
Di dalam mobil, Sri duduk tidak tenang disebelah Lucky. Gelisah memikirkan intervienya hari ini. Sudah terlambat hampir dua jam. Dia tertahan cukup lama di kamar bersama Lucky. pria mesum ini menumpahkan semburannya sebanyak yang ia mau. Kalau saja Sri telentang terus, pastilah mereka tidak akan keluar dari kamar lagi.
Interview nya mungkin sudah di mulai dari tadi. Pastilah Sri akan di tolak lagi. Ini semua gara-gara Lucky! seperti sengaja menghalang-halanginya mencari kerja.
"Kenapa?" tanya Lucky melihat kegelisahan Sri sedari tadi.
"Sri sudah terlambat mas. Gimana ini?" keluh Sri ingin menangis.
"Papi kan sudah bilang, kerja di kantor ku saja. Kamu dapat jabatan penting. Tidak perlu repot interview segala" ujar Lucky enteng.
"Ini gara-gara Mase! kalau tadi Ndak mesum, pasti Sri udah berangkat" ketus Sri.
"Loh? katanya bisa bagi waktu antara kerja sama suami. Kamu dosa loh nggak nurut sama aku"
Sri terdiam. Lucky ada benarnya. Sri sudah menyanggupi bisa mengatur antara kerja dan suami. Jadi kenapa sekarang mengeluh? itu adalah konsekuensinya. Harus di jalani.
"Iya. Tapi kan Ndak harus pagi ini" cicit Sri.
Senyum lebar mengembang di bibir Lucky. Menatap Sri dengan kilatan di matanya. Pancingannya berhasil.
"Oohh.. gitu? Jadi aku bisa minta jatah malam hari?"
"Eehh?? Maksudnya Sri.. "
"Ya udah. Nanti malam jatah pertama ku"
Lah?? apaan sih? kok mala cerita jatah ini? katanya jatah pertama lagi! trus yang tadi itu apa?
"Ndak bisa! ini kan Ndak ada dalam kesepakatan kita Mase. Kok sekarang malah minta jatah tetap?" protes Sri.
Lucky hanya tergelak mendengar ucapan Sri. Apa itu jatah tetap? Sudah seperti tunjangan PNS saja pake jatah tetap.
"Nanti dosa kamu. Hak suami harus di penuhi"
"Tapi Mase curang"
"Tidak apa-apa. Cuma sedikit"
"Diihh.. sedikit apanya? malah Ndak mau berenti gitu, katanya cuma dikit?"
"Haha.. Kamu manis sih"
Wajah Sri bersemu merah. Mengingat kegiatan panas tadi. Ingin protes lagi. Tapi mereka sudah sampai di depan perusahaan yang di tuju Sri. Gadis itu mengatupkan bibirnya lagi. Menyudahi bicaranya dengan Lucky. Turun tergesa dari mobil.
Tapi bajunya tertahan membuat Sri tidak bisa turun. Menoleh kebelakang melihat apa yang menahan blazernya. Tangan kokoh Lucky menariknya. Sri menatap Lucky melotot minta di lepaskan.
"Sun dulu dong" Lucky memonyongkan bibirnya ke depan.
Dengan berdecak kesal, Sri naik lagi ke mobil. Mengecup singkat bibir Lucky. Tapi Lucky agak menahannya sedikit. Mencari kesempatan dalam kesempitan. Sri mendorong dada Lucky agak keras. Melepaskan ciuman basah itu.
__ADS_1
"Kok Ndak bosen-bosene toh mas?" Jengkel Sri mengusap bibirnya.
"Hahaa.." Lucky hanya tergelak saja.
Sri segera keluar dari mobil. Tidak mau menjadi bulan-bulanan Lucky lagi. Melangkah terburu-buru.
"Sri..!"
Sri menoleh. Lucky memanggilnya lagi. Kesal sekali rasanya. Sudah terlambat seperti ini, Lucky masih saja banyak maunya.
"Apa lagi sih Mase!?" Sri menghentakkan kakinya jengkel.
"Kamu cantik"
Setelah mengatakan itu, mobil Lucky melaju di tengah keramaian jalan raya. Membuat Sri terbengong dengan wajah bersemu. Masih sempat Lucky bilang itu dan langsung pergi. Apa tadi? cantik? Itu benar lucky yang bilang begitu? kok rasanya aneh ya?
Ah... mungkin saja Sri masih linglung akibat panik tertinggal interview. Menoyor kepalanya yang sudah berpikiran aneh tentang Lucky. Segera melanjutkan langkahnya masuk ke dalam gedung perusahaan di depannya.
"Sriii..!!"
Begitu ingin mendorong pintu masuk, Seseorang memanggilnya dari area parkir kendaraan. Sri menoleh kebelakangnya. Itu Noah. Sri mengerutkan keningnya. Ngapain Noah di sini? Dan ini tergolong masih dalam jam kerja. Apa Noah tidak kerja?
Sri tidak jadi mendorong pintu masuk. Berdiri tertegun menunggu Noah menghampirinya. Begitu dekat, Noah menarik tangan Sri. Menjauh dari pintu masuk gedung.
"Sini. Ikut aku saja"
"Eehh.. ehh.. Mase! ada apa ini mas? mau kemana?"
"Aduuhh.. Ada apa toh mas Noah?" Tanya Sri begitu Noah melepaskan tangannya.
"Kamu mau ngapain di situ?" tanya Noah.
"Sri mau interview kerja mas"
"Sudah, ayo ikut aku saja" ajak Noah sambil membuka pintu mobil untuk Sri.
"Hah? mau kemana? ini Sri udah terlambat interview mas. Ndak bisa" Tolak Sri. Berkali-kali melihat ke arah pintu masuk.
"Interview kamu sudah lewat. Kamu batal"
"hah? apa?" Sri mendelik kaget.
"interview kamu sudah batal" ulang Noah.
"Mase Iki piye toh? Sri belum di panggil itu. Udah ah. Sri mau masuk"
Sri beranjak meninggalkan Noah. Tapi pria itu menahannya. Membuat Sri kembali melangkah mundur.
"Aduuhh.. opo toh mas Noah? Ini Sri udah telat loh" Sri jengkel bukan main.
__ADS_1
"Nanti aku jelasin. Ayo masuk dulu" Noah juga tidak mau kalah.
"Tapi mau kemana?"
"Ck.. masuk dulu" paksa Noah.
"Ya sudah. Jelasinnya di sini aja mas"
"Tidak bisa. Masuk ke mobil dulu Sri"
Aduuhh.. apa lagi ini. Kenapa susah sekali menuju interview kerja? Apa harus banyak rintangan begini?
Sri berulang kali melihat ke pintu dan wajah Noah bergantian. Bimbang antara meninggalkan Noah, atau mengikutinya. Khirnya dengan kesal, Sri masuk juga ke mobil Noah. Duduk dengan wajah di tekuk. Noah memutari depan mobil. Lalu duduk di belakan kemudi.
Tanpa penjelasan seperti yang Sri minta, Noah menyalakan mesin mobil, lalu bergerak meninggalkan area parkiran gedung.
"Lohh.. lohh.. Mase Iki piye toh?? mas! itu loh.. interview ku Mase! lahh piye toh yo?"
Sri panik bukan main. Bukannya menjelaskan, Noah malah membawanya pergi. Bagaimana dengan interview kerjanya? Mobil semakin menjauh meninggalkan gedung. Membuat Sri mengalah dan terduduk lemas. Ingin rasanya menangis kejer saat ini juga. Matanya sudah berkaca-kaca. Hatinya kesal setengah mati.
Sementara Noah hanya diam dan tersenyum melihat kejengkelan Sri yang tidak bisa di lampiaskan saat ini juga. Gadis itu menunduk sedih. Gagal sudah jalan mendapat kerja lagi.
"Kalau mau nangis, nangis aja. Jangan di tahan" ujar Noah masih dengan senyum melirik Sri.
Sri menoleh menatap Noah gemas dengan mata berkaca-kaca. Jika matanya berkedip sekali saja, maka luruh lah air matanya.
"Hiikkss.. hikkss.. huwaaaaaa..."
Sri menangis sejadi-jadinya. Hatinya kesal. gemas, geram, marah, kecewa menjadi satu. Dengan tidak berdosa Noah bicara begitu. Tega banget dia. Malah kelihatannya dia senang bisa membawa Sri pergi, dan melewati sesi interview.
Noah membiarkan saja Sri menangis sepuasnya. Menumpahkan kekesalan hatinya. Setelah tangis Sri mereda, Noah mengambil tisu di la i dashboard, lalu meyerahkan pada Sri.
"Nih.. lap dulu tuh ingusnya pakai tisu"
Jengkel Sri merampas tisu dari tangan Noah. Melap ingusnya karena menangis. Noah malah semakin tergelak senang melihat wajah Sri yang cemberut.
"Sudah kan nangisnya?" tanya Noah masih fokus dengan jalan di depannya.
"Jelasin. Kita mau kemana sampe interview Sri kelewat!" cicit Sri dengan wajah sedih.
"Haha.. oke oke. Tidak apa-apa interview nya lewat. Ada lowongan di kantor ku. Tanpa interview. Kamu langsung masuk. Ini kita mau kesana. Gimana? suka?"
Sri terperanjat. Langsung berubah ekspresi wajahnya. Dari sedih, lemas, lesu, kini menatap wajah Noah dengan antusias tinggi.
"Beneran mas?"
"Hem" Noah mengangguk.
"Waaaahhh... Sri jadi kerja! Makasih mas Noah!" Sri mengguncang lengan Noah dengan keras saking senengnya. Ingin rasanya melompat-lompat sekarang.
__ADS_1
"Terus, tadi nangis untuk apa?" Noah melirik menggoda Sri.
"Eh.. hehe.. Mase Iki!" Sri mencubit lengan Noah dan bersemu malu.