
Sri baru saja memutuskan sambungan telepon dari ibunya. Meletakkan ponselnya di meja. Menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong. Menerawang memikirkan dirinya sendiri.
Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Sri. Sepanjang hari hanya kesialan dan rasa jengkel yang memenuhi hatinya. Dari mulai pagi menjelang siang saat interview, bertemu Amira dan terpaksa berpura-pura mesra pada lucky, sampai di restoran tadi siang.
Menunggu sampai satu jam dan Lucky tidak muncul juga. Sampai ia marah pada pak Karim takut kalau-kalau pak Karim mengerjainya. Tapi lelaki setengah baya itu bersumpah kalau Lucky yang memintanya mengantar Sri ke restoran untuk makan siang bersama.
"Gimana toh pak? Ngapain saya di sini kayak orang bodoh? Pakne ngerjain saya ya?" Sri marah menemui pak Karim di parkiran.
"Maaf nona Sri. Saya cuma di suruh tuan Lucky, ngantar nona ke sini" Pak Karim membungkuk hormat. Takut Sri semakin marah karena tuannya mangkir.
"Lah terus ini gimana? Saya udah nunggu sampe satu jam loh pak!"
"Sebaiknya nona telepon tuan saja lagi" pak Karim memberi saran.
Sri menimbang sesaat. Sebenarnya dia tidak mau menelepon Lucky. Buat apa? tadinya Sri berpikir, Lucky minta makan siangnya diantar pak Karim ke kantor. Ternyata malah Sri yang di suruh menunggu pria kaku itu. Tapi daripada harus menunggu lagi, Sri menuruti saran pak Karim.
Tapi lagi-lagi Sri di buat kesal. Ponsel Lucky tidak aktif. Kejengkelannya memuncak sampai ke ubun-ubun. Ingin rasanya membanting ponselnya di pelataran parkir. Tapi lagi-lagi Sri sadar. Sayang. ponsel satu-satunya.
"Sudah! ayo pulang pak. Saya capek"
Memilih pulang dari pada harus menunggu Lucky lagi. Entah apa yang di lakukan pria itu sampai menonaktifkan ponselnya. Sri tidak peduli lagi. Dia ingin pulang. Ingin mandi dan merebahkan dirinya di kasur. Ingin tidur secepat yang dia bisa. Tapi lagi-lagi sampai di rumah juga tidak bisa tidur.
Dari di restoran tadi siang sampai sekarang sudah jam sebelas malam, Lucky belum pulang juga. Ada rasa aneh yang menjalari relung hati Sri. Gelisah tapi tidak tahu apa penyebabnya. Apakah Amira pergi menemui Lucky setelah pertemuan mereka di lobi kantor tadi siang? Atau Lucky hanya sibuk dengan pekerjaannya?
Arghh!!!
Sri menghempaskan tubuhnya di tengah-tengah tempat tidur besar di kamarnya. Eh.. kamar Lucky maksudnya. Menerawang menembus langit-langit kamar. Bayangan Lucky dan Amira seperti menari-nari di sana.
"Opo toh aku Iki? apa pantas aku cemburu? Apa aku beneran cinta sama Mase? Kok perasaan ngambang gini ya? gak asik banget toh?"
__ADS_1
Sri bergumam sendiri. Memastikan perasaannya terhadap Lucky. Setelah malam panas itu, Sri merasa jatuh cinta dengan Lucky. Tapi tetap tidak ingin menunjukkan rasa indah itu. Karena dia sadar kalau Lucky tidak pernah meliriknya dengan mata penuh cinta.
Mengenai malam bulan madu itu, yah.. anggap sajalah mereka berdua tidak bisa menahan nafsu. Sri juga tidak bisa menyalahkan Lucky sepenuhnya. Karena dia juga bisa menikmati itu. Memikirkan itu semua, sampai Sri kelelahan dan tertidur pulas.
❤️
❤️
❤️
Lucky pulang tengah malam. Membuka pintu kamar dan mendapati Sri sudah tertidur dengan pulasnya. Lucky tersenyum menatap istri mungilnya ini.
"Hhhh.. dalam keadaan tidur saja kau terlihat menggemaskan Sri" gumam Lucky tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Lucky segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Seharian penuh dia sibuk mengadakan rapat dengan semua bawahan. Ada masalah di bagian divisi keuangan. Harus semua divisi di kumpulkan dan mengadakan rapat mendadak.
Siang tadi Lucky tidak jadi datang ke restoran. Terlalu banyak kerja yang harus di selesaikan. Tentang Amira, Lucky langsung menyuruhnya pulang. Dan untung saja Amira dapat mengerti bahwa Lucky memang benar-benar sibuk. Jika Lucky menelepon Sri, pastinya gadis ini juga akan marah padanya. Dan itu akan membuat fokus Lucky terpecah.
Lucky membenarkan Surai rambut yang menjuntai ke wajah Sri dengan hati-hati. Wajah gadis ini sebenarnya biasa saja. Tapi entah apa yang membuat Lucky selalu penasaran padanya. Menatap bibir yang selalu di rasa manis setiap kali di kecup. Itu membuat candu tersendiri baginya.
Malam ini hati Lucky sempurna dalam kegalauan. Sampai kapan dia harus berbohong pada Amira tentangnya dan Sri? Bahwa Lucky sudah tidur dengan istrinya. Mencicipi madunya. Dan hatinya mulai goyah.
Tapi untuk melepaskan Amira, rasanya berat. Amira telah bersamanya dua tahun belakangan ini. Menjalin cinta semanis madu. Gadis itu selalu bersikap manis dan manja. Lucky tergila-gila padanya.
Menghela napasnya panjang. Merebahkan tubuhnya di samping istrinya yang masih terlelap. Menarik kepala Sri untuk rebah beralaskan lengannya sebagai bantal. Menatap wajah mungil itu. Membelai pipinya dengan sayang.
"Sri, kamu itu gadis bandel. Tapi aku suka dengan sikap cuek mu. Kau tau? Amira sangat cemburu pada mu. Hhehh.. Kaulah satu-satunya gadis yang mampu membuat dia menangis"
Lucky terkekeh pelan. Mengusapi pipi mulus Sri. Ajaibnya, gadis ini tidak merasa terganggu. Sri kalau sudah tidur seperti mayat. Susah untuk bangun lagi walaupun Lucky memindahkannya berulang kali. Kadang Lucky sampai terkekeh ketika menjahili Sri ketika tidur.
__ADS_1
Terlalu sering berdekatan dengan gadis ini, itu tidak baik untuk kesehatan hatinya. Sering berdesir aneh dan juniornya selalu bangkit ketika mencium aroma tubuh Sri. Langsung saja pikirannya mengembara pada hal-hal panas seperti di pulau waktu itu.
Tapi Lucky takut Sri menolak. Dan itu sudah di tunjukkan Sri dengan nyata. Gadis ini selalu waspada jika di dekatnya. Dan Lucky mengerti itu. Sri membatasi kedekatan mereka karena ada Amira.
Ah.. Amira lagi. Lucky tidak tahu harus mengambil sikap yang bagaimana terhadap kedua gadis ini. Amira selalu memaksa dan Sri selalu menghindar. Usia Amira memang lebih tua dari Sri tiga tahun. Pekerja keras dengan segala pesonanya. Tapi Sri juga tidak kalah menarik di mata Lucky. Gadis ini mulai menggoyahkan dunianya.
Cup
Lucky mengecup pipi Sri. Tersenyum melihat kerutan di dahi gadis itu. Mungkin dia bermimpi di kecup pipinya. Lucky terkekeh lagi. Kini sasarannya bibir Sri. Mengecup pelan dan menyesap sedikit bibir bawahnya. Lalu menatap Sri lagi. Kini kerutan itu semakin jelas.
"Hhehehh.. Sumpah.. kau menggemaskan"
Lucky mencubit pipi Sri dengan gemas. Membuat Sri menggeliat sedikit. Tapi tatap masih nyenyak.
Kadang Lucky berpikir apakah rasa tertariknya pada Sri hanya sekedar nafsu? Atau itu memang benar-benar dari hatinya? Dia ingat apa yang di katakan papinya. Harus bersikap baik pada Sri karena Sri memiliki andil atas kekayaan yang mereka punya.
Tapi Lucky tidak memikirkan itu. Dia putra Frans Albronze. Keluarga terkaya nomor dua di kota ini dari pihak Frans. Walaupun seluruh harta yang dihasilkan Frans di berikan pada Sri, itu masih sebagian kecil dari warisan yang di turunkan padanya dari pihak keluarga Frans.
Lucky meremas gundukan di dada Sri. Sengaja menjahili gadis ini lagi. Meremas pelan dan mengusap lembut. Lucky selalu bergairah ketika di dekat Sri. Tapi gadis ini selalu waspada. Untuk mengakalinya, setiap Sri tidur Lucky akan beraksi. Dan Sri tidak menyadari itu. Lucky hanya terkekeh geli melihat Sri sering terbengong ketika bangun tidur. Mungkin gadis ini berusaha mengingat mimpi panas tadi malam.
"Aku menyukai mu Sri. Katakan pada ku, apa yang harus aku lakukan pada kalian berdua? mana yang harus ku pilih?"
Lucky terus bergumam sambil mengecupi bibir Sri berulang kali. Manis itu hadir lagi. Membuat Lucky merasa ketagihan lagi dan lagi. Menggeram penuh semangat menji Lati bibir mungil itu.
Memeluk Sri dalam dekapannya. Ia sayang gadis ini. Dia selalu rindu ketika Sri gemas dan jengkel padanya. Dia sayang Sri.
Memejamkan matanya menyusul Sri di alam mimpi yang melenakan. Biarlah waktu yang menjawab apa yang harus Lucky lakukan pada kedua gadis yang mengusik hatinya.
Sri dan Amira
__ADS_1