OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Kisah Albronze's 1


__ADS_3

Lucky setia menunggu Sri pulang. Sepuluh menit sudah ia duduk di mobil menantikan istrinya datang. Tapi Sri belum muncul juga. Berkali-kali di hubungi tapi Sri bilang masih menunggu temannya pergi lebih dulu. Kesal? tentu saja. Lucky gemas kenapa Sri masih saja selalu menjaga jangan sampai orang lain tahu tentang mereka.


Walaupun sebenarnya dia juga masih memegang janji pada Amira untuk tidak membongkar pada publik tentang putusnya hubungan diantara mereka berdua. Tapi Lucky sudah merasa tak peduli lagi. Sri harus segera di tunjukkan ke publik agar tidak ada lagi yang meliriknya. Lucky cemburu jika memikirkan Sri akan di rebut Noah. Mungkin takut jalannya karma.


Akhirnya yang di tunggu muncul juga. Gadis itu berlari kecil sambil matanya masih selalu waspada dengan sekitarnya. Takut kalau ada yang memergokinya.


Beni langsung turun dan membukakan pintu mobil begitu Sri datang mendekat. Sri naik dan tersenyum pada Lucky yang sudah memasang wajah masam.


"Lama sekali sih?"


"Maaf Mase. Tadi temen Sri belum pulang. Takut ketahuan" jawab Sri.


"Ahrg.. kenapa kalau ketahuan? kita bukan selingkuh"


Lucky menarik Sri untuk duduk lebih merapat padanya. Menempelkan pipinya dengan pipi Sri. Menguyar pipi empuk nan lembut milik istrinya. Sri terkikik geli.


"Gak enak kalau ada yang lihat mas"


"Aku kangen kamu, sayang" bisik Lucky.


Sri melirik Beni yang sudah mulai menjalankan mobil keluar dari basement. Tapi Beni seperti tak melihat dan mendengar kasak kusuk di bangku belakang mobil. Sri risih sendiri dengan kelakuan Lucky.


"Mase! ada mas Beni itu" Sri melirik Beni sejenak.


"Hah? apa? kamu mau aku hukum sayang?" Lucky mendelik marah.


"Loh? kok di hukum?"


"Kamu panggil apa sama Beni?"


"Heh?" Sri keget. Lupa akan peraturan Lucky untuknya. Jangan ada Mase lain selain Lucky. "Maaf mas. Lupa" Sri nyengir.


"Hmm.." Lucky cemberut.


"Jangan marah loh mas. Sri kan lupa"


Lucky menoleh padanya. Menatap wajah istrinya yang akhir-akhir ini selalu dirindukan.


"Bukan begitu caranya minta maaf" ketus Lucky.


Wajah Sri bersemu merah. Sri mengerti apa yang di maksud Lucky. Tapi itu tidak mungkin. Ada Beni bersama mereka.


"Nanti mas. Ada pak Beni"


Mendengar Sri menyebutnya 'Pak", Beni melirik dari kaca spion depan. Menggelengkan kepalanya tersenyum kecil.


Lucky juga jadi tertawa mendengar Sri menyebut Beni dengan embel-embel 'pak'.


"Beni jadi terlihat tua, sayang" gelak Lucky.


"Tuh kan.. tadi katanya gak boleh mas. Di panggil pak malah di ketawain" Sri merengut. Malu di tertawakan Lucky.


Lucky semakin tergelak melihat bibir Sri merengut. Menangkup wajah istrinya dan menghadapkan padanya.


"Tidak apa-apa. Panggilan itu cocok untuknya. Jangan ada mase lain selain aku"


Lucky langsung saja memagut bibir basah istrinya. Membuat Sri gelagapan malu karena ada Beni juga. Tapi Lucky tidak peduli. Semakin merapatkan tubuh Sri dalam pelukannya.


Beni menulikan telinga dan tetap fokus ke depan. Urusan keributan di belakang yang membuat bulu kuduknya merinding, berusaha di tepiskan. Bosnya sedang kasmaran berat dengan istrinya. Terlihat berbeda jauh ketika bosnya bersama kekasihnya yang dulu.


Kalau dulu, Lucky tidak terlalu menempel pada Amira. Malah Amira yang selalu menggelendot manja dan bicara pun sangat di atur. Manja-manja gimana gitu. Tapi dengan Sri, Lucky seakan tak ingin lepas. Menempel terus seperti lintah penghisap darah yang susah di lepas.

__ADS_1


🌺


🌺


🌺


Mereka pulang ke apartemen. Lucky tak ingin di ganggu lagi. Segera mengusir Beni sebelum pria itu ikut masuk kedalam. Sadis memang. Tapi Beni mengalah. Hanya menyerahkan banyak berkas dari perusahaan Bronze yang di serahkan kakek Fredi tadi. Lalu Beni segera pergi. Sri memeriksa berkas-berkas itu. Menumpuk tinggi.


"Kenapa ini di sini mas? Apa Ndak salah bawa ini pak Beni?" tanya Sri menatap suaminya heran.


"Tidak. Kakek yang kasih tadi. Untuk aku pelajari"


Lucky duduk di samping Sri. Memeluk istinya dan mengecupi pipinya. Sri diam saja. Masih penasaran dan ingin bertanya banyak.


"Apa mas Lucky yang bakalan pegang Bronze?"


"Hem"


Lucky hanya mengangguk kecil. Masih sibuk dengan pipi istrinya. Mengecupi berulang kali. Memeluk Sri dari samping.


"Beneran mas? Mase jadi CEO nya?" Sri terbelalak kaget.


"Bukan"


"Loh? terus, kenapa berkasnya sama Mase ini?"


"Bukan CEO. Tapi Presdir. Pemegang saham terbesar. Aku yang akan mengendalikan perusahaan pusat"


Sri terbengong. Bukan karena jabatan tertinggi yang akan di pegang Lucky. Tapi lebih kerena akan tidak nyaman jika bekerja bersama Lucky. Yang ada mesumnya kelewatan. Dan lagi pula, tidak bebas.


Lucky menghentikan kecupannya di pipi Sri. Memperhatikan wajah Sri yang terbengong.


"Kenapa? Kamu tidak suka?"


"Kalau kamu tidak suka, aku batalkan saja" ujar Lucky karena Sri tak menjawabnya.


"Bukan mas. Bukan Sri ndak suka"


Sri cepat menoleh ke arah Lucky. Memegang dada suaminya. Meyakinkan kalau dia tidak keberatan. Lucky tersenyum. Mendekatkan bibirnya dan mengulum bibir Sri. Menyesapnya lembut. Lalu melepas dan menatap Sri lagi.


"Aku belum menerima. Masih banyak yang harus ku pertimbangkan. Kelihatannya paman Fardo tidak bisa menerima keputusan kakek"


"Kenapa begitu ma... mmmpphh"


Lucky tak memberi waktu Sri untuk menyelesaikan bicaranya. Dia membungkam bibir mungil itu lagi dengan pagutan panas. Gemas rasanya ketika melihat bibir Sri selalu bergerak. Seakan menggoda untuk di Lum at habis.


Melepas pagutannya dengan napas tersengal. Sri masih memejamkan matanya menikmati sisa rasa yang masih melekat erat di mulutnya.


"Paman Fardo ingin jadi pemilik nomor satu dari keluarga Albronze"


Sambil bicara, Lucky mengusap bibir basah sri. Sangat menggoda untuk di kecup. Sri membuka matanya menatap netra suaminya.


"Mas.. Sri boleh tanya?"


"Hm.. tanya saja" Lucky menji Lat bibir basah itu. Sri bergidik sejenak.


"Paman Fardan itu kenapa?"


Tubuh Lucky menegang. Sri dapat merasakan perubahan sikap Lucky. Melepaskan pelukannya di tubuh sri. Bersandar ke sofa lalu menarik tangan Sri untuk rebahan di dadanya. Lucky mengelus punggung Sri. Membuat istrinya nyaman. Merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Kamu mau dengar kisah keluargaku?"

__ADS_1


"Hem"


Sri mengangguk. Membuat pola abstrak di dada Lucky. Pria itu mengelus rambut Sri dan menerawang jauh. Seakan mengingat lagi cerita lama keluarga papinya. Terdengar Lucky menghela napas panjang.


"Dulu, kakek marah besar pada papi karena lebih memilih mami. Dan sudah menikah diam-diam. Saat itu keadaan perusahaan sangat kacau. Sudah di ambang kehancuran. Kakek merencanakan pernikahan papi dengan seorang putri koleganya. Tapi papi menolak"


Lucky berhenti sejenak. Mengecup puncak kepala Sri dengan sayang.


"Waktu itu paman Fardo sudah lebih dulu menikah. Tapi keluarga istrinya tidak begitu bisa membantu"


"Bibi Neni?" tanya Sri mendongak menatap Lucky.


Lucky menunduk menatap wajah istrinya. Mengangguk dan tersenyum mengecup kecil bibir Sri lagi.


"Entah apa yang membuat paman Fardo sangat membenci papi dari dulu. Dia selalu memprovokasi Kakek untuk membenci papi. Kakek mengusir papi keluar dari rumah. Tak memberinya sepeser pun"


"Tragis" lirih suara Sri. Memeluk suaminya lebih erat.


"Ya. Tragis. Waktu itu mami sudah hamil aku, sayang. Sebab itulah papi bisa ketemu pak Broto, mertua ku"


Sri mendongak lagi. Lucky tersenyum geli. Kini ia bisa dengan gamblang menyebut Broto, orang tua Sri sebagai mertuanya.


"Terus mas?"


"Kamu tidak tanya, siapa yang akan di nikahkan dengan papi? putri kolega kakek?"


"Iya, siapa mas?"


"Bibi Vira"


Sri tersentak kaget. Bangkit dari rebahan. Menatap Lucky dengan mata membulat.


"Serius mas?"


"He'em"


"Trus trus mas"


Sri sangat antusias ingin mendengar kisahnya. Sangat membuatnya kaget ternyata bibi Vira, ibunya Noah lah yang akan di nikahkan dengan papi Frans. Lucky menarik Sri lagi merebah di dadanya. Sri menurut.


"Bibi Vira lah orangnya. Tapi karena papi sudah menikah diam-diam, dan keluar dari rumah, maka kakek meminta bibi Vira menikah dengan paman Fardan. Orang tua bibi Vira sudah menolak. Tapi entah apa yang membuat bibi Vira bersedia"


"Cinta" cetus Sri.


Lucky berhenti bicara. Seakan baru menyadari kenapa bibi Vira menyetujui menikah dengan anak ketiga kakek Fredi. cinta.


"Ya, sayang. Pasti bibi Vira mencintai paman Fardan"


"Bukan. Sri rasa, bibi Vira cinta papi Frans, Mase"


"Kok kamu bilang begitu?" Lucky mengernyitkan alisnya menunduk menatap puncak kepala Sri.


Sri mendongak menatap mata suaminya. "Sri lihat matanya mas. Ada cinta di sana. Sri bisa rasakan itu"


"Hhhh.. istriku sudah seperti psikolog saja sekarang" Lucky terkekeh. "Yah, kamu benar. Aku juga bisa melihat itu. Dan Noah juga tau"


Sri kembali kaget. Bangkit lagi menatap Lucky serius. "Pak Noah tau, mas?"


"Ck.. kenapa sih kamu selalu bereaksi ketika ada nama Noah?" Lucky berdecak kesal. Cemburu kembali menguasai hatinya.


Sri terkikik geli melihat kecemburuan suaminya. Melingkarkan tangannya di leher Lucky. Mengecup bibir sexy suaminya. Berani menyesap panas. Lucky mengerang lirih.

__ADS_1


"Masih tetap Mase yang nomor satu" Sri menyentil kecil hidung mancung Lucky.


__ADS_2