OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Morning Horny


__ADS_3

Pagi membawa suasana terbang ke alam bebas dengan sayap hati mengepak ke sana kemari. Angan dan logika menyatu dengan alam semesta. Pagi begitu indah. Udara segar, Sang mentari menerpa pori-pori dan sendi hidup hangat menyapa.


Kedua insan berlainan jenis masih bergelung dalam hangatnya pelukan cinta. Saling memeluk dan bersandar di dada. Napas teratur berirama damai kidung surga. Terlihat tak ingin terpisah walau dalam lelapnya mata.


Tapi semua berakhir dengan ketukan di pintu yang memaksa mata untuk terjaga. Menggeliat manja terganggu suara keras memekakkan telinga.


"Tuan Lucky, satu jam lagi kita harus segera berangkat" seru Beni dari luar kamar. Dengan sabar menanti tuannya bangun sejak satu jam tadi.


Sri membuka matanya mendengar suara Beni. Mengerjap lalu mengguncang dada Lucky untuk membangunkannya.


"Mas.. Mase.. Bangun"


Lucky menggeliat malas karena terganggu. Membuka mata dan memicingkannya. Menatap wajah Sri di bawah dagunya. Tersenyum manis dengan wajah bantalnya.


"Masih pagi, sayang. Aku masih ngantuk" dengan malas, Lucky kembali memeluk Sri.


Tok..tok...tok..


"Tuan, saya menunggu di lobi" Beni berseru lagi.


"Itu mas. Pak Beni udah nunggu" Sri kembali mengguncang tubuh suaminya.


"Aahhkk.. Ck.. mengganggu saja!"


Lucky kesal dan bangkit dari ranjang. Meraih celana pendeknya yang berserak di lantai. Memakainya dengan malas dan berjalan ke pintu dan membukanya.


"Ada apa?" tanyanya menatap beni malas.


Beni gugup melihat keadaan Lucky yang berantakan. Rambutnya masih acak-acakan dan hanya memakai boxer.


"Maaf mengganggu tuan. Saya hanya mengingatkan. Satu jam lagi kita harus berangkat"


"Akkhhh.. Pergilah Ben. Ini masih pagi" Lucky mengusap wajahnya.


"Baik tuan. Saya akan menunggu di lobi saja"


"Hmm" Lucky menutup pintu.


Beni hanya terbengong di depan pintu yang kembali tertutup rapat. Kata Lucky masih pagi? ini sudah jam tujuh. Satu jam lagi harus mengadakan rapat dengan investor. Tapi tuannya masih acak-acakan.


"Terlihat sangat lelah. Pasti lembur sampai pagi" gumam Beni.


Beni menghela napas dan geleng-geleng kepala. Biasanya Lucky selalu siap sedia. Disiplin waktu yang tidak bisa di tawar-tawar. Tapi urusan Sri, Lucky selalu mengulur waktu untuk bisa lebih lama bersama istrinya itu. Beni mengalah. Pergi menjauhi kamar Lucky. Padahal sudah menunggu selama satu jam di depan pintu kamar tanpa hasil.


Lucky kembali keranjang dan memeluk Sri erat. Mendusalkan wajahnya di dada polos istrinya. Merasakan hangat yang selalu di damba.


"Mase.. ntar telat lho mas" Sri memegangi kepala Lucky dan sedikit mendorongnya.


"Hmm.. biarkan saja. Aku masih kangen kamu, Sri" Rengek Lucky menatap manja.

__ADS_1


"Kangen? lha wong satu maleman kita di sini, mas. Masak iya kangen terus?"


"Hmm.. aku tidak tau. Tapi kangen terus"


Lucky memaksa mendekatkan lagi wajahnya ke dada Sri. Mengecupi belahan gunung kenyal itu. Sri terkikik kegelian. Menggelinjang dan mendorong bahu Lucky.


"Mas, belum puas aja sih?" rengek Sri meminta Lucky berhenti.


"Hmm.. Morning horny, baby.. uhmm.."


"Hihihii.. morning horny apaan Mase? istilahnya nyeleneh" Sri terkikik geli dengan istilah yang di sebutkan Lucky.


Lucky menyibak selimut. Menarik boxernya kebawah. Hingga pentungan bisbolnya mengacung tegak dan berdenyut-denyut. Pipi Sri merona. Malu melihat kenakalan Lucky.


"Ini sayang. Morning horny. Sudah tegang" Bisiknya.


"Iisshh.. Mase mesum!" Sri memukul dada Lucky gemas. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Lucky hanya terkekeh senang.


Padahal sudah melakukannya semalaman sampai Sri menyerah. Tapi Lucky masih gencar menghujamnya dengan semangat empat lima. Dan pagi ini, masih saja minta jatah morning horny.


Lucky menarik tangan Sri menuju pangkal pahanya. Tangan mungil itu menyentuh tongkat bisbol yang sudah terasa hangat dan berdenyut. Masih saja Sri merasa malu ketika suaminya bersikap mesum dalam kemesraan. Tersipu malu tapi melirik pentungan sebesar tangan bayi itu.


"Remaslah, baby. Dengan ini" bisik Lucky sensual dengan kedipan mata genitnya. Mengusap bibir Sri lembut.


"Tapi.. nanti Mase terlambat"


Sri menurut. Mendekatkan wajahnya dan mengecup kepala jamur hangat itu. Lucky menggeram begitu Sri menjulurkan lidahnya membasahi kepala jamur dengan lembut. Meminta lebih dalam lagi. Menginginkan hangatnya mulut mungil yang manis milik istrinya.


Masih saja tidak muat. Hanya setengah yang bisa masuk. Sambil mengurut bagian pangkalnya dan menyelomoti ujung kepala jamur yang mengembang sempurna.


Lucky terengah dan menarik rambut Sri agar bisa melihat dengan jelas bagaimana mulut mungil itu bekerja. Menggigit bibirnya merasakan sensasi nikmat tiada Tara. Hangat menyelimuti tongkat bisbol besarnya. Kadang menekan kepala Sri sedikit lama. Membuat Sri tersedak akibat tenggorokannya tersumpal benda besar nan hangat.


Tak sabar Lucky menarik dan mengangkat pinggul Sri ke atasnya. Menaruh bokong bulat nan indah itu di depan wajahnya. Terpampang pemandangan indah di depan hidungnya. Menghirup aroma memabukkan di sana.


Membuka daging tembem itu dengan kedua jempolnya. Menampilkan lorong pinky yang berkedut indah. Agak sedikit memerah akibat perbuatannya tadi malam. Sri merintih merasakan napas Lucky menyapu bagian intinya. Memejamkan mata merasakan sensasi geli karena bagian intinya di pandangi dengan intens oleh suaminya.


Sri tersentak dan mengerang panjang ketika merasakan lidah kasar dan hangat menyeruak masuk. Mengabsen setiap bagian yang mulai basah. Tak tahan di perlakukan begitu mesra. Lucky tak bosan menyesap nutrisi menyehatkan yang di tumpahkan istrinya.


Menghisap kuat kacang kecil yang mengetat dan sedikit bergetar. Sri kelojotan merasakan lidah lincah menggelitik bagian sensitifnya.


"Maaassee.. uugghhh.."


Lucky semakin giat saja. Bersemangat membuat Sri menyerah. Menyusupkan satu jari kedalam lorong hangat itu. Memaju mundurkan dengan lembut.


Sri kembali sibuk dengan batang yang kokoh mengacung di depannya. Mengurut dan membelai dengan lidahnya. Memasukkan lagi kedalam hangat mulut mungilnya.


"Aakkhhh.."


Sri terpekik ketika Lucky melepas mulutnya. Menurunkan bokongnya merasa kehilangan. Membuat Lucky tersenyum karena istrinya merasa ketagihan. Mendorong bokong Sri lebih kebawah. Sri merangkak sampai memunggungi lucky, sampai bokongnya tepat di atas tongkat bisbol gagah itu.

__ADS_1


Pelan Lucky membimbing batang kokohnya tepat di bawah inti nikmat istrinya. Menggesek di permukaan licin yang menggoda. Menurunkan perlahan bokong Sri. Sampai batang itu tertelan seluruhnya ke bagian terdalam inti istrinya. Sri mendongak dan bertumpu pada lutut Lucky. Menanti acara inti dari permainan panas mereka.


"Eekkhhmm.."


"Aaaghh.."


Sama-sama mengerang serak ketika semuanya tertelan dalam. Lucky mengganjal kepalanya dengan bantal sedikit tinggi. Menatapi bagian inti Sri menjepit tongkat besar dan gemuk yang siap menyerang.


"Bergeraklah, istriku..." geram Lucky dengan suara rendah. Menahan gejolak yang membuncah.


Sri mulai menggerakkan turun naik. Menelan dan memuntahkan tongkat gemuk itu berulang kali. Sungguh pemandangan yang sangat indah menyaksikan bokong bulat itu menelan dan meremas miliknya.


"Oowwhh.. ini indah sekali sayang" geram Lucky dengan napas memburu.


Lucky meremas bokong istrinya gemas. Membantu menaik turunkan pinggul Sri dengan menaikkan temponya. Sri menoleh kebelakang. Menatap sayu netra Lucky yang menatapi intinya menelan ulat besar yang mengaduk-aduk didalam lembah hangat yang mengigit.


"Enak mass.. ehmm"


Sri menggigit bibirnya. Merasakan kesesakan yang membuat ketagihan. Lucky mengalihkan matanya menatap mata sayu istrinya. Mengernyit dalam melihat pesona wajah manja Sri. Sungguh cintanya bertambah berkali lipat.


Menaikkan tempo hujaman. Bertambah semangat mendengar racauan manja Sri. Bersimbah keringat membanjir di seluruh tubuh mereka. Sri meremat erat paha Lucky. Tak kuasa menerima hujaman tajam sampai mentok dikedalam terindah.


Lucky berhenti sejenak. Bangun dari rebahan. Bergerak ke pinggir ranjang dengan membopong tubuh Sri di dekapannya, tanpa melepas penyatuan mereka. Membawa Sri ke depan cermin besar di sebelah kanan dinding kamar. Menurunkan Sri di depan cermin. Mengecupi pundak dan leher Sri bersemangat.


"Lihat kedepan sayang" bisiknya.


Sri bisa melihat tubuh polos mereka berdua yang masih bersatu. Lucky masih men**lati punggungnya. Sensi luar biasa Sri rasakan. Perlahan Lucky bergerak di belakangnya. Pelan tapi pasti. Sri melenting kan dadanya kedepan. Lucky meraih puncak pinkynya dan menarik lembut. Memi**n kecil sambil terus menghujam Sri.


"Maass.. ahh.. Sri mauu.." napas Sri tersengal-sengal.


"Mau apa, sayang? hmm?"


"Aahgg.." pekik Sri keras.


Saling menatap sayu di pantulan cermin. Membangkitkan gairah menggebu. Menghujam lebih dalam dengan ritme syahdu. Lucky mengumpulkan rambut Sri dan menariknya menjadi satu.


Bagai menunggangi kuda betina yang selalu membuatnya mabuk cinta. Tubuh Sri berguncang menahan hentakan di belakangnya.


Suara penyatuan menggema memenuhi kamar mewah itu. Nyaring terdengar dengan desa**n napas berat dan pekikan istrinya.


"Sri, aahh.. ini sangat nikmat, baby.."


"Yaahh.. maseee.. ayooo.."


"Yaaa sayang.. bersama.. uuhhmm.."


Semakin kencang nyaring suara penyatuan itu. Berirama indah semakin menambah tenaga untuk mencapai pelepasan sempurna. Keduanya mengejang dengan hujaman dalam. Memenuhi kehangatan yang sesak oleh madu cinta. Menggelepar kenikm**an.


Ambruk di lantai dengan napas tersengal. Lemas berbaring dengan pelukan mesra. Lucky mengecupi istrinya dengan sayang. Mengucapkan terimakasih untuk segala rasa yang telah mereka raih. Semoga saja fotocopy dirinya segera tercetak di rahim istrinya.

__ADS_1


__ADS_2