OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Jangan Lihat Yang Lain


__ADS_3

Sri sudah mengemas semua barang-barangnya dan milik Lucky. Tidak mau merepotkan om Baris lagi. Rasa perih di bagian bawahnya sudah tak terlalu mengganggu. Tadi Baris datang mengantarkan kotak kemasan yang di balut kertas kado. Katanya dari Lucky. Begitu Sri membuka isinya, ternyata salep pereda bengkak. Rasanya ingin melempar salep itu ke wajah Lucky jika pria itu ada di depannya.


Sri menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan. Tubuhnya terasa remuk. Memikirkan bagaimana Lucky masih bisa berolah raga pagi tadi setelah pertempuran sengit mereka. Tapi jika di lihat dari tubuhnya yang kekar berotot itu, tidak mustahil stamina Lucky jauh lebih besar lagi.


Lucky datang pada jam dua siang. Tapi tidak melihat Sri sedikit pun. Sikap cueknya sudah kembali lagi. Sri berdecak kesal kenapa pria itu selalu berubah-ubah. Sebentar manis sebentar kaku.


Mereka berangkat ke bandara setelah makan siang yang terlambat di restoran dekat kondominium. Sri masih merasa lelah. Menghabiskan waktu di pesawat dengan tidur nyenyak. Sampai pesawat landing baru Lucky membangunkannya.


"Sri, sudah sampai. Ayo bangun"


Merasakan guncangan halus di tubuhnya, Sri menggeliat malas dan membuka matanya.


"Sudah sampe toh mas?" mengucek matanya dan mengerjab malas.


"Tidur mu seperti sudah mati saja. Ayo cepat. Atau aku tinggal"


Lucky melangkah menjauh. Mendengar kata-kata itu, membuat Sri jengkel setengah mati. Baru bangun tidur sudah disuguhi kata-kata manis yang melambungkan jiwa sampai ke neraka!! geram dan ingin menendang pria besar itu.


"Sudah jelek, ngiler lagi"


Terdengar lucky menggerutu. Iiisshhh.. pingin di sikut tu lambung! pingin di smackdown sampe jungkir balik tu Lanang gemblung! Tapi tetap saja Sri meraba sudut bibirnya. Berdecak sebal ternyata ada sedikit liur di sana.


Turun dari pesawat, dan di depan sudah di tunggu Beni. Asisten itu membungkuk hormat dan mempersilahkan mereka untuk naik ke mobil. Dan Baris mengurus semua koper mereka.


Mobil meluncur dengan tenang. Lucky, Beni, dan om Baris berbincang sejenak. Lucky menanyakan keadaan kantor. Dan Beni menjelaskan dengan baik sambil menyetir. Sri hanya diam dan memperhatikan ke luar jendela. Tapi juga mendengarkan pembicaraan mereka. Tampaknya kantor Lucky dalam keadaan baik-baik saja.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, mereka sampai di mansion setelah matahari tenggelam. Dengan antusias tinggi, Melani menjerit menyambut kedatangan mereka. Sampai Sri kaget melihat ibu mertuanya itu memekik girang sambil mencubit pipinya.


"Aaiiihhh... sayang mami.. akhirnya kamu pulang" Melani memeluk Sri erat. Sri sampai sesak napas rasanya. tersenyum canggung seperti orang linglung. "Gimana bulan madu mu? asik dong?"


Melani menyenggol lengan Sri dan mengedipkan matanya menggoda. Wajah Sri bersemu merah. Melirik Lucky di sebelahnya. Pria itu hanya menaikkan alisnya dengan wajah datar. Lalu beranjak ke dalam mansion.


"Iya mami. Seru" hanya itu yang bisa di jawab Sri sambil nyengir.


"Ayo masuk. Kamu pasti lapar kan? mami udah masak makanan enak. Papi udah nunggu tuh"


Melani menarik tangan Sri. Padahal mereka baru saja sampai. Tapi dengan bersemangat Melani mengajak menantunya bergabung di meja makan. Sri tidak bisa menolak Yang akan membuat ibu mertuanya kecewa. Dia mengikuti saja. Dan ternyata lucky sudah ada di sana.


Sri tersenyum pada Frans, ayah mertuanya. Frans membalas mengangguk dan tersenyum pula. Sri duduk di samping Lucky. Pria itu hanya diam dan mengunyah makanannya pelan.


Melani terus menatap Sri dan Lucky sambil senyum-senyum. Sri sampai risih di tatap begitu. Tapi Lucky terlihat cuek. Bener-bener kaku lelaki ini. Bagaimana dia bisa sangat lihai menyembunyikan suasana hatinya.


"Bagaimana liburannya Sri? kamu suka?" tanya Frans pada sri.


"Eh, iya papi. Sri suka" Sri mengangguk dan tersenyum canggung.


"Lucky bersikap baik pada mu kan?" tanyanya lagi.


Sri melirik Lucky. Terlihat pria itu menatap papinya dengan pandangan protes. Seakan-akan dia adalah makhluk jahat yang selalu berbuat kasar.


"Iya Pi. Mase baik kok" jawab Sri lagi.


"Harus itu. Kamu 'kan istrinya. Ya harus baik dong" Melani menimpali.


Huh!! dia menggasakku sampai mau pingsan miii.. Dan sikapnya itu loh.. selalu kaku!


Jerit hati Sri menatap Lucky seakan ingin menggigitnya. Gemas pada pria di sebelahnya seakan tak mendengar obrolan ini.


Selesai makan, Melani menyuruh Sri untuk beristirahat. Sri menurut dan masuk ke kamar. Sedangkan Lucky, sibuk berkutat di ruang kerjanya.

__ADS_1


Sri langsung mandi membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Air hangat bisa menyegarkan staminanya. Apalagi tadi sudah tidur di pesawat. Dan seharian mengabiskan waktu bermalas-malasan.


Setelah memoles wajahnya di depan cermin, kini saatnya Sri memeriksa semua email lamaran kerjanya. Dengan tidak sabar Sri membuka laptopnya. Jarinya lincah menari mengetik di keyboard laptop. Ada satu panggilan interview. Wajah Sri berbinar. Inilah kesempatan yang ia tunggu telah tiba.


Dia tidak akan kesepian lagi. Tidak akan bengong lagi di mansion. Akan menghabiskan hari-harinya dengan kesibukan di kantor.


ahh.. terlalu melambung angan-angannya. Masih panggilan interview kan? belum juga kerja. Tapi mimpinya seakan sudah hampir mencapai finis.


Sri teringat kartu nama yang di berikan Noah. Mencari tas tangannya dan memeriksa isinya. Berhasil menemukan itu, Sri mengecek di laptopnya. Sumringah mendapati perusahaan teman Noah yang bergerak di bidang properti. Langsung saja mengetik lamaran kerja dan akan mengirinya dari email.


Sangat bersemangat sampai ia tak mendengar kalau Lucky sudah masuk ke kamar. Menatapnya dari pintu kamar yang sudah tertutup.


"Ngapain kamu?"


Kaget sekali Sri sampai terjengkit. Mendongak menatap Lucky yang melipat tangannya di dada dan berdiri menatapnya tajam.


"Hah? Ndak ada mas" Jawab Sri gugup.


"hmm"


Lucky beranjak meninggalkan Sri. Dia pergi ke kamar mandi. Sri hanya memperhatikannya sampai pria itu menghilang masuk kedalam kamar mandi. Segera ia menutup laptopnya dan menyimpan kartu nama tadi. Rencananya, besok akan meluncur ke alamat yang di berikan Noah.


Naik ke tempat tidur dan membuka ponselnya. Memeriksa pesan di aplikasi chating. Noah selalu mengabarinya dengan rutin. Menanyakan dia sudah sampai atau belum. Sri tersenyum melihat perhatian lelaki yang satu ini. Membalas pesan Noah.


"Mas Noah, Sri sudah sampai rumah. Makasih perhatiannya"


Ting


Pesannya langsung terjawab.


"syukurlah. Kamu lagi apa?"


"Mikirin kamu"


"Idiihh.. gombal banget toh!"


"Beneran"


"🤭"


"Manis banget kalau lagi malu"


"Sok tau! 😜"


"Iya dong. Kamu kan memang manis. Apalagi pipinya merah"


"Kejedot mas merah šŸ˜‚"


"šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚"


Sri cekikikan membalas pesan dari Noah. Dan Sri juga yakin di sana Noah lagi tertawa. Tapi tawanya mendadak terhenti begitu matanya melirik ke arah kamar mandi. Lucky berdiri tegak menatapnya tajam.


Aduuhh.. piye toh.. saking asiknya sampai tidak memperhatikan Lucky sudah keluar dari kamar mandi. Pria itu melangkah mendekati Sri dengan tubuh polos. Hanya mengenakan boxer.


"Siapa?" tanyanya tajam dan menatap netra Sri lekat-lekat. Seakan mencari jawaban di sana.


"Mm.. I-ini Nunik Lo mas" Sri mencoba bersikap netral. Menyembunyikan rasa gugup yang langsung menjalari dirinya.


Tubuh tinggi tegap itu bergeming. Diam kaku masih menelisik gerak-gerik Sri.

__ADS_1


"Mase kenapa sih? Ndak capek apa diem aja gitu?"


Sri berusah mengalihkan perhatian lucky. Dia bergidik ngeri jika Lucky marah jika tahu dia membalas pesan Noah, bukannya Nunik. Lucky diam saja dan beranjak naik ke tempat tidur. Membaringkan tubuhnya tepat di samping Sri. Tubuh Sri menegang. Melirik Lucky dengan risih.


"Geser dikit Mase" mendorong bahu Lucky agar bergeser menjauh.


Lucky mendongak menatap Sri yang masih duduk menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur.


"Kenapa? kamu terganggu?" tanyanya ketus.


"Sri gerah. Sempit loh mas" Sri mendorong bahu Lucky lagi. Ia tidak mau Lucky berbuat semaunya seperti kemarin.


Lucky menaikkan sebelah alisnya. Tanpa aba-aba, Lucky langsung memeluk perut Sri. Melingkarkan lengan kokohnya di pinggang gadis itu. Menariknya kuat hingga Sri merosot dan luruh ke pelukan Lucky.


Mendelik gusar Sri mendorong dada kokoh itu. Tapi Lucky bergeming. Mendusal di ceruk leher Sri. Menghirup aroma wangi tubuh sri. Menge cup kecil di leher gadis itu.


Sontak saja Sri Melotot. Bergidik ngeri merasakan bibir lembut itu mengecupi lehernya.


"Aduuh Mase! Ojo ngono loh!"


Tolak Sri pada tubuh tegap Lucky. Rasanya ingin lari keluar kamar. Tapi Lucky tetap membelitkan tangannya di pinggang Sri dan lehernya.


"hhmmm.. Kenapa? kamu balas pesan lelaki busuk itu lagi kan?" geram Lucky.


"Eh.. Ndak mas. Kok busuk sih? dia itu mas.. mmmpphhh.."


Lucky memotong bicara Sri. Membekap mulut mungil itu dengan mulutnya. Menyumpalnya dengan lidah yang sudah menyerang masuk. Sri meronta. Memukuli lengan kekar di perutnya. Tapi Lucky tetap menyerangnya dengan gemas. Seakan Sri adalah objek yang harus di tuntaskan dengan tegas.


Lucky menyesap bibir bawah Sri gemas. Gelinjangan tubuh Sri tak dihiraukannya. Sampai gadis itu berhenti kelelahan, barulah Lucky melepas pagutannya dengan napas memburu. Menatap wajah Sri yang memejamkan matanya dengan napas menderu.


"Jangan lihat yang lain. Cukup aku saja" geram Lucky denga. suara serak.


Apa??!! Omongan apa itu? Jangan lihat yang lain? cukup dia saja?? huh! tak tahu diri! lalu dia dengan Amira itu apa?


Sri membuka matanya dan menatap lucky berapi-api. Menggerutu dalam hati mendengar apa yang di katakan Lucky barusan.


"Kenapa cuma Sri toh mas? trus Mase sama mbak Amira itu apa?" Sri bertanya dengan berani. Protes atas apa yang di katakan Lucky tadi.


Lucky menautkan alisnya. Menatap mata Sri seakan tersadar dari tidur panjang. Ya. Sri benar. Lalu dia dan Amira apa? Kenapa juga dia harus cemburu pada Sri dan pria di pulau itu?


"Itu lain" ujar Lucky datar.


"Lain apanya? kita udah sepakat toh gak boleh ganggu urusan masing-masing. Tapi Mase melanggar aturan main" Sri semakin berani melihat reaksi Lucky yang terpojok.


"Huh! banyak bicara!"


Lucky kembali menyumpal mulut judes itu dengan bibirnya. Kembali menelusup masuk lebih dalam dan menuntut setengah memaksa. Sri tidak sempat mengelak karena jarak mereka yang sangat dekat. Mendorong dagu Lucky sekuat tenaga. Dia tidak mau merasa sakit lagi.


Tapi Lucky tetap bergeming. Kokoh sekali tubuhnya menghimpit Sri. Gadis itu sampai kehabisan napas. Tak habis akal, Sri mengigit bibir Lucky sampai pria itu mengerang kesakitan. Melepaskan pagutannya dan memegangi bibirnya yang berdarah. Menjilatinya sambil menatap Sri dengan kilatan rasa kesal di matanya.


Sri mendorong tubuh Lucky sekuat tenaga. Menggeser tubuhnya menjauh. Lompat dari tempat tidur. Berdiri disisi tempat tidur sambil ngos-ngosan. Lucky masih menatapnya geram.


"Kalau Mase Ndak bisa diam, Sri Ndak mau tidur di sini lagi!" sentak Sri cemberut.


Tanpa kata, Lucky berbaring. Menarik selimut dan memiringkan tubuhnya embelakangi Sri. Sri masih bersikap waspada. Menunggu reaksi Lucky selanjutnya. Tapi di tunggu sekian menit, Lucky tidak bergerak dan berbalik.


Sri merasa aman. Lucky membiarkannya tidur di sini. Gadis itu naik lagi ke tempat tidur dengan hati-hati. Melihat punggung polos Lucky. Berbaring hati-hati dengan sikap waspada. Mengambil guling dan menumpuknya di tengah sebagai batas antara dia dan Lucky.


Merasa sudah aman, Sri menarik selimut sampai ke batas leher. Menutupi tubuhnya dan mulai memejamkan matanya. Semoga saja Lucky tidak nekat sampai memaksanya lagi.

__ADS_1


__ADS_2