
Rasanya malam ini begitu panjang. Waktu seakan bergerak perlahan. Sri sangat tidak nyaman berada di mansion keluarga Albronze. Apalagi sikap Neni yang kurang menyenangkan. Lucky berkali-kali menggeram tertahan ketika Neni menyentil ibunya dan istrinya. Rasanya ingin meremas mulut bibinya yang sudah terlalu lancang itu.
Selesai makan malam yang sungguh terasa tidak nikmat itu, kakek Fredi meminta Lucky, Frans dan Noah untuk masuk ke kamarnya. Sementara fardo pergi ke kamarnya sendiri.
Dengan berat hati Lucky meninggalkan Sri dan ibunya tinggal dengan Neni, si nenek sihir. Untung saja masih ada Vira dan nenek Liana. Dan dia percaya Sri aman bersama ibunya.
"Lucky, kakek mau kamu memegang perusahaan Bronz sekarang. Tolong jangan menolak" ujar Fredi duduk di sofa dengan susah payah. "Kau tau kakek sudah tidak punya banyak waktu lagi"
Lucky masih diam saja. Frans menatap ayahnya serius. Noah masih menolong Fredi membenarkan duduknya agar terasa nyaman.
"Bagaimana, Luck?" Fredi menatap Lucky dengan mata lelahnya.
"Kenapa harus aku? Ada Noah yang lebih memahami di sana kek" jawab Lucky menolah dengan halus.
Noah duduk di sofa yang lain di sebelah Frans.
"Aku hanya bawahan kak. Yang menduduki meja CEO masih aku serahkan pada paman Barry" Noah menimpali.
"Kenapa? bukankah kau berhak atas jabatan itu?" Lucky menoleh pada Noah.
"Aku harus memeriksa di bagian bawah. Banyak peluang korup di bagian distributor. Jadi aku lebih memilih mengawasi" jawab Noah.
"Luck, kau tau paman mu bukan? Kakek tidak bisa menyerahkan kantor pusat padanya. Biarlah Frans yang memegang perusahaanmu, sendiri. Bronz group butuh seorang Presdir. Dan kau lah pilihanku"
"Hhh.. dan paman fardo akan lebih mengintai hidupku. Aku tidak suka itu" ujar Lucky sarkas.
"Paman fardo masih memegang kantor cabang. Pemegang saham juga menghawatirkan kalau paman fardo yang naik. Aku harap, kau bisa mempertimbangkan lagi Luck" Noah menatap penuh harap.
"Putuskan Luck. Papi bisa mengurus perusahaan sendiri. Masih ada Baris yang bisa di andalkan" Frans menepuk pundak Lucky.
Lucky diam dan menatap kakeknya. Pria tua ini sangat mengharapkannya bisa mengurus perusahaan besar miliknya. Tapi, Lucky masih ingat bagaimana dulu kakeknya mengatakan, kalau mereka tidak berguna. Rasa nyeri itu masih belum hilang.
"Aku sudah punya segalanya bersama papi, kek. Kami mulai dari nol. Jika sekarang kakek mengharapkan aku bisa menduduki dan mengurus perusahaan itu, ku rasa... Aku tidak bisa. Biarlah tetap begitu" tolak Lucky tegas.
Binar di mata Fredi semakin meredup mendengar ucapan Lucky. Sangat merasa kecewa Lucky menolak untuk mengurus perusahaannya. Memang dia akui sudah sangat terlambat untuk menjalin hubungan baik bersama cucunya ini.
__ADS_1
Fredi menyadari bahwa masih ada luka di hati Lucky. Bocah kecil itu menyaksikan bagaimana dia menghina dan memaki mereka dulu. Fredi lemas. Tubuh tuanya sebentar lagi akan meregang nyawa. Dia ingin anak cucunya mendapatkan tempat yang memang sudah seharusnya. Tapi apa daya Lucky menolak semua itu.
"Lucky.. kakek tau kau masih belum bisa memaafkanku. Aku memang bersalah nak. Kakekmu ini bersalah. Tapi itu semua karena keadaan yang terpaksa" mata Fredi berkaca-kaca. Lelaki tua itu tidak bisa menahan kesedihan dan penyesalan atas perbuatannya dulu.
Dia harus menghina Melani agar mau meninggalkan Frans. Tapi Frans tetap kukuh bersama cinta sejatinya. Waktu itu perusahaan sedang dalam fase anjlok. Fredi harus mencari cara agar perusahaa bisa di selamatkan dengan menikahkan Frans dengan seorang putri kenalannya. Agar ada suntikan dana masuk dengan cara mengikat koleganya dengan pernikahan anak mereka.
Waktu itu Fredi sangat kecewa karena Frans memilih menjauh dan keluar dari keluarga Albronze demi Melani. Fredi marah dan mengusir Frans karena mengetahui ternyata Frans sudah menikah diam-diam tanpa persetujuannya.
Untung saja masalah itu bisa di selesaikan. Dan putri dari koleganya itu mau menikah dengan anaknya yang lain. Dan dana bisa meluncur dengan lancar.
"Kakek marah pada papimu, karena kakek pikir dia tidak memikirkan perusahaan yang sedang jatuh. Ah.. tapi sudah lah. Semua sudah berlalu. Kakek ingin memperbaiki semuanya. Kakek mau, kau yang mengelola sebagian besar harta kita" Fredi mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Luck, itu semua milikmu. Kau mau atau tidak, itu semua sudah hak mu. Kakek hanya ingin memberi pada yang berhak. Paman mu tidak bisa di andalkan. Jadi tolong mengerti lah. Tidak usah kau jawab sekarang nak. Pikirkan saja dulu"
Mereka semua terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Fredi beranjak dari duduknya. Noah segera berdiri dan menolong Fredi. Lelaki tua itu sudah terlalu lelah. Ia ingin berbaring. Hatinya sedang dalam keadaan tidak baik. Dia tahu Frans tidak akan pernah menolak permintaannya untuk memaafkan. Tapi Lucky, cucunya ini sangat keras kepala. Jadi dia harus lebih bersabar. Mungkin itu sebagai tebusan atas kesalahannya dulu.
Noah membantu Fredi berbaring dan menyelimuti tubuh tua renta itu. Di usianya yang sudah kepala delapan, dia harus masih memikirkan tentang anak-anaknya yang masih tidak akur. Terutama fardo dan istri juga anak-anaknya, yang selalu berbuat sesukanya. Menghamburkan harta tanpa peduli bagaimana kehidupan selanjutnya.
"Lucky.. kakek minta, pertimbangkan lagi. Kau bukan saja menyelamatkan perusahaan, Tapi juga menolong paman mu Firdan. Jika kau dan Noah tidak bersatu, maka kita kehilangan segalanya"
"Lucky.." Fredi masih bergumam sambil terpejam. "Tanpa kau menerima sekalipun, aku sudah memutuskan dan surat warisan sudah tersedia. Itu semua milikmu dan Noah. Tinggal kalian berdua yang menentukan. Pikirkan lah"
š
š
š
Mereka keluar dari kamar kakek Fredi setelah lelaki tua itu mengatakan lelah dan ingin istirahat. Bergabung dengan yang lain di lantai bawah. Nenek Liana juga sudah kembali ke kamarnya.
"Wah.. sepertinya obrolan kalian sangat serius sampai tidak mengajakku, Frans?" fardo bicara skeptis.
"Tidak juga. Ayah hanya ingin bersama Lucky. Dia rindu" Jawab Frans tenang. Lucky melirik pamannya dengan malas. Noah hanya diam membisu.
"Haha.. Rindu? sangat melankolis bukan?" Fardo tertawa mengejek.
__ADS_1
"Ya, itu sangat menyedikan paman? Ternyata paman yang di depan matanya, sama sekali tak dirindukan" Lucky menyahut sarkas.
Fardo berhenti tertawa. Neni juga menatap Lucky tak suka.
"Eh.. Lucky. Sebenarnya.. kapan kau menikah? bagaimana hubungan mu dengan Amira? bukankah kalian berdua ada hubungan spesial? Dan apa istrimu ini tau?" Neni mengalihkan pembicaraan.
Wajah Lucky berubah gelap. Dia sangat benci wanita ular ini. Di otaknya hanya di penuhi kepicikan.
"Papi.. lebih baik kita pulang" Lucky menggeram. "Ayo mam. Sebelum tangan ku kotor karena membungkam mulut berbisa"
"Oowhh.. kenapa buru-buru kakak ipar? Santai sajalah. Ini masih sore bukan? Aku hanya menanyakan yang sebenarnya. Jangan tersinggung" Neni tersenyum licik melirik Lucky.
"Tidak apa-apa Nen. Tapi kami juga perlu istirahat. Benar kata Lucky, kami harus pulang sekarang" Melani harus segera memisahkan Lucky dari ketegangan ini.
"Tapi aku benar kan kakak ipar? Pasti istri Lucky tidak tau tentang Amira. Dan... kalau di lihat, sepertinya istri Lucky ini dari desa ya? eh.."
Mendengar itu, Sri merasa canggung. Tapi geram sekali dengan mulut Neni yang sangat berbisa.
"Apa maksud bibi?" Suara Lucky meninggi. Sudah sangat muak dengan ocehan nenek lampir ini.
"Oh.. Lucky.. tenanglah. Aku tidak bermaksud menyinggung mu. Aku hanya takut kalau istri mu ini tidak terbiasa hidup mewah. Dan kalau dari desa kan... biasanya hanya hidup pas-pasan"
Astaga! kata-kata itu sudah sangat penghinaan besar bagi Lucky. Sangat tidak sopan si nenek sihir ini. Pantas saja anak-anaknya sama persis dengannya.
"Iya bibi.. Sri memang dari desa. Tapi setidaknya, Sri tau tatakrama dan sopan santun. Hidup mewah itu Ndak menjamin orang bisa bersikap baik. Tapi setidaknya, Sri Bisa menghormati orang tua walau sebagai orang tua, bibi Neni Ndak memberi contoh yang baik" Celetuk Sri tiba-tiba.
Noah tersenyum kecil. Senang Sri bisa menjawab ocehan pedas Neni yang selalu di dengar Noah. Karena itu Noah lebih memilih hidup di luar mansion.
Lucky menarik tangan Sri keluar dari mansion megah itu tanpa berpamitan. Sudah sangat marah sampai di ubun-ubun. Jika tidak segera menyingkir, bisa-bisa dia tidak dapat mengendalikan amarahnya.
Di dalam mobil, Lucky duduk dengan wajah geram kerena emosi yang belum tersalurkan. sangat ingin dia kembali masuk ke dalam dan menghajar mulut sadis milik Neni. Tapi Sri memegangi lengannya erat. Tak berapa lama, Frans dan Melani menyusul bersama Noah dan Vira.
"Kakak.. tolong maafkan kakak Neni. Dia memang begitu" Vira menggenggam tangan Melani erat dengan rasa penyesalan yang dalam
"Tidak apa-apa vir. Aku tau. Ya sudah.. kami pulang dulu ya"
__ADS_1
Mereka berpelukan. Lalu Frans dan melani masuk ke mobil. Noah dan ibunya menatap kepergian mobil Lucky sampai menghilang dari pandangan.