agnes tersadar. Segera Agnes menoleh pada Sri lagi. Matanya berkaca-kaca. Rasa bersalah berseliweran di hatinya. Merasa bersalah sudah berfantasi liar pada suami temannya sendiri dan di depan mata kepala Sri.


"Sri, maaf" lirih suara Agnes.


"Loh.. mbake.. kenapa minta maaf? mbak Agnes Ndak salah kok" Sri merasa prihatin melihat ketakutan Agnes.


"Maaf Sri. Waktu itu aku gak tau kalau tuan Lucky itu suami mu" Agnes terisak. Dia takut dan malu sekaligus.


"Aduuh.. udah mbak jangan nangis. Itu bukan salah mbak Agnes" Sri menenangkan Agnes.


"A-aku... aku.. Huuhhuuu.. maaf ya Sri! maaf banget" Agnes makin terisak. Dia sangat malu.


"Sudah mbak.. Sudah" Sri memeluk Agnes memberinya rasa nyaman. "Mbak Nita, tolong ambilkan air"


Nita segera mengambil air dan menyerahkan pada Sri.


Agnes menurut. Menerima gelas dari tangan Sri, lalu meneguknya setengah. Sri tersenyum memaklumi kegugupan Agnes. Gadis ini hanya merasa sangat malu.


Agnes sudah mulai tenang. Tidak setegang tadi. Mulai bisa tersenyum kikuk menatap sri. Sri sangat memaklumi kenapa Agnes sampai setengah itu. Dia juga sebenarnya tidak mempermasalahkan tentang apa yang dikatakan Agnes tentang Lucky. Tapi Agnes sendiri yang kalang kabut karena rasa bersalah.


"Sri, kamu kenapa gak bilang sih kalau kamu itu istrinya tuan Lucky?" Agnes menuntut. "Kamu kenapa bohong tentang suami kamu?"


"Maaf mbak Agnes. Bukan maksute Sri mau bohong mbak"


"Kamu kan jadi di gosipin yang enggak-enggak loh di kantor"


Sri hanya tersenyum saja. Tidak mau memusingkan tentang gosip dirinya di kantor.


"Tapi Sri.. maaf ni ya aku tanya.. kamu jangan marah" Sri mengangguk.


"Bukannya tuan Lucky pacaran sama Amira artis terkenal itu ya? Kok malah kamu istrinya? gimana ceritanya Sri? Kasih tau aku dooong.." Agnes merengek karena penasaran.


"Emmm... tapi mbak Agnes janji Yo, Ojo cerita sama yang lain" Sri meminta janji Agnes dulu. Agnes mengangguk bersemangat.


Sri menceritakan semuanya. Agnes mendengarkan dengan seksama. Sesekali gadis itu manggut-manggut.


"Jadi, tuan Lucky udah putus sama Amira, ya?"

__ADS_1


"Hem" Sri mengangguk. "Tapi mbak Agnes janji loh ya, Ndak bilang masalah ini sama siapapun?"


"Iya aku janji"


Kini Agnes bisa tersenyum lega. Sri memaafkannya dan bisa memaklumi.


"Jadi, suami ojol kamu gak ada nih?"


Sri menggeleng dan erkikik geli mengingat suami ojolnya. Agnes memukul tangan Sri gemas.


"Terus, kenapa kamu gak mau orang lain tau kalau kamu istri dari tuan Lucky?"


"Ndak mau orang berteman sama Sri karena melihat mas Lucky, mbak"


Agnes manggut-manggut. Tidak salah jika dia berteman dengan Sri. Gadis medok dengan kesederhanaannya. Tidak mau pamer kalau dia sebenarnya adalah istri dari seorang pria yang kaya raya.


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Mereka sempat makan malam bersama. Agnes masih segan pada Lucky. Karena Lucky tidak terbiasa berbicara dengan orang luar, jadi sikap Lucky sangat kaku sekali. Pria itu hanya bisa bicara lepas dengan kerabat dekat saja. Selain itu, dia hanya bisa tersenyum sedikit dengan kaku. Makan malam dalam diam.


Tapi Agnes juga bisa memaklumi. Walaupun Sri sudah dekat dengannya, tidak lantas menuntut suami Sri juga bersikap sama. Apalagi melihat kedudukan Lucky jauh di atasnya. Agnes bisa memaklumi itu.


Agnes pamit pulang setelah makan malam usai. Tapi Sri mencegahnya. Khawatir ada apa-apa di jalan. Karena ini sudah lumayan malam.


"Gak apa kok, sri. Biasanya juga aku pake motor"


"Ndak boleh mbak. Ini udah malam loh mbak" Sri tetap kekeh Agnes tidak bisa pulang dengan motornya.


"Ayo kita antar temanmu, sayang" Tiba-tiba Lucky nyeletuk.


Agnes agak kaget mendengar itu. "Tidak usah tuan, Lucky. Biar saya pulang sendiri saja" Agnes menolak dengan sopan.


"Tidak apa-apa. Istriku benar. Ini sudah malam. Lebih baik kami mengatarmu" Lucky tersenyum kecil.


Memanggil pak Karim untuk bersiap. Terpaksa Agnes menuruti saja. Tapi sebenarnya sih hatinya girang tak karuan. Diantar sama pasangan suami istri yang baik hati. Dan yang paling dia berdebar, diantar seorang yang terkenal! Lucky Albronze!


Mereka menunggu di depan teras mansion. Pak Karim datang dengan mobil, dan berhenti di depan teras. Begitu pak Karim keluar dari mobil untuk membukakan pintu tuannya, Agnes tampak kaget melihat pak Karim.


"Sri.. ini kan..." katanya menggantung. Tak berkedip menatap pak Karim intens.


"Hihihi.. iya mbak. Ini pak Karim. Supir yang di bilang selingkuhan Sri" jawab Sri cekikikan.


Ah.. Agnes lemas lagi. Pantas saja Sri di gosipkan jadi simpanan om om. Supirnya saja seganteng itu. Pakai setelan safari dengan rambut klimis dan wajah yang cukup manis, dengan kumis tipis melintang dengan serasi.


"Pantas saja tuan Lucky sekeren itu, Sri. Supirnya aja seganteng ini" bisik Agnes di telinga sri. Membuat gadis itu tertawa renyah.


"Jadi, mbak Agnes mau nih, jadi simpanan pak Karim?" Sri mengedip nakal.

__ADS_1


Agnes melengos tidak bisa menjawab pertanyaan Sri. Sri terkekeh geli.


"Ayo, mbak. Kita di antar sama selingkuhannya Sri"


__ADS_2