
Begitu mendengar penawaran Sri, wajah Agnes berubah cerah secerah mentari pagi. Mengangguk kuat menyetujui ajakan Sri. Inilah yang di tunggu-tunggu sejak lama. Kapan lagi dia akan mengenal suami Sri yang katanya temannya Pak Noah sang pujaan hati.
Nanti Agnes akan bisa berbangga diri di depan Susan, kalau dia sudah punya comblang yang bisa mendekatkannya pada Noah. Dan kalau bisa, langsung saja di pertemukan dengan Noah. Lalu, dia akan lebih dulu meminta Noah untuk menjadi kekasihnya.
Memikirkan itu, Agnes langsung semangat empat lima membonceng Sri dengan motornya. Menembus jalanan padat merayap di ibukota. Yes!! Agnes bersorak riang di dalam hati. Meminta Sri menunjukkan jalan menuju kerumahnya.
Tapi seketika senyum itu lenyap berganti kebingungan ketika mereka berbelok ke arah perumahan elit. Agnes memelankan laju motornya. Agak memiringkan kepalanya bertanya pada Sri di belakangnya.
"Heh, Sri! kita mau kemana sih?" mengernyitkan dahi dengan bingung.
"Katanya mau ke rumah Sri, mbake.."
"Tapi kok... Ah, kamu salah jalan ini, Sri"
"Ndak loh mbak. Udah bener Iki dalane"
"Serius kamu?"
"Iya loh mbak agneess.."
Ragu menjalankan motornya. Agnes kebingungan kenapa mereka memasuki kawasan elit. Mana mungkin tukang ojol ngontrak rumah di kawasan mansion elit?!Tapi masih tetap berjalan pelan menyusuri jalan. Tampak keraguan sangat kuat di hati Agnes. Sri hanya cekikikan di belakang boncengan.
Sampai di depan pos sekuriti penjaga portal. Agnes berhenti dengan wajah takut dan cemas. Menatap Sri meminta penjelasan. Tapi Sri cuek saja. Turun dari motor dan mengambil ponselnya.
"Mbak Agnes tunggu sebentar ya"
Agnes mengangguk menunggu di atas motor. Memperhatikan Sri berjalan ke pos sekuriti. Tampak Sri bicara sejenak dengan dua orang sekuriti. Menyerahkan ponselnya pada salah seorang dari mereka.
Agnes bengong melompong ketika kedua sekuriti itu malah mengangguk hormat dan tersenyum ramah pada Sri. Tadinya Agnes berpikir pastilah mereka di usir tidak boleh masuk. Tapi pikiran itu langsung pupus ketika salah seorang keamanan itu malah membuka portal dan mempersilahkan Sri melanjutkan perjalanan.
"Weeehh.. gila kamu Sri! kita boleh masuk nih?" Agnes menatap Sri takjub. Entah jampi-jampi apa yang di ucapkan Sri di depan keamanan tadi sampai memperbolehkan mereka masuk.
Sri hanya tergelak saja. Naik lagi ke motor Agnes dan Agnes melajukan motornya lagi masuk ke kawasan elit itu.
"Tadi mereka bicara sama siapa di hp kamu Sri?" tanya Agnes penasaran.
"Suami Sri, mbak"
Agnes diam. Dia mengira kalau suami Sri adalah teman pak sekuriti itu. Makanya mereka di ijinkan masuk.
Dikarenakan tidak boleh sembarangan masuk kawasan ini. Semua plat mobil kendaraan penghuni mansion, sudah tecatat. Dan tamu yang datang harus di tanyai keperluannya lebih dulu, baru mendapat akses masuk. Untuk menghindari kejadian yang tidak di inginkan.
Semua kendaraan yang keluar masuk di data oleh keamanan. Sri menelepon Lucky langsung dan berbicara pada mereka untuk mengijinkan motor Agnes masuk.
Sepanjang perjalanan Agnes tak henti-hentinya berdecak kagum melihat mension-mension mewah. Dia belum pernah masuk ke kawasan seelit ini. Sri tersenyum kecut. Agnes terlihat persis seperti dia dulu pertama kali di bawa ke sini. Kalau Lucky bilang dengan sinis, Kampungan!!
Sri mengarahkan jalan. Mereka berhenti di gerbang mansion keluarga Frans. Sri turun lebih dulu. Meminta keamanan mansion membuka gerbang. Dengan patuh dan sedikit tergopoh, seorang keamanan membukakan gerbang yang menjulang tinggi itu.
Agnes sampai mengangakan mulutnya ketika melihat ke dalam halaman setelah gerbang terbuka. Sri mengajak Agnes masuk. Tapi Agnes masih meragu.
"Kamu yakin, Sri? apa kita gak di usir nih? atau nanti kita malah di kejar anjing penjaga, Sri?" bisik Agnes.
"Hihihii.. Ndak loh mbak. Udah ayo masuk"
Sumpah!! Agnes seperti sedang berhalusinasi. Menatap Sri tak percaya. Menjalankan motornya masuk, sambil mengangguk pada sekuriti dengan senyum cemas.
Sampai di halaman depan mansion, mereka di sambut pak Sam. Lelaki tua itu membungkuk hormat pada Sri. Dan seorang pelayan lelaki datang menghampiri.
"Mbak Agnes, kunci motornya kasih ke pak Edo"
"Lho? kenapa?" Agnes tampak takut.
"Biar di parkirkan di garasi mbak"
Dengan berat hati, Agnes menyerahkan kunci motornya pada pelayan yang bernama pak Edo. Menatapi motornya di bawa pergi. Hati dan otak Agnes berkerja keras memikirkan keanehan ini.
__ADS_1
Mereka masuk ke mansion. Mata Agnes langsung menjelajahi mansion mewah ini. Dia seperti masuk ke alam nirwana. Semua serba mewah.
"Silahkan duduk, nona Sri" pak Sam mempersilahkan Sri dan Agnes duduk di ruang depan.
"Terima kasih pak Sam. Mase tidak ada pesan sama pak Sam?" tanya Sri seraya duduk di sofa besar.
"Tuan bilang, sebentar lagi akan pulang" jawab pak Sam hormat.
"Oh.. ya sudah"
Pak Sam beranjak pergi. Agnes melihat semua itu dengan bengong. Apa itu tadi? Nona? Tuan? Ada apa ini?! Agnes bertanya-tanya dalam hati.
"Lho, mbak... Sini duduk. Kok malah bengong toh?"
Agnes tergagap dan segera duduk di samping sri. Menatap gadis itu dengan cemas.
"Sri, aku ini mimpi kan? Kok tadi bapak tua itu manggil kamu nona? Terus tuannya itu siapa?"
Sri tergelak. Agnes tampak kebingungan. Kasihan Sri melihatnya. Tapi dia belum mau membuka siapa dia sebenarnya. Biarlah Agnes yang menyadari sendiri nanti.
"Udah mbak Agnes. Ndak usah di pikirin"
"Tapi... kamu ini siapa sih Sri? Kok bisa kesini? Apa kamu kerja di sini? atau suami kamu yang kerja di sini? Bukannya kamu bilang dia itu cuma kerja ojol ya?"
"Iya.. iya.. udah ah. Anggap aja begitu" Sri menepuk pundak Agnes yang terlihat sangat penasaran.
"Mbak, kalau sore begini, enaknya kita ke taman belakang aja yuk. Ada pohon jambu. Sekalian kita ambil jambu"
Sri menarik tangan Agnes untuk segera berdiri dan mengikuti langkahnya. Dengan mata celingak-celinguk, Agnes mengikuti Sri. Mereka menuju ke bagian belakang mansion. Sri teringat ada pohon jambu yang buahnya sudah bisa di petik di sana.
"Eh.. Sri!! tunggu!!"
Seru Agnes kencang karena kaget. Matanya melotot menunjuk kearah dinding sebelah kanannya. Ada foto Sri dan Lucky dalam sebuah bingkai besar sedang bersanding di pelaminan, memakai baju pengantin Dodotan Jawa.
"Kenapa mbak?" Sri jadi ikut panik melihat fotonya sendiri.
"Iya mbak. Kenapa toh?" Sri melihat wajah Agnes dengan heran. Kenapa Agnes seperti melihat hantu?
"Tapi.. Tuan Lucky itu.. ah.. itu istrinya?"
"Iya mbak. Mbak Agnes kenal?" Sri tersenyum simpul. Sepertinya Agnes tidak menyadari kalau yang ada di samping Lucky dalam foto itu adalah dirinya.
"Loh?? bukannya tuan Lucky itu pacarnya Amira, artis itu?"
Sri rasanya ingin meledak melihat wajah bingung Agnes. Ingin rasanya menceritakan semuanya. Tapi Sri pikir belum waktunya.
"Sri! kok tuan Lucky sudah menikah sih?" Agnes mengguncang lengan Sri.
"Aduuuh.. mbak Agnes. Nanti Sri jelasin. Wes toh... ayo kebelakang dulu"
Sri menarik tangan Agnes meninggalkan foto dirinya dan Lucky. Membawa gadis itu ke bawah pohon jambu yang buahnya besar-besar dan siap di petik. Entah kenapa Sri teringat dan ingin memakan jambu itu.
Mulut Agnes sudah terbuka ingin bertanya lebih banyak. Tapi gadis itu mengurungkan niatnya dan mengatupkan lagi bibirnya begitu melihat pak Sam datang dengan seorang pelayan, membawa minuman dan makanan kecil di nampan. Dan pelayan lain sibuk menyiapkan meja dan kursi untuk mereka duduk di bawah pohon jambu itu.
Pelayan wanita itu menaruh makanan dan di meja kaca di depan mereka.
"Silahkan nona" mengangguk hormat pada Sri.
"Terima kasih Mbak Nita" Jawab Sri tersenyum hangat.
Begitu pelayan itu akan melangkah pergi, Sri menahannya. Meminta Nita untuk duduk menemani mereka berdua. Dengan takut, Nita melirik pak Sam yang berdiri kaku di belakang mereka. Kepala pelayan itu menatap Nita dengan tajam. Peraturan sudah jelas tidak boleh bergabung pelayan dan tuannya.
"Ndak apa pak Sam. Saya yang minta"
Pak Sam lalu mengangguk kecil dan mengijinkan Nita tinggal. Nita masih berumur dua puluh lima tahun. Bekerja di mansion keluarga Frans sudah satu tahun ini. Sri suka padanya.
__ADS_1
"Biar saya saja, nona"
Nita bergerak mendekati Sri yang kesusahan meraih buah jambu yang berada di ranting lebih tinggi. Sri tersenyum mengalah. Membiarkan Nita memetik jambu itu. Gadis itu dengan cekatan membersihkan buah itu lalu membelahnya menjadi beberapa bagian.
Agnes hanya diam memperhatikan dengan seksama bagaimana orang-orang ini sangat menghormati Sri dan bersikap sangat santun pada gadis medok itu. Sri terlihat seperti seorang putri yang memang harus di perlakukan sedemikian rupa. Agnes sungguh tercengang.
Sri langsung makan buah jambu yang sudah di potong-potong Nita. Memakannya dengan lahap. Air liurnya sudah banjir sedari tadi mematikan Nita selesai memotong jambu.
"Emmm.. enak. Mbak Agnes, ayo.. ini makan jambu. Emmm.. manteb mbak" ujar Sri dengan mulut penuh jambu.
Agnes tersenyum kikuk. Mengambil satu potong buah jambu dan mengunyahnya sambil tak lepas matanya memperhatikan Sri.
"Nita, ini jambunya. Ayo di makan" Sri mengajak Nita untuk ikut makan jambu.
Nita hanya tersenyum dan mengangguk saja. Tidak berani berbuat lebih. Takut dengan mata pak Sam yang menatapnya tajam.
Belum pernah ada yang berani bergabung bersama anggota keluarga tuan rumah. Sekalipun nyonya Melani sangat baik dan tidak pernah menyepelekan pelayan, tapi tetap saja para pelayan mematuhi peraturan mansion keluarga tuan Frans.
Seorang pelayan datang menghampiri pak sam. Berbisik padanya kalau tuan Lucky sudah pulang. Pak Sam segera beranjak pergi meninggalkan mereka. Sri cuek saja. Masih melanjutkan makan jambu dengan lahap. Seperti tidak pernah makan buah jambu. Entah kenapa ia sangat ngiler melihat jambu yang daging buahnya berwarna merah itu.
"Lahap banget kamu Sri. Kayak orang ngidam aja" ujar Agnes mendorong lengan Sri pelan sambil tertawa. Sri juga ikut terkekeh.
"Iya nih mbak. Enak kan mbak jambunya. Emm.. manis" jawab Sri tak menganggap serius candaan Agnes.
"Sayang"
Mereka bertiga menoleh kebelakang. Nita langsung berdiri dari duduknya. Mundur agak menjauhi Sri dan Agnes. Membungkuk hormat dan menunduk takut setelahnya. Sedangkan Agnes, coba bayangkan saja wajah gadis itu melihat siapa yang memanggil Sri dengan embel-embel sayang.
Tercengang tak percaya. Matanya mendelik sempurna. Wajahnya pucat pasi. Itu Lucky. Si tuan kaya raya. Pemilik sebuah perusahaan besar, yang konon juga pewaris utama dari harta kekayaan keluarga Albronze yang tersohor. Dengan kata lain, Lucky adalah penerus perusahaan Bronze tempatnya bekerja.
Sri tersenyum menatap Lucky. Tapi tidak beranjak mendekati suaminya. Masih duduk dan sibuk mengunyah jambu. "Mase udah pulang?"
Lucky berjalan mendekati mereka. Di mata Agnes, langkah Lucky seperti slow motion. Berjalan gagah dengan sikap maskulin yang kental. Agnes teringat pernah bergunjing tentang paha kokoh pria tampan ini di depan sri. Mengatakan betapa hotnya gerakan pria itu jika di ranjang. Wajahnya pucat pasi. Ternyata Lucky adalah... ah.. Agnes gemetaran.
Seperti melayang saja gerakan Lucky tiba-tiba sudah ada di dekat mereka. Membungkuk mencondongkan tubuhnya pada Sri. Mengecup mesra pipi istrinya. Sri hanya tertawa renyah.
"Lagi makan apa, sayang?"
"Ini mas. Mase mau?" Sri menunjuk buah jambu di piring.
"Hem" Lucky mengangguk. "Aaaaa.." Membuka mulutnya minta di suapi Sri.
Sri menurut. Menyuapkan potongan buah jambu ke mulut suaminya.
"Enak kan mas?"
"Em.. lumayan" Lucky mengunyah buah jambu itu dan sesekali mengecap rasa manisnya.
Wajah Agnes semakin pucat melihat kemesraan keduanya. Menatap Sri dan Lucky bergantian dengan mulut ternganga lebar.
"Ayo bantu aku ganti sebentar" Lucky menegakkan lagi tubuhnya. Pria gagah itu tidak melihat ke arah Agnes sedikitpun. Tapi itu sudah cukup membuat Agnes seperti di serang aliran listri yang mengaliri tubuhnya yang semakin kaku.
"Mbak Agnes, bentar ya. Sri bantu Mase dulu"
Sri bergerak bangkit. Menggandeng tangan suaminya dan berjalan bersama. Tubuh Agnes menggigil ngeri. Menatap pasangan mesra itu dengan mata berkunang-kunang.
"Nona.. Nona Agnes tidak apa-apa?" Nita menyentuh pundak Agnes hati-hati. Melihat wajah Agnes yang sudah seputih kapas, Nita rasa gadis ini tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Me.. mereka itu... A-apa.. Tuan Lucky I-itu siapa? Sri I-itu s-s-siaaa..paaa.." Agnes terbata-bata bertanya pada Nita dan menunjuk kearah Sri.
"Ooh.. Tuan Lucky ya pemilik mension ini. Nona Sri itu istrinya tuan Lucky"
GUBRAK!!!
Agnes terkapar tak berdaya. Tubuhnya langsung ambruk tak kuasa mengingat kata-katanya di kantor waktu itu. Betapa ia memuja Lucky dan membayangkan kemesuman lelaki itu. Melihat tubuh tegap dan kokoh berisi itu bergerak erotis di atas tempat tidur.
__ADS_1
Dan yang membuat dia pingsan, semua lontaran kata-kata mesum itu tepat di depan Sri. Istri dari seorang tuan Lucky.