OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Sugar Daddy dan Sugar Baby


__ADS_3

Mereka sampai di depan sebuah mall terkenal di kota ini. Di pelataran basement mall, Lucky membuka jas dan dasinya di dalam mobil. Sri menatapnya heran dengan mebulatkan matanya sempurna.


"Mase! ngapain pake buka-bukaan segala ini? Mase mau ngapain?"


Lucky menatap Sri cuek. Tidak menjawab apa yang di tanyakan Sri tadi. Malah menyodorkan sebelah tangannya ke depan Sri.


"Bukain" pintanya pada Sri untuk membuka kancing di pergelangan tangannya.


"Iya, tapi ngapain kok pake buka baju segala toh?" Sri masih belum mau membukakan kancing itu.


"Ck.. jangan ngeres Sri" Lucky berdecak kesal. Pasti Sri berpikir yang aneh-aneh.


Sri menurut saja. Membuka kancing di pergelangan tangan Lucky. Lalu Lucky menggulung lengan kemejanya sampai ke siku. Membuka satu kancing kemeja di bagian depan dadanya. Mengambil topi di dashboard dan memakainya untuk menutupi wajahnya.


"Nah.. sudah" gumamnya. "Ayo turun"


Lucky membuka pintu mobil dan turun. Sementara Sri masih bengong di dalam mobil. Dia tidak tahu apa yang akan di lakukan. Lucky membungkuk menatap Sri di dalam mobil. Mengernyitkan dahinya.


"Kamu ngapain di situ? ayo turun Sri"


Sri menatap Lucky sejenak, lalu ikut turun dari mobil. Berjalan memutar dan langsung di sambut uluran tangan Lucky menggandengnya.


"Kita mau ngapain sih mas?" Sri menatap Lucky sambil berjalan menuju lift.


"Belanja"


Hanya itu jawaban Lucky. Selebihnya mereka saling diam. Naik ke lift menuju ke lantai atas mall. Begitu lift terbuka, terpampanglah keadaan mall yang ramai pengunjung. Lucky berjalan keluar dengan menggandeng tangan Sri. Agak merapatkan topinya lagi untuk menutup wajahnya lebih banyak.


Sri hanya diam dan mengikuti langkah Lucky. Bergabung bersama pengunjung yang lain. Banyak outlet mewah berjejer. Sri memandang takjub kesegala arah. Lucky hanya tersenyum saja melihat binar senang di wajah Sri.


Mereka memasuki sebuah outlet yang menjual Baju semi kantoran. Pakaian pria dan wanita berjejer rapi. Mereka di sambut seorang pelayan. Tersenyum ramah pada mereka. Dan pastilah dia senang karena akan dapat rejeki nomplok sore ini.


"Selamat datang tuan dan nona" sapanya pada Sri dan Lucky.


Sri mengangguk dan tersenyum. Tapi Lucky diam saja.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya pelayan itu lagi masih dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Carikan baju kantor yang cocok untuk istri ku ini" ujar Lucky datar.


"Oh, ya. Silahkan nona. Mari ikut saya"

__ADS_1


Pelayan itu berjalan menunjukkan pakaian yang cocok untuk Sri. Dan Lucky melepasanya. Dia berjalan sendiri memilih beberapa kemeja di jejeran pakaian pria.


Sri sebenarnya bingung. Tidak berencana membeli baju. Pakaian yang di pilihkan mami Melani masih banyak yang belum di pakai. Mertuanya itu selalu memberinya hadiah setiap pulang dari luar untuk berbelanja. Tapi karena tak enak hati, Sri memilih satu stel pakaian semi kantor saja. Lalu mendekati Lucky yang masih asik memilih kemeja.


"Mase. Bajunya Sri masih banyak yang di kasih mami. Ngapain beli lagi?"


Lucky diam saja. Memperhatikan kemeja yang di ambil dari deretan big stand hanger di depannya.


"Kamu tidak pernah pakai semua kartu yang aku beri. Jadi ini hukumannya" jawab Lucky enteng.


"Apa? ini hukuman?" Sri melongo.


Hukuman apa ini? Masak iya tidak menggunakan black card dan kartu debit, lantas di hukum berbelanja? Enak sekali ya!


"Opo toh maaas... hukuman kok nyenengin gini?" Sri memutar bola matanya malas. Lucky hanya tersenyum saja.


"Ini. Kamu suka yang mana?" tanya Lucky mengacungkan tiga kemeja di depan Sri.


Sri memperhatikan kemeja-kemeja itu. Satu warnanya biru laut dengan garis hitam kecil, yang satu lagi berwarna krem, dan kuning.


"Yang biru mas" Sri menunjuk yang biru.


"Cuma ini? trus ini ?" Lucky menguncang kedua kemeja lainnya.


Lucky mengangguk. Lalu memilih beberapa kemeja lain. Lalu memilih untuk Sri juga. Walau Sri protes, tapi Lucky tetap tak mendengarnya. Lucky meminta Sri memilihkannya beberapa dasi.


Setelah selesai, mereka keluar dan masuk lagi ke outlet pakaian khusus wanita. Seorang pelayan permpuan datang menyambut mereka. Tersenyum penuh minat menatap Lucky. Tatapannya seakan mengenal Lucky, tapi tidak berani bertanya.


"Pilihkan pakaian untuk istri ku dengan model yang terbaru" ujar lucky datar.


Pelayan itu mengangguk dan membawa Sri untuk memilihkan beberapa stel pakaian rekomended. Ada beberapa pelayan lain yang berkasak-kusuk di bagian belakang. Memperhatikan Sri dan Lucky. Mungkin mereka bilang kalau Sri tidak cocok bersanding dengan Lucky.


Karena terlihat mereka memang kontras sekali. Yang pria tinggi menjulang dengan tubuh kekar dan tampan rupawan, walaupun wajahnya sedikit tertutupi oleh topinya. Tapi Sri dengan tubuh mungil yang hanya mencapai pundak Lucky lebih sedikit saja.


Sri sebenarnya risih di perhatikan begitu. Merasa minder bergandengan dengan Lucky. Tapi sepertinya Lucky cuek saja tak menghiraukan tatapan menilai dari orang lain.


"Mase. Sudah mas. Jangan banyak-banyak bajunya" keluh Sri.


"Kenapa? aku ingin membuat tampilan istri ku makin menggemaskan. Ku kira ini cocok untuk mu"


Lucky menyodorkan rok mini dan baju rajut yang over size. Lucky meminta Sri mencobanya. Dengan malas, Sri menuruti. Mencoba setelan pakaian yang di pilih Lucky. Begitu keluar dari kamar pas, Mata Lucky berbinar melihat Sri dengan rok mini dan baju yang dipilihnya.

__ADS_1


Baju itu dengan model leher yang melebar ke samping. Menampilkan pundak mungil Sri yang polos. Sri jadi tampak mungil dan terlihat seperti ABG belasan tahun.


"Perfect!"


Lucky mengacungkan jari jempol dan telunjuk yang membentuk bulatan. Mengerlingkan matanya genit pada Sri. Membuat Sri bergidik melihat tingkah Lucky. Mereka berdua jadi terlihat seperti sugar Daddy dan sugar baby saja sekarang.


"Oke.. aku mau yang ini" ujar Lucky.


Lalu melangkah lagi menuju ke tempat pakaian mini dress. Memilih baju terusan dengan corak bunga matahari di tengahnya. Mematikan baju itu ketubuh Sri.


"Aduh.. jangan bilang kalau Mase suka yang ini" Sri menatap wajah Lucky kesal.


"Hehe.. Kau terlihat seperti musim semi berjalan Sri" ujarnya terkekeh.


Mendengar itu Sri juga tertawa. Baju itu terlalu kekanakan. Kalau Sri memakainya, pasti dia terlihat seperti gadis SMP yang sedang asik main boneka.


Lucky memilih beberapa baju untuk Sri. Sri hanya bisa pasrah saja. Di larang pun pasti tidak bisa. Lucky seperti anak remaja yang sedang memberi hadiah pacar cinta monyetnya. Terlalu bersemangat dengan wajah berbinar cerah. Lucky membayar semuanya. Lagi-lagi Sri protes.


"Mase. Pakai ini dong. Katanya Sri Ndak pernah pakai kartu-kartu ini? nah.. pakai ini aja mas" Sri menyodorkan kartu debit yang di beri Lucky.


"Aku bukan simpanan mu Sri. Aku masih bisa bayar ini. Itu milik mu" ujar Lucky mengedipkan sebelah matanya.


Lagi-lagi Sri mengalah. Para pelayan menatap mereka dengan kasak kusuk yang makin riuh. Sri sampai bisa mendengar apa yang mereka perdebatkan. Mereka bilang kalau Sri itu sugar baby-nya Lucky. Astaga!! apa Lucky terlihat setua itu? haha!!


Ada juga yang bilang bahwa mereka mengenal Lucky. Pacarnya artis. Lucky lagi selingkuh! telinga Sri sampai memerah mendengar kasak kusuk itu.


Mereka keluar dari outlet pakaian wanita itu. Lalu Lucky membawa Sri ke outlet yang khusus menjual pakaian dalam wanita dan pria. Sri sampai ngeri melihat Lucky memilihkannya baju yang seperti saringan teh saking tipisnya. Sri ingat baju apa itu. Mami Melani memberinya baju itu ketika bulan madu di pulau.


"Mas. Ngapain kita beli saringan teh mas?"


Lucky tergelak mendengar itu. Lalu menangkup wajah Sri dengan gemas.


"Aku mau kamu makin seksi kalau pakai ini. Nanti malam, kamu harus pakai yang ini ya?"


Lucky menunjukkan sepotong baju dengan ukuran yang sangat mini dan sangat transparan. Wajah Sri merah padam melihat itu. Ia tahu apa maksudnya Lucky. Pria itu hanya tergelak melihat wajah istrinya memerah karena malu.


Lucky mengarah ke tempat lain. Sri mendelik melihat Lucky mengarah pada baju yang sangat tipis dengan jaring-jaring dan bolong di bagian intinya. Cepat-cepat Sri menghalangi langkah Lucky untuk menuju kesana.


"Mas mas. Sebelah sini aja. Ada yang bagus"


Sri menarik lengan Lucky agar tidak menuju jaring-jaring mengenaskan itu. Sri tak sanggup membayangkan kalau dia harus memakai lingerie itu di depan Lucky.

__ADS_1


Setelah selesai, mereka keluar lagi dengan banyak paper bag di tangan Lucky. Terlihat seperti suami yang sangat sayang pada istrinya. Tidak membiarkan Sri membawa satupun di tangannya. Itu membuat banyak mata melirik pada mereka. Tapi Lucky tidak menghiraukan itu. Tetap melenggang bersama Sri yang menggandeng lengannya.


__ADS_2