
Acara makan pecak welut sudah selesai. Sri makan dengan lahap merasakan kenikmatan masakan ibunya Rian. Ibu kepala desa itu dengan senang hati memasak pecak welut untuk Sri. Hanya Sri seorang yang berhasil memintanya memasak.
Lucky berkali-kali harus muntah akibat merasa geli melihat Sri melahap daging belut yang ia rasa berbentuk seperti ular. Tapi Sri tak peduli. Malah terkekeh senang mempraktekkan makan belut dengan mulut monyong dan mata terpejam.
"Astaga! Lahap sekali dia makan ular" keluh Lucky begitu melihat Sri menggigit daging belut seperti makan paha ayam saja.
Dan Agnes, akhirnya bisa menata hati yang lama bimbang menjadi tegar dalam satu keputusan pasti. Malam itu, setelah makan malam, mereka duduk berkumpul di ruang depan rumah Rian.
"Jadi, bagaimana cah ayu, lamaran ibu di terima toh?" tanya Hansnah menatap Agnes penuh harap.
Agnes gugup menatap semua mata menuju kearahnya. Meremas jemarinya yang berkeringat. Melirik Noah sejenak dengan tatapan meminta dukungan darinya. Noah membalas lirikan Agnes dan mengangguk kecil.
"Agnes, jika kau tidak bisa menerima, katakan saja." Lucky menatap Agnes tegas.
Susah payah Agnes menelan salivanya. Kerongkongannya terasa kering. Tapi Sri segera menggenggam tangan Agnes yang terasa dingin. Tersenyum hangat memberi semangat.
Melihat banyak dukungan untuknya, hati Agnes semakin tegar. Mendongak dan duduk dengan tegak. Menatap semua orang dengan berani. Tatapannya bersirobok dengan Rian. Pemuda itu menatapnya tegang menanti jawaban apa yang akan dia berikan.
"Saya.. S-s-saya.. M-menerima bu." Jawab Agnes akhirnya.
Segera terdengar hempasan napas lega dari semua orang. Terdengar sangat lega dan ucapan syukur bersahutan. Tersenyum lebar mendengar Agnes menerima pinangan Rian. Apalagi Rian, pemuda itu hampir saja bersorak dan terlonjak riang. Untung saja ayahnya sigap menahan bahunya agar tidak banyak bergerak. Rian hanya cengengesan di tertawakan semua orang.
Akhirnya semua bahagia. mereka berencana kembali ke ibukota esok hari. Rencana orang tua Rian akan datang ke rumah orang tua Agnes hanya dalam satu bulan lagi. Kerena Agnes masih harus membereskan pekerjaannya di kantor lebih dulu.
Rombongan Lucky berpamitan pada ayah dan ibu Rian, serta keluarga besarnya. Hasnah dan pak Rahman melepas mereka dengan berat hati. Inginnya mereka masih tinggal beberapa hari lagi. Tapi hari libur harus segera di akhiri. Lucky takut istrinya akan kelelahan di masa kehamilan yang masih muda.
Keluarga Sri juga begitu. Merasa sedih ketika Sri dan suaminya harus mengakhiri masa libur. Tapi Lucky berjanji akan memboyong keluarga istrinya nanti ketika mengadakan acara tujuh bulanan kehamilan sri.
Mereka kembali ke ibu kota. Kembali ke rutinitas keseharian yang padat dan menyesakkan. Perusahaan baru yang di bangun Levi dan Fardo akhirnya jatuh ke tangan Lucky.
Kasus Levi and the gank juga masih dalam persidangan. Sampai masa putusan hukuman dari hakim di kumandangkan, masing-masing dari mereka mendapat hukuman yang setimpal. Tapi Levi dan Fardo yang paling mengenaskan. Mendapat hukuman lebih berat dari Amira dan Neni. Apalagi masuk dalam kasus penyeludupan narkotika.
❤️
❤️
❤️
Noah duduk menunduk di bangku ruang tunggu keberangkatan pesawat. Sedangkan Lucky berdiri menghadap ke luar dan membelakangi Noah. Keheningan tercipta jelas. Noah memutuskan pergi dan menyerahkan semua tampuk kekuasaan di tangan Lucky. Dia ingin pergi meninggalkan semua kenangan di kota ini.
"Sekali lagi aku tanya padamu, No." Lucky berhenti sejenak. Suaranya terdengar sedikit bergetar. "Kau sungguh akan pergi?" sambungnya.
Noah mendongak. Menatap punggung kokoh milik kakak sepupunya itu. Hatinya teriris pilu. Tapi ia tidak mau lemah dengan rasa haru yang menyelimuti hati.
"Ya. Aku akan pergi, Luck" jawabnya tegas.
Lucky segera berbalik menatap Noah tajam. Napasnya tersendat karena sesak. Rasa geram mendengar jawaban terakhir yang di berikan Noah barusan membuatnya hampir berhenti bernapas.
"Maaf aku tidak bisa mendampingi mu mengurus perusahaan" sambung Noah.
"Apa ini karena Sri?"
Mata Lucky penuh selidik menatap langsung ke mata Noah. Mereka saling tatap untuk sepersekian detik. Lucky tidak mengerti dengan jalan pikiran Noah. Adik sepupunya ini terlalu baik untuk memberi kebahagian pada orang lain. Tapi dia tidak memikirkan dirinya sendiri. Bukankah itu hal yang bodoh?
__ADS_1
"Jangan ikut sertakan dia dalam masalah ku ini, Luck!" desis Noah.
"Lalu apa? Kau pergi meninggalkan paman dan bibi. Kau tau kondisi papa mu bukan? Kau tau di mansion sudah tidak ada pemimpin lagi. Apa kau mau kakek yang setua itu masih harus terus berpikir untuk semua hal?"
Lucky mengeluarkan semua apa yang ia tidak mengerti dari Noah. Ingin rasanya membenturkan kepala Noah agar bisa berpikir dengan baik.
"Tolonglah kak. Aku hanya ingin pergi. Suatu saat nanti aku pasti kembali" Noah menatap Lucky penuh permohonan agar Lucky mengerti.
Lucky berjalan mendekati Noah. Duduk di sampingnya dan mengusap wajahnya kasar.
"Dengar, No. Jika kau pergi karena istriku, aku minta maaf, oke.. Kau tau di mansion masih ada Ghea yang masih harus kita perhatikan. Masih ada paman yang butuh bantuan mu. Masih ada kakek yang ingin melihat kita bersama. Apa kau tidak memikirkan itu?"
"Luck, aku pergi hanya karena ingin pergi. Aku sudah bilang pada mereka di mansion, aku ingin pergi. Dan mereka mengerti. Dan ini bukan karena Sri. Aku sudah menutup cerita itu sejak tau dia adalah istri mu. Jadi tolong, jangan sangkut pautkan dia dalam masalah ini."
Diam. Mereka berdua terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Suara pengumuman keberangkatan sudah berkumandang. Noah menghela napas dan menepuk pundak Lucky.
"Kak, aku pergi. percayalah aku akan kembali suatu hari nanti."
Lucky menatap netra Noah dalam. Lalu memeluk Noah dengan erat. Dia selalu bertengkar dengan Noah selama ini. Tapi dia dan Noah tahu bahwa mereka berdua adalah saling menyayangi satu sama lain.
Noah membalas pelukan itu erat. Saling membagi rasa dalam diam dan helaan napas. Merenggangkan pelukan dan mereka saling tersenyum.
"Pergi Lah. Sambut mimpimu. Aku dan yang lain menunggu mu di sini." ujar Lucky.
Noah balas tersenyum dan mengangguk mantap. Lalu berdiri dan mulai melangkah meninggalkan Lucky sendiri menatap punggung Noah yang bergerak semakin menjauh.
"Aku tau kau pergi karena Sri, No. Dan aku tau kau ingin melupakan semuanya. Semoga kau baik-baik saja. Dan kau pasti kembali pada kami lagi nanti." gumam Lucky masih menatap kepergian Noah sampai menghilang dari pandangannya.
❤️
❤️
❤️
Malam ini Lucky mau diladeni istrinya seratus persen. Makan malam di kamar dan dengan telaten Sri menyuapinya. Tertawa bersama dan saling mengecup mesra.
"Sayang, baby-nya bergerak lagi?" tanya Lucky sambil mengelus perut Sri.
"Iya Mase. Itu lagi respon Mase kan?"
Sri menunjuk dengan lirikan matanya. Lucky kegirangan melihat gerakan kecil di perut istrinya. Mengelus dengan intens. Menunduk dan mengecup bagian yang menonjol.
"Baby.. Daddy bisa merasakan tendangan mu" bisik Lucky.
Gerakan itu semakin kuat. Membentuk benjolan yang bergerak-gerak. Sri merintih merasakan geli dan sakit sekaligus saking kuatnya gerakan bayi di perutnya.
"Oowwhh.. Sayang.. Jangan terlalu kuat bergerak. Mommy mu kesakitan baby.."
Lucky mengelus lagi. Tertawa melihat gerakan bayinya melemah. Seakan mengerti ibunya sedang merasakan kesakitan akibat gerakannya.
"Ndak apa-apa kok mas. Ndak sakit" ujar Sri seraya mengelus rambut Lucky dengan sayang.
Lucky mendongak menatap wajah ayu itu. Meraih dagu mungil istrinya dan mengahdapkan tepat di depannya. Wajah manis yang dulu sangat dia benci dan sebal jika melihatnya. Wajah yang hampir dia tidak ingin lihat. Wajah yang selalu membuatnya marah karena Amira menangis karenanya.
__ADS_1
Tapi kini, wajah ayu itu selalu ia rindu. Wajah manis yang akan memberinya seorang bayi. Wajah penuh cinta menatapnya setiap bangun tidur di pagi hari.
"Sri, terima kasih sayang"
"Untuk apa mas?"
"Untuk segalanya. Terima kasih kau mau bertahan sampai cinta kita akhirnya datang" bisiknya. Mengusap bibir basah istrinya yang selalu menghasilkan rasa candu yang manis ketika ia menyesapnya.
"Aku mencintai mu sayang"
"Sri juga cinta Mase" jawab Sri tersipu.
"Jadi... Bisa dapat jatah malam ini?"
"Hah?" Sri mendelik. Lucky tersenyum lebar dan menaik turunkan kedua alisnya menggoda Sri.
"Iisshh.. Mase mesum!" Sri memukul pelan lengan Lucky.
Lucky terkekeh senang. Mengecupi pipi dan seluruh wajah istrinya. Sri menggelinjang geli. Menangkap wajah Lucky agar tidak bergerak. Saling menatap satu sama lain dengan penuh cinta.
"Mau ya sayang?" rengek Lucky meminta.
"Apa Mase?"
"Ini" Lucky menunjuk ke bawah dengan kerlingan nakal.
"Ndak ah... baby-nya ntar marah."
"Loh kok marah?"
"Iya, katanya daddy-nya nakal. Hihiihii.." Sri terkikik geli.
"Hmm.. Nakal kamu ya..." Lucky berusaha untuk mengecup bibir Sri lagi. Tapi Sri menghindar dan menahan wajah Lucky agar tidak bisa menjangkau bibirnya.
"Sayang.. Ayolah.. Jangan begitu.." Lucky menatap Sri memelas. Istrinya hanya terkekeh saja.
"Oke! Oke kalau kamu tidak mau." Lucky merajuk.
"Cieee... Gitu aja ngambek Mase" Sri menggodanya.
"Hmm.. Atau mau mau pake kekerasan nih?"
"Eh.. Kok kekerasan sih?" Sri mendelik.
"Ini sayang..." Lucky menunjuk sesuatu yang sudah menggembung tinggi. "Ini yang keras."
Sri terkesiap ketika tiba-tiba Lucky menyergapnya. Mengecupi leher dan tulang selangkanya. Membuat Sri kewalahan.
"Jangan menolak baby.. Aku menginginkan milikku" Lucky menyeringai buas. Sri melotot melihat wajah nakal yang akan melu**tnya habis jika sudah begitu.
"Eeerrgghhh... Aku akan merobek mu baby.. Aku akan membuatmu terkapar tak berdaya.. Aku akan... "
"Aaaakkhh..Mase!! Ojo ngono mas!!"
__ADS_1
🤫🤫🤫🤫🤗🤗🤗
TAMAT.