OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Peresmian part 1


__ADS_3

Hari yang di tunggu telah tiba. Lucky harus bersyukur hari ini datang lebih cepat dari yang di perkirakan sebelumnya. Peresmian perusahaan baru Levi dan paman Fardo. Diam-diam mereka berdua telah mendirikan sebuah gedung baru dengan perkisaran biaya fantastis.


Lucky sudah mempersiapkan segalanya. Ingin menampilkan penampilan maksimal. Walaupun Sri tidak ikut dengannya, tapi Lucky tidak masalah. Dia tahu pasti akan banyak media gosip yang akan meliputnya nanti. Lucky bisa mengatasi itu. Dia akan pergi bersama Frans.


Mematut dirinya di depan cermin besar, Lucky baru akan memasang dasi ketika Beni dan Noah masuk ke kamarnya. Lucky melirik mereka berdua dari pantulan cermin.


"Tuan, semua sudah siap. Tuan Frans menunggu anda di bawah." Beni melaporkan.


"Ya, aku akan segera siap" Memasang dasi sambil melirik Noah. "Bagaimana, No? Kalian sudah siap?"


Noah mendekat. Menarik dasi dari tangan Lucky. Membantu memasangkan di leher kakak sepupunya. Lucky hanya diam dan memperhatikan wajah Noah di depannya.


"Aku siap. Dan semua sudah siap sesuai rencana" jawab Noah mantap. "Sudah" melepaskan dasi kupu-kupu yang telah selesai di pasang.


Sekali lagi Lucky mematut dirinya di depan cermin. Dengan sigap Beni mengambil tuksedo Lucky dan memakaikannya. Sekarang Lucky terlihat lebih gagah dengan tuksedo hitamnya.


"Baiklah. Aku siap"


Mereka berjalan keluar dari kamar. Turun ke lantai bawah. Frans di sana sudah menunggunya bersama Baris dan Rian.


"Kau sudah siap, Luck?" Frans terlihat gagah dengan stelan tuksedo mewah.


"Siap, pap"


Frans tersenyum. Menepuk punggung Lucky. Lalu memandang Noah dan Rian.


"Kalian berdua jalankan sesuai rencana. Jangan terlihat terlalu mencolok. Mengerti?"


"Baik, paman" Noah mengangguk.


"Baiklah. Ayo kita berangkat"


Mereka bergerak keluar rumah. Om Baris sudah menyiapkan mobil di depan. Segera mereka masuk dan meninggalkan rumah menuju gedung peresmian. Noah dan Rian juga segera berangkat bersama beberapa orang-orangnya Lucky.


❤️


❤️


❤️


Gedung itu megah dan menjulang tinggi. Para wartawan pemburu berita sudah berkerumun di depan gedung. Karpet merah membentang panjang sampai ke arah pintu masuk. Banyak anggota keamanan berjejer mengamankan pintu masuk. Pagar pembatas si sepanjang karpet merahnya.


Mobil Lucky ada di jejeran ke tiga dari mobil di depannya. Banyak lampu Blitz berkelip menjepret sasaran tamu yang baru hadir. Mobil bergerak maju setelah mobil di depannya bergerak keluar. Kini giliran mobil Lucky.


Mobil berhenti tepat di depan karpet merah. Baris keluar lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Frans, dan setelahnya Lucky. Begitu Frans dan Lucky keluar lampu Blitz kamera pemburu berita langsung saja menghujani mereka.


Lucky berdiri gagah dengan gaya maskulin mendebarkan siapa saja yang melihatnya. Segerombol awak media langsung mengerubunginya. Anggota keamanan menahan wartawan agar tidak terlalu dekat.


"Tuan Lucky... Tolong wawancara sebentar tuan" teriak seorang wartawan.


"Ya tuan. Kenapa istri anda tidak ikut tuan?"


"Tuan Lucky.. Kabarnya anda memulangkan istri anda. Apakah benar tuan?"


"Tuan Lucky.."


"Tuan.. Tolong senyum ke kamera tuan.."


Dan masih banyak teriakan lain meminta Lucky mengkonfirmasi berita yang beredar. Tapi Lucky diam membisu. Hanya tersenyum kecil dan berpose gagah, seolah tak mendengar banyak pertanyaan yang di teriakkan.


Baris dan Beni sigap mengamankan kedua tuannya. Membawa mereka melewati karpet merah dan masuk ke dalam gedung. Membuat banyak nada kecewa dari para wartawan.


Masuk ke loby gedung, mereka di sambut beberapa orang yang mengarahkan mereka ke aula. Begitu masuk, mereka di suguhkan dekorasi mewah. Musik mengalun lembut dan Sudah banyak tamu yang hadir.

__ADS_1


"Megah, pap" bisik Lucky pada Frans.


"Hhh.. Ya. Dan ini pakai uang mu" jawab Frans juga dengan bisikan.


Mereka berdua tersenyum di kulum. Mengedarkan pandangan ke segala arah. Dan terlihat Levi dan Fardo melihat ke arah mereka berdua. Tersenyum pongah dan datang mee dekat.


"Hallo paman, Lucky. Selamat datang"


Levi mengulurkan tangannya. Tanpa beban, Lucky dan Frans menjabat tangan Levi dan Fardo.


"Kakak.. selamat datang .. Selamat datang" Fardo memeluk Frans erat. " Bagaimana kak? Apa cukup mengesankan?" Fardo merentangkan tangannya menunjukkan dekorasi mewah aula.


"Ya.. Ya.. Menakjubkan" Frans tersenyum.


"Ah.. Ayo kak, kita bergabung dengan yang lain"


Fardo membawa Frans bergabung dengan tamu undangan lainnya. Levi masih berdiri bersama Lucky.


"Kau lihat, aku menang sekarang" ujar Levi dengan sombong.


Lucky hanya diam dan memasukkan tangannya ke saku celananya. Menatap ke depan ke arah keramaian tamu yang asik mengobrol.


"Yah.. Selamat Lev"


Levi melirik Lucky dengan sinis. Merasa menang dengan keberhasilan yang ia capai.


"Ayo, bergabung dengan yang lain. Masih banyak tamu yang ingin menjabat tanganku"


Levi lebih dulu melangkah pergi meninggalkan Lucky. Bergabung dengan beberapa orang tamu dan asik bersenda gurau. Tampak Levi sangat bangga dan bahagia sekali. Lucky hanya tersenyum melihat itu.


Tamu undangan banyak dari kalangan atas. Banyak dari mereka bukan orang sembarangan. Rata-rata punya status tinggi dan terpandang. Orang-orang konglomerat dan hampir semua Lucky kenal. Dan ada beberapa investor yang sudah mengikat janji dengannya. Lucky merasa puas. Semua orang yang ia tuju, ada di pesta ini.


"Kau mau berdiri di sini terus, bung?"


"Hai sayang. Kau merindukanku?" sapa Lucky menggoda.


"Iishh.. Kau menjijikkan!" desis Jacko jengah.


"Hehehe.. Kau selalu perhatian padaku, Jack"


"Ayo, bergabung denganku"


Jacko melangkah lebih dulu dan Lucky mengikutinya. Bergabung bersama Deva dan beberapa pengusaha lain.


"Hai buddy.. How are you?" Deva menyapanya senang.


"Fine" Lucky memeluk sahabatnya.


"Hallo tuan Lucky" mr.bown menjabat tangan Lucky di ikuti dua orang yang lain.


Mereka berbincang sejenak sampai mereka berpencar bergabung dengan yang lain. Tinggal mereka bertiga sekarang. Jacko hanya mengawasi keduanya.


"Kau hanya bersama kekasihku ini?" tanya Lucky melirik Jacko.


"Tidak. Istriku di sana" Deva menunjuk segerombolan nyonya kaya tak jauh dari mereka.


Tepat di saat Caera menatap ke arah Deva. Wanita cantik bergaun biru itu tersenyum dan melambaikan tangannya pada suaminya. Di balas Deva dengan memberi kecupan jauh.


"Oohh.. Kau membiarkan istrimu bergabung dengan sekelompok singa?"


"Haha.. Kadang bergabung dengan hewan buas itu baik, Luck" Deva tertawa renyah.


"Ya.. Ya.. Dan aku takut istrimu akan jadi mangsa selanjutnya" Sarkas Lucky.

__ADS_1


"Hehehe.. Tidak sebuas yang akan datang berikut ini"


Lucky dan Deva mengarahkan pandangannya pada satu titik. Amira. Gadis itu memakai gaun malam yang sedikit lebih berani dari semua wanita disini. Memamerkan lekuk tubuhnya yang membuat banyak mata melotot tak berkedip.


Berjalan sensual ke arah mereka. Tersenyum menatap Lucky yang menatapnya dengan kilatan benci.


"Hai.. Sayang. Kau datang?" sapanya dengan suara sensual yang di buat-buat.


Lucky memutar bola matanya jengah. Tapi tak di pedulikan Amira. Masih saja tersenyum manis dengan gaya sensual memikat jiwa.


"Hallo tuan Deva, apa kabar?"


"Oh... Ya.. Aku baik.." Deva tersenyum dan menaikkan alisnya. Agak melirik belahan dada terbuka di depannya.


Melihat respon baik dari Deva, Amira tampak lebih bersemangat. Lucky terlihat jauh lebih memikat dari Levi malam ini. Sayang dia belum sempat mencicipi pria gagah ini sampai ke atas ranjangnya.


"Luck, istrimu tidak ikut? Kenapa? Apa kau benar-benar memulangkannya ke kampung?" Amira menatap Lucky dengan senyum meremehkan.


"Yang aku tau, kau terlalu banyak tanya" jawab Lucky dingin.


"Oowwhh.. Ayolah sayang. Kenapa kau jadi sangat perasa sekarang? Apa pernikahanmu tidak bahagia?"


Lucky membuang pandangannya ke arah lain. Tidak menjawab pertanyaan Amira yang memuakkan. Kebetulan matanya menangkap sosok Neni bibinya, agak jauh dan sedang memperhatikan mereka.


"Ehm.. Nona Amira, sebaiknya kau pakai selendang" ujar Deva tiba-tiba.


"Kenapa?" Amira mengerutkan keningnya.


"Menutupi apa yang seharusnya di tutupi" Deva agak melirik dada Amira, menunjuk dengan kikuk sambil tersenyum canggung. "Itu terlihat akan tumpah. Hehe.."


Amira melirik dadanya. Tapi bukannya malu, dia malah lebih membusungkan dadanya.


"Tidak apa tuan, Dev. Aku lebih suka begini. Membuat kekasihku merasa senang tidak masalah bukan? Lagi pula.. Levi adalah pemilik pesta ini. Jadi aku bebas berbuat yang aku mau. Aku calon istrinya"


"Oowwhh.. baik-baik.." Deva manggut-manggut.


"Ya tuan Dev. Seperti yang anda tau, aku bukan kekasih Lucky lagi. Tapi Levi. Levi yang punya perusahaan ini, dan dia adalah calon suamiku. Aku tidak mau punya suami yang bangkrut" melirik Lucky yang menatapnya sinis


"Oohh.. Ya ya.. Bagus-bagus.. Istriku juga tidak mau punya suami yang bangkrut" Deva semakin memprovokasi Amira. Gadis itu tersenyum senang.


Lucky menoleh menatap Deva dengan mata mendelik. Tak percaya Deva mengatakan itu. Deva hanya terkekeh geli membalas tatapan mata Lucky.


"Hhh.. Ya. Semua yang terjadi adalah pelajaran berharga bagi kita bukan? Membuang permata berharga demi seonggok sampah dari kampung. Sekarang pasti sangat menyesal" sarkas Amira.


Lucky sungguh geram mendengar ocehan Amira. Tapi masih dia tahan. Tujuannya lebih penting dari sekedar menanggapi ocehan kosong yang Amira suguhkan.


"Perhatian.. Perhatian.. Baiklah, kita akan mulai acara puncaknya."


Suara host memecahkan suasana riuh. Semua tamu undangan memusatkan perhatian ke panggung.


"Ah.. Maaf. Aku harus ke sana bersama calon suamiku" Amira pamit.


"Silahkan" Deva melepasnya. Setelah Amira pergi, Deva berbisik pada Lucky. "Pilihanmu tepat jika kau membuangnya lebih awal" Lalu terkekeh lagi.


"Brengsek kau!" sentak Lucky jengkel.


"Kau sudah lihat dadanya, Luck?"


"Apa sih kau ini?" Lucky merasa gerah dengan pertanyaan Deva. Deva hampir terbahak melihat reaksi yang Lucky tunjukkan. Jacko tersenyum di belakang mereka.


Lucky jengah. Melihat kearah panggung. Disana ada Fardo yang akan menyampaikan kata sambutan.


"Ini saatnya" gumam Lucky menatap Fardo dengan kilatan licik di matanya.

__ADS_1


"Ya.. Take Your time, bro. Saatnya bagimu membalas" Deva menepuk pundak Lucky. Lucky tersenyum dan mengangguk.


__ADS_2