OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Cerai?


__ADS_3

Bicara dengan Noah sungguh menyenangkan. Sri bisa melupakan kegundahan hatinya memikirkan Lucky. Noah pintar membawa suasana ceria dan mengubah suasana hati Sri.


"Jadi pak Noah tau, kalau karyawan wanita buat fans club bapak?" tanya Sri antusias.


"hmmp.. Tapi biarlah. Itu tanpa persetujuan ku juga Sri" Noah mencebik.


"Hihihi.. Sri ngeri. kalau sampai mereka tau kita di sini" Sri cekikikan membayangkan Agnes, Niar, dan Dila bakalan uring-uringan kalau sampai tau Sri lagi duduk berdua dengan Noah pujaan mereka.


"Memangnya kenapa?"


"Wahh.. bisa gawat pak. Pasti nanti Sri bisa kena hujat"


"Haha.. Biarkan saja. Tidak usah di dengar"


Noah menyeruput kopinya. Dan Sri makan kentang goreng. Noah menatap Sri dalam. Sri sampai grogi di tatap sedalam itu oleh Noah.


"Kamu kenapa seharian gak bersemangat Sri?" tanya Noah.


"Hah? Ndak kok pak. Sri biasa aja" jawab Sri menghindar.


"Berantem sama pacar?"


"Eh.."


Bukan pacar pak. Tapi suami!!


"Pacar mu lagi marah? atau suami mungkin?"


"Hah? A-anu pak.. Ndak kok"


Sri semakin salah tingkah. Noah bisa menebak apa yang dipikirkannya. Lucky! sebenarnya Sri rindu dengan pria kaku itu. Seharian tidak mendengar kabarnya. Sri jadi lemas lagi.


"Cerita aja Sri. Jangan di simpan sendiri. Nanti kamu pingsan lagi" Noah menggoda Sri.


"Loh? apa iya pak, bisa pingsan?"


"Ya bisa lah. Apalagi sampai mikirin dan gak makan. Pasti pingsan Sri"


"Yeee.. bapak ini bisa aja. Lah Yo pingsa lah... wong Ra mangan" Sri mencebik.


"Haha.. ya sudah cerita"


Sri terdiam. Bimbang antara ingin cerita dan memendam sendirian. Apa Noah akan percaya kalau dia sudah bersuami dan suaminya punya kekasih? Itu konyol bukan?


"Sebenernya... Sri itu.."


Ting..


Pesan masuk ke ponselnya. Sri menunda bicaranya. Melirik ponsel di atas meja. Nama Beni di sana. Ada apa? kenapa sampai Beni yang mengirim pesan padanya? Sri menatap Noah yang masih menunggu Sri melanjutkan ceritanya. Tapi terganggu dengan pesan masuk dari beni.


"Maaf pak. Bentar ya"


Noah mengangguk. Membiarkan Sri membuka pesan masuk di ponselnya.


"Nona Sri, saya mohon anda keluar sekarang. Tuan Lucky menunggu di mobil"


Sri tercekat. Tenggorokannya tiba-tiba mengering. Jantungnya seakan melompat dari tempatnya. Mengedarkan pandangannya berkeliling. Mencari keberadaan Lucky di kafe ini.


DEG!!


Itu Beni. Bukan Lucky. Lalu di mana lelaki itu? Apa dia sudah melihatnya bersama Noah? Astaga!! matilah dia!! Beni menunjuk ke luar kafe. Sri mengikuti arah yang di tunjuk Beni. Tapi tidak dapat melihat dengan jelas. Karena keadaan di luar sudah gelap, dan terhalang dinding kafe.


Noah menyadari perubahan sikap Sri. Dia juga mengikuti arah pandangan Sri ke luar kafe. Dan tidak mengerti kenapa Sri jadi berubah pias.


"Ada apa sri?"


Sri gugup. Bingung harus bagaimana. Ini salah. Sri sudah salah. Pastilah Lucky sudah melihatnya. Kudu piye Sri???


"Pak, maaf Yo. Sri harus pulang sekarang" ujar Sri tampak linglung.


"Pulang?"

__ADS_1


Noah menaikkan sebelah alisnya. Merasa heran kenapa Sri tiba-tiba ingin pulang. Padahal tadi, biasa-biasa saja. Noah mencari sumber keresahan gadis di depannya ini. Dan... yah! dia menemukan apa alasannya. Noah melihat Beni berdiri menatap mereka tajam. Noah hanya tersenyum kecil. Ternyata Lucky sudah melihat mereka.


"Ya sudah Sri, biar aku antar ya"


"Ehh.. Ndak usah pak. Sri pulang sendiri aja. Maaf pak Noah. Sri pergi sekarang ya?"


Sri bangkit berdiri. Membereskan ponsel dan tasnya dengan tergesa. Mengangguk permisi pada Noah. Noah hanya mengangguk tenang. Puas dengan hasil kerjanya hari ini. Sangat berharga informasi yang di berikan Erwin padanya siang tadi.


🌺


🌺


🌺


Kaki Sri seakan di gantungi batu besar. Berat dan susah sekali melangkah. Menyeret langkahnya sampai ke dekat mobil Lucky. Beni sudah menunggunya di luar mobil. Berdiri tegak menunggu Sri datang menghampiri.


Keringat dingin! yah.. Sri berkeringat dingin membayangkan kemarahan Lucky yang akan dia dapatkan nanti. Sangat merasa takut kalau nanti Lucky pasti akan mencekiknya dengan kemurkaan yang tiada Terperi.


Beni membuka pintu mobil untuk Sri. " Silahkan nona"


Sri gemetar. Melirik kedalam mobil dan hanya dapat melihat kaki panjang Lucky. Melihat kaki itu saja rasanya tekanan darah Sri sudah anjok. Apalagi melihat wajah pria yang sedang dalam mode marah itu? Mampus lah dia!


Sri bergerak mendekat. Masuk kedalam mobil tanpa menatap wajah si pemiliknya. Tak berani. Takut. Rasa pusing menderanya. Perutnya terasa kram dan mual merajai saking tegangnya.


Peenngg!!!!


Begitu duduk, Sri dapat merasakan aura panas di sebelahnya. Aroma kemarahan yang sudah akan meledak. Sri tak berani menoleh kesamping. Bahkan melirik pun Sri tidak berani. Dia terciduk! ketangkol satpol PP!! dan sekarang akan masuk ruang BAP dan akan di verbal habis-habisan. Polisi pernikahan akan segera memborgolnya dan masuk ruang tahanan!


Lucky diam saja. Tidak ada satu patah kata pun terucap dari bibirnya. Menatap lurus ke depan. Seolah Sri tidak ada. Tapi garis keras wajah itu menunjukkan dia menahan amarahnya yang sudah sampai di ubun-ubun.


Sepanjang perjalanan Lucky diam tak bergerak. Sri menahan napas seolah-olah tak mau membuat keributan walau dari helaan napasnya. Takut jika singa di sampingnya akan langsung menerkam jika menyadari ada mangsa empuk di dekatnya.


Mereka tidak ke mansion. Tapi ke apartemen Lucky. Fix sudah! akan terjadi perang dunia ke lima!! Sri gemetaran. Meremas tasnya erat sebagai pegangan agar dia tidak limbung dan jatuh pingsan saat ini juga.


Mobil berhenti tepat di depan gedung apartemen. Lucky keluar dan berdiri di samping pintu mobil. Sri seakan enggan untuk turun. Tapi Beni sudah membukakan pintu untuknya. Mau tak mau Sri turun dari mobil dengan lamban, perlahan, slow motion.


Tapi begitu keluar dan melihat Lucky di seberang mobil, Sri merasakan hawa dingin menusuk kulit wajahnya. Tatapan itu bagaikan AC level tertinggi kekuatannya. Dingin Mak nyeess...


"Jangan ada yang mengganggu ku. Tolak semua orang yang datang. Selain Beni" Lucky bicara pada keamanam gedung. Mereka langsung mengangguk mantap.


Di dalam lift, mereka berdiri terpisah. Lucky di depan, sementara Sri di belakangnya. Tanpa kata. Hanya helaan napas Sri saja yang terdengar tersendat.


Masuk ke apartemen, Lucky langsung duduk menatap Sri yang resah. Tangan Sri berkeringat. Berdiri menghadap Lucky dengan kepala tertunduk. Lucky menatapnya tajam.


"Kamu kerja di mana?" tanya Lucky dingin.


Sesak rasanya napas Sri. Serasa oksigen telah pergi meninggalkannya. Melirik Lucky di depannya dengan sebelah kaki yang menumpang di pahanya.


"Di kantor mas" jawab Sri lirih. Hampir tak terdengar.


"Aku tidak dengar"


"Di kantor m-mas" agak mengencangkan suaranya tapi hanya suara lirih hampir berbisik.


"Sri, kau bukan anak kecil. Jawab yang benar" sergah Lucky tak sabar. "Bronz group?" tanyanya kemudian.


Sri mengangguk. Ada kilatan marah semakin terbersit di mata Lucky. Dia salah. Salah menyepelekan tempat Sri bekerja. Dia abai menjaga istrinya. Sekarang istrinya sudah semakin masuk di keluarga Albronze yang sebenarnya.


"Duduk"


Perintah Lucky bagaikan petir di telinga Sri. Segera Sri duduk di sofa depan lucky. Masih menunduk tidak berani menatap suaminya.


"Siapa yang bersama mu tadi?"


Seerrr... pingin pipis saking gugupnya. Itulah pertanyaan yang paling di hindari.


"Sudah lama kau selingkuh dengannya?" tanya Lucky lagi tanpa menunggu jawaban Sri.


Sri mendongak. Pertanyaan yang ini membuatnya sakit. Selingkuh? siapa yang selingkuh? Sri merasa kata-kata itu tidak tepat di nyatakan padanya.


"Kok selingkuh sih Mase! Ndak kok. Sri Ndak selingkuh. Mas Noah itu..."

__ADS_1


"Hah? apa?? coba ulangi?" Lucky mendelik mendengar Sri memanggil mas pada Noah.


"Mas Noah, mas. Mas Noah itu menejer Sri. Atasan Sri mas. Sri Ndak selingkuh" Sri membela diri.


Ssrrreettt!!


Tiba-tiba saja Lucky sudah berpindah duduk ke samping Sri. Gadis itu sampai terjengkit kaget. Lucky menatapnya dengan kemarahan level tertinggi. Menggegat rahangnya keras.


"Kau memanggilnya mas?? kau lupa aturan ku!"


Lucky mencengkram dagu Sri keras. Membuat Sri mendelik ketakutan.


"A-aturan apa?" suara Sri bergetar. Bibirnya maju kedepan saking kencangnya cengkraman Lucky di pipi dan dagunya.


"Hanya aku yang bisa kau panggil mas! bukan yang lain!" Lucky menggeram marah.


Sri menatap mata marah itu dengan sedih. sakit di dagunya karena cengkraman keras Lucky menusuk sampai ke jantung.


"Apa bisa Sri bilang, jangan ada mbak Amira di antara kita?"


Mak jleb!!


Lucky menegang. Pandangan marahnya meredup. Melepaskan cengkraman tangannya di dagu sri. Membuat wajah gadis itu terhempas kesamping.


Melihat reaksi Lucky, menimbulkan rasa berani di hati Sri. Sakit. Ya sakit. Dia memendam sendiri rasa itu. Selama ini dia diam. Tak banyak berkomentar apapun yang di lakukan lucky. Dua bulan pernikahan tak banyak yang ia dapatkan dari Lucky. Hanya perasaan merana ketika kembali Amira mengisi ruang kosong diantara mereka.


"Dia yang bersama mu waktu di pulau?" Lucky bertanya lagi.


"Ya. di taman, di pulau, dan tadi di kafe. Kenapa mas? apa mas keberatan?" Sri jujur dan balik bertanya dengan berani. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.


Lucky bangkit berdiri. Berjalan ke arah jendela kaca besar. Membuka hordennya dan terpampanglah kerlap-kerlip lampu kota di depannya membentang luas.


"Kau mencintainya?" suara itu penuh penekanan. Ada rasa sakit menyusup jantungnya.


Cinta?? pada Noah?? kamu buta ya Mase! aku tuh cinta sama kamu!! aku jatuh cinta sama kamu!!


Hati Sri menjerit pilu. Apa harus dia teriak sekarang juga? Mengatakan cintanya pada suami sahnya? tapi ada Amira. Dan pasti Lucky akan mentertawakannya.


"Apa bedanya mas? Ada mbak Amira. Sekalipun aku jatuh cinta, tidak akan ada pengaruhnya sama kamu"


Air mata itu luruh. Jatuh berderai. Hatinya terasa di pelintir keras. Di remas tangan kokoh yang tak terlihat. Lucky diam seribu bahasa. Akhirnya datang juga waktu dimana kebimbangan itu sampai pada puncaknya.


Ya. Apa bedanya? Sri jatuh cinta pada orang lain atau padanya, itu sama saja. Keputusan belum hadir di tangannya. Tidak bisa berkata ya atau tidak. Apa yang membuat dia menjadi merasa sesakit ini mengetahui Sri bersama Noah?


Sri sudah mengenal Noah hampir sama umurnya dengan pernikahan mereka. Haruskah dia melepaskan Sri? Lalu apa rasa ini? sakit? Kenapa harus sakit? ada Amira bukan? dulu, dia mencintai Amira dengan sepenuh hati. Sanggup menunggu sampai gadis itu meraih cita-cita yang diimpikannnya.


Lalu apa sekarang? hatinya malah goyah karena terpikat oleh Sri. Gadis lugu yang menggetarkan hati. Getaran itu berbeda. Berbeda ketika dia bersama Amira. Sri mampu membuatnya berpaling. Cemburu dan panas melihat Sri bersama Noah.


Melihat Amira dengan banyak lelaki saja belum tentu bisa membuatnya cemburu. Karena Lucky tahu pekerjaan Amira memang bergaul dengan banyak lelaki di lokasi syuting atau di dunia gemerlap keartisannya. Tapi Sri? Lucky merasa Sri tidak bisa dekat dengan lelaki lain. Gadis itu polos. Dia tidak bisa membayangkan lelaki lain menyentuh kulit tubuhnya. Lalu, Apa sebenarnya yang dia inginkan?


Lucky berbalik. Berjalan lagi ke depan Sri. Duduk di sofa menatap gadis polos itu dengan perasaan bercampur aduk. Sri menunduk dan berderai air mata. Sakit hatinya mengingat Lucky tidak akan pernah bisa lepas dari Amira.


"Kau ingat pertama kali kita bertemu?" tanya Lucky.


Sri mendongak. Menatap mata yang kini sudah terlihat teduh. Hatinya semakin menjerit menyatakan cinta. Tapi mulutnya tak bisa menyatakan itu. Sri hanya mengangguk.


"Ingat kesepakatan kita?"


Sri mengangguk lagi. Karena itulah Sri mengalah. Ingat kesepakatan yang terang-terangan mengatakan apa kemauan mereka masing-masing. Sri bekerja, dan Lucky punya kekasih.


"Kamu tahu siapa Noah?"


Sri menggeleng. Dia hanya tahu Noah adalah menejer di kantornya. Selebihnya, Sri buta. Lucky menghela napasnya berat. Apa yang harus dia katakan? Sri tidak berselingkuh dengan Noah. Gadis itu tidak tahu siapa Noah.


"Sri, bisakah kita mengubah kesepakatan itu?" tanya Lucky menatap mata basah Sri.


Hah? mengubah? mengubah jadi bagaimana? apa Lucky ingin memutuskan kesepakatan dan meninggalkannya? cerai?


"M-mengubah gimana mas? cerai?"


Ada percikan di mata Lucky. Alisnya bertaut. Bagaimana Sri memikirkan itu? cerai? apa-apaan gadis ini!

__ADS_1


"Kamu mau kita cerai?" tanya Lucky menegang.


__ADS_2