OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Penguntit


__ADS_3

Tersipu Sri membantu menyimpul dasi di leher Lucky. Masih saja suaminya ini menggodanya dengan permainan panas pagi hari. Lucky terkekeh senang melihat pipi Sri penuh rona merah jambu.


Setelah selesai, Lucky bersiap untuk pergi. Merengkuh pinggang Sri di depan pintu kamar hotel.


"Kamu tidak apa-apa aku tinggal?"


"Hem" Sri mengangguk. "Tapi boleh ya mas, Sri keluar jalan-jalan?"


"Hmm.. baiklah. Tapi jangan pergi terlalu jauh. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku. Mengerti?"


Sri tersenyum sumringah dan mengangguk cepat. Lucky mengecup kening dan bibir Sri. Lalu pergi Menemui Beni yang pasti sudah menunggu lama di lobi hotel.


Sri masih menatapi punggung Lucky sampai menghilang. Menutup pintu kamar dan melangkah keranjang. Memperhatikan keadaan ranjang yang masih berantakan. Tersenyum malu ketika melihat seprai yang masih kusut masai.


Menelepon pihak hotel untuk mengantar roomboy agar segera membersihkan kekacauan kamar yang di akibatkan pergulatan panas bersama suaminya.


Segera saja roomboy datang dan membersihkan kamarnya dan mengganti seprai. Sri menanti itu dengan duduk di luar balkon kamar. Memperhatikan keadaan sekitar.


Tampak di bawah ada taman yang luas dan banyak bangku berjejer untuk pengunjung beristirahat dari lelahnya berjalan. Di sebelah Utara ada juga kolam renang yang menghadap langsung ke pantai. Fasilitas hotel yang sungguh menyajikan kesenangan.


Ingin rasanya Sri segera keluar dari kamar hotel dan pergi untuk sekedar menikmati udara segar di taman bawah. Tapi tubuhnya masih terasa pegal. Lemah akibat tenaga yang terkuras habis di gempur suaminya.


Jadi Sri memutuskan untuk tidur sejenak. Setelah roomboy pergi, Sri kembali merangkak di atas tempat tidur. Merebahkan diri dan memejamkan mata yang terasa sangat nikmat. Menggeliat untuk melemaskan otot-otot yang kaku.


Tak butuh waktu lama, Sri sudah tertidur lelap. Memulihkan tenaga yang telah terkuras habis.


❤️


❤️


❤️


Sri terbangun ketika matahari sudah meninggi. Lucky belum datang. Sri bergerak bangkit dan menuju kamar mandi. Membersihkan diri untuk beberapa saat.


Setelah selesai, Sri memeriksa ponselnya. Ada panggilan tidak terjawab dari Lucky. Sungguh dia tidur seperti mati saja. Tidak mendengar apapun lagi karena kelelahan. Tapi, memang begitu sih gaya Sri kalau tidur. Pasti tidak sensitif sekalipun Lucky sering menggerayanginya saat tidur.

__ADS_1


Sri menghubungi ulang suaminya. Tapi tidak ada jawaban. Mungkin Lucky masih sibuk. Sri segera berpakaian rapi. Rencananya ingin keluar ke taman hotel.


Mengunci kamar hotel dan menyimpan keycardnya di tas kecilnya. Melangkah menuju lobi. Tapi sejenak Sri berhenti. Merasa seperti ada yang mengawasinya. Cepat menoleh ke belakang dan ia melihat ada seorang pria yang melangkah mendekat padanya.


Sri mulai cemas. Menunggu apa yang akan terjadi. Tapi begitu pria itu mendekat, tidak terjadi apa-apa. Pria itu melewatinya melangkah ke arah yang dia tuju juga. Lalu lewat tanpa melihat ke arah Sri. Sri membiarkan saja sampai pria itu menghilang ke ruangan lain. Dia memutuskan menunggu saja sampai pria itu agak jauh.


Drrttt.. Drrttt..


Ponselnya bergetar. Sri merogoh tasnya. Mengambil ponsel dan melihat Lucky menghubunginya. Segera saja Sri menjawab pangilan Lucky.


"Ya, mas?"


"Sudah bangun, sayang?"


Tanya Lucky si seberang sana.


"Iya, mas. Maaf tadi Sri tidak dengar mase nelepon"


"Hmm.. tidak apa-apa. sudah makan?"


"Aku pesankan makan siang untukmu"


"Eh.. Ndak usah mas. Nanti aja. Sri mau ke bawah dulu" Sri menolak.


Sambil menelepon, Sri melanjutkan langkahnya menuju lobi hotel.


"Mau kemana, sayang?"


"Di taman aja Mase. Boleh ya?" rengek Sri.


"Baiklah. Tapi ingat, jangan terlalu jauh. Dan segera hubungi aku kalau..."


"Kalau ada apa-apa.. Iya toh mas?" Sri memotong bicara Lucky, lalu tesenyum geli.


"Hmm.. aku serius, Sri"

__ADS_1


Lucky terdengar kesal. Sri hanya tertawa renyah. "Iya Mase sayang.. Cuma di taman hotel aja kok. Atau di dekat kolam, atau ke depan sana, atau ke.."


"Sriiii..."


"Hehehe.. iya iya maaass.."


Lucky memutuskan panggilan setelah banyak berpesan pada Sri. Sri hanya mengiyakan saja agar urusannya segera selesai.


Di lobi, Ada beberapa orang yang sedang Check-in di resepsionis. Sri melangkah keluar pintu masuk. Tapi tak di sangka, Sri kembali melihat pria yang masuk ke lift tadi. Pria itu duduk di sofa lobi hotel dan membaca koran.


"Koran? kok yo telat amat baca koran udah siang toh yo?" Sri bergumam heran.


Tapi tak menghiraukannya lagi. Sri terus melangkah keluar. Menuju taman fasilitas hotel. Di suguhkan dengan view yang menyejukkan hati dan memanjakan mata. Sri langsung saja pergi ke dekat kolam renang yang langsung menghadap ke pantai. Laut biru yang membentang luas.


Duduk di salah satu kursi santai di tepi kolam. Ada beberapa turis asing yang juga duduk di sana. Tapi Sri tak menghiraukan. Lebih berminat pada pemandangan indah yang di suguhkan di depannya.


Tak lupa Sri memesan makanan dan minuman. Bersantai seperti ini sangat jarang Sri lakukan. Apalagi di kampung, Yo ora tenan!! Di kampung hanya di suguhkan pemandangan petakan sawah yang kadan hijau jika baru di tanam, lalu kuning ketika waktu panen tiba.


Melihat beberapa orang berenang, turis dengan bikini minim. Sri sampai malu melihat itu. Tidak biasa. Tapi hanya tersenyum geli. Sambil makan kentang goreng dan sesekali meminum jusnya, Sri terlihat sangat menikmati.


Tapi begitu melihat ke arah kanan, Sri menjadi terperanjat lagi. Pria yang di lihatnya di lobi tadi, kini sudah berada di bawah payung yang ada di tepi kolam, sambil menatap Sri sesekali.


Sri merasa risih. Cemas melanda. Sepertinya dia sudah melihat pria itu di banyak waktu. Apa itu kebetulan? Sri mencoba menatap pria itu intens. Memastikan kalau pria itu tidak sedang mengawasinya.


Jantung Sri berdegup kencang ketika pria itu juga balas menatapnya. Cepat Sri memalingkan wajahnya. Sepertinya ada orang yang sengaja membuntutinya.


Cepat-cepat Sri bangkit berdiri. Sudah tidak berselera melihat pemandangan pantai yang indah. Segera melangkah meninggalkan tepi kolam renang. Kembali kekamarnya lagi.


Dengan napas yang terengah-engah akibat jalannya yang di percepat, Sri menutup pintu kamar hotel dan menguncinya rapat. Memastikan jika pintu tidak bisa lagi terbuka. Lalu segera berlari ke balkon.


Dari balkon, Sri dapat melihat keadaan kolam renang. Mencari keberadaan pria tadi. Walaupun tidak terlalu jelas karena jarak yang cukup jauh, tapi Sri bisa melihat semua bagian kolam renang. Dan benar saja. Pria itu sudah tidak berada di sana. Sri kaget. Segera masuk ke kamar lagi. Menutup pintu balkon.


"Apa iya ya, orang itu ngikutin aku? Tapi kenapa?" Sri bergumam sendiri.


Ingin menelepon Lucky, tapi takut mengganggu. Lagi pula tidak terjadi apa-apa. Tidak mau membuat Lucky panik atau jadi tidak konsentrasi bekerja.

__ADS_1


__ADS_2